Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan tamu
"Maaf, apa saya mengenal anda?" tanya Papa Nadi saat sudah berada didekat pria paruh baya tersebut.
"Selamat malam Tuan, Nyonya. Perkenalkan dulu, nama saya Juned. Saya dari kampung dan ingin bertemu dengan Tuan Wijayadi. Apa beliau ada?" ucap pria paruh baya tersebut sambil berdiri dan membungkukan tubuhnya dan bertanya pada semua orang yang ada disana.
"Beliau sudah tidak ada. Silahkan duduk kembali Pak. Ada hubungan apa-apa anda dengan Ayah saya?" jawab Papa Nadi. Beliau bertanya pada pria paruh baya tersebut.
"Inalilahi, apa beliau sudah lama perginya?" tanya pria paruh baya itu lagi pada Papa Nadi dengan sangat penasaran.
"Iya Pak, beliau sudah lama pergi. Apa anda mengenal Ayah saya dan jika boleh tahu, anda siapanya Ayah saya?" tanya Papa Nadi setelah bertanya pada pria paruh baya tersebut.
"Saya adalah sahabatnya dulu yang bertemu dengan beliau saat sedang dinas diluar kota. Lebih tepatnya didesa saya, beliau yang sudah membantu desa kami dan memajukan nya. Saya kemari sebagai perwakilan dari para warga desa untuk memberikan ini pada beliau" jawab pria bernama Juned tersebut menyerahkan sebuah benda yang entah isinya apa pada Papa Nadi.
"Apa boleh saya buka ini sekarang Pak? Maaf, bukan nya saya tidak percaya pada anda. Karena saya juga tidak mengenal anda dan Ayah saya juga tidak pernah menceritakan apa-apa pada saya sebelumnya. Maaf, jika kata-kata saya menyinggung anda Pak" ucap Papa Nadi yang memegang benda tersebut.
"Silahkan saja Tuan. Tapi maaf jika isinya tidak sesuai dengan apa yang pernah diberikan oleh Tuan Wijayadi pada kami semua" jawab Pak Juned pada Papa Nadi.
Papa Nadi segera membukanya, dia sangat terharu saat melihat sebuah kerajinan tangan dari kayu yang diukir menyerupai wajah sang Ayah yang telah tiada didunia ini lagi.
"Maaf Tuan, jika anda tidak keberatan tolong dipajang dan dirawat dengan baik ukiran tersebut. Karena kami para warga desa selama bertahun-tahun menyelesaikan nya dan itu hasil dari tangan kami semua. Saya selaku perwakilan hanya menyampaikan nya saja, karena kami berfikir jika Tuan Wijayadi masih ada" ucap Pak Juned yang menunduk dan tidak berani untuk menatap kearah Papa Nadi.
"Justru saya pribadi sangat berterimakasih pada anda Pak, karena ini sangat indah dan juga bernilai tinggi. Saya akan menjaganya dengan baik dan merawatnya juga. Ini adalah kenangan yang sangat mewah dibandingkan dengan segalanya. Terimakasih banyak Pak, anda sudah repot-repot mengantarkan nya kemari dan saya menerimanya dengan baik Pak" ucap Papa Nadi yang mengatakan nya sambil berkaca-kaca.
Beliau merasa jika jasa sang Ayah memang sangat besar dan juga terkenal dimana-mana. Dia juga sangat ingin seperti beliau, tapi karena suatu masalah yang membuatnya tidak bisa dipercaya lagi dalam hal itu. Jadi, beliau hanya bisa bersyukur akan kebaikan sang Ayah dan juga semua jasa-jasanya pada semua orang. Termasuk dirinya.
"Syukurlah Tuan. Saya sangat bersyukur karena anda maupun menerimanya. Jika begitu kami permisi dulu, karena kami harus segera pulang. Karena mobil travel kami sudah menunggu didepan. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas sambutan baik dari anda sekeluarga dan menerima saya dan cucu saya. Saya permisi, Assalamualaikum" ucap Pak Juned pada semua orang.
"Wa'allaikumsalam, hati-hati dijalan Pak. Tapi sebelum itu, izinkan saya memberikan oleh-oleh juga untuk anda dan keluarga anda. Ini, terimalah Pak. Bukan maksud saya untuk menghina anda, karena saya hanya memiliki ini dan saya dengan sangat meminta anda menerimanya. Tolong diterima Pak, jangan menolaknya" ucap Papa Nadi sambil menyerahkan sebuah uang dan juga beberapa bingkisan yang dia berikan pada Pak Juned.
"Masya Allah Tuan. Ini terlalu banyak, saya tidak bisa menerimanya" ucap Pak Juned yang bergetar memegang uang sebanyak itu.
"Terima saja Pak, kami ikhlas memberikan nya pada anda. Jika itu terlalu banyak bagi anda, anda bisa berbagi pada warga desa yang lain. Insya Allah juga, kami akan berkunjung kesana saat kami ada waktu. Jadi anda jangan menolak rezeki ya Pak" ucap Mama Dania yang juga memberikan bingkisan pada anak kecil disamping Pak Juned tersebut.
"Terimakasih banyak Tuan, Nyonya. Kami akan menerimanya, sekali lagi terimakasih. Kami permisi" ucap Pak Juned yang sekarang benar-benar pergi dari rumah keluarga Wigunadi.
"Ma, Pa. Kenapa kalian memberikan uang sebanyak itu pada dua orang aneh seperti mereka berdua? Apa lagi dengan ukiran yang seperti itu, masih banyak yang bisa melakukan nya dan bahkan dengan harga yang murah. Kenapa kalian malah dengan mudah menghambur-hamburkan uang untuk barang murahan seperti itu?" tanya Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya setelah Pak Juned pergi.
Untung saja Pak Juned sudah pergi, jika beliau melihat ini semua beliau pasti akan sangat sedih dan merasa sangat direndahkan oleh Clarissa. Walau hanya menggunakan bahasa isyarat begitu, itu sangat melukai perasaan Papa Nadi. Karena itu adalah ukiran wajah dari Ayah nya, yang tidak lain adalah kakek dari Clarissa itu sendiri.
PLAK...
"Papa!!!" teriak Mama Dania saat melihat Papa Nadi untuk pertama kalinya mengangkat tangan nya pada putri kesayangan nya.
"Jaga kata-kata mu yang terpendam itu Clarissa! Papa tidak pernah mengajarkan kamu kurangajar seperti itu. Apa Papa pernah mengajarkan kamu untuk berkata kasar pada orang lain hah! Apa kau tidak berfikir jika perkataan yang kau pendam dan hanya bahasa isyarat saja tidak melukai orang lain? Ternyata Papa sudah sangat gagal mendidik kamu Clarissa" ucap Papa Nadi dengan sangat emosi dan beliau malah menunduk menahan kesedihan nya itu.
Mama Dania segera memeluk Clarissa dan menenangkan nya yang sedang menangis dalam diam. Clarissa malah semakin marah pada sang Papa, karena dia diperlakukan kasar dihadapan orang asing dan orang yang paling dia benci. Siapa lagi jika bukan Adji.
"Kamu tidak apa-apa sayang? Maafkan Papa nak, Papa tidak bermaksud untuk menyakiti dan melukai kamu. Sekarang minta maaflah pada Papa dan jangan pernah mengulanginya lagi" ucap Mama Dania yang menenangkan putrinya yang sedang menangis.
Bukan nya menyesali perbuatan nya yang sangat keliru. Clarissa malah mendorong sang Mama dan lalu pergi dari sana tanpa menghiraukan Mama Dania yang sudah terjatuh akibat ulahnya itu.
"Ma, Mama tidak apa-apa?" tanya Papa Nadi dan Adji yang membantu Mama Dania untuk bangkit berdiri.
"Clarissa!!!"
"Clarissa!!!" teriak Papa Nadi penuh emosi saat melihat istrinya terjatuh dilantai karena didorong oleh Clarissa.
"Anda baik-baik saja Nyonya?" tanya Adji setelah Mama Dania duduk diatas sofa.
"Iya, Mama tidak apa-apa Pa" jawab Mama Dania.
"Saya juga baik-baik saja Ji. Terimakasih ya sudah membantu saya, maaf jika ini membuat kamu tidak nyaman dan ini tidak seharusnya kamu lihat" jawab Mama Dania pada Adji. Beliau merasa malu akan sikap kasar putrinya itu.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu