Namaku Naura Callista, aku datang ke ibu kota untuk kuliah disalah satu unniversitas disana dengan mendapatkan beasiswa.
Aku berasal dari panti asuhan di kota S, kota yang jaraknya lumayan jauh dari ibu kota.
Satu tahun lebih berlalu. Aku memutuskan untuk bekerja di sebuah restoran dekat kampus untuk memenuhi kebutuhan hidupkh di jakarta, karena selama ini pihak pantilah yang memenuhi kebutuhan hidupku.
Linda adalah pemilik resto itu, hubunganku dengan Linda sangat dekat, kami sudah seperti keluarga. Suatu ketika Linda mengidap penyakit, dan itu membuat pernikahannya mulai renggang karna suaminya jarang pulang kerumah.
Linda menceritakan kekhawatirannya pada Aura, dia takut suaminya jatuh kepelukan perempuan lain dan pada akhirnya meninggalkan dia.
Hingga pada akhirnya, Linda memaksa Aura untuk menikah dengan Brian. Mungkin lebih baik Brian berada dipelukan Aura yang sudah dia anggap seperti adik sendiri, dari pada harus merelakannya dengan orang lain sebelum dia menghbuskan nafas terakhirnya.
Aura yang merasa banyak berhutang budi pada Linda, terpaksa menuruti permintaan Linda untuk menikah dengan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Wullandarrie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Tiga kali Erlan melakukan selfi, lalu memberikan ponsel itu pada Aura.
"Astaga,,,!!" Aura menepuk keningnya.
"Aku baru tau jika kak Erlan sangat narsis,," Kata Aura. Vano tersenyum.
"Aku hanya tidak ingin kamu menahan rindu karna tidak bisa menatap wajahku saat aku tidak disampingmu,," Jawabnya, dia mengusap lembut kepala Aura. Aura meleleh dibuatnya, wajahnya kembali merona.
Mereka bernar benar sedang dimabuk cinta, membuatnya selalu bertingkah konyol. Mereka seperti abg yang baru mengenal lawan jenis. Cinta membuat orang melupakan usianya.
Sepangnya perjalanan mereka saling membisu, sesekali mata mereka saling bertemu, membuat keduanya menjadi salah tingkah. Padahal sebelum mereka mengutarakan perasaan masing masing, sikap mereka biasa biasa saja. Entah kenapa saat ini mereka selalu merasa malu jika sudah saling menatap.
Aura turun dari mobil setelah mereka sampai di depan rumah Linda. dia melambaikan tangan pada Erlan.
"Makasih kak,, byee,,," Ujarnya dengan wajah yang menahan malu. Erlan melempar senyum padanya, senyuman Erlan membuat jantungnya berdebar. Erlan melajukan mobil menjauh dari rumah Linda.
Linda masuk kedalam rumah dengan mendekap buket pemberian Erlan. Hatinya berbunga bunga, jantungnya terus bedetak kencang setiap kali mengingat Erlan. Erlan, dia laki laki yang bisa membuat Aura jatuh jinta padanya, Erlan begitu lembut dan perhatian, wajahnya juga tampan, siapa wanita yang tidak jatuh hati padanya.
Aura langsung memasuki kamar, meletakkan buket itu di atas meja, dia masuk ke kamar mandi unduk membersihkan diri, setelah itu turun kebawah untuk menghampiri Linda di kamarnya.
Semenjak sakit, Linda memilih untuk menempati kamar yang berada di bawah.
"Mba Lindaaaa,," Aura menghambur kepelukan Linda yang sedang duduk di sofa kamarnya.
"Kamu sudah pulang,, ada apa? sepertinya kamu sangat senang hari ini,," Tanya Linda.
Aura melepaskan pelukkannya..
"Tidak ada,," Kata Aura dengan senyum yang memamerkan giginya.
"Jangan bohong,," Linda menatap Aura.
Aura mengacungkan dua jarinya.
"Tidak. Hidungku akan oanjang jika aku berbohobg,," Ujarnya tersenyum
Aura mengulangi ucapan Erlan saat sedang menggodanya.
"Dasar,,!!" Linda menepuk lengan Aura.
"Kamu pikir kamu pinokio,,"
Mereke terkeheh.
Aura dan Linda pergi ke taman belakang, mereka duduk di kursi panjang yang terletak dibawah pohon yang rimbun.
Berbagai tanaman hias dan bunga tumbuh subur disana. Tempat yang di dominasi olehe warna hijau itu terasa begitu sejuk.
Hembusan angin sore membuat mereka merasa tenang.
Mereka membicarakan beberapa hal tentang kehidupan, takdir, cinta, sesekali mereka juga membumbuinya dengan candaan.
Aura menatap sendu wajah Linda yang sedang memejamkan matanya.
Meskipun Linda sedang menderita penyakit yang serius, namun tidak ada kecemasan dalam raut wajahnya. Linda begitu pandai menyembunyikan kecemasannya.
"Mbak udah sore,," Kata Aura, Linda membuka matanya.. Dia beranjak dari kursi dan perlahan meninggalkan taman di ikuti oleh Aura yang terus berjalan di samping Linda.
Linda pergi dari taman begitu saja karna ini sudah waktunya Brian pulang.
Aura membawa Linda ke kamar. Linda berdiri di depan cermin dan merapikan penampilannya, tak lupa mengoles lipstik dan menyemprotkan parfum.
Aura tersenyum geli melihat Linda.
'Apa aku juga akan seperti ini saat menyambut kak Er pulang kerja' Gumam Aura dalam hati.
"Kenapa senyum senyum,,?" Tanya Linda yang senyadari akan hal itu. Di mentap Aura di dalam cermin, karna saat ini Aura berada di belakangnyan
"Ah,, mba Linda salah lihat kali,," Sangkal Aura.
"Kau ini,,,!" Linda melayangkan tinjuan di lengan Aura, membuat terkekeh. Bukan karna ulah Linda, tapi karna pikiran konyolnya itu.
Aura mengantar Linda ke depan, menyambut kepulangan suami tercintanya.
Brian menghampiri Linda setelah keluar dari mobil, memeluk Linda dengan erat lalu mencium keningnya. Linda mencium punggung tangan Brian. Senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Mereka baru berpisah beberapa jam, tapi tingkah mereka seperti habis berpisah berhari hari.
Aura tersenyum melihat mereka terlihat sangat bahagia, cinta keduanya terlihat begitu besar. Aura banyak belajar dari mereka.
Plaakkk ,,,,
Brian menepuk kening Aura..
"Ya ampun Kak Brian,,,!" Ketus Aura, dia melototkan matanya. Aura kaget karna tadi sedang melamun.
Brian dan Linda tertawa melihat Aura yang terlihat kaget.
"Kau tau,, kemarin ada orang yang gila mendadak gara gara sering melamun,," Ledek Brian pada Aura. Dia merangkul bahu istrinya dengan erat lalu menatap istrinya dan melempar senyum jahilnya.
"Mas Brian bener Ra,," Timpal Linda yang menahan tawa..
"Yang benar saja,,! Yang ada, orang akan gila kalo terlalu lama dekat denga kalian,,!" Aura mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberutnya terlihat menggemaskan.
"Kau ini,," Brian mengacak acak rambut Aura. Aura menepis tangan Brian, dia merasa kesal.
"Ayo sayang,, sepertinya akan turun hujan,," Sindir Brian,, Hujan dari mata Aura maksudnya.
Brian menggandeng Linda untuk masuk kedalam..
"Mba ke dalam dulu ya Ra,, awas jangan nangis,," Ledek Linda. Mereka meninggalkan Aura begitu saja.
"Astaga,,,! Lama lama aku bisa gila, melihat hal hal romantis dan selalu jadi bahan bullyan mereke,," Gerutu Aura..
Aura masuk ke kamarnya, menggambil ponsel yang ada di tas, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.
Dia membuka ponsel, matanya terbelalak saat melihat notifikasi di layar ponselnya, ada pesan masuk dari Erlan, Aura langsung membukanya.
'Sayang, sedang apa?'
Sebuah senyum mengembang di bibir Aura saat dia membaca pesan dari Erlan. Jantungnya berdebar debar, hatinya sangat bahagia, membuatnya berguling guling di ranjang sambil mendekap ponselnya.
Sayang,,?? Erlan memanggilnya sayang,,?, ini pertama kalinya untuk Aura, membuat perasaannya campur aduk, hingga tidak bisa di jelaskan dengan kata kata.
Aura menatap langit langit kamarnya, seulas senyum masih terlihat di bibirnya. Aura meletakkan kedua tangan di dadanya dengan ponsel yang berada di tengah tengah tumpukan tanganna.
"Jantungku,, rasanya hampir melompat keluar. Kak Erlan, kenapa kau selalu membuat jantungku bekerja lebih keras.." Gumam Aura.
"Ini hanya sebuah pesan,, bagaimana jika kau mengatakannya langsung,, apa kau akan pingsan di tempat,, Ah ya ampu,,,, kenapa aku jadi seperti ini,,,"
Aura terus berdebat dengan dirinya sendiri, sampai lupa untuk membalas pesan Erlan.
Aura menghentikan lamunannya saat ponselnya bergetar..
Dia membuka ponsel, Erlan kembali mengirimkan pesan padanya.
'Kenapa tidak dibalas?'
Erlan yang melihat Aura sedang aktif, langsung mengirim pesan itu.
Aura menepuk pelan keningnya, dia lupa belum membalasnya.
'Sedang,,,,' Belum selesai mengetik, ada panggilan vidio masuk ke ponselnya.
Aura malu untuk mengangkatnya, lama dia berfikir sampai akhirnya memutuskan untuk menerima panggilan itu.
"Haii,,,," Sapa seseorang dengan senyum mengembang di wajah tampannya.
Aura mengarahkan ponselnya kesisi kanan wajahnya, hingga sebagian wajahnya saja yang terlihat.
"Hai,," Balas Aura, suaranya pelan karna malu.
Matanya menatap kagum wajah tampan yang ada di layar ponselnya.
"Kemana sebelah wajahmu,,?" Kata Erlan yang menahan tawanya, dia tau jika saat ini Aura sedang menahan malu, pipi putihnya terlihat merona.
"Aa,,aku,,,
"Aku ingin melihat wajahmu,, benarkan posisi ponselnya,," Ujar Erlan yang memotong ucapan Aura.
"Tidak,, aku malu,,," Jawab Aura, kini dia mengarahkan ponselnya ke tempat lain, membuat Erlan semakin tidak bisa melihat wajah Aura. Erlan tersenyum melihat tingkah Aura.
"Ya sudah, aku matikan saja telfonnya,,"
"Iya,, iya,,," Jawab Aura.
Aura langsung mengarahkan ponsel ke wajahnya, dia tidak ingin Erlan mengakiri panggilan.
"Kau sangat cantik,," Puji Erlan setelah wajah Aura memenuhi layar ponselnya.
"Kak Er,,," Aura menutupi wajah dengan sebelah tangannya.
"Kenapa selalu membuatku malu,," Lanjutnya.
Erlan tertawa, dia sangat gemas dengan tingkah Aura, ingin rasanya mencubit pipinya.
Aura menyingkirkan tangan dari wajahnya, menatap Erlan yang sedang tertawa.
"Kenapa tertawa,,?," Tanya Aura,, Erlan menghentikan tawanya.
"Tidak ada," Jawabnya. "Kau sedang apa,,?" Tanya Erlan. Aura mengankat ponselnya agar lebih tinggi, mengarahkan ke tubuhnya yang sedang terlentang di ranjang. Dia tersenyum.
Erlan mengerutkan keningnya.
"Apa kau sedang menggoda ku,,?" Tanya Erlan. Aura berfikir sejenak, menatap layar ponselnya dengan seksama. Tiba tiba dia mengakhiri panggilan.
"Apa yang aku lakukan,," Wajah Aura merona, dia sangat malu dengan apa yang sudah dia lakukan.
"Aaaa,,,, bikin malu saja,," Aura menutup wajah dengan kedua telapak tangan, lalu menggeleng cepat.