Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.
Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.
Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.
Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?
"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Alya
Heru, setengah berlari di loby menuju ruangan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja. Dia sudah terlambat lima menit. Gara-gara dia lupa dimana, menaruh berkas laporannya. Ternyata Khaty yang simpan. Sialnya , Khaty malah tidak masuk kantor karena sakit.
"Toktoktok...." Heru mengetuk pintu dan menunggu perintah menyuruhnya masuk. Setelah ada sahutan, Heru masuk dengan wajah menunduk karena telah datang terlambat.
Pak Firman, sang pimpinan menatap tajam ke arah, Heru.
"Bawa sini laporannya Pak Heru!" Heru menyerahkan map yang dibawanya . Pak Firman memeriksa laporan itu.
"Baiklah, laporannya saya acc, tolong pak Heru keluarkan dana seperti yang tertera dalam laporan ini."
"Baik, pak. Akan saya laksanakan," ucap Heru.
"Sebentar lagi, utusan mereka akan datang ke sini, pak Heru. Ada baiknya pak Heru segera siapkan dana itu."
"Baiklah, pak. Saya permisi dulu." Heru, kembali ke ruangannya dan mengaudit dana yang akan dicairkan. Serta membuat laporan keuangan lagi sebagai pertanggung jawaban.
Akhirnya tamu yang ditunggu datang juga. Heru, menyambut kedatangan mereka di ruangannya. Serah terima dana untuk kerja sama, berlangsung lancar.
"Terimakasih pak, atas kepercayaannya bekerja sama dengan perusahaan kami," ucap Alya menjabat tangan Heru.
"Sama-sama bu. Semoga kerja sama ini saling memberi keuntungan kepada kedua belah pihak," sambut Heru.
"Amin," sahut Alya.Alya sangat terkesan dengan penampilan Heru. Menurutnya , Heru adalah sosok pria menarik yang layak diperhitungkan.
"Maaf, pak. Boleh saling tukar nomor. Biar bisa saling tukar info ?" ucap Alya. Heru berpikir sejenak, lalu setuju saja dan menyebut nomor ponselnya.
Dalam benaknya, Heru menilai Alya adalah wanita yang begitu percaya diri. Selain cantik, tentunya dia adalah wanita cerdas.
Malam harinya, Alya menelepon Heru.
Setelah berbasa-basi soal urusan kantor, Alya dengan mudahnya menggiring pembicaraan ke ranah pribadi.
Heru mengakui, Alya cukup agresif sebagai wanita, yang dengan percaya dirinya lebih dulu membuka topik yang bersifat privacy.
Entah kenapa, Heru terhanyut begitu saja dalam pembicaraan itu, tidak menyadari kalau dia adalah seorang suami. Terlepas apakah pernikahan mereka harmonis atau tidak. Namun dari betapa mudahnya mereka saling berbincang lewat chat. Seolah sudah kenal lama dan akrab.
Sepertinya antara Heru dan Alya saling tertarik. Buktinya, sejak hari itu, hubungan mereka semakin akrab. Satu hal yang Heru sembunyikan, adalah pernikahannya. Dia tidak mengakui kalau dirinya sudah menikah dengan Amydia.
***
Amy tengah berada di sebuah supermaket, saat hendak pulang berpapasan dengan Arya yang baru datang. Mereka berpapasan di area parkir.
Arya, memarkir motornya saat melihat Amy menuruni anak tangga.
"Hai, Amy. Sebuah kejutan ketemu disini," sapa Arya dengan senyum lebarnya.
"Eh, kak Arya," sambut Amy tak kalah ramah.
"Sudah mau pulang?"
"Iya, kak," Amy menunjukkan paper bag nya
"Mampir ke kafe, yuk! Panas-panas gini, enaknya minum yang seger," ajak Arya.
"Aduh, kak. Amy mau keburu pulang nih," tolak Amy halus.
"Duh, kasian banget sama diriku. Ditolak mentah-mentah," kekeh Arya.
"Okelah, kak. Amy mau, hehehe...." ucap Amy merasa tak enak juga pada akhirnya.
"Nah, gitu dong, jarang-jarang ketemu. Masa ditolak sih," gurau Arya lagi. "Mau mesan apa?" ucap Arya begitu duduk di kursi kafe.
"Terserah kakak aja deh, Amy pasti mau," ucap Amy.
"Yeh, mana bisa begitu. Masih suka nasi goreng tabur teri gak. Disini lo, jagonya resep nasi goreng itu," ucap Arya, mengingatkan makanan kesukaan mereka dulu, semasa SMA.
"Yang bener, kak?"
"Iya, karena pemilik kafe ini adalah anak pak Ruslan. Resep nasi goreng tak kalah dari pak Ruslan sendiri," ucap Arya. Dulu, mereka bertiga Heru, Amy dan dirinya kerap nongkrong di warung pak Ruslan, menikmati nasi goreng racikan beliau. Ciri khas dari nasi goreng adalah, taburan bawang goreng dengan kacang tanah, plus ikan teri medan. Gurihnya selalu ngangenin, itu kata Amy selalu.
"Kakak masih ingat saja , makanan favorit kita dulu. Apa kakak sering datang kesini?"
"Gak juga, ini yang ketiga kali. Kakak tau ini atas rekomendasi kawan, yang sering kemari,"
"Trus minumnya apa kak, masih teh manis dingin juga?"
"Sekarang menunya udah tambah, terserah kita, mau milih apa." Arya menyodorkan daftar menu.
"Aku minta teh manis dingin aja, kak. Bernostalgia aja sekalian, hehehe...." kekeh Amy. Arya turut ketawa mendengar ucapan Amy.
"Gimana kalau kita telepon Heru, sekalian aja biar tambah seru!" saran Arya. Seketika senyum Amy menghilang, tapi dalam sekejap sudah pulih lagi. Arya sempat melihat perubahan itu.
"Boleh kak, siapa tau bang Heru tidak sibuk," ucap Amy, tapi nadanya teramat garing di telinga Arya.
"Hem, jam segini sih, Heru lagi sibuk- sibuknya." Arya melirik jam di tangannya. "Sekali-sekali kita aja yang kencan yah. Kalau ada Heru malah gak seru. Bisa-bisa aku cuma pengusir nyamuk," ucap Arya ngakak. Diikuti tawa Amy yang tidak serenyah dulu lagi, menurut Arya.
"Eh, Kak, dulu kenapa sih, kakak tiba- tiba pindah kuliah?" ucap Amy, menyinggung masa lalu, yang menurut Amy masih misteri. Karena Arya pindah kuliah keluar kota, saat semester tiga.
Arya kaget, karena tidak menduga Amy akan menanyakan hal itu.
"Oh, itu. Pamanku yang memintaku untuk pindah. Beliau bersedia membiayai kuliahku, setelah ayah meninggal dunia." dusta Arya. Padahal yang sebenarnya adalah, Arya sengaja pergi setelah Amy lebih memilih Heru, menjadi kekasihnya.
Sejak SMA mereka bersaing untuk mendapatkan cinta Amy. Pilihan Amy jatuh pada Heru, Arya mengalah dan pergi. Dengan syarat Heru harus menjaga dan melindungi Amy.
Hingga Arya mendengar kabar buruk itu, khabar pelecehan yang menimpa Amy. Arya sangat memuji kebesaran hati Heru, saat memutuskan akan tetap menikahi , Amy.
Namun, betapa kaget dan marahnya Arya, saat Heru juga berencana menikah lagi. Karena akibat pelecehan yang dialami Amy, Heru tidak pernah menyentuh istrinya. Konflik dalam rumah tangga Amy dan Heru, belum tercium oleh orang tua kedua belah pihak.
Arya sangat marah saat mendengar cerita Heru malam itu.
"Ayo dong kak, nasgornya dinikmati. Kok malah dipantengin sih?" tegur Amy membuyarkan lamunan Arya. "Kakak kenapa sih?" tegur Amy heran plus bingung.
"Eh, gakpapa kok. Hanya teringat masa lalu kita dulu," ucap Arya kikuk.
"Yang mana, kak?" tanya Amy agak heran.
"Yah, semuanyalah." Sambil menyuap nasi kemulutnya.
"Aku paling ingat sih, saat kita pulang tamasya. Saat hujan kita bertiga terpaksa singgah di warung pinggir jalan. Saat itu musim durian. Kak Arya, muntah-muntah karena gak kuat mencium aroma durian. Sementara aku dan bang Heru, makan durian seenaknya," kekeh Amy.
"Hem, kakak malah sudah lupa itu. Yang paling ingat malah saat kita jalan kaki pulang menjeguk Heru, keesokan harinya.Sepanjang jalan itu kita cerita tentang apa saja."
"Oh, iya kak. Kakak sempat cerita, kalau kakak naksir sama cewek. Tapi kakak gak bilang siapa nama cewek itu. Ih, padahal aku udah penasaran kali sore itu. Beruntung sekali cewek yang kakak taksir itu. Trus, ceritanya kek mana kak, jadi gak dapat cewek itu." tanya Amy antusias. Arya terbatuk medengar tanya itu. Buru-buru ia menyesap teh manis. Menghindar dari mata Amy yang berbinar indah.
Sama seperti dulu, sinar mata Amy tetap indah. Hanya saja sekarang ada kabut disana. Kabut yang selalu ia sembunyikan dari mata orang.
Arya jelas dapat menangkap itu, kalau Amy selalu berusaha tersenyum riang, menyembunyikan luka hatinya. *****
lanjut terus thor
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️