Indah berpikir jika rumah tangganya baik baik saja. Ternyata tidak. Sikap manis suaminya hanya untuk menutupi watak aslinya yang sudah mendua di belakang Indah.
Yang membuat Indah sangat sakit hati. Ternyata perselingkuhan Rama didukung keluarganya. Dan wanita selingkuhan itu juga sudah hamil.
Cerai adalah jalan terbaik tapi kehidupan Indah tidak tenang sampai disitu. Keluarga Rama terus meneror Indah seakan tidak ingin melihat wanita itu bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tindakan Ibu Yanti
"Pak Rama pasti akan menyesal mengkhianati kamu mbak," kata Mirna saat mereka duduk berduaan di balkon lantai dua rumah Indah. Indah tersenyum getir. Menyesal atau tidak menyesal, pengkhianatan Rama telah mengubah hatinya. Rasa cinta itu perlahan terkikis. Bagi Indah, penyesalan Rama tidak akan ada artinya bagi Indah. Indah bertahan beberapa hari atau minggu saja karena tidak ingin membiarkan Giska menikmati apa yang menjadi hak selama ini.
Tidak sadar, Indah meraba wajahnya. Di usianya yang masih dua puluh delapan tahun. Tentu saja Indah masih terlihat sangat cantik. Wajahnya mulus tanpa jerawat satupun. Tubuhnya juga langsing dengan bentuk badan yang bisa menggiurkan mata para laki laki. Tapi itu itu semua tidak bisa membuat Rama setia. Kehadiran seorang anak lebih berarti pada laki laki itu dibandingkan nilai plus yang ada dalam diri Indah.
Indah juga menginginkan seorang anak dalam pernikahan mereka. Jika seperti saat ini kenyataannya. Indah bisa apa, yang dapat dilakukan wanita itu hanya bersabar dan membawa keinginannya itu dalam doa. Ternyata hanya dirinya yang bersabar sedangkan Rama lebih memilih selingkuh untuk mendapatkan keturunan.
"Menurut kamu. Apa yang harus aku lakukan Mirna?" tanya Indah lesu. Meskipun sudah tersusun beberapa rencana di hatinya untuk kelangsungan rumah tangganya. Indah juga butuh pendapat dari orang lain. Dan saat ini. Dirinya hanya mempunyai Mirna sebagai teman berbagi.
"Cerai mbak. Selingkuh adalah penyakit. Bisa saja saat ini sembuh. Suatu saat pasti akan kambuh lagi. Jangan sampai sakit hati berkali kali karena diselingkuhi mbak," jawab Mirna. Indah menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan pendapat Mirna. Pendapat yang sangat masuk akal meskipun pendapat itu keluar dari mulut gadis yang usianya hampir sepuluh tahun di bawah Indah.
"Mbak mau makan apa. Biar aku masak," kata Mirna lagi.
"Mbak tidak mau makan apapun saat ini Mir. Tadi sudah makan," jawab Indah. Dirinya memang sudah makan tadi meskipun hanya sedikit. Sejak mengetahui perselingkuhan Rama. Selera makanannya hilang. Jika ada makanan yang masuk ke dalam perutnya itu karena dipaksa.
Mirna menatap wajah sendu majikannya itu. Kantong mata yang terlihat di kedua mata Indah menunjukkan jika wanita itu hanya berpura pura tegar di hadapannya.
"Bagaimana kalau kita keluar mbak. Cari angin."
"Kamu tidak kuliah sekarang."
Mirna menggelengkan kepalanya. Tidak apa apa dirinya bolos hari ini untuk menemani Indah yang sepertinya butuh seorang teman.
"Aku ingin di rumah saja Mirna. Lain kali saja kita jalan jalannya ya!.
Indah merasa lebih baik berdiam diri di rumah saat ini daripada keluar dari rumah. Terkadang dirinya bisa menangis tiba tiba jika mengingat kenangan manis dan janji janji Rama kepada dirinya saat dulu. Tempat yang tepat untuk menyembunyikan kesedihannya saat ini adalah rumah.
Baru saja Indah dan Mirna sama sama terdiam, suara suara dari luar rumah mengagetkan dia wanita berbeda usia itu.
"Siapa itu mbak?" tanya Mirna. Serentak dua wanita itu menuju pembatas balkon dan melihat ke bawah tapi mereka tidak bisa melihat siapa yang memanggil nama Indah dengan keras.
Indah dan Mirna turun ke lantai bawah dan mereka sama sama terkejut melihat Giska dan Ibu Yanti sudah berada di depan pintu. Kali ini, tatapan ibu Yanti tidak bersahabat dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa dipersilahkan. Di belakangnya, Giska melakukan hal yang sama.
"Mirna, buatkan jus alpukat untuk kami berdua," kata ibu Yanti tanpa merasa canggung sedikit pun. Seakan akan dirinya yang menjadi majikan Mirna. Mirna menoleh kepada Indah. Melihat anggukan kepala wanita itu. Mirna berlalu ke dapur.
"Mengapa kamu berdiri saja Indah. Apa kamu tidak senang mertua mu berkunjung ke rumah ini?" tanya Ibu Yanti dengan angkuh. Indah yang masih berdiri di belakang kursi hanya menatap dua wanita itu bergantian tanpa berminat untuk bergabung duduk dengan mereka.
"Untuk apa mama membawa wanita ini kemari ma?" tanya Indah penuh selidik. Sungguh, dirinya tidak menyukai kunjungan mama mertuanya dengan membawa wanita selingkuhan suaminya.
"Karena kamu sudah mengetahui hubungan Rama dan Giska. Maka kami berdua akan tinggal di rumah ini. Mama akan tinggal di rumah ini sampai Giska dan Rama menikah. Sedangkan Giska akan tinggal bersama dengan kalian selamanya di rumah ini."
Ibu Yanti berkata tanpa merasa bersalah sedikit pun seakan akan rencananya itu adalah rencana yang hebat. Giska yang duduk di sebelah ibu Yanti terlihat tersenyum.
"Rama yang meminta seperti itu Indah. Dan kamu harus menerima alasan Rama berhubungan dengan Giska. Kami butuh penerus."
Indah memegang dadanya yang terasa semakin sakit. Rama dan ibu Yanti menyakiti dirinya tanpa ampun. Tanpa memikirkan perasaannya bisa bisanya membawa Giska satu atap dengan dirinya. Hari ini, ibu Yanti menunjukkan wajahnya yang sebenarnya di hadapan Indah.
"Benarkah mas Rama yang menginginkan seperti itu ma. Ini bukan akal akalan kalian berdua?" tanya Indah.
"Kamu pikir, mama bisa bertindak tanpa sepengetahuan Rama. Dan satu lagi. Mengapa babu itu masih di rumah ini. Kamu terlalu enak menjadi istri Rama. Tidak bekerja tapi dilayani seorang babu. Buang buang duit saja."
"Mirna bukan babu ma. Dia orang yang sudah aku anggap adikku. Jadi jangan menghina dia. Mirna lebih mulia dibandingkan wanita yang menginginkan suami orang."
Indah tidak tahan untuk tidak membalas perkataan mama mertuanya. Sedari tadi, Giska memang diam. Tapi Indah dapat melihat Gerakan mata, bibir dan tangan wanita itu mengejek dirinya. Giska merasa seperti dirinya yang menjadi pemenang karena mendapatkan dukungan dari ibu Yanti.
"Apa maksud kamu mbak?" tanya Giska. Akhirnya wanita itu mengeluarkan suaranya setelah merasa tersinggung dengan perkataan Indah.
"Jangan panggil aku mbak. Aku bukan mbak mu," jawab Indah ketus. Hal yang manusiawi jika Indah menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Giska karena wanita itu sengaja menghancurkan rumah tangganya. Andaikan wanita selingkuhan Rama bukan orang yang dia kenal dan tidak mendapatkan dukungan dari mama mertuanya. Mungkin rasa sakit itu tidak sebesar yang dirasakan oleh Indah saat ini. Giska sudah jelas jelas mengetahui Rama sudah mempunyai istri. Tapi wanita itu masih bersedia berhubungan dengan Rama. Itu artinya Giska dengan sengaja masuk ke rumah tangganya untuk menghancurkan pernikahan itu.
Indah dapat melihat Giska mengepalkan tangannya. Dan ibu Yanti mengelus lengan wanita itu.
"Jangan bersikap kasar kepada Giska. Dia sedang hamil muda dan tidak bisa mempunyai beban pikiran."
Indah tidak meladeni perkataan mama mertuanya. Indah berlalu dari ruang tamu itu meninggalkan dua tamu yang tidak mempunyai hati itu.
"Dasar menantu sialan tidak sopan.Akan kubuat. Rama menceraikan kamu Indah," teriak ibu Yanti.
"Bukan hanya sialan dan tidak sopan. Mandul juga tante."
"Menantu tidak tahu diri. Enak enak dirinya bersantai di rumah sementara putraku harus bekerja. Tapi dia tidak bisa menghormati mama dari suaminya."
Ibu Yanti terus mengomel karena tersinggung karena sikap Indah. Wanita tua itu benar benar tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Bukannya meminta maaf karena perselingkuhan putranya. Ibu Yanti justru menunjukkan keangkuhannya.
"Lihat, bisa apa dia jika Rama menceraikan dia. Dia hanya wanita yatim piatu tapi berlagak seperti wanita dari keturunan keluarga terhormat."
Indah dan Mirna bisa mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut ibu Yanti dari dapur.
"Keterlaluan mereka mbak. Apa mereka tidak mempunyai hati sedikit pun?" kata Mirna marah. Dia hendak melangkah ke ruang tamu untuk membalas perkataan ibu Yanti tapi tangan Indah menahan pergerakan Mirna.
"Biarkan mereka berkata apapun tentang aku Mirna. Apapun perkataan mereka tentang mbak tidak akan membuat harga diri dan mental mbak terjun bebas. Aku ingin melihat sejauh mana mereka menilai aku."
Indah tidak membalas perkataan mama mertuanya bukan berarti apa yang semua keluar dari mulut ibu Yanti benar semuanya. Indah diam karena sudah tidak mempunyai rasa apapun terhadap keluarga suaminya itu. Rasa bangga memiliki mama mertua seperti ibu Yanti menghilang dari hatinya.
banyak kok yg begitu thor
atau ksh pekerjaan di tmpt orng tua indah thor kasian intannyaa dia gk prnh makan nangka tapi dia yg kena getahny , gk lucu kan thor
berarti kelanjutan nya juga menjadi yg sangat saya nantikan kehadiran nya 👍👍🤗
kalau sy ngebut baca kaya gini, berarti cerita ini sangat-sangat udah bikin saya tertarik banget bacanya 👍👍👍🤗
ditunggu kelanjutannya 👍😘💞💞💞