Kehadiran buah hati adalah salah satu hal yang paling dinanti dalam sebuah pernikahan. Begitu pun yang diharapkan oleh Raditya dan Riena. Namun, apa jadinya jika kehamilan itu justru datang disaat kondisi psikologis Reina masih belum pulih benar dari traumanya? Alih-alih merayakan kabar kehamilan tersebut dengan pesta tasyakuran secara besar-besaran, diam-diam Riena malah berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Raditya. Bahkan dia memutuskan untuk pergi menjauh dari suaminya itu.
Apakah yang terjadi sebenarnya? Akankah Raditya masih sanggup berjuang demi mempertahankan mahligai rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part sixteen
Mengetahui siapa sosok yang bertabrakan dengan Riena, dengan sigap Raditya segera memasang badan di depan istrinya tersebut. Berusaha mengecilkan kemungkinan akan adanya pertanyaan atau pun pernyataan yang tidak mengenakkan atas reaksi dari Riena yang bagi orang lain tentu dianggap berlebihan.
"Maaf, istriku tidak sengaja," ucap Raditya sembari menoleh ke arah Riena yang sibuk mengusap bahunya yang tertabrak tadi dengan gerakan kasar.
"Sengaja pun tidak masalah. Aku sama sekali tidak keberatan." Sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Reno itu menimpali pernyataan maaf Raditya dengan sangat santai. Sorot matanya sedikit nakal mengarah pada Riena.
Tidak ingin memperpanjang urusan, Raditya pun memfokuskan perhatiannya pada Riena. Dihampirinya istrinya tersebut. "Sudah, Bee. Tidak akan ada lagi yang menyentuhmu. Di sini aman. Ada aku," lirihnya. Tapi masih sayup terdengar di telinga Reno.
Riena perlahan menegakkan kepalanya kembali. Dia mencoba mengatur napas dan ketakutannya sendiri. "Ay, aku mau pulang," pintanya dengan tatapan mata kosong.
"Iya, kita pulang. Sekarang kita ke kamar, ya. Kita ambil barang-barang kita dulu," ajak Raditya. Tangannya ragu-ragu terulur ingin mengamit lengan Riena. Tetapi diurungkannya niat tersebut, khawatir nantinya malah akan membuat Riena ketakutan.
Reno bergeming di tempatnya. Perhatian pria tersebut tidak sedetik pun terlepas dari interaksi antara Riena dan Raditya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika dia melihat betapa sosok yang membuat saudari kembarnya meregang nyawa itu berada dalam situasi sesulit ini. Meski belum sepenuhnya puas, nyatanya menyiksa musuh secara perlahan jauh lebih menyenangkan ketimbang mematikannya seketika.
Saat Riena kembali berpapasan dengan Reno ada sesuatu berbeda yang dirasakan perempuan tersebut. Dia pun menghentikan langkahnya sejenak dan memberanikan diri melirik sekilas sosok tersebut. Menyadari Riena sedang mengingat sesuatu akan dirinya, Reno pun melemparkan sebuah senyuman yang sengaja ditampilkan semempesona mungkin. Lagi-lagi Raditya segera memasang badan dengan nekat menarik pergelangan tangan kiri Riena agar kembali melangkahkan kakinya.
Reno semakin melebarkan senyumnya mendapati reaksi Raditya. "Ini baru awal, Dit. Dan aku sangat menikmatinya. Aku akan memberimu jeda sebentar, selanjutnya permainan akan lebih seru untuk kita berdua," ucapnya dalam hati. Dia tidak bergeser sedikit pun dari posisinya sampai sosok Raditya dan Riena tidak lagi tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Ay, aku sepertinya pernah melihat pria tadi. Tapi aku lupa di mana," ucap Riena begitu keduanya sudah berada di dalam kamar.
"Mungkin kamu salah orang, Bee. Sudah tidak usah diingat-ingat. Sama sekali tidak penting," sahut Raditya dengan cepat. Dia sama sekali tidak berharap istrinya benar-benar pernah berjumpa dengan Reno. Apa pun kisah masa lalu Raditya, dia tidak ingin menarik Riena ke dalam kisah itu.
"Wajah itu tidak asing, Ay. Sama sekali tidak asing." Riena mengatakannya sembari berusaha keras mengingat-ingat.
"Bee, please, aku bisa cemburu kalau kamu terus mempertanyakan siapa dia. Aku tidak suka kamu mengingat dan membicarakan pria lain. Please!" Tidak ada cara lain yang terpikirkan oleh Raditya selain mengucapkan kata-kata barusan. Meski sesungguhnya dia sendiri juga penasaran apa maksud dibalik pernyataan Riena, tetapi Raditya memilih menyudahi pembicaraan tersebut karena tidak ingin masa lalunya ikut terkuak.
Bibir Riena pun kembali terkunci rapat. Tidak sepatah kata pun ingin diucapkannya lagi. Dia mencoba berpikir tenang. Apa yang dilaluinya sudah berat. Tidak seharusnya dia menambah beban otaknya dengan hal-hal di luar proses pemulihan jiwa raganya.
"Ay, sudah dapat tiket pesawatnya? Aku mau pulang ke Jakarta saja. Aku tidak mungkin pulang ke mama dalam keadaan seperti ini. Cukup kamu saja yang aku repotkan." Riena memaksakan senyumnya sembari menatap sendu pada suaminya.
"Jangan ngomong begitu, Bee. Aku tidak pernah merasa direpotkan. Aku hanya minta sama kamu, jangan pernah mengucapkan kata cerai lagi. Tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa ujian. Apa pun yang menimpamu, kamu tidak sendirian. Akan selalu ada aku bersamamu." Raditya membalas tatapan Riena dengan tatapan penuh cinta yang begitu dalam.
Riena langsung memeluk Raditya. Kata terimakasih dan maaf silih berganti terucap dari bibir perempuan tersebut. Keduanya larut dalam hangat pelukan itu. Hanya sebatas itu. Meski Raditya ingin melakukan hal lebih, jelas dia harus menahan diri karena apa yang diinginkannya sudah pasti belum siap diberikan oleh Riena.
"Kamu istirahat dulu, Bee. Jadwal penerbangan kita masih tiga jam lagi. Bandara tidak jauh dari sini. Masih ada dua jam untuk tidur," ucap Raditya sembari merenggangkan pelukannya. Dia terpaksa melakukan hal tersebut. Karena sejenak ingin meredam hasratnya sendiri.
Riena mengangguk setuju. Dia pun perlahan membaringkan badannya di atas ranjang. Raditya membantu menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Ya Allah, aku seharusnya memang bersyukur. Aku tidak boleh patah semangat. Suamiku berhak mendapatkan yang terbaik dariku," lirih Riena dalam hati sembari memejamkan matanya.
Raditya sendiri memilih untuk menyegarkan badannya ke kamar mandi. Hampir satu jam dia berendam di dalam bathup berisi air hangat. Diiringi alunan lembut lagu favorite dirinya dan juga Riena sepanjang waktu. Lagu yang bahkan menjadi wedding song keduanya lima tahun yang lalu.
Riena mendengar sayup-sayup suara merdu mendiang Glen Fredly dengan lirik menghanyutkan yang terangkum dalam judul "Kasih Putih". Perempuan tersebut pun membuka bola matanya, dan beringsut turun dari ranjang mencari sumber suara yang didengarnya tersebut.
Perlahan, Riena mendekati dan mendorong pintu kamar mandi yang tidak sepenuhnya tertutup. Semakin hancur dan pedih rasa hatinya kini. Riena menahan tangisnya dengan susah payah.
" Maafkan aku, Ay. Karena ketidakberdayaanku, kamu sampai harus melakukannya sendirian. Aku benar-benar belum sanggup." Riena kembali menutup pintu tersebut seperti semula. Membiarkan Raditya menggerakkan tangan kanannya dengan lincah pada kejantanannya sendiri.
Sudah diketahui Riena sejak diawal perkenalan, Raditya Mahesa adalah seseorang yang memiliki hasrat sekssual di atas normal. Selama pacaran, pria tersebut berulang kali harus meminta maaf padanya karena hampir saja melakukan hal yang di luar batas. Namun, seiring berjalannya waktu. Raditya mulai bisa mengendalikan hasrat birahinya itu dengan berbagai cara. Mendapatkan Riena adalah impian Raditya. Tentu dia tidak mau kalau sampai Riena meninggalkannya gara-gara istilah "Penjajah Sekksual" yang terus melekat pada dirinya.
Tidak lama, Raditya pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak segar. Rambutnya masih sangat basah. Pria tersebut sengaja tidak mengeringkannya terlebih dahulu. Riena pura-pura masih tertidur pulas. Hingga beberapa menit menuju keberangkatan ke bandara, perempuan tersebut baru memutuskan untuk bangun dan bersiap-siap.
Sementara itu, masih di hotel yang sama, Reno terpantau duduk santai di salah satu sofa lobby hotel. Dia seperti sedang menunggu seseorang. Sebuah ponsel yang bukan miliknya, tergeletak di atas pangkuan pria tersebut.
"Semua sudah dalam kendaliku, Dit," gumam Reno disertai senyuman licik.