5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Penawar
Malam kedua seharusnya menjadi tahap final yang tenang, namun efek samping dari ramuan "Akar Penidup" yang diminum dalam keadaan perut kosong dan tekanan stres yang tinggi mulai menunjukkan taringnya.
Krisis di Menara Jam
Saat mereka baru saja duduk melingkar di puncak menara, wajah Vera mendadak pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya, dan tangannya yang biasanya kokoh saat menyentuh elemen tanah kini bergetar hebat.
"Vera? Kamu kenapa?" tanya Azzura cemas.
"Perutku... rasanya seperti dililit akar berduri," rintih Vera. Tiba-tiba, energi tanah di sekelilingnya menjadi tidak stabil. Lantai menara jam mulai retak dan berguncang tanpa kendali. "Aku tidak bisa menahannya... energinya berbalik menyerangku!"
Olivia segera memeriksa denyut nadi Vera. "Sial! Ini reaksi balik dari ramuan tadi. Karena energi Vera terlalu menyatu dengan alam, sisa ramuan akar itu malah tumbuh di dalam sistem sihirnya dan mencoba menyerap energinya!"
Jika Vera tidak segera diobati, ia tidak akan bisa ikut dalam sinkronisasi malam ini. Lebih buruk lagi, energi tanah yang liar bisa menghancurkan menara jam dan membongkar persembunyian mereka.
"Apa penawarnya, Olivia?" tanya Luna sambil menciptakan lapisan es tipis di sekitar Vera untuk meredam suhu tubuhnya yang naik.
"Aku butuh Sari Bunga Aetheria yang hanya mekar di bawah cahaya bulan di taman laboratorium Profesor Elian," jawab Olivia cepat. "Tapi tempat itu pasti dijaga ketat sekarang!"
"Aku dan Rachel yang akan pergi," ucap Azzura tegas. "Luna, tetap di sini bersama Olivia. Gunakan esmu untuk menstabilkan kondisi Vera agar energinya tidak meledak."
Azzura dan Rachel menyelinap keluar menara. Dengan kecepatan Listrik Azzura dan bantuan Angin Rachel untuk meredam suara langkah kaki, mereka menembus penjagaan laboratorium. Beruntung, karena fokus Dewan Senior masih tertuju pada perpustakaan, taman laboratorium itu hanya dijaga oleh dua penjaga yang tampak terkantuk-kantuk.
Azzura menggunakan Cahaya-nya untuk membuat ilusi optik sederhana, sementara Rachel menggerakkan angin untuk memetik bunga perak yang bersinar itu tanpa menyentuh alarm sensor.
Mereka kembali ke menara tepat waktu. Olivia segera meremas bunga itu dan mencampurkannya dengan sedikit air suci. Begitu Vera meminumnya, rona merah kembali ke wajahnya. Akar sihir yang melilit intinya langsung meluruh.
"Fuuuh... terima kasih, guys. Aku merasa jauh lebih baik," ucap Vera sambil menghela napas panjang.
"Jangan dipaksakan dulu," kata Olivia. "Tapi kita harus memulai sinkronisasi sekarang. Waktu kita tinggal sedikit sebelum matahari terbit."
Malam itu, sinkronisasi terasa jauh lebih berat karena sisa rasa sakit yang dialami Vera. Namun, justru karena rasa sakit itu, ikatan mereka terasa lebih nyata. Mereka saling menyalurkan kekuatan untuk menopang Vera.
Kotak batu itu mulai retak. Cahaya di dalamnya bukan lagi redup, melainkan menyilaukan. Kelima slot elemen di sekelilingnya kini terisi penuh dengan energi murni mereka.
KREEEEAK...
Tutup kotak batu itu terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah gagang kunci emas berbentuk bintang yang berdenyut mengikuti detak jantung mereka berlima.
"Besok adalah puncaknya," bisik Azzura sambil menatap langit yang kini benar-benar sudah berwarna merah tua. "Gerhana Merah akan tiba dalam dua belas jam. Dan saat itulah, kita akan mengambil Kunci ini dan menghadapi siapa pun yang mencoba menghalangi kita."
Pagi di hari ketiga terasa sangat mencekam. Langit Euthopia tidak lagi ungu, melainkan merah gelap yang pekat. Matahari yang seharusnya bersinar terang kini tertutup bayang-bayang hitam, menyisakan lingkaran merah yang menyeramkan.
Baru saja mereka kembali ke kamar asrama untuk beristirahat sejenak, pintu diketuk dengan kode rahasia. Itu Xander. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dari biasanya, napasnya tersengal-sengal.
"Kalian harus waspada. Dewan Senior baru saja menemukan lokasi Profesor Elian," bisik Xander dengan nada mendesak.
"Di mana?" tanya Azzura cepat.