WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-16
Waktu menunjukkan pukul 18.40, berarti dua puluh menit lagi hukumannya selesai, Ayu beranjak dari tidurannya dengan raut lega namun sedikit kesal juga. Daddy-nya benar-benar menghukumnya seharian.
Sembari menghentakkan kakinya, Ayu berjalan ke ruang ganti untuk mengambil handuk, ia akan membersihkan dirinya dulu sebelum keluar makan malam.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya Ayu selesai dengan aktivitas mandinya, dan kini ia sudah siap untuk keluar kamar setelah mengenakan pakaian.
"Huft akhirnya bebas juga... Walaupun pintu gak dikunci, tapi tetep aja gak bisa keluar. Mana dikurung seharian lagi, udah kayak tahanan maling Duda aja... Sebel lah sama Daddy, pucek!.." Gerutunya sambil membuka pintu lalu keluar untuk turun ke lantai bawah.
Saat tiba di ruang makan, ternyata daddy-nya sudah ada disana duduk dengan tenangnya. Martin mengetahui kedatangan Ayu, namun ia tidak menghiraukan nya.
Martin masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat di Galerry Ayu. Salah pergaulan sepertinya, pikir Martin.
Ayu berdiri dibelakang kursi makan tanpa ada niatan untuk duduk, ia sedang menunggu interupsi dari Daddy-nya. Gengsi juga kalau langsung main duduk, soalnya untuk kali ini ia habis menerima hukuman. Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang tinggal duduk lalu makan.
Lima menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda Daddy-nya akan menyuruhnya untuk makan, disuruh duduk pun tidak. Pria matang itu malah sibuk dengan suapan demi suapan makanannya, tanpa menghiraukan Ayu yang sudah sangat kelaparan.
Daddy jahat ihhh... Masa cuma bolos aja marahnya belum beres-beres.. Aduh mana udah keruyukan lagi nih perut.. Batin Ayu kesal.
Ayu memberangus dengan sesekali menelan ludah karena tergoda dengan wangi menu-menu makanan dihadapan nya. Apalagi semur jengkol itu, pasti Bi Darmi membuatkannya khusus untuknya. Ya, karena hanya Ayu saja yang suka spesies semur itu.
Benar-benar si Daddy, anak udah mau mati kelaparan aja malah dicuekin kayak gini.. Bodo amat lah gas aja, kalo lapar gak usah gengsi..
Srek
Ayu menarik kursinya, lalu duduk dengan percaya dirinya. Namun saat tangan kanannya akan membalik piring, ucapan Martin langsung menghentikannya.
"Siapa yang suruh kamu duduk?" Tanya Martin yang kini sudah menatap Ayu datar.
Kepercayaan diri yang baru saja melambung tinggi, kini lebur sudah saat mendapat tatapan seperti itu dari Daddy-nya.
Ayu meringis salah tingkah, tangan yang sudah menggantung di udara kini ia tarik kembali dan menyembunyikannya dibawah meja.
"A-yu lapar Dad-" Kata Ayu menunduk malu.
"Berdiri!" Titah Martin dingin.
"Mau ngapain Dad?" Tanya Ayu dengan polosnya.
Bukannya merespon, Martin malah memberikan tatapan tajam pada Ayu. Sehingga Ayu langsung berdiri dengan satu tarikan.
"Berdiri di sana!" Titah Martin lagi seraya menunjuk dengan dagunya ke arah area kosong yang jaraknya hanya dua meter dari meja makan.
Ayu yang bingung hanya manut saja dengan apa yang diperintah kan Daddy-nya. Ia keluar dari area meja lalu berjalan beberapa langkah.
"Terus ngapain lagi Dad?" Tanya Ayu dengan ekspresi polos.
"Angkat kaki kanan." Ucap Martin yang kini berubah datar lagi ekspresinya.
Ayu mengangguk, lalu mengangkat kaki kanannya setinggi 10CM.
"Kurang tinggi!"
Ayu mengangkatnya lagi.
"Dikit lagi!"
Ayu pun mengangkatnya lagi sehingga sekarang tingginya mencapai 30CM.
"Pegang kedua telinga."
Eh eh eh! Jadi ini ceritanya aku dihukum lagi? Waah gak bisa nih...
"Ini jadi ceritanya daddy mau hukum Ayu lagi?" Tanya Ayu mengintimidasi, namun tangannya malah bergerak sendiri memegang kedua telinganya, dan kakinya pun masih dalam kondisi terangkat.
Martin melotot pada Ayu karena Ayu malah unjuk rasa. "Kamu tidak merasa karena apa Daddy menghukum kamu lagi?" Tanya Martin pelan namun terkesan dalam.
Ayu diam, sepertinya Daddy-nya sedang dalam mode yang sangat serius. Tapi masalahnya apa yang membuat Daddy-nya menghukum dirinya lagi.
"Kenapa diam? Udah sadar?" Tanya Martin lagi.
Ayu menggeleng jujur, karena ia memang masih belum tahu apa penyebabnya.
"Ya sudah, jalanin hukuman kamu sampai jam sembilan nanti." Putus Martin sah dan tidak bisa diganggu gugat lagi.
What!! Sampai jam sembilan?
"Tapi Dad-
Ayu tidak bisa melanjutkan unjuk rasanya, sebab mata Daddy-nya benar-benar sudah melotot hampir keluar.
Alhasil Ayu hanya bisa pasrah sembari memberi kekuatan pada cacing-cacing perutnya untuk bersabar.
"Den? Ayu kenapa berdiri kayak monyet gitu?" Tanya Bi Darmi yang baru nongol lagi sembari membawa segelas susu untuk Ayu.
Pfttt... Martin hampir saja tertawa mendengar celetukan Bi Darmi. Cepat-cepat ia meraih gelas air putih lalu meneguknya sampai habis setengahnya
Suee malah dibilang kayak monyet! Tega bener, dua-duanya pun gak ada yang bener.. Batin Ayu sebal.
"Hukuman tambahan Bi." Ucap Martin setelah tenggorokannya terasa sedikit lega.
"Dihukum lagi? Kirain Bibi lagi nari walet." Ucap Bi Darmi lagi seraya ikut duduk melihat pada Ayu yang tengah memberengus kesal.
Uhuk!
Martin kali ini tersedak, ia meminum kembali sisa air yang ada di gelasnya.
"Balet Nek bukan walet!" Teriak Ayu sewot. Sudah kesal sama Daddy-nya, kini malah ditambah kesal pula sama Bi Darmi yang sudah ia anggap sebagai Neneknya itu.
"Hati-hati Den, makannya pelan-pelan." Ujar Bi Darmi tanpa merasa bersalah seraya menghiraukan ucapan Ayu.
"Iya Bi gak pa-pa kok." Jawab Martin sembari mangap-mangap mencari hawa udara.
"Selamat malam Bos." Sapa seseorang yang baru datang, ternyata orang tersebut adalah David yang beberapa jam lalu di perintahkan untuk datang ke Mansion tersebut oleh Martin.
Semua orang menoleh pada David yang tengah tersenyum lebar. Lalu tatapan David bertemu dengan tatapan Ayu.
Deg!
Entah kenapa tiba-tiba Ayu jadi salah tingkah saat bertatapan dengan Om-nya itu.
Kok aku baru ngeh ya kalo Om David tenyata cakep banget... Aduh ini jantung kenapa lagi.. Batin Ayu sambil ter senyum-senyum tidak jelas.
"Waah... Perasaan Ayu ambil jurusan akuntansi kuliahnya, tapi kenapa malah latihan joget?" Celetuk David yang langsung membubarkan kupu-kupu yang sudah berkumpul di hati Ayu.
Martin dan Bi Darmi cegukan dalam waktu bersamaan. Ternyata ada yang lebih parah dari celetukan Bi Darmi.
"Bukan lagi joget Nak, Ayu lagi dihukum sama Daddy-nya." Ujar Bi Darmi meluruskan.
"Oh dihukum, kirain lagi latihan joget, aneh aja gitu... Oh iya Bos, ini berkas hasil dari pertemuan saya dengan Tuan Baskoro pagi tadi." Kata David mengalihkan sembari mengulurkan berkas-berkas tersebut pada Martin.
"Pegang dulu saja, sekarang kamu ikut makan dulu. Nanti kita bahas diruang kerja." Perintah Martin dengan ekspresi yang sudah kembali biasa saja.
"Siap Bos." David pun ikut duduk sembari meletakkan berkas-berkas tersebut dikursi sampingnya, lalu ikut makan malam bersama menghiraukan Ayu yang terlihat sudah frustasi.
Satu rumah sengklek semua, termasuk aku juga...
skip..malas gw baca😪