NovelToon NovelToon
Bima

Bima

Status: tamat
Genre:Romantis / Badboy / Tamat
Popularitas:351.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: aisy hilyah

Sekuel dari novel Abang Penjual Sate, Imamku dan Ibu pengganti. Selamat membaca.

Seorang bayi yang masih merah, terlempar ke dalam jurang yang dalam. Ia ditemukan oleh wanita paruh baya, istri seorang preman pasar yang disegani. Ia dirawat sepasang suami istri itu dengan penuh kasih sayang walaupun cara didikan keduanya berbeda. Bayi itu diberi nama BIMA.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang gadis yang memiliki wajah hampir serupa dengannya. Dengan mempercayai sebuah mitos bahwa jodoh itu pasti memiliki kesamaan, keduanya pun menjalin hubungan pertemanan.

Namun, hal itu membuat ayah angkat Bima ketakutan. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung dan menetap di kota. Hal itu membuat mereka harus mempelajari cara hidup di lingkungan baru itu.

Sampai sebuah pertemuan tak terduga terjadi, menguak siapa sesungguhnya Bima.

"Kak, kenapa wajah kita terlihat sama?" Gadis misterius.

"Kata Nyak gua kalo muka kita mirip ntu artinya kita jodoh. Neng, lu mau kagak jadi bini gua?" Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 16

Satu bulan berlalu, Bima mengikuti pelajaran dengan baik. Pada hakikatnya sekolah yang sekarang tak jauh beda dengan yang dulu. Hanya saja, sekolah itu memiliki dua jurusan yang dikhususkan. Kelas bisnis dan kelas pelatihan khusus.

Kursi Bima berada di urutan paling belakang, tapi justru kursi itulah yang menjadi perhatian semua guru ketika mengajar. Tak jarang Bima dimintanya mengulang penjelasan secara ringkas untuk menguji apakah dia mendengarkan guru ketika menerangkan.

Sikap Bima selalu membuat puas semua guru hingga lambat laun menjadikannya banyak dikenal siswa. Terutama saat kelas agama berlangsung, guru agama kerap memuji Bima karena ketangkasannya menjawab.

Anak Babeh Dewa!

Begitu puji Dewa tatkala melihat nilai-nilai pelajaran Bima setiap malam menjelang tidur.

Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar, sebagian pergi ke kantin untuk membeli makanan, sebagian pergi ke lapangan sekedar bermain. Akan tetapi, Bima tetap duduk di kelasnya. Membuka kotak bekal yang selalu ia bawa dari rumah.

"Bim, kau membawa bekal lagi? Padahal, aku ingin mengajakmu ke kantin," tanya teman sebangkunya yang begitu baik terhadap Bima.

"Kau saja, Ibu membekaliku makanan. Apa kau mau mencicipinya?" Bima mengangkat sebuah makanan yang ditusuknya dengan garpu.

"Apa ini? Kenapa bentuknya aneh begini?" Ia menelisik makanan yang diangkat Bima. Benda bulat kecil, berbalut sambal kacang ....

"Ini cilok namanya. Cobalah!" Ia bergidik dan menggeleng. Mengibaskan tangan sambil berlari meninggalkan Bima di kelas. Tawa kecil Bima menggema sendirian.

Bima mulai belajar cara kehidupan semua siswa di sekolah itu. Sedikitnya dia mengerti beberapa hal yang sering dilakukan semua siswa, terutama dalam hal makanan. Mereka tak pernah menggunakan tangan, selalu ada sendok dan garpu dalam bekal makanan yang mereka bawa.

"Jajanan yang Nyak bikin emang nomor satu." Ia terkekeh sendiri, memasukkan makanan berbentuk bulat-bulat itu ke dalam mulutnya.

Bima beranjak usai menghabiskan semuanya. Merapikan kotak makannya ke dalam tas sebelum meninggalkan kelas menuju toilet. Bulu-bulu halus di tubuh Bima meremang tatkala keadaan toilet nampak sepi.

Dahi sempitnya berkerut melihat tiga orang siswa berjaga di depan toilet. Mengandalkan firasatnya, Bima terus berjalan melanjutkan hajatnya.

"Mau ke mana?" cegah salah satu dari mereka menahan dada Bima yang hendak masuk.

"Aku mau ke toilet. Memangnya tidak boleh?" ketus Bima tak suka.

Telinganya bergerak saat suara rintihan dan pekikan seorang anak terdengar dari dalam salah satu bilik toilet.

"Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian menyiksa siswa yang lebih lemah dari kalian?" Wajah Bima menghitam. Maniknya yang pekat semakin kelam dengan kedua tangan yang terkepal kuat.

"Bukan urusanmu! Sekarang, pergilah! Sebelum kami menyakitimu!" sengit siswa yang bertubuh besar. Ia membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka bertemu.

Bugh!

Brak!

Satu tinju Bima melayang mengenai ulu hatinya, tubuh besar di hadapannya terpental dan menabrak dinding toilet. Dua pasang mata yang lainnya membelalak, mulut-mulut mereka menganga melihat anak bertubuh besar itu terduduk lemas.

"Kurang ajar! Kau belum tahu siapa kami, ya? Berani sekali melawan kami. Memangnya siapa dirimu! Hanya anak malang yang beruntung!" Ia mencekal tangan Bima kuat-kuat.

Bima tak bereaksi berlebih, sekalipun hal itu membuatnya sakit, Bima tak meringis. Digenggamnya tangan itu menggunakan tangan miliknya, diremas kuat-kuat. Meringis anak itu, Bima memutar tangan tersebut sebelum melemparnya.

Melihat satu anak terakhir yang menyerah, Bima melanjutkan langkah menuju bilik toilet yang ia curigai. Tubuh anak itu gemetar saat Bima melintasinya, ia merapatkannya ke dinding ketakutan.

Brak!

Cukup satu kali tendangan, pintu itu terbuka dan memperlihatkan apa yang ada di dalam.

"Bi-bima! A-apa yang kau lakukan?" Dia rekan sebangku Bima. Dipojokan anak yang bertubuh besar ke dinding. Entah apa yang terjadi pada mereka, tapi hal itu tak bisa Bima biarkan.

"Revan? Kau menyakiti temanku!" Suara dingin Bima merubah suasana menjadi mencekam. Pandangannya menggelap, wajah merah padam, kedua tangan semakin kuat mengepal.

"Lepaskan atau aku yang memaksamu!" pinta Bima lagi dengan suara semakin parau.

Anak itu tersenyum mencibir, tekanan pada dada teman Bima semakin menguat mengejek anak baru itu.

"Siapa kau? Kenapa aku harus menurutimu? Dia budakku! Apa kau juga mau menjadi budakku?" ucapnya dengan angkuh.

"Budak? Apa di sekolah ini diperbolehkan perbudakan? Kurasa tidak!" Bima melangkahkan kakinya mendekat.

"Ah ...." Revan memekik. Kedua tangannya memegangi tangan besar yang menahan dadanya itu.

"Lepaskan!" Bima mendesak, menendang kuat-kuat paha anak yang menindas temannya.

"Ah!" Ia terguling memegangi pahanya yang berdenyut nyeri. Bima menarik Revan dan memintanya berdiri di belakang tubuh.

"Karena aku Bima, dan dia temanku. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya termasuk kalian!" ujar Bima sebelum membawa Revan keluar toilet.

Anak itu menganga tak percaya, belum pernah ada orang yang berani melawan geng mereka. Ia semakin tak percaya saat melihat keadaan di luar toilet. Dua anak meringis kesakitan, dan satu anak menempel erat-erat pada tembok.

Bima tak acuh, ia terus membawa langkahnya bersama Revan menuju sebuah kursi.

"Kau tak apa?" Pertanyaan pertama setelah Bima duduk di sampingnya.

Revan belum menyahut, ia mengelus dadanya sendiri yang terasa sesak dan sakit. Terbatuk-batuk dan mengusapnya lagi.

"Apa sangat sakit? Kenapa kau tidak melawan? Kau seharusnya melawan tadi!" ucap Bima dingin. Revan menunduk, bukannya tak ingin melawan, tapi dia tak mampu. Keempat anak itu atlit bela diri andalan sekolah. Sayang, prestasi yang mereka raih justru mereka gunakan untuk menindas anak yang lain.

"Dia itu kuat, Bim. Aku pernah melawannya, tapi justru aku yang kesakitan. Aku tidak bisa melawannya," ungkap Revan dengan kepala tertunduk dalam.

Bima mendengus, ia mengangkat pandangan dengan berani ketika empat orang itu melintas di lorong yang lain. Pandangan mereka mengancam, tapi Bima bergeming tanpa takut.

"Apa yang mereka inginkan dari menindas siswa lain?" tanya Bima setelah lama terdiam.

"Pengakuan!"

"Pengakuan?" Bima berjengit. Ia menoleh pada Revan bingung. Temannya itu menganggukkan kepala sambil ikut menatap ke arahnya.

"Pengakuan seperti apa?" Bertanya menuntut.

"Pengakuan jika dialah yang terkuat di sekolah ini, dan memang terbukti selama ini tak ada yang berani melawannya. Setidaknya sebelum kau datang, Bima." Ucapannya membuat Bima membuang napas panjang. Tak habis pikir kenapa ada anak yang sudah melakukan tindak kriminal di usianya yang masih sangat belia.

"Konyol! Apa pihak sekolah tahu? Kenapa tidak melaporkannya saja?" Bima berpaling. Benar, ia sempat melihatnya tadi di mana semua siswa menunduk dan menjauh dari jalan saat empat orang itu melintas.

"Sudah, tapi mereka tak bisa berbuat banyak karena empat orang itu adalah andalan sekolah ini dalam turnamen bela diri," jawab Revan kesal.

Bima menepuk bahunya, ia mengajak Revan ke kelas sambil memikirkan cara bagaimana mengakhiri itu semua.

"Jangan nekad? Mungkin tadi kau hanya beruntung saja." Seperti tahu apa yang ada di dalam otak Bima, ia memberi peringatan.

Bima menggaruk tengkuknya, berpaling karena ketahuan. Revan sudah baik-baik saja, itu yang terpenting. Dia tidak tahu siapa Bima. Anak Babeh Dewa.

1
菲菲 Dwi L Arema
G ingat cp dia dlu
菲菲 Dwi L Arema
Dari dlu kenapa aulia ttp bego thor
🌹🪴eiv🪴🌹
terimakasih untuk tulisan indah mu thor
udah bikin aku yg pilek tambah 🤧 ,🤣🤣🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
lah salah bully, anak sultan itu
habis kau Yola dkk 🤣
🌹🪴eiv🪴🌹
si Akmal kenapa jadi arogan begini 😫
🌹🪴eiv🪴🌹
ya Allah, Ibrahim di gondol anjing 😫
Alhamdulillah masih hidup 🤗
Christina Dariyem
Ya Allah mulianya hati ni orang sekeluarga nyesek banget
Aisy Hilyah: Alhamdulillah
total 1 replies
Christina Dariyem
Sedih banget ampe ikutan mewek dada nysek jg
Aisy Hilyah: terima kasih sudah membaca
total 1 replies
Christina Dariyem
cerita ya bgs banget saya suka sekali baca ini
Aisy Hilyah: Alhamdulillah terima kasih banyak
total 1 replies
Mareew
alur. kisah nya.. semua bagus
Aisy Hilyah: terima kasih banyak
total 1 replies
Mardiati Badri
good enough
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
Karmilah Milah
lanjut lagih dong cerita bima seru untuk di baca ngabu burit
Aisy Hilyah: Alhamdulillah hehe terimakasih banyak
total 1 replies
Sri Juliani
akh..ngapa athor begitu romantis dan puitis islami..semoga..bima membawa oran yg dapat menyejukan pembaca...
Aisy Hilyah: aamiin
total 1 replies
Sri Juliani
lama benar author tuk buat tes DNA.ya
Sri Juliani
mudah2 babeh mau berlapang dada..menerima kenyataan yg akan terjadi,jgn sampai karena ke egoisan nyak dan babeh bima jadi benci..
Sri Juliani
hati2 pak dewa..takutnya terjadi percintaan sedara,ayyra ingatkan adikmu,ceritakan pada nassya,agar dia tahu bahwa dia punya kakak laki2..
Yurniati
extra part thorr
Aisy Hilyah: hmm nanti dipikirin lagi hhe
total 1 replies
Yurniati
lanjut thorr
Aisy Hilyah: terimakasih banyak
total 1 replies
sri mindaryati
pas bima ngrokok maskernya dibuka apa ga ya
Aisy Hilyah: dibuka masa dilubangi kayak si kakek 🤭
total 1 replies
Uliana Takbir
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!