NovelToon NovelToon
Pelangi Senja

Pelangi Senja

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 5
Nama Author: Nadziroh

Terhalang oleh sebuah masa lalu orang tuanya, Devan dan Alisa tidak bisa bersatu. Hubungan yang terjalin selama lima tahun harus kandas saat Sang Ayah menjodohkannya dengan Raisya, putri pertama Randu.

Tinggal satu rumah dengan Raisya adalah hal yang sangat mustahil bagi Devan, tapi ia tetap bertahan demi memenuhi permintaan bundanya. Meskipun Raisya adalah istrinya, faktanya Devan tak pernah menyentuhnya sedikit pun, bahkan mereka pisah kamar. hingga berputarnya mentari menyadarkan Devan jika kehadiran Raisya bagaikan Pelangi Senja.

Mampukah Devan menyembuhkan luka yang pernah ia torehkan untuk Raisya?

Ataukah Raisya memilih pergi, membiarkan Devan dan Alisa bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadziroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemas

Jam sudah menunjukkan pukul 15.30 sore, itu artinya sudah setengah jam lebih Raisa menunggu, tapi belum ada tanda-tanda Devan menjemputnya. 

Raisya beranjak dari duduknya, merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya lalu kembali memakai jas putihnya. Ia keluar dari ruangannya, kebetulan ada dokter Ihsan yang juga melintas di depan pintu. Raisya hanya tersenyum tipis sebagai tanda sapaan. 

"Dokter belum pulang?" tanya Ihsan dengan gayanya yang selalu sopan dan ramah. 

"Belum, nungguin kak Devan."

Raisya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Rasanya aneh saja dengan tatapan pria itu. Apalagi Dokter Ihsan juga masih lajang dan itu yang membuat Raisya sedikit tak nyaman jika di dekatnya.

"O...mau di jemput, baiklah kalau begitu aku duluan."

Raisya hanya menangkup kedua tangannya, ia menghentikan langkahnya  dan mempersilahkan Ihsan untuk masuk lift lebih dulu. Sedangkan Raisya menyusul setelahnya. 

Sesampainya di bawah,  Raisya masuk ke ruang tunggu, dokter yang berjaga sudah silih berganti, sebagian yang kenal menghampirinya sekedar menyapa,  sedangkan sebagian yang belum mengenalnya berkenalan. Sebagai menantu pemilik rumah sakit itu, Raisya dihormati layaknya keluarga Ayah Mahesa.

Raisya mengusir kebosanan yang melanda itu dengan membuka sosmed, iseng yang ia buka saat ini adalah akun suaminya. Banyak gambar yang terpajang di sana, baik sendiri maupun bersama adik-adiknya. Ada juga bersama gadis yang baru ia lihat.

"Pasti ini yang namanya Alisa," gumam Raisya. 

Ia menatap lekat foto seorang gadis yang berambut pendek dengan wajah lokal. 

 

Sepertinya gadis ini juga keturunan Indo, apa dia memang berasal dari sini dan tinggal di Turki?

Raisya kembali menutup ponselnya, ia tak mau tahu lebih dalam,  toh itu bukan urusannya dan sudah merelakan Devan jika ingin melepasnya. 

"Apa kak Devan lupa ya,  mana Syakila sudah pulang lagi."

Semakin lama Raisya merasa jenuh. Ia keluar dari rumah sakit dan duduk di teras. 

Hatinya sedikit gusar,  takut dengan Devan yang tak memberinya kabar, akhirnya Raisya menghubungi suaminya. Matanya terus memandang ke sana ke mari, berharap sosok yang ia tunggu itu datang.

Terhubung,  namun tak ada jawaban dari seberang sana, hingga Raisya mengulang tiga kali. Tetap, hasilnya pun sama tak ada jawaban.

"Kak Devan ke mana sih,  apa dia di rumah bunda,  tapi kenapa nggak bilang?" gerutu Raisya cemas. 

Baru saja beranjak dari duduk nya, seorang pria tua datang menghampirinya. 

"Maaf Non, saya utusan Den Devan di suruh jemput, Non," ucap pria itu,  wajahnya tak asing, tapi Raisya belum tahu namanya. 

"Memangnya kak Devan ke mana, Pak?" tanya Raisya antusias. 

"Den Devan sibuk, Non."

Raisya hanya menganggukkan kepalanya mengikuti pria itu menuju mobilnya.

Mendengar kata sibuk, akhirnya Raisya mengirim pesan untuk Devan. 

Semangat ya, Kak. Nanti malam aku akan masak yang enak untuk kakak. 

Pesan terkirim,  meskipun hubungan keduanya tak harmonis seperti suami istri yang lain, setidaknya saling menyemangati satu sama lain. 

Mobil menerobos jalanan dengan lenggangnya, santai. Namun hati Raisya tak bisa tenang saat melihat pesannya yang tak dibaca oleh Devan. 

Sesibuk apa sih kak, sampai kamu nggak baca pesan dariku. 

Pak supir menatap Raisya dari pantulan spion. 

"Pak, maaf. Apa saya boleh bertanya?" 

Sopir itu menerbitkan senyum. 

"Silakan, Non!"

"Memangnya Kak Devan lagi ngapain, sampai nyuruh bapak menjemput saya?" tanya Raisya menyelidik. 

"Maaf Non, tadi bapak cuma disuruh lewat telepon, dan bapak juga tidak tahu Den Devan ada di mana."

Raisya menggigit bibir bawahnya, otaknya terus berkelana memikirkan Devan. 

"Memangnya kakak nggak ada di rumah bunda?"

"Nggak ada Non, tapi nanti kalau Den Devan pulang, bapak akan kabari, Non." 

"Terima kasih, Pak."

Ya Allah, di manapun kak Devan berada, semoga selalu dalam lindungan-Mu. 

Sesampainya di halaman rumah, Raisya menatap garasi, mobil Devan tak ada di sana, itu artinya Devan juga tak ada di rumah. 

"Apa dia sudah pergi ke Turki, tapi kenapa nggak bilang dulu," terka Raisya.

Ia mengempeskan tubuh lelahnya di sofa, memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus diambil jika sampai Devan melepasnya. 

"Ayah, Mama, Bunda, sebagai seorang anak aku sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kalian,  tapi jika aku dan Kak Devan berpisah, itu semua kehendak Allah."

Intinya, Raisya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, berjuang sendiri membuatnya lelah dan memilih diam. 

Ingin rasanya Ia meluapkan keluh kesahnya, tapi pada siapa, rumah mewah itulah yang akan menjadi saksi bisu betapa terlukanya dirinya sebagai seorang istri yang tak dianggap, tapi Raisya tak mau terpuruk dalam keadaan, bagaimanapun juga hidup harus berlanjut dan tidak boleh putus asa. 

Senja indah menari-nari di ufuk barat, warnanya yang terang membuat siapapun pasti akan bahagia saat melihatnya, seperti Raisya saat ini, disela-sela masaknya ia masih bisa menyaksikan warna yang sangat mencolok dari luar jendela. Terkadang ia juga bahagia di atas kemalangan hidupnya, karena di balik itu pasti ada hikmah yang lebih besar.

Menu makan malam ini Raisya memasak cumi asam manis,  resep yang ia dapat dari bunda Sabrina beberapa hari yang lalu. 

Jam terus berputar, siang berubah jadi malam, Setelah sholat Isya',  Raisya hanya bisa menatap gerbang rumahnya. Sesekali menghubungi nomor Devan yang kini malah tak aktif. 

Makanan yang ia masak dingin, jangankan untuk memakannya, minum saja Raisya tak bisa seakan kerongkongannya menyempit, saat ini yang melintas dalam otaknya hanya Devan dan Devan.

Raisya menutup makanannya kembali dan meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.

"Kakak, kamu ada di mana sih,  kalau benar ke Turki  kenapa nggak  memberitahu aku dulu." Rasa cemas itu semakin mendalam, Raisya tak tahu apa yang harus dilakukan, Akhirnya ia menghubungi supir yang tadi menjemputnya. 

Assalamualaikum...Pak. Gimana, apa kak Devan ada di rumah bunda?"  ucap Raisya khawatir. 

Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana. 

"Nggak ada, Non. Seharian ini den Devan juga nggak ke rumah, apa bapak bilang ke Ibu masalah ini?"

"Nggak usah, Pak." sergah Raisya seketika, ia tak mau Bundanya sampai tahu. Pasti ujung-ujungnya Devan yang terkena imbasnya. 

"Pak, dulu saat kakak di rumah tempat mana yang sering dikunjungi?" tanya Raisya sedikit ragu.

"Klub, Non." 

"Apa?! Raisya memekik. Dulu yang ia tahu hanya Devan kecil yang sering menggodanya, dan ia tak tahu kepribadian Devan dewasa dan apa saja yang disukainya. 

"Pak, tolong bapak cari kak Devan, tapi jangan sampai bunda dan ayah tahu tentang kejadian ini,  nanti kalau sudah ketemu bapak hubungi saya lagi." 

"Baik, Non. Bapak akan berangkat sekarang." 

"Terima kasih, Pak. 

"Ya Allah, di manapun kak Devan berada, jauhkan dia dari marabahaya." 

Raisya menutup tirainya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang menunggu kabar dari supir.

1
Aghnia Raina
ya Allah nyesek banget😭
Bundanya Pandu Pharamadina
terimakasih udah di ijinin baca marathon kak
TAMAT
Bundanya Pandu Pharamadina
Alhamdulilah semoga bahagia Alfan Alisa.
Bundanya Pandu Pharamadina
Sabrina Mahesa 🌹🌹🌹🌹
fahrisa asyifa 91
suka sikap devan walaupun belum cinta dengan sepenuh hati tp mau berusaha ..dan salut dengan ayah emir yang menjaga alisa agar tidak mengganggu rumah tangga orang lain
Siti solikah
Daffa Daffa ada ada aja
Siti solikah
aku nangis terus thor
Siti solikah
bener tuh alfan
Siti solikah
alhmdllh hubungan Rasya dan Deva baik
Siti solikah
semua novelmu bagus2
Siti solikah
seharusnya sama Afif aja sya
Siti solikah
seperti nya bagus
Ida. Rusmawati.
/Smile/
Yusatiqahariana Yunus
terbaik
Pelangi Senja
semangat
Ara Dhani
ngakak aq di part ini😅😅😅😅
marlina djalis
kisahnya bagus n suka thoe
Ina's
karyanya author...keren-2...semangat selalu yaa
Ina's
mata hati devan sedang ketutup
Ukhtinindie
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!