Erina harus menerima ketidak adilan saat dirinya menjadi tertuduh telah menghabisi nyawa Ameera, sahabat karibnya sendiri.
Sebab saat ditemukan Erina lah satu-satunya orang yang ada di tempat kejadian perkara. Kebodohan besar yang Erina lakukan adalah, dia berusaha melepaskan pisau yang menancap di perut Ameera.
Dugaan diperkuat sebab Erina menyukai Devan, kekasih Ameera.
Di tengah usahanya untuk membela diri, Erina menemukan fakta jika saat Ameera meregang nyawa, ternyata sahabatnya itu sedang berbadan dua. Kecurigaan Erina seketika tertuju pada Devan. Namun Devan menyangkal telah menghamili Ameera.
Lantas, mampukah Erina membuktikan jika dirinya tidak bersalah dan menemukan siapa orang yang sebenarnya telah membunuh Ameera?
Albi, pengagum setia Erina berdiri di barisan paling depan saat perempuan itu dikucilkan.
Di tengah pencarian itu, benih cinta mulai tumbuh di hati Devan untuk Erina. Sedangkan hati Erina semakin terpikat lebih jauh oleh sosok Albi, laki-laki menyebalkan yan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik terang
Sementara Via dan Ameera terus saja bertanya pada orang-orang yang mereka jumpai di sepanjang jalan, menunjukkan foto Baim. Namun tak ada satupun dari mereka yang melihat keberadaan Baim.
"Pegel juga kaki gue." Via menjatuhkan bokongnya di atas rumput liar yang tumbuh di pinggir trotoar. Terlihat sangat kelelahan.
"Iya nih. Terus gimana sekarang? Baim masih belum ketemu juga." Ucap Ameera. Dia ikut-ikutan duduk di samping Via.
"Istirahat dulu lah bentar, coba liat hp loe! Siapa tau aja ada kabar dari Devan atau si ebeb." Seru Via.
"Iya bener loe Vi!" Cepat-cepat Ameera membuka ponselnya. Namun tak ada satu pesanpun yang masuk. Semangatnya luntur lagi.
Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di hadapan mereka. Itu adalah mobil pujaan hati Ameera. Benar saja, sedetik setelah mesinnya mati, terlihat Devan yang turun dari sana.
"Gimana Dev? Apa udah ada informasi?" Tanya Ameera.
"Duv Dav Dev Dev. Yang romantis dong manggilnya, kalian kan udab jadian. Panggil umi abi kek, ayah bunda kek, mama papa, atau kakek nenek sekalian." Ucap Via tak nyambung. Lalu diiringi dengan gelak tawanya sendiri.
"Ihh, Vi loe itu ya masih sempet-sempetnya bahas kayak gituan. Situasinya lagi nggak tepat buat becanda tau." Balas Ameera. Via masih saja cengengesan meskipun mendapat teguran dari Ameera. Biarlah, ketegangan seperi ini harus sedikit di beri hiburan agar suasananya sedikit mencair.
"Udah udah, jangan pada ribut. Mendingan kita minum ini dulu deh!" Devan memamerkan dua minuman kaleng di tangannya. Kemudian memberikan salah satunya pada Ameera.
"Makasih Dev." Jawab Ameera seraya menerima minuman itu. Tak lupa seulas senyum ia tunjukan.
"Bisa bukanya?" Tanya Devan.
"Ehh iya gimana sih?" Ucap Ameera.
"Sini biar aku bukain!" Ameerapun kembali menyerahkan minuman itu pada Devan. Setelahnya, dikembalikan lagi kepada Ameera.
Lelahnya menjadi minuman kaleng.
"Iya lah tau yang pacaran, gue cuma jadi kambing conge disini." Via melengos sebal. Gantian Ameera yang cekikikan sekarang melihat kekesalan di wajah Via.
"...udah? Loe cuma beli dua doang? Keterlaluan" Via tidak percaya. Benar-benar ya, orang jatuh cinta itu lupa segalanya. Mereka pikir, hanya tenggorokan mereka saja yang kering? Lalu bagaimana nasib tenggorokan Via?
"Haha, loe jangan salah sangka Vi. Ini gue beliin juga buat loe kok." Lalu Devan menyerahkan satu kaleng minuman yang tersisa di tangannya.
"Hah? Seriusan loe Dev?" Sambil bicara Via menyambar minuman itu dari tangan Devan.
"Tuh kan Vi, Devan baik." Ameera menyenggol lengan Via yang sedang meneguk minuman itu.
"Iya iya baik. Terus buat loe mana? Loe nggak haus apa?" Tanya Via setelah selesai meneguk.
"Gue udah minum tadi di warung. Tenang aja." Ucap Devan sambil tersenyum.
Tanpa tersenyum seperti itupun Via tau kalau Devan tampan, maka dari itu dia menjadi cowok paling populer di sekolah. Dan Erina itu perempuan normal karena jatuh cinta pada laki-laki setampan Devan.
Tapi kok Via melihatnya biasa saja ya? Apa mungkin karena sudah terlalu banyaknya laki-laki tampan yang ia kencani sehingga rasanya biasa-biasa saja saat melihat Devan?
***
"Ya udah lah Bi, kita lanjut cari Baim lagi aja sekarang." Ucap Erina setelah telfon dari mamanya terputus.
"Loe nggak apa-apa Er? Muka loe pucet banget." Ucap Albi sambil memperhatikan wajah Erina.
Albi benar, Erina merasa tubuhnya lemas. Baru ingat kalau tadi pagi dia belum sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Lalu makan siangpun ia lewatkan karena sibuk mencari Baim. Lagi pula, nafsu makan Erina menjadi buruk, bayang-bayang bangkai tikus terus saja menghantui pikirannya, membuat Erina merasa mual saat mengingatnya.
"Nggak apa-apa kok Bi." Menutupi dengan seulas senyum.
"Yakin? Kita cari makan aja dulu ya?!" Tanya Albi kemudian.
"Nggak Bi, gue pengen cepet-cepet ketemu sama Baim. Kasian dia, pasti anak itu ketakutan ada di tempat asing sendirian." Ucap Erina sendu.
Albi tidak suka melihat kesedihan di wajah Erina. Satu-satunya cara untuk membuatnya kembali ceria adalah dengan menemukan Baim. Erina kembali naik ke atas motornya, sedangkan Albi sudah stand by di sana.
Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.
"Siapa Er?" Tanya Albi.
"Bi Asmi. Bentar Bi!" Cepat-cepat Erina mengangkatnya.
"Ya, halo bi? Gimana?" Tanya Erina sesaat setelah panggilannya terhubung.
"Bibi baru dapet info Er. Baim ada di polres daerah Kiara Condong sekarang." Bi Asmi menjawab di sebrang sana.
Jawabannya itu membuat Erina bisa sedikit bernafas lega. Akhirnya ada sedikit pencerahan dari masalah yang sedang ia hadapi. Dalan hati dia mengucap syukur sebanyak-banyaknya. Albi melihat dari kaca spion, wajah perempuan itu sulit di tebak. Antara sedih, terharu atau bahagia, tercampur menjadi satu.
"Alhamdulillah kalau gitu bi. Erina udah pusing nyari Baim ke sana ke sini. Tapi kenapa Baim bisa ada di Kiara Condong bi? Itu kan lumayan jauh?" Tanya Erina yang tak bisa menahan diri untuk bertanya alasan Baim ada di tempat yang jauh.
"Nanti kamu tanya kronologisnya sama polisi di sana ya Er, bibi cari info dari grup sosial media tadi. Dan alhamdulillah ada orang baik hati yang kebetulan nolong Baim dan bawa dia ke polres. Terus orang itu postingin foto Baim di grup facebook. Mendingan sekarang kamu cepet kesana dan jemput Baim. Kasian anak itu pasti nangis di sana." Jelas bi Asmi panjang lebar.
"Ya udah bi, Erina kesana sekarang. Makasih banyak ya bibi udah mau bantu Erina. Kalau bisa, tolong kabarin juga ke mama kalau Baim udah ketemu. Kasian mama pasti cemas banget." Ucap Erina yang tak kuasa menahan harunya. Adiknya di temukan.
"Iya iya. Kamu jangan khawatir soal mama kamu. Bibi lagi nemenin dia di runah kamu ini sekarang." Jawab bi Asmi.
"Iya bi. Sekali lagi makasih ya."
Panggilanpun berakhir. Albi melirik ke belakang, tepatnya pada Erina. Sepertinya ada kabar baik, sehingga emosi perempuan itu sulit di baca.
"Baim ketemu Bi. Dia ada di Kiara Condong. Ayo kita jemput dia sekarang." Erina menepuk-nepuk pundak Albi kegirangan. Albi menoleh tangan Erina yang menyentuh pundaknya. Hangat. Apa lagi kesedihan di wajah Erina kini mulai memudar.
"Iya Er. Jangan lupa loe kasih tau juga yang lain. Biar mereka nggak khawatir dan cari-cari Baim lagi." Ucap Albi.
"Loe bener Bi. Gue telpon Via dulu ya. Sambil jalan aja biar cepet kita nyampe disana. Kircon kan lumayan jauh." Balas Erina.
"Iya Er." Albi kemudian men-starter motor Erina, sementara Erina memberi kabar pada sahabat-sahabatnya untuk berhenti mencari Baim dan pergi ke polres daerah Kiara Condong, tempat Baim berada.
Setelah mendapat info itu, Via dan Ameera pun bergegas pergi ke tempat yang dimaksud Erina dengan numpang pada mobil Devan.
***
POLRES KIARA CONDONG.
Begitu tulisan sebuah gedung yang cukup besar berdiri kokoh di hadapan Erina. Albi memarkirkan motor di tempat seharusnya, kemudian mereka berjalan memasuki gedung itu beriringan. Dada Erina sudah berdebar-debar akan bertemu kembali dengan sang adik.
Erina berjanji, setelah ini dia akan menjaga Baim dengan lebih baik lagi.
"Ayo bi! Cepet!" Erina berjalan mendahului Albi, Albi dengan setia mengekorinya dari belakang.
"Maaf, ada keperluan apa?" Seorang polisi yang berjaga di depan gedung itu menegur kedatangan Erina dan Albi.
"Kami anggota keluarga anak yang hilang. Namanya Baim. Apa benar anak itu ada disini sekarang?" Albi yang menjawab.
"Jadi kalian orang tua anak itu?" Tanya polisi itu tidak suka. Menurutnya, mereka adalah orang tua yang buruk karena tak bisa menjaga anaknya dengan baik.
Erina membulatkan matanya mendengar pertanyaan polisi itu. Masa iya Erina dikira ibunya Baim? Apa wajah Erina setua itu? Dia rasa tidak. Malahan Erina berpikir jika dia baby face.
"Bukan pa, dia Erina, kakaknya Baim. Saya temannya Erina." Jawab Albi meluruskan kesalah pahaman ini.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, kalian ikut saya!"
Kemudian Erina dan Albi pun mengikuti langkah posisi itu dari belakang.
___________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...
q mampir kak mau baca kisah bang Albi 😁
semangat terus berkarya 👍👍
dan jempolnya lekas sehat🤲🤲🤲