Athanasia, gadis yang akrab disapa Athi, adalah murid Sekolah Menengah Atas di salah satu sekolah yang cukup mumpuni di kotanya. Ia adalah gadis dari keluarga sederhana, yang sangat tangguh. Karena ia tidak pernah memperhatikan penampilannya, ia sampai terkena bullying pada masa itu. Semua permasalahan yang melandanya, tidak sampai membuat Azekeil dan Lucas, yang merupakan sahabatnya, berpaling darinya. Karena kebaikan Azekeil, Athi baru menyadari kalau dirinya ternyata menyukai Azekeil, lebih dari yang ia bayangkan. Ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya, karena ia sangat malu dengan kondisi dirinya yang jauh dari kata sempurna, berbanding terbalik dengan Azekiel yang sangat sempurna di matanya. Hingga akhirnya hari perpisahan itu tiba, sehingga membuat Athi harus merelakan kepergian Azekeil untuk kembali ke Negara asalnya, karena sesuatu yang tidak bisa Azekeil jelaskan. Apakah Athi bisa menjalani kehidupannya, setelah Azekeil meninggalkannya jauh di sana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Makan Siang
Keil memandang ke arah para gadis yang juga sedang memandang ke arah dirinya. Keil sangat kesal, karena mereka selalu memandang ke arahnya, sembari sesekali berbisik yang Keil tidak paham maksudnya.
'Duh ... gak paham deh sama pemikiran para gadis,' batin Keil yang merasa sangat kesal dengan perlakuan mereka terhadap dirinya.
Athi pergi meninggalkan Keil secepat yang ia bisa, dan menuju ke arah kelasnya.
"Duh!!" teriak Athi, yang merasa sangat lelah akibat berlarian menuju ruang kelasnya, yang berada di ujung gedung.
"Hossh ...."
Athi menghela napasnya panjang, merasa dirinya sangat lelah karena terlalu panik, hingga berlarian tanpa berpikir panjang.
"Gadis-gadis yang menyeramkan!" gumam Athi, yang merasa takut dengan ucapan dan pembicaraan mereka menyangkut tentang Keil.
Athi mendelik, "Keil lebih menyeramkan!" gumamnya, berusaha memperbaiki ucapannya sebelumnya.
"Brrr ...."
Athi mendadak merinding dibuatnya. Ia pun segera masuk ke dalam ruang kelasnya yang ternyata sudah masuk seorang guru, yang bahkan sudah mengisi materi di kelasnya.
Athi segera duduk di tempatnya, dan segera melanjutkan pelajaran yang hampir saja ia lewatkan.
Melihat Athi yang baru tiba, teman-temannya pun keheranan dengan dirinya.
"Dari mana aja kamu, Thi?" pekik Imel, membuat Athi menoleh ke belakang meja Imel.
"Ada tragedi perang dunia ke-4!"
"Hah?" gumam Imel dan Sua secara serempak.
"Perang dunia 1 dimenangkan pihak sekutu yang dipimpin oleh Perancis, Inggris dan lain-lain. Perang dunia 2 dimenangkan pihak sekutu yang dipimpin oleh Uni Soviet dan Amerika. Perang dunia 3 mah baru percikan aja, Thi! Belum mulai juga, ini udah mau ke-4 aja! Kamu jangan ngada-ngada, deh!" bentak Sua, dengan pengetahuan seluas samudera.
Imel memandang Sua dengan tatapan yang sangat tak percaya, "Wah, hebat bisa ingat pelajaran sejarah," gumam Imel, sembari menepuk-nepuk tangannya ke arah Sua.
"Hapalin tuh. Kebetulan ada materinya di pertemuan kemarin,
Athi menyeringai ke arahnya, "Bukan perang itu lho, maksudnya perang dunia antara ke-4 gadis, untuk memperebutkan seorang laki-laki," jawab Athi membuat Imel dan Sua menepuk pelan keningnya, merasa kesal dengan temannya yang satu ini.
Jam istirahat, pun tiba. Saat ini Athi sedang berjalan menuju ke arah kantin bersama teman-temannya. Dengan langkah yang jenjang, Athi pun melangkah dengan sangat bahagia bersama mereka.
"Hahah, tau gak tadi si Jerry hampir aja kepeleset di depan kelas, pas pelajaran Pak Andi selesai," gumam Imel dengan sangat semangat, jika menyangkut tentang Jerry, si anak nakal yang ada di kelasnya.
"Masa sih? Kok aku gak lihat, sih?" tanya Sua yang tidak memperhatikan keadaan sekitar.
"Makanya, kamu jangan baca buku terus! Udah ngelotok itu IQ kamu," ledek Imel, membuat Sua mendengus kesal.
"Apa sih," umpat Sua yang sedikit kesal dengan ucapan Imel yang tanpa filter itu.
Melihat mereka bercengkerama, Athi hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil, sembari menikmati masa-masa pertemanan ini.
Tiba-tiba saja, Azekeil terlihat melewatinya, membuat Athi mendelik bingung dengan keberadaan Keil, "Ikut aku ...," bisik Keil yang berlalu dari arah berlawanan dengan Athi, sembari memberikan kode padanya kalau Athi harus mengikutinya. Athi pun mendadak kaku dibuatnya.
Keil pun berlalu pergi, membuat Athi mengentikan langkahnya, diikuti teman-temannya.
"Lho, kenapa, Thi?" tanya Imel yang penasaran dengan Athi yang tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Emm ... anu ... aku mau ke kelas dulu, ya," gumam Athi, membuat Sua mengerenyitkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Sua dengan nada yang tajam menusuk, membuat Athi semakin takut dibuatnya.
"A-anu, aku lupa kalau uang aku ketinggalan di tas, jadi gak bisa beli makanan deh ...," jawab Athi dengan ragu, yang tentu saja juga membuat Sua dan Imel menjadi ragu melihat reaksi aneh Athi.
"Oh ... kan bisa pakai uang aku dulu, nanti tinggal diganti," ucap Sua, membuat Athi tiba-tiba saja keringat dingin dibuatnya.
Athi tidak mungkin mengatakan pada teman-temannya, kalau ia sudah resmi menjadi pembantu Keil selama tiga hari ke depan.
'Mau taruh di mana muka aku?' batin Athi yang mendadak ketakutan sendiri mengingat tentang rahasianya lainnya tentang dirinya dan juga Keil.
"Ah ... po-pokoknya aku mau ke kelas dulu. Bye Imel dan Sua!" bantah Athi, yang secepat kilat meninggalkan mereka di sana, membuat Imel dan Sua menganga melihat kepergiannya.
Akhirnya Athi pamit dengan teman-temannya, dan segera mengikuti ke arah yang Azekeil tuntun.
Sua dan Imel pun saling melempar pandangan, "Dia bilang mau ke kelas, tapi kenapa malah naik tangga?" gumam Sua bertanya-tanya pada Imel, lalu Imel pun menggeleng kecil karena dirinya yang juga tidak mengetahui jawabannya.
"Gak tahu ...," gumam Imel sembari tetap menggelengkan kepalanya.
Athi mengikuti arah Keil berjalan, sampai pada lantai paling atas sekolah ini.
"Mau ke mana sih kita?" tanya Athi, membuat Keil mendadak kesal dengannya.
"Udah deh ... ikutin aja," bantah Keil dengan nada kesal, sembari memegang tuas pintu ruangan.
"Cklekk ...."
Keil membuka pintu tersebut, dan mereka pun tiba di atap sekolah ini, dengan pemandangan yang sangat luar biasa bagi Athi.
Athi memandang sekelilingnya dengan mata yang sangat berbinar, persis seperti orang yang sedang terpana, "Wah ...," gumam Athi terkesima dengan pemandangan dari ketinggian ini.
Keil pun duduk di sebuah kursi yang panjang, diikuti dengan Athi dari arah belakangnya.
"Ini tempat apa, Keil? Lagian, kamu ngapain ajak aku ke tempat begini?" tanya Athi yang penasaran dengan maksud Keil.
"Aku cuma gak sengaja lihat tempat ini. Sepertinya, bagus untuk melihat pemandangan sekitar," jawab Keil, membuat Athi mengangguk kecil ke arahnya.
Azekeil memberikan bekal makan siangnya yang lebih pada Athi, "Nih ...," gumam Keil, sembari meletakkan kotak makan siang berwarna merah itu di tangan Athi, membuat Athi terkejut dibuatnya.
"Wah ... kamu bawain aku makan siang, Keil?" tanya Athi yang terkesima dengan perlakuan manis Keil terhadapnya.
Keil menatapnya dengan tatapan malas, "Jangan ngada-ngada, deh! Aku sengaja bawa, karena kakak aku lupa bawa bekalnya tadi," bantah Keil, yang langsung membuat hati Athi seketika potek.
'Aku kira, hubungan kita istimewa,' batin Athi yang mentertawakan dirinya sendiri di dalam hati.
Akhirnya, mereka pun makan bersama, dan terjadi kecanggungan di sana.
Athi menoleh ke arah Keil yang sedang menyantap makanannya, "Wah ... ternyata nasi gorengnya enak banget. Ibu kamu jago banget masak nasi gorengnya!" gumam Athi, membuat Keil menatap dingin dan sinis ke arah Athi.
Keil pun tak memedulikan perkataan Athi yang tadi, membuat Athi menjadi bertambah canggung dengannya.
"Besok akhir pekan. Sepertinya, akan jadi akhir pekan yang membosankan," gumam Athi, yang lagi-lagi mencari topik, agar suasana di sana tidak rancu jadinya.
Keil memandang ke arah Athi, "Memangnya kenapa?" tanya Keil dengan datar.
Athi menghela napasnya, "Biasanya tuh aku pergi jalan-jalan, nonton film, atau ke kafe, tapi ... Sua dan Imel sepertinya punya rencana dengan keluarga masing-masing," gerutu Athi, membuat Keil mendelik.
"Memangnya, pekan ini ada film apa yang bagus?" tanya Keil, sembari tetap menyantap makanannya.
Athi mendelik senang mendengarnya soal film, "Ada film romantis yang pengen banget aku tonton! Itu pasti akan seru banget!" jawab Athi dengan sangat bersemangat.
Mereka berbincang mengenai film terbaru di bioskop, membuat Keil memikirkan sesuatu.
Azekeil menatap Athi dengan tatapan dalam, "Besok, pergi sama aku ke bioskop!" gumam Keil, yang memaksa Athi untuk menurutinya, karena Keil merasa, Athi masih berstatus sebagai pesuruhnya.
"Hah? Tapi--"
"Gak ada tapi-tapian! Ingat, kamu harus nurutin keinginan aku," pangkas Keil dengan cepat, membuat Athi hanya bisa pasrah dengan yang Azekeil perintahkan.
...***...
maaf ya saya mau komplen nih..pas baca bab pertama okelah.. kedua.. koq banyak banget kata"mendelik"nya..trs pas baca athi menahan sakit knpa "brrr"🤭🤭..
maaf ya saya mah hnya penikmat cerita saja 😁😁
klo disuruh bikin cerita mah kaga bisa ..
lanjut baca marathon nih..
😘😘😘😘😘Saya sdh habis membaca nya.....GOOD LUCK....untuk cerita yg lain lg....hppy 4u...