"Bukankah poligami itu sunnah, kamu orang yang taat agama kan pasti juga tahu, apa kamu tidak ingin menjalankan sunnah yang satu ini?" ujar Ita pada sang suami
Ammar awalnya hanya ingin menolong seorang wanita namun sebuah kejadian yang tak terduga membuat orang lain salah paham dan bahkan istrinya sendiri tak mempercayainya
Bukan, bukan karena sepenuhnya kejadian itu yang membuat Ammar menikah lagi, tapi juga karena rumitnya rumah tangga yang saat ini ia jalankan bersama istri pertamanya karena sang istri masih terbelenggu oleh masa lalunya
"Kalian hanya ingin bermain rumah-rumahan kan, ok saya akan temani kalian bermain" ujar Zofa lantang
Namun ketika Zofa telah memasuki rumah tangga Ammar dan Ita maka saat itu pula hati Ita berubah, terombang-ambing mengikuti arus permainan. Dan kini Ita baru menyadari bahwa ia telah menaruh hati pada suaminya sendiri
____
Hay semua Jan lupa mampir ke novel saya ya, jika sudah mampir tolong tinggalkan jejak kalian baik berupa like, comment maupun vote, thanks a lot guys, ala kuli sukri askuruki
follow ig 👉 habr_zayf
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AFI_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Everything Gonna Be Okay
Esok pagi menyapa, kini Zofa sudah rapi dengan kemejanya, ia bersiap-siap hendak melakukan wawancara pada sebuah perusahaan salah satu channel tv
"Bismillahirrahmanirrahim, kamu pasti bisa Zofa, chayo" ujarnya di depan kaca penuh percaya diri, setelah mengirim CV akhirnya ia lulus berkas dan di perkenankan melakukan wawancara
"Pagi mbak Ita, pagi juga kamu" sapa Zofa di meja makan, hatinya dah dig dug membayangkan wawancara yang akan ia hadapi nanti, sudah lima kali CV yang ia kirim di berbagai perusahaan channel tv di tolak tapi kini Alhamdulillah bisa sampai tahap wawancara
Ita menggelengkan kepalanya "Kamu bisa manggil bang, atau mas sebagai bentuk penghormatan, dia suami kamu jadi kamu harus menghormatinya karena ridho istri ada pada suami" nasehat Ita
Jeder
"Benarkah itu, aku pernah denger tapi, apa... itu benar, ja...jangan sampai aku gagal wawancara karena gak dapet ridhonya, mmmm apa ia marah soal kemarin, kalau marah gimana dong, wawancara yang aku tunggu selama ini bisa hancur berantakan hanya karena gak dapet ridho dari suami, akhhh gak mau gak bisa, gak bisa gini aku harus ngelakuin sesuatu" batin Zofa meronta di dalam batinnya, terbesik rasa takut, ya takut karena berakhir dengan kegagalan lagi
"Zofa kamu gak pa pa?" tanya Ammar yang melihat raut muka Zofa berubah jadi sedikit pucat
"Ehh.... Bang gak pa pa kok" ujar Zofa yang menampilkan senyum di wajahnya, gingsul itu terlihat membuat ia kini semakin manis saja
Ammar mengalihkan pandangannya ke arah lain "Ya Allah bagaimana bisa ia terlihat semanis ini" batinnya dalam hati, pasalnya selama ini hanya wajah jutek yang Zofa perlihatkan di hadapannya
"Abang mau pakai lauk apa?" tanya Ita yang memecahkan keheningan selama beberapa detik
"Mmmm ayam gorengnya sama sayur sop" ujar Ammar yang sudah bisa mengondisikan wajahnya
Ammar melirik ke arah Zofa yang asyik memakan paham ayam, Zofa yang menyadarinya rasanya ingin berkata "Apa lihat-lihat" namun ia urungkan, setidaknya untuk kali ini ia tak boleh menyinggung Ammar
Mereka semua makan dengan tenang namun suara tangisan Chaca menghentikan aktivitas Ita, buru-buru Ita naik ke atas untuk melihat anaknya yang sudah bangun
"Hukkk Alhamdulillah kenyang" Zofa bersendawa sebagai tanda perutnya telah full
"Kebiasaan kamu makan belepotan" ujar Ammar, ia mengelap sudut bibir Zofa dengan jari jempolnya
Zofa meraih tangan Ammar yang masih berada dekat bibirnya, ia menggunakan telapak tangan Ammar untuk mengelap bibirnya yang dirasa cukup berminyak, sekalian batinnya guna menghemat tisu
Ammar tertegun kala benda kenyal itu menggesek-gesek telapak tangannya, belum selesai dengan itu kini Zofa membalikkan tangan Ammar dan mengecupnya beberapa kali, hingga membuat Ammar salah tingkah
"Bang aku minta ridhonya" ujar Zofa penuh harap namun tak mendapat respon dari Ammar
"Bang plisss tolong ridhoi aku" pinta Zofa lagi dengan memelas
Ammar tak bisa mengalihkan pandangannya dari Zofa, ia bagai terhipnotis oleh mata bening itu
"Bang jangan marah ya, kejadian semalam tidak akan terulang lagi tapi aku mohon ridhoi aku" Zofa mengecup punggung tangan Ammar untuk kesekian kalinya layaknya Ita yang mencium punggung tangan Ammar setiap kali baru bertemu
Ammar mengangguk "Iya" satu kata itu berhasil membuat Zofa girang
"Makasih bang" ia melepas tangan Ammar
"Aku berangkat dulu, ingat ridhoi aku, wassalamu'alaikum" Zofa berjalan dengan mantap, semoga wawancara hari ini berhasil Aamiin
Ammar memandangi Zofa hingga menghilang dari balik pintu "Ada apa dengannya?" batin Ammar bingung
Ita yang sedari tadi hendak menuruni tangga ia urungkan kala melihat kejadian itu, hatinya bergemuruh hebat, rasanya sesak, dulu ia tak pernah merasakan perasaan ini terhadap Ammar, yang ia rasakan hanya perasaan takut dalam menyakiti hati suami pertamanya, mungkinkah saat ini ia cemburu
***
Zofa sudah keluar dari ruang wawancara, namun tetap saja perasaannya belum lega kala belum mendapat kepastian lulus tidaknya ia bekerja sebagai dubber
Hasil akan diumumkan setelah seminggu, dan itu akan menjadi waktu yang panjang baginya dalam menunggu sebuah kepastian
Ia pulang ke rumah lebih awal dari biasanya, pukul sepuluh ia sudah pulang karena ia mendapat antrian wawancara awal-awal
Ketika Zofa pulang nampaknya rumah terasa sunyi, namun sayup-sayup ia mendengar suara tangisan seorang wanita dari lantai atas
Zofa yang penasaran sekaligus takut terjadi apa-apa dengan Ita akhirnya menaiki anak tangga itu, ini pertama kalinya ia menapakkan kakinya di lantai atas, lantai yang hanya terdapat dua kamar, yaitu kamar utama dan kamar tidur lainnya milik anak mereka, kamar Zofa memang terletak di lantai bawah yang katanya merupakan kamar tamu
Hiks hiks hiks
Zofa menghentikan langkahnya kala mendapati pintu kamar mereka tak tertutup, melainkan terbuka cukup lebar, Ita menangis dalam pelukan Ammar sembari merancaukan kalimat demi kalimat, ntah apa yang terjadi sebelumnya yang jelas hati Zofa merasakan sebuah hantaman kala mendengar kalimat tersebut, agak sakit, agak nyilu, agak perih
Ia memegangi dadanya, seulas senyum ia terbitkan untung membohongi dirinya
Ia turun kembali dengan hati-hati agar mereka tak menyadarinya, kemudian memasuki kamar dan memerosotkan tubuhnya di pojokan dekat lemari, ia memeluk erat kedua lututnya
Tolong jangan jatuh cinta padanya dulu
Bukankah aku lebih baik darinya
Aku mohon jika mas Candra benar-benar pergi bisakah kamu meninggalkannya
Kita memberikan uang pada kedua orangtuanya cukup banyak untuk membujuknya
Tolong jangan jatuh cinta padanya
Hatiku sakit
Sakit sekali
"It's fine"
"Everything gonna be okay"
"It's okay"
"I'm just hurt"
Kini air matanya sudah meluncur bebas, ia menggigit bibir bawahnya agar tak menimbulkan suara isak tangisan
"It's okay, i'm just hurt"
"It's fine"
"It's okay, i'm just hurt"
"Everything gonna be okay"
Ia menguatkan hatinya, sekuat tenaga ia menguatkan dirinya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja
***
Zofa duduk terdiam di depan meja belajar, ia menopang dagunya di atas telapak tangan
"Jadi ini sebabnya kenapa ayah dan bunda membiarkan aku menjadi istri kedua, untuk apa uang itu, kenapa mereka seakan-akan menjualku"
"Kalau memang saling mencintai kenapa harus menyeret aku ke dalam pernikahan kalian, apa kalian pikir aku ini benda mati"
"Kenapa harus aku, kenapa aku begitu sial bertemu mereka, sampai kapan aku bertahan, sampai kapan aku membuang waktuku sia-sia di sini hanya untuk menemani mereka bermain"
Kalimat itu memenuhi otak Zofa, terus berputar namun tak menemukan jawaban sama sekali, hal yang paling menyakitkan baginya adalah kedua orang tuanya, yang awalnya membela dia malah berubah haluan hanya karena uang, apa uang lebih penting darinya, apa harga dirinya tak lebih baik dari sebuah uang
***
Jan lupa like comment and klik favorit, thanks for reading, syukron lil qiroah, sampai jumpa pada bab berikutnya