perkenalan
namanya Roman maulana satria usia dua puluh empat tahun pendidikan sarjana hukum lulusan amerika.hidup sebagai preman jalanan walau merupakan putra konglomerat pewaris tunggal satria corp. kisah cintanya tak direstui ibunya. yok kita lihat perjuangan hidupnya untuk mengungkap kasus kematian kekasihnya yang dibunuh dengan menularkan virus covid 19 yang lagi viral dan menghilang dari kedua orang tuanya. mari kita masuk dalam kisah pertama pulang ke Idonesia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisnu Arca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gulah gulana
Roman berdiri mematung walau suasana sudah sepi. Hancur semua harapan yang telah mereka rencanakan untuk menikah dalam waktu dekat ini. Apapun yang terjadi sekalipun ditentang oleh ibunya.
Nadira dan Hadi tidak dapat berbuat apa apa, selain ikut larut dalam kesedihan. Keduanya merasakan apa yang melanda sahabatnya ini.
Keduanya berusaha membujuk Roman untuk menerima kenyataan. Dalam hati mereka bertekad untuk meminta pertanggung jawaban Winda dan Ghazan.
Toni yang ikut dalam menunjukkan aparteman Winda, memohon pada Roman untuk percaya. Bahwa, dia tidak ikut terlibat dalam penculikan itu.
Dia juga seperti merasa kehilangan. Ada rasa benci bersarang di dadanya terhadap Winda dan Ghazan. Yang telah membunuh gadis cantik yang dia cintai. walaupun, cintanya ditolak dan lebih memilih Roman.
"Kuharap kamu percaya padaku, aku tidak ikut dalam rencana mereka...aku juga kehilangan Morrin!" kata Toni pada Roman.
"Ini belum selesai..." hanya itu yang terlontar dari mulut Roman.
Sedang dirumah sana, ditempat Morrin dilahirkan dan dibesarkan.
Kedua orang tuanya Morrin, belum mendapat kabar meninggalnya putri mereka. Para tetangga tak ada satupun yang tahu walau beritanya sudah menyebar di media masa.
Orang tua Morrin hanya tahu putrinya diculik, dan sampai saat ini dia belum mendapat kabar. Mereka masih menunggu dan berharap putrinya kembali.
Tangis bu Sri ibu kandungnya Morrin tidak pernah reda. Hari hari dia menyalah kan dirinya sendiri.
"Kalau ada apa apa dengan putriku aku tak akan memaafkan diriku sendiri..." tutur bu Sri terisak isak menangis ngomong sendiri.
Adik adik Morrin tetap berusaha membujuk kedua orang tuanya agar sabar.
Tok tok totok...
"Asasalam mualaikum...!" pak rt dan beberapa petugas berpakaian polisi datang mengunjungi rumah pak Imran.
"Wa alaikum salam...!" jawab Nillam dari dalam rumahnya.
Nillam membuka pintu dan mendapatkan pak rt dan dua orang polisi berpakaian dinas.
"Bapak dan ibumu ada dirumah!" tanya pak rt.
"Ada pak!" jawab Nillam.
"Masuk dulu pak!" Nilam mempersilahkan tamunya masuk.
Semua tamu masuk Nillam kedalam memanggil kedua orang tuanya.
Jantung pak Imran dan bu Sri deg degan begitu keluar. Dia melihat pak rt dan dua orang polisi.
"Siang pak!" sapa salah seorang polisi yang bernama serka Anton.
"Siang...!" jawab mereka serempak berdua.
"Sebelumnya saya minta maaf iya pak dan ibu...benar ada putri bapak dan ibu bernama Morrin!" tanya pak serka Roya.
"Benar pak putri kami ada yang bernama Morrin!" jawab pak Imran.
"Yang ini iya putri bapak!" pak serka Roya memperlihatkan wajah Morrin yang terbungkus kaku dalam kantong jenazah.
Bibir dan wajah pak Imran langsung berubah pucat diam tidak berkata. Beberapa menit kemudian pak Imran pingsan tak kuasa menahan keterkejutan nya melihat putrinya sudah terbungkus kaku dalam kantong jenazah.
Sedang bu Sri tanpa di perlihatkan langsung ambruk jatuh kelantai. Tangis Nillam dan Hakim histeris pilu melihat ke dua orang tuanya pingsan.
Tak lama kemudian Nadira dan Hadi datang tanpa ditemani Roman. Nadira langsung memeluk Nillam dan Hakim.
"Sabar sayang...!" ucap Nadira menitiskan air matanya merangkul Nillam dan Hakim.
Sedangkan Hadi, pak Hilman dan ke dua polisi mengangkat pak Imran dan bu Sri masuk kedalam kamar.
Suasana sedih menyelimuti keluarga pak Imran dengan tewasnya Morrin putri mereka.
Sedang dipantai pasir putih, seorang pemuda tampan berdiri mematung. Ditepi, laut yang anginnya sepoi sepoi menerpa tubuh kekarnya.
Dunia ini hanya sementara kasihku. Hidup disana jauh lebih indah... selamat jalan sayang... tidurlah dengan tenang. Dan tunggulah kiriman kado sepanjang hidupku yakni doa yang tiada putus.
Seloroh Roman, pada bayang wajah Morrin. dengan, gaun panjang menembus dasar laut pasir putih terbang melayang melambaikan tangan.
Butiran butiran bening, menetes perlahan mengaliri pipi putih dari dua bola mata indah miliknya. Yang memandang hampa hamparan luasnya samudera, gelombang laut pantai pasir putih kapuk jakarta utara.
Ini adalah pengalaman pertama kalinya, dia meneteskan air mata yang selama masa hidupnya. Yang tak pernah dia rasakan, kecuali ketika masa kecinya dulu.
Roman berjalan sempoyongan dengan perasaan hati gundah gulana, menelusuri tepian pantai. Dia terus berjalan dan berjalan tanpa sadar telah jauh meninggalkan tempat parkiran mobilnya.
Dibawah teriknya sinar matahari, Roman menghentikan ayunan langkahnya.dia menoleh memutari tempatnya berdiri. mencari tempat bernaung untuk menulis pesan kecewa pada sang ibu.
Mata Roman melihat sebuah bangunan besar. Diayunkan lagi langkah kakinya dengan santai dan tenang menghampiri bangunan tersebut.
Roman menyandarkan tubuhnya pada pagar ditembok yang tersusun dari batu marmer. Dirogohnya kantong celananya meraih hand phone miliknya lalu menulis.
Air mata ini untuk Morrin yang telah pergi meninggalkanku selamanya, bukan untuk mama yang telah melahirkanku. Tapi, membunuhku secara perlahan...
Dari hewan yang tak
terurus.
ROMAN
Tulisan itu dikirim kepada Marisa mamanya.
Marisa merasa ada yang aneh pada getaran hand phone ditangannya. perlahan hand phonenya dibuka.
Mata Marisa terbelalak lebar melihat tulisan yang dikirim putranya. Dia seperti mendapat berita, berita penyiksaan yang menyakitkan terhadap putra kesayangannya. Terbayang dimatanya bagaimana hancur hati putranya. Marisa jadi menyesal tubuhnya lemas, matanya berkunang kunang dan akhirnya marisa ambruk.
Aminah yang mendengar seperti ada benda jatuh diruang tamu depan, segera nyamperin.
Bukan main kagetnya Aminah melihat majikannya terlentang pingsan di atas lantai ruang tamu. Aminah berlari memanggil Didin yang asyik berdiri di gardu depan.
"Din...tolong majikan pingsan!" teriak Aminah memanggil Didin.
"Iya ya minah...!" sahut Didin berlari nyamperin majikannya yang pingsan.
"Cepat telpon bapak!" pinta Didin.
"Iya ya ya aku telpon!" timbal minah.
Aminah yang call pak Rifky di kantor juga sedang di landa sedih memikirkan putranya yang entah sekarang di mana.
Hand phone di atas mejanya berdering berkali kali di biarkan. Tak lama kemudian telpon kantor yang terletak tidak jauh dari hande phonenya juga berdering, namun tak ada semangat dari pak Rifky.
"Lui...!"panggik pak Rifky pada sekretarisnya.
"Iya pak...!"jawab Lui.
"Angkat itu telpon !" pinta pak Rifky lesu.
"Baik,pak !"jawab Lui seraya menyambar telpon yang berdering berkali kali.
"Halo...!"kata Lui.
"Halo...bapak ada?" tanya Aminah.
"Ada...ada, apa ya...!" tanya Lui balik.
"Anu...nyonya pingsan tolong kasih tau bapak!" jawab Aminah.
"Apa...?nyonya pingsan baik baik akan saya kasih ta... !" Lui belum menyelesaikan perkataannya karena telpon di ambik pak Rifky.
"Kenapa ibu pingsan...!" tanya pak Rifky.
"Tidak tau pak...tiba tiba saya lihat tergeletak di ruang tamu depan!" jawab Aminah.
"Suruh Didin bawa ke dokter!" pinta pak Rifky.
"Baik, pak!"
Belum sampai ke rumah sakit Marisa sudah tersadar kembali.
"Aku di mana ini...kamu mau bawa aku ke mana Din...?!!" tanya Marisa lemah.
"Ke rumah sakit nyonya...!" jawab Didin.
"Tidak usah...balik ke rumah!" perintah Marisa.
"Tapi..."
"Tidak usah tapi tapi kalau aku suruh balik,balik...!" bentak Marisa.
"Baik nyonya...!" jawab Didin.
Marisa tampak pucat, badannya lemah. tidak lama kemudian dia menangis tersedu sedu.
"Roman..., anak..., kamu di mana?" guman Marisa sambil menangis.
"Sabar nyonya...Roman pasti akan pulang!" Bujuk Aminah.
"Hand phoneku mana minah?!!" tanya Marisa dengan tubuh tersandar lemah.
"Ketinggalan di rumah nyonya!" jawab Marisa.
"Din... di hp mu ada nomor Hadi iya...!" tanya Marisa.
Marisa menelpon Hadi, menghimbau agar mencari di mana keberadaan Roman, serta membujuknya pulang. Hadi di seberang sana hanya menjawab baik.
trimakasih...