Di novel Author yang kedua ini, Author akan menceritakan sebuah peliknya kehidupan seorang pemuda tampan, yang dimana kehidupannya selalu di selimuti kesedihan yang sangat perih di dalam dirinya.
pengalaman hidup, akan kehilangan orang orang yang sangat di sayangi, membuatnya berpikir, dia belajar dan terus belajar menjadi orang yang sangat kuat, dan tak ingin lagi menjadi sosok seorang lelaki yang lemah cengeng dan manja.
Hingga pada suatu masa, ketika ia telah dewasa. Dirinya terjebak di sebuah dunia, dimana ketika itu, tak ada kehidupan canggih seperti zaman sekarang ini.
Berat memanglah berat, kehidupan yang di jalaninya. Mungkinkah Leon bisa bertahan sekaligus melewati petualangan hidupnya.
Simak dan baca terus, kisah perjalanan Leon Scott Kennedy dalam mengarungi bahtera kehidupanya yang sangat pelik dan epic.
Jangan lupa like rate and comment karya terbaru saya,
Salam Author
Arby Yingjun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arby yingjun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGEN CUCU
"Boleh, Ayah mencicipi apa ini namanya?" Yosep yang penasaran dengan rasa, hasil karya anak angkatnya.
"Ini namanya Jamur crispy, Ayah," Leon mengambil satu dan memasukanya pada mulut Yosep.
Kriuk.. Kriuk..
"Hemm.., enak. Boleh Ayah minta lagi jamur crispinya?" pinta Yosep pada Leon.
Leon mengangguk dan tersenyum.
"Tentu saja boleh, Ayah. Leon senang kalau ayah suka." Yosep mengambil lagi dan memasukanya pada mulut Leon.
"Kau juga harus memakanya!, agar kau kuat. Seperti Super Mario yang kuat setelah memakan jamurnya." Yosep tersenyum.
"Sini, duduk bersama Ayah." Yosep mendudukan Leon di pangkuanya.
"Virza," panggil Yosep dengan nada serius.
"I ya, Pak." jawab Virza.
"Dokter dari Singapura, telah memberitahukan padaku, agar kau besok harus segera berangkat kesana." ucap Yosep
"Apa tidak mendadak, Pak? Virza yang kaget setelah mendengarnya.
"Memang, semua ini meleset dari perkiraanku sebelumnya. Tapi aku melakukan semua ini demi kebaikan Leon." Yosep mengusap kepala dan mencium pipi Leon.
Virza masih terdiam setelah mendengar kabar yang begitu mendadak di telinganya.
"Aku tahu, apa yang kau pikirkan." tegas Yosep.
"Untuk sementara, aku akan membawa Leon tinggal bersamaku." ucap Yosep yang terlihat terus memandangi Leon yang sedang memakan jamur crispinya.
"Baiklah, Pak." Virza pasrah akan keputusan yang Yosep buat.
"Kemasi barang barangmu, yang menurutmu itu penting dan berguna disana." Yosep kembali memakan jamur crispinya.
Di lain tempat, di rumah Yosep. Terlihat Imelda yang baru saja pulang dari acara pemotretanya di temani Roxane sang ibunda.
"Mel, sampai kapan kau akan berhenti dari dunia model yang membesarkan namamu?" Roxane yang khawatir pada anak semata wayangnya.
"Sampai, hemm. Sampai tuhan memberikanku lagi keturunan Mom." jawabnya dengan begitu mudah.
"Melda, dunia model itu sangat melelahkan. Mom takut, kamu akan stres. Dan peluang mendapat keturunan pun jadi tersendat.
"I ya Mom, melda tahu." Imelda mencium pipi Roxane dan melangkah menuju kamarnya.
"Melda, Mom sudah kangen sekali ingin menimang cucu nak. Di usia Mom yang sudah tua Mom merasa sedih." Roxane menangis, membuat Imelda langsung menghentikan langkah, dan berbalik menghampiri dan memeluk ibunya.
"Mom, jangan sedih. Melda selama ini juga berusaha kok dengan mas Yosep." Imelda melepas pelukanya.
"I ya, Mel. Mom tahu, setiap Arisan bulanan, teman teman Mom, selalu bilang kalau kamu mandul, dan itu membuat Mom sedih dan kecewa." Roxane kembali menangis pilu.
"Mom, Melda dan mas Yosep, telah memeriksakan keadaan kami berdua. Dan hasilnya pun baik.
"Apakah mungkin tuhan menghukumku, karena kematian cucuku yang pertama?" Roxane menunduk pasrah.
"Mom, mungkin tuhan belum memberi kepercayaan kedua saja pada Melda, jadi Mom tidak usah memiliki pikiran macam macam." Melda memeluk kembali dan mengusap punggung Roxane.
Di lain tempat, di tempat Virza.
"Memang Om virza, mau di bawa kemana Ayah?" tanya Leon.
"Om Virza, mau berobat sayang, agaaaar, Om Virza bisa berjalan normal dan menemani Leon jalan jalan." Yosep menjelaskan dengan perlahan, agar Leon bisa memahaminya.
Leon mengangguk, dan memeluk Yosep.
"Terima kasih Ayah, kau adalah malaikat penolong dan terbaik di dunia ini." Leon melepas pelukanya.
"Ha.. Ha.. Ha, bisa saja kau ini." Yosep tertawa lepas.
Sedangkan Virza masih dengan muka cengengnya, ia tak berhenti menangis melihat keakraban di antara Yosep dan Leon.
"Virza, aku harus segera kembali ke rumah." Yosep bangun dari tempat duduknya.
"I ya, Pak." Virza mengusap air mata di pipinya dan bangun mengantarkan Yosep sampai mobilnya.