Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.
Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.
Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part. 15 ( Dua Montir Ganteng)
Gue gelagapan, tapi berusaha tetap santai, so cool itulah Aink! (gue!) Padahal pikiran gue lagi sibuk merangkai kata yang pas buat alasan ke bang Aril.
"Dek, Kamu kerja di sini juga?" Dahi bang Aril mengernyit, heran.
"Iya, Bang." Gue nyengir.
"Sejak kapan?" tanya bang Aril.
"Ada satu mingguan, kek nya."
"Kenapa sih Dek, Kamu lebih memilih kerja sama orang lain? Kamu kan bisa kerja di kantor Papa," ucap bang Aril.
Gue menggelengkan kepala.
"Kenapa?" Bang Aril kembali mempertanyakan.
"Enggak apa-apa, Bang."
"Abang bingung dengan jalan pikiranmu, Dek." ucap bang Aril.
"Ya udah sih, Gue juga enggak suruh Abang mikir, pan?" ucap gue.
"Ya Allah, ni anak. Diperhatiin sama Abangnya malah kek gini tanggapannya." Bang Aril menggelengkan kepala.
"Abang mau minum apa?" tanya gue mengalihkan pembicaraan.
"Udah, enggak usah. Enggak enak sama Bos mu, lagian Abang mau langsung ke Kantor" jawab bang Aril.
Ferdy tersenyum mendengar ucapan bang Aril.
"Abang berangkat ya, Dek?" ucap bang Aril.
"Bang!" Gue menahan.
"Apa?"
"Gak usah bilang sama Papa, Mama ya?" Pasang wajah melas.
Seperti biasa, Bang Aril mengacak rambut gue.
"Iya, emang selama ini Kamu kerja di showroom, Papa sama Mama sampai tahu? Enggak, kan? Rahasia aman, Dek!" Sambil tersenyum.
"Thank's ya, Bang." ucap gue.
"Ya udah, ini uang untuk bayar tambah anginnya." Bang Aril menyodorkan uang.
"Udah, enggak usah. Gratis deh buat Abang." Gue mendorong tangan bang Aril yang sedang menggenggam uang.
"Ya udah makasih, Abang pamit, ya? Ayok Fer?" Bang Aril masuk mobil, tancap gas, lalu menghilang.
Sambil menunggu customer, Ferdy ngopi sambil merokok. Sedangkan gue lebih memilih krackers sama hot moccacino. Maklum, dari dulu gue kagak pernah merokok. Karena merokok membunuhmu, etdah kek iklan aja gue.
"Jang, kenapa Lu menyembunyikan semua ini dari keluarga?" tanya Ferdy.
"Sembunyiin apaan?" jawab gue.
"Kalau Lu udah buka bengkel sendiri."
"Belum waktunya Fer, Gue masih malu."
"Malu kenapa?"
"Kita baru buka bengkel, customer juga belum banyak. Gue minta maaf ya, belum bisa kasih apa-apa dalam seminggu ini ke Lu, Fer?" Gue tertunduk.
Ferdy menepuk pundak gue memberi semangat.
"Sabar, namanya juga baru, Jang. Ibarat kata, Lu lagi buka lahan yang penuh semak belukar," ucap Ferdy.
"Maksudnya?" Gue bingung.
"Lu harus buka lahan yang penuh semak belukar, kalau Lu mau membangun lahan yang bagus. Kita enggak tahu dalam semak itu akan mendapati ular kah? duri kah? atau bahkan mulus tanpa hal yang memberatkan. Itu gambaran bengkel Lu sekarang. Ibarat kata, Lu baru mau membuka jalan untuk usaha bengkel Lu. Ya bisa langsung rame atau sepi dulu kek sekarang." Ujar Ferdy mencoba menjelaskan.
"Etdah! Emang temen Gue yang satu ini benar-benar bijak dah. Nuhun (Makasih) ya, Bro!" Gue tersenyum.
"Sorry ya, Jang. Enggak ada maksud Gue nyeramahin, Lu. Tapi, itu yang selalu Nyokap bilangin ke Gue."
"Malah Gue seneng Fer. Dapat masukan, wejangan dan suport dari Lu."
"Jang, Kitakan masih punya grup WA anak-anak Kampus yang dulu suka galang dana. Kenapa Kita gak kirim pesan tentang bekel baru ini?" Saran Ferdy.
"Iya juga, sih!"
"Ya udah, ayok kirim pengumuman hehe ...." Ferdy terkekeh.
Gue ambil hp dari celana jeans. Gue promosiin deh ni bengkel, mantap!
Setelah gue buka bengkel, belum pernah ketemu lagi sama Yumna. Gue memutuskan menemuinya nanti malam.
"Bang, ganti oli motor dong." Cewek berseragam SMA.
"Oke, jawab Ferdy."
"Allhamdulillah, rezeki Fer," ungkap gue sambil membawa oli motor yang baru.
"Bang, Gue panggil Kakak aja kali, ya?" Cewek itu terkekeh.
Gue dan Ferdy menahan tawa.
"Iya, terserah. Enggak apa-apa juga," jawab Ferdy.
"Kok, Kakak berdua ini ganteng-ganteng, sih? Boleh enggak minta foto? Aku mau up load bengkel Kalian ke sosmedku."
Gue dan Ferdi berpandangan, merembungkan jawaban.
"Kasih aja sih, Jang. Lumayan ada yang promosiin gratis." Ferdy terkekeh.
"Oke! deh."
Akhirnya si cewek ABG itu fotoin kita dan juga bengkelnya. Tapi namanya ganjen, ada-ada aja, terakhir dia yang minta foto bareng. Hadeuh, modus terselubung.
"Ni Dek, motornya udah beres. Lu mau sekolah pan?" tanya Ferdy.
"Hehe ... iya, ya udah ni Bang uang pembayaran ganti oli barusan." Ia mengeluarkan uang 100 ribu.
"Thank's, ya? Jangan lupa datang lagi." Ujar gue.
"Pastilah, Kak!" ABG ini terkekeh.
"Memang Jang, pesona Lu enggak pernah luntur dari jaman kuliah dulu." Ferdy terkekeh.
Bengkel masih sepi, masih sama seperti 1 minggu ke belakang. Paling, baru ada orang datang buat tambal ban, ganti oli atau sekedar tambah angin.
Sebenarnya, gue udah enggak enak banget sama Ferdy. Namun Ferdy teman yang baik. Ia selalu mensuport gue dengan keadaan sekarang ini.
"Bujang!" Seorang pemuda mendekat.
"Owalah, kirain siapa. Elu, Ki? Gimana kabar?"
Ricki teman sekampus gue di komunitas penggalang dana waktu lalu.
"Allhamdulillah, sehat Jang. Mane si Ferdy? Katanya di sini juga?" Tanya Ricki.
"Ada, tuh di belakang."
"Lagi ngapain?" tanya Ricki.
"E e, kalik," jawab gue.
"Haha ... Lu tuh Jang, dari jaman kuliah kagak pernah berubah ya? Kalau ditanya orang, pasti jawabanya lagi e e, dasar jorok, Lu!"
Gue nyengir.
"Weh, ada Ricki. Kerja dimane, Lu?" tanya Ferdy yang baru keluar dari dalam bengkel.
"Di kantor pajak," jawab Ricki.
"Owalah, berarti Kita sekarang panggil Lu Pak Ricki, ya? Pan udah gawe di kantor pajak." Ferdy terkekeh.
"Heleh, biasa aja Bro! Apa yang mau dibanggain dari seorang pegawai kek Gue ini, Bro?" ucap Ricki.
"Loh! Inikan hari Sabtu. Ngapain Lu masuk kerja? Bukannya libur?" Tanya Ferdy.
"Iya Bro, ada masalah di sistem administrasi Kantor Pajak. Jadi Sabtu ini suruh gawe." Ricki menjelaskan.
"Oh gitu," ucap Ferdy.
"Gue malah bangga sama Bujang, walau Dia anak orang kaya, tapi Dia mau kerja kotor-kotoran penuh oli." Ungkap Ricki.
"Bukan cuma itu, Bro! Gue jadi saksi perjalanan seorang Bujang dari awal perjuangannya sampe Dia punya bengkel ini." Timpal Ferdy.
"Heleh, Kalian tuh ngomong apaan, sih? Ngomongin orang yang belum sukses?" jawab gue.
"Ini, yang Gue makin salut sama si Bujang, orangnya selalu merendah." Ferdy menepuk pundak gue.
"Udah-udah. Ki, Lu mau minum apa?" tanya gue.
"Enggak usah Jang, Gue juga mau gawe. Entarlah, Gue promoin juga bengkel Lu ke temen-temen kantor Gue," ucap Ricki.
"Thank's bro!" jawab gue.
"Ya udah, Gue cabut ya, Gaes!" Ricki pamit.
"Hati-hati, Bro!" ujar gue dan Ferdy.
.
"Fer."
"Hem."
"Nanti tutup jam dua, ya?"
"Loh, mau kemana, Jang?"
"Gue ada perlu," ucap gue.
"Owalah ... mau pacaran, ya?" ucap Ferdy.
Gue tersenyum.
"Lu masih pacaran sama Verra?" tanya gue.
"Masih."
"Ajaklah jalan-jalan, mumpung Gue kasih waktu agak panjang." Gue terkekeh.
"Heleh, itu mah Lu aja yang mau pacaran. Tapi, Lu pan belum punya pacar Jang, Eh."
Ferdy tertawa.
"Ya udah, Kita siap-siap deh tutup bengkel," ucap gue.
Tiba-tiba, mobil mewah berwarna hitam terparkir memasuki area bengkel. Pintu mobil terbuka, ada kaki seorang wanita telah turun dari dalam mobil mewah itu.
"Yumna?" ucap gue spontan.
"Siapa, Jang?"
Gue terpukau.
"Oppa ...." Yumna menghampiri gue yang masih belepotan oli.
Ferdy terkekeh mendengar sebutan itu.
"Apa, Loh?" Gue mendelik kepada Ferdy.
"Oh, Oppa .... wkwkwkwk" Ferdi tertawa.
"Diem, Lu!" ujar gue.
Yumna Menghampiri kami.
"Na, kok tahu kalau Kakak gawe di sini?" tanya gue.
"Tadi, Aku ke bengkel showroom, kata Om Andi, Oppa udah enggak kerja di sana lagi. Jadi, Om Andi kasih alamat bengkel ini."
"Oh."
"Jang, udah beres. Mau balik enggak?" tanya Ferdy.
"Lu balik duluan aja, entar Gue yang tutup bengkel!" jawab gue.
"Oke!" Ferdy masuk ke bengkel untuk membersihkan tubuh yang terkena oli.
"Itu temen, Oppa?" tanya Yumna.
"Iya, Kita bangun usaha bareng-bareng."
"Keren! Makin sayang sama, Oppa!" Yumna mau meluk.
"Eitss ... jangan peluk, kakak masih kotor oli."
"Dasar pelit!" ujar Yumna.
Gue tersenyum.
"Na, jalan yuk?" Ajak gue.
"Kapan?"
"Nanti, abis Kakak mandi, ya?"
"Oke!" jawab Yumna.
Ferdy udah siap-siap buat balik, dia menyambar kunci motornya yang ia simpan di etalase.
"Ya udah, Gue pamit ya, Oppa?" Ferdy terkekeh.
"Bye ... Oppa, muach."
Ferdy balik sambil melambaikan tangan pakek acara kiss bye lagi, najis dah tuh anak! Vangke!
"Hati-hati, Oppo," ucapku.
"Merk hp kalik, ah!" Ferdy tertawa lalu pergi meninggalkan bengkel.
Yumna terkekeh melihat candaan kekasih dan sahabatnya.
jd penasaran aq thoor
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪