Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Isabela Smith Salvatore
Aku tahu apa yang mungkin kalian pikirkan: aku keluar rumah dan membiarkan suamiku bebas berbuat sesukanya, tapi kenyataannya aku melihat mereka. Aku pulang lebih awal dan melihat kelancangan adikku berenang setengah telanjang di kolam renangku. Aku sudah siap menyeretnya keluar dengan rambutnya ketika suamiku datang. Aku bersorak penuh semangat membayangkan dia akan membunuhnya karena berani berbuat sekurang ajar itu. Memamerkan diri begitu padahal para anak buah bisa muncul dan memergokinya. Bagaimanapun, perempuan di mafia harus berperilaku baik dan mengikuti aturan ketat agar suci saat dijodohkan dengan seorang mafioso demi keuntungan mafia.
Aku terkejut melihatnya berdiri di sana, menatap lekat adikku. Aku ingin masuk dan mematahkan setiap tulang di tubuh konyol itu, tapi kutahan diri. Aku tidak boleh menunjukkan keberanian sebesar itu di depan suami kecilku, karena aku harus jinak dan rapuh kalau mau bertahan dalam pernikahan ini. Aku tahu perceraian tidak diizinkan di mafia, dan itu mengakhiri rencanaku tentang perjanjian pranikah menguntungkan senilai jutaan. Aku tahu bagi dia itu bukan apa-apa. Tapi aku bisa hidup di tempat lain, bebas, persetan dengan omong kosong ini dan bercinta dengan siapa pun yang kumau kapan pun, tanpa etiket dan kepatuhan sialan ini. Tanpa memar-memar terkutuk akibat ulahnya saat kami bercinta atau saat dia terlalu marah padaku.
Bayangkan keterkejutanku melihat suamiku mencium adikku. Aku tidak mengharapkan kesetiaan darinya, toh dia seorang Don, tapi melihatnya mencium makhluk jelek itu membuatku jauh lebih membencinya. Si tak tahu terima kasih itu menikmati semuanya. Aku bisa merasakan suasananya dari jauh. Ketegangan seksual di antara mereka bisa kurasakan. Aku sudah mencoba meracuni dia tentang adikku, tapi kutahu itu gagal, jadi kucoba taktik lain. Meninggalkan mereka berdua. Dan aku tahu ini mungkin terdengar bodoh, tapi percayalah, laki-laki hanya menginginkan satu hal, dan begitu mendapatkannya, mereka berhenti dari obsesi sialan pada perempuan itu. Jadi kubiarkan mereka berhubungan seks. Sudah waktunya cacing itu berhenti jadi suci. Kemurnian itu membuatnya merasa lebih baik dariku, dan itu tak akan pernah terjadi.
Sebentar lagi dia akan terhina saat tahu suami kecilku tak akan pernah mau bersama perempuan seperti dia di depan umum. Itu akan memalukan baginya mengakuinya di depan mafia dan masyarakat. Lagi pula, seorang CEO bisa berpacaran dengan supermodel, aktris, apa yang akan dia lakukan dengan monster kecil seperti itu, kan?
Meski kubiarkan semua terjadi, ini tidak akan gratis. Dia berutang kesetiaan padaku, dia berutang hidup tak berartinya padaku dan akan kutaruh dia di selokan sebagai boneka tiup di salah satu asrama anak buah paling kejam di mafia ini, karena mereka haus dan menerima siapa saja. Dan aku tahu suamiku tidak akan membiarkan itu terjadi, tapi aku tak peduli. Dia tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah di dalam peti mati.
"Isa? Kamu baik-baik saja?"
"Aku sangat baik, sayang. Kau yang tampak berbeda. Menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Kenapa bilang begitu?" Dia tampak tidak nyaman. Nyaris tak menatap mataku.
"Entahlah, kau tampak lebih dewasa sekarang. Ada yang perlu kuketahui?"
"Ti-tidak." Matanya jatuh ke lantai saat dia menunduk.
Aku benci kepasifan sialan itu, dia seperti tikus saking pengecutnya.
"Jangan bohong, sayang, kau tahu apa akibatnya."
"Aku tidak bohong."
Kucengkeram lengannya dan kupuntir sekuat tenaga sementara dia mengerang kesakitan.
"Tolong, lepaskan aku. Tidak ada yang perlu diceritakan."
"Bicara, dasar tolol, atau kupatahkan."
Dia tetap diam, jadi kupuntir lengannya lebih keras lagi lalu kuhantam sikunya yang terentang dengan lututku. Aku mencapai ekstase mendengar bunyi tulang keluar dari sendinya. Bengkak langsung muncul hampir seketika di sana. Jeritan Ane melengking. Kulepas lengannya dan dia jatuh ke lantai mengerang kesakitan.
Para anak buah berlarian untuk memeriksa apa yang terjadi dan melihat adik kecilku di lantai. Mereka berlari seperti keset untuk menolongnya begitu melihat lengannya membengkak.
"Apa yang terjadi, Nona?"
Dia menatapku. Tampaknya dia begitu membenciku hingga bisa saja melaporkanku sekarang.
"Aku jatuh!"
Si tolol ini masih melindungiku? Seolah aku butuh omong kosong itu. Dia munafik, cuma berlagak adik yang baik, tapi kenyataannya dia pantas mendapatkan semua yang kulakukan selama bertahun-tahun ini. Aku sudah tahu suatu hari dia akan menunjukkan wajah aslinya. Semua orang dalam hidupku mengecewakanku. Tapi aku butuh lebih, aku butuh dia mati dan akan kumainkan dengan semua senjataku.
Kami menuju rumah sakit yang sama tempat dia dibawa saat kekurangan gizi dan hipotermia. Kusimpan alat perekam di tasku untuk merekam percakapan kami karena aku tahu itu akan berguna dan bisa kupakai pada saat yang tepat.