Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Gulungan surat berdarah itu mendarat di telapak tangan Damian dengan getaran yang tidak wajar. Kurir kekaisaran yang membawanya tampak terengah-engah, seragamnya robek dan berlumuran noda tanah dari perjalanan panjang tanpa henti menembus hutan rimba selatan. Di bawah cahaya obor yang berkecamuk ditiup angin malam, Damian tidak memedulikan aroma amis darah yang menyengat dari kertas itu. Fokusnya tersedot pada stempel lilin merah berbentuk segel keluarga Christopher yang kini telah retak, sebuah pertanda buruk yang merobek ketenangan malamnya.
Damian membacanya dalam diam, matanya bergerak cepat di atas barisan kata yang dikirim oleh informan rahasianya di kota-kota pesisir. Laporan itu singkat, namun cukup untuk membuat seluruh otot di tubuh sang Jenderal menegang hingga hampir meledak.
Seseorang yang menyerupai target terlihat di kota pelabuhan selatan. Menjalankan toko roti kecil. Penyamaran sempurna.
Damian menggenggam surat itu hingga kertasnya mengerut dan hampir hancur di balik sarung tangan kulitnya. Napasnya terdengar seperti suara geraman hewani yang tertahan di balik tenggorokan. Ia tidak langsung bereaksi. Ia membiarkan hawa dingin musim semi menusuk kulitnya, membiarkan pikirannya yang selama ini tertata rapi sebagai komandan perang, kini berantakan dihantam badai emosi yang tidak memiliki nama.
Ia berbalik, menatap dingin ke arah Kapten Julian yang masih berdiri menunggu instruksi dengan wajah kaku.
"Julian," suara Damian memecah keheningan dengan nada rendah yang sarat akan otoritas mutlak, sebuah titah yang tidak boleh didebat oleh siapa pun, bahkan oleh dewa sekalipun. "Kumpulkan divisi bayangan elit kita. Sekarang."
Kapten Julian mengerutkan kening, bingung. "Jenderal? Pasukan utama masih kelelahan dari kampanye utara, dan keamanan ibu kota masih dalam status siaga tinggi setelah pemberontakan—"
"Aku tidak bicara tentang perang besar, Julian!" potong Damian, matanya berkilat mematikan, menatap tepat ke manik mata sang Kapten hingga pria itu menunduk ngeri. "Aku memerintahkan pencarian rahasia. Seseorang telah melarikan diri dari kastil ini. Kau harus menemukannya. Lacak setiap kota pelabuhan di selatan. Gunakan seluruh jaringan intelijen yang kita miliki, namun lakukan dengan kehati-hatian yang ekstrem."
Damian mengambil langkah maju, menekan ujung jari sarung tangannya ke dada Kapten Julian, memberikan penekanan pada setiap suku kata.
"Dengar baik-baik, jangan sampai ada satu pun yang tahu bahwa mereka sedang mencari istriku. Dan yang paling penting... jangan pernah berani menyentuhnya. Jika sehelai rambutnya saja luka, atau jika dia merasa terancam hingga melakukan tindakan bodoh karena ketakutan... kepalamu yang akan menjadi taruhannya. Temukan dia hidup-hidup, tanpa lecet sedikit pun. Pastikan dia tidak menyadari bahwa dirinya sedang diawasi."
Kapten Julian tertegun, sebuah kilatan keterkejutan melintas di wajahnya yang tangguh. Sang Jenderal Agung—pria yang dikenal dingin, pragmatis, dan tidak pernah membiarkan emosi mengaburkan penilaian strategisnya—kini memberikan perintah yang begitu personal, posesif, dan penuh perlindungan yang nyaris obsesif.
"Baik, Jenderal. Perintah dimengerti," jawab Kapten Julian dengan suara yang sedikit bergetar, sebelum segera berbalik dan menghilang dalam bayang-bayang kastil untuk mengumpulkan divisi bayangan.
Damian dibiarkan sendirian di halaman dalam kastil yang luas dan sunyi. Ia menunduk kembali ke arah surat laporan tadi, menatap tulisan tangan informannya sekali lagi di bawah cahaya bulan yang pucat. Ia meremas kertas itu di tangannya, merasakan denyut nadi di pelipisnya yang berdenyut-denyut penuh beban.
Pikirannya bergejolak. Selama ini, ia merasa Aurelia nama yang kini terus menghantuinya dalam mimpi-mimpi aneh—hanyalah bidak catur yang tidak penting dalam permainan politiknya. Namun, sejak ketiadaan wanita itu, sejak ia tahu bahwa ia telah 'ditinggalkan' oleh tawanannya sendiri, dunianya tidak lagi sama.
Berlarilah, Aurelia, batin Damian, sebuah gumaman sunyi yang hanya bisa didengar oleh kegelapan malam. Berlarilah sejauh yang kamu bisa, melintasi ribuan mil, bersembunyilah di sudut kota pelabuhan yang paling tersembunyi sekalipun. Kamu mungkin merasa sudah merdeka, kamu mungkin merasa tidak lagi membutuhkanku untuk sekadar bertahan hidup.
Damian menyandarkan punggungnya ke pilar batu kastil, menatap langit malam yang tak berujung. Senyum tipis yang getir dan berbahaya terukir di bibirnya.
Namun, ketahuilah satu hal, lanjut Damian dalam hati, matanya menatap tajam ke arah cakrawala selatan. Ketika aku menemukanmu nanti—dan aku pasti akan menemukanmu—jangan harap kamu bisa pergi dariku lagi. Kamu telah merusak segalanya. Kamu merayap masuk ke dalam rutinitasku, ke dalam kesunyian rumah ini, bahkan ke dalam setiap celah pikiranku. Sekarang, di mana pun aku berada, bayanganmu selalu ada, mengacaukan konsentrasiku, membuatku tidak bisa tenang. Kamu telah menjadikanku tawanan dari kepergianmu sendiri. Dan sebagai hukumannya, kau tidak akan pernah diizinkan untuk melihat dunia luar lagi tanpa pengawasanku.
Damian tidak menyadari bahwa ia telah terjebak dalam obsesi yang jauh lebih dalam dari sekadar tugas militer. Ia tidak tahu bahwa hatinya, yang selama ini membeku di balik zirah baja, kini telah terbakar oleh api keinginan untuk memiliki kembali satu-satunya hal yang berhasil menembus pertahanan dinding hatinya.
Ia melangkah kembali ke dalam kastil, namun tiba-tiba langkahnya tertahan.
Di ujung koridor utama yang menuju ke sayap tamu, ia melihat Putri Mahkota Elaina Valancaster sedang berdiri di sana, terbalut jubah tidur sutra putih yang halus, menatap ke arahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di tangan wanita itu, terdapat sebuah benda kecil yang tertutup kain—benda yang seharusnya berada di laci meja tulis kamar Shania yang telah ia hancurkan tadi.
"Anda terlihat gelisah, Jenderal," suara lembut Elaina memecah kesunyian, matanya yang safir tampak memancarkan kilatan rahasia yang tidak pernah Damian lihat sebelumnya. "Mungkinkah ini yang Anda cari?"
Elaina membuka kain penutup di tangannya, memperlihatkan biskuit gosong milik Shania yang seharusnya sudah ia hancurkan di kamar tadi.
"Aku menemukannya di koridor tadi saat hendak mencari air minum," Elaina mendekat, langkahnya anggun namun menusuk kewaspadaan Damian. "Siapa wanita yang membuat biskuit mengerikan ini, Jenderal? Dan mengapa, seorang panglima perang yang tak terkalahkan tampak begitu hancur hanya karena kehilangan miliknya?"
Sebelum Damian sempat menjawab, Elaina menyodorkan sesuatu yang lain—sebuah surat perintah rahasia yang dicuri dari meja kerja Damian, lengkap dengan cap resmi militer yang berisi perintah untuk melacak 'Aurelia'—diiringi dengan suara tawa kecil yang terdengar sangat asing di telinga sang Jenderal, seolah-olah sang putri mahkota bukanlah tawanan perang yang lembut, melainkan seseorang yang selama ini memegang kunci atas pelarian Aurelia.
Damian merasakan hawa dingin yang tidak wajar merambat naik di punggungnya saat Elaina membisikkan sesuatu di dekat telinganya—
mampir diceritaku juga ya😊