"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 25] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Asap cerutu tebal membumi di dalam ruangan bernuansa merah remang itu. Gelak tawa berhak-hak mengudara, memantul di antara dinding kedap suara.
Pria tua berwajah keriput dengan tatapan serakah—Bos klan Argus sang penguasa Cincin Api—mendorong cangkir wiskinya ke tengah meja kayu tebal. Pria itu menyandarkan punggungnya santai ke kursi kulit mahal.
"Yah... para Belati Biru itu terlalu bodoh jika menyimpannya terlalu lama," gumam sang Bos dengan tawa sinis yang tertahan. "Mereka seharusnya membiarkan kita saja yang mengelolanya."
"Ahahaha! Bos benar!" seru salah satu anak buahnya yang bertubuh kekar dengan tato ular di leher. "Barang sehebat itu cuma disimpan di bawah tanah? Mubazir banget!"
"Mengelola?!" timpal anak buah lainnya yang berkepala botak seraya menyeringai kotor. "Maksud Bos... menikmatinya?"
"Ahahahahaha!"
Tawa riuh dan vulgar seketika meledak dari para pria bertelanjang dada dengan ribuan tato di sekujur tubuh mereka pada ruangan itu. Sang Bos ikut tertawa pelan, mengibaskan tangannya di udara.
"Mereka... hanya cecunguk kecil tak berguna!" cetus si leher tato lagi, meludah kecil ke lantai.
"Betul, Bos! Terus kapan nih tanggal main kita?" tanya si kepala botak antusias, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Anak-anak sudah gatal ingin bergerak!"
"Jangan terburu-buru!" potong sang Bos tegas, menatap tajam anak buahnya satu per satu. "Aku belum mendapatkan bayaran pasti dari bocah itu... Yah, katanya dia berani membayar lebih asalkan kita membawa perempuan itu, kan?"
"Wah... Bos serius?!" Mata si kepala botak membinar seketika. "Katakan berapa yang dia berani bayarkan, Bos!"
"Semoga saja lebih besar dari yang aku inginkan," kekeh sang Bos dingin. "Tapi... memangnya sesulit apa sih menculik seorang wanita?"
"Cuma menculik wanita? Gampang sekali itu, Bos! Sekali bungkus juga beres,kalau perlu kita bawa saja ke gang sempit!" tawa si leher tato remeh.
"Ingat," tegur sang Bos, mengetukkan jarinya ke meja. "Pokoknya, apa pun yang terjadi, aku inginkan hasil dari kedua belah pihak! Uang dari bocah itu dapat, keuntungan dari proyek itu juga harus jatuh ke tangan kita!"
"BAIK, BOS!" seru para bawahannya serempak.
Namun, seorang pria dengan parut luka di pipinya yang sedari tadi diam di sudut ruangan akhirnya membuka suara. "Tapi Bos... kalau sampai ada perang terjadi gara-gara kita menyentuh wanita itu, bagaimana, Bos?"
"Perang?" Pria tua itu terkekeh pelan. Sebuah senyuman miring yang lebar terukir di wajah keriputnya. "Untuk apa kita berperang jika tujuan utama kita adalah mengadu domba mereka berdua? Membuat para Belati dan Rantai Emas itu hancur bersamaan."
Anak buah di sekelilingnya saling pandang sejenak, lalu perlahan mengangguk paham dengan binar wajah brengsek yang selalu sama
"Setelah mereka berdua akhirnya benar-benar luluh lantak oleh kebohongan, kita tinggal menyelinap masuk dari belakang, mengambil dan membersihkan sisanya... Seperti apa!?" gertak sang Bos menguji bawahannya.
"ANJING MAKAN ANJING!?" seru para bawahannya serentak, lalu tertawa berderai-derai.
"Yah... benar. Kalian sekarang sama berdosanya seperti aku," ujar sang Bos tenang, mengisap cerutunya lagi. "Dan tenang saja... rencana ini tidak akan menjadi bom waktu untuk kita. Karena aku sekarang mulai melihat potensi wanita muda ini..."
Jemari kasar sang Bos membalikkan sebuah foto polaroid di atas meja.
Foto itu menampilkan seorang wanita anggun dengan blazer mahal dan untaian rambut indahnya, berjalan beriringan dengan seorang wanita anggun lainnya yang terlihat begitu kompleks mengenakan gamis panjang... dan meskipun wajahnya tertutup, bocah SD saja tahu betapa cantiknya tatapan wanita itu.
Sang Bos menatap foto itu dengan seringai puas. "wanita ini... akan menjadi pemantik terbaik untuk membakar mereka semua sampai jadi abu."
.
.
.
.
Beberapa jam kemudian, di sebuah kamar hotel remang tak jauh dari pusat hiburan...
"Ugh... kepala ku mau pecah..." erang pria berbadan gempal—selaku tangan kanan clan Mafia Argus
bergerak terhuyung-huyung seraya berguling di atas ranjang. Matanya merah, pengaruh alkohol tinggi membuatnya benar-benar teler.
Seorang wanita malam dengan gaun sutra tipis duduk menyamping di tepi ranjang. Jemari lentiknya bergerak lembut mengelus dada pria itu.
"Makanya, kalau minum jangan terlalu banyak, Sayang..." bisik wanita itu dengan suara manja yang halus. "Ada masalah apa sih di tempat kerja sampai stres begitu?"
Pria itu terkekeh serak, menatap langit-langit kamar yang memutar. "Bisa-bisanya Rob...Roberto ingin aku mengadu domba diktator pendek dengan...clan yang menguasai area barat ?~"
Wanita itu menghentikan jarinya sejenak. "Diktator pendek? Siapa itu, Sayang?"
"Ssst! Jangan banyak tanya!" celoteh pria itu gontai, mengurut pelipisnya. "Kau tahu, Sayang?... mungkin memang lebih baik menciptakan api di bawah panggangan."
"Api di bawah panggangan?" ulang wanita itu pelan, tetap memamerkan senyum manisnya seraya membelai rahang sang pria.
"Maksudnya bagaimana?"
Di atas ranjang, ia mendorong dada bidangnya hingga pria dingin itu terpaksa berbaring telentang, menatap wanita nya dengan sepasang mata yang terbelalak tidak percaya.
"Rosa, apa yang—"
Kalimat pria terputus saat Rosa merangkak turun ke ujung kakinya. Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sarat akan tekad, Rosa membuka kain yang menghalangi, langsung menyapa milik Pria ini yang sudah tegang sempurna.
"ayo...katakan lagi... katanya aku tempat curhat mu~"balas manja dari Rosa tak ingin kehilangan satu info sedikitpun.
Tanpa memberikan waktu bagi pria langganan nya untuk berpikir, Rosa menunduk, langsung memanjakan dan mengulum se onggok batang berurat tebal dan mengunggah itu dengan cara yang luar biasa berani—bahkan cenderung bar-bar untuk ukuran dirinya yang biasanya penakut.
"Nghh... Rosa... pelan-pelan..." pria itu mengerang rendah, suaranya luar biasa serak. Kedua tangannya reflek mencengkeram seprai kasur erat-erat.
Kepala pria dingin itu mendongak, rahangnya mengencang menahan gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi karena gerakan mulut Rosa yang menuntut dan tanpa jeda.
Rosa seolah tuli. Ia terus memuja dengan ritme yang kian memburu, menikmati setiap erangan frustrasi yang keluar dari bibir pria tersebut.
"ahhk!, baiklah dengar!."
"kami benar benar tergiur dengan proyek eksperimen serum itu..."katanya pelan tak membiarkan sedikitpun Rosa selesai mengulum miliknya
Ketika intensitasnya mencapai titik didih yang tak lagi bisa dibendung, ia tersentak hebat. Punggungnya melengkung kasar dari kasur saat pelepasan itu akhirnya pecah.
Crat.
Putih kehangatan benih itu keluar dengan semburan yang begitu kuat, sebagian besar lolos dari bibir Rosa dan terciprat mengenai sudut bibir, pipi merona, hingga ke leher putih nya.
Suasana kamar mendadak hening, hanya menyisakan suara napas mereka yang terengah-engah.
"proyek serum apa sayang~"tanya kembali Rosa...kali ini wanita tersebut begitu percaya diri
Pria itu berusaha mendudukkan dirinya dengan perlahan, menatap Rosa yang sedang mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari, menyisakan kilatan basah di wajahnya yang tampak luar biasa cantik dan eksotis di bawah temaram lampu.
"hah~" menarik napas dalam, sadar bahwa mulai malam ini, ia benar-benar telah menjadi tawanan mutlak dari wanita yang berada di hadapannya yang kembali bermain.
"Ahhh~ sial!" igau pria itu lagi seraya memejamkan mata erat-erat saat wanita itu melayaninya.
"Wajar saja mereka ada di panggung yang sama... mungkin karena keuntungan dan manfaat yang bisa didapatkan Bos benar-benar besar... Aww! Ohh sialan! Jangan gunakan gigimu saat mengulumnya!"
"Maaf, Sayang... aku tidak sengaja," bisik wanita itu lembut, meski hatinya mendadak bergetar hebat.
Tatapan si pria masih terkunci pada Rosa
yang kini berdiri di tepi ranjang, matanya membalas tatapannya dengan kilatan menantang. Perlahan, tangannya bergerak membuka setiap inci luaran yang ia kenakan, membiarkan kain itu merosot dari bahunya dan jatuh begitu saja ke lantai.
"berani juga yah kamu~" ucap nya pria itu menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepuasan visual.
Tanpa memutus kontak mata.
Rosa menyilangkan kedua tangannya di pinggang, memegang ujung tank top hitamnya lalu mengangkatnya melewati kepala dalam satu gerakan lambat. Rambut panjangnya terayun bebas, memperlihatkan kulit leher dan dadanya yang mulus di bawah balutan bra renda.
Pria tersebut nampak santai mengubah posisi tangannya menjadi di belakang kepala, bersiap menikmati pertunjukan mandiri ini. "Indah sekali, Sayang. Lanjutkan," bisiknya dengan suara serak yang dalam.
Menjawab tantangan pelanggan nya , Rosa menurunkan pakai tersisa nya yang dipakainya hingga terlepas sepenuhnya dari kakinya. Kini, dengan hanya menyisakan pakaian dalam, Rosa merangkak naik ke atas kasur.
Ia duduk bertumpu pada lututnya tepat di atas paha Pria tersebut, lalu dengan gerakan sensual membuka kait branya, membuang benda kecil itu ke sudut ranjang.
Setelah melucuti pertahanan terakhirnya, Rosa memosisikan dirinya. Tanpa bantuan dari tangan, ia menuntun milik batang berurat itu yang sudah tegang sempurna untuk menyatu dengan keintimannya.
"ahhh!-"
"agghrh... sudah tegang!"pekik Rosa,ia benar benar sudah sangat merasakan betapa terjepit nya milik pria itu di dalam sana.
Begitu semua bagian menyatu, Rosa menegakkan punggungnya. Kedua tangan si Pria tetap berada di belakang kepala, membiarkan wanita nya memegang kendali penuh. Rosa mulai bergerak naik-turun dengan ritmenya sendiri, membiarkan miliknya keluar dan masuk secara konstan, menikmati sensasi bergetar hebat di atas tubuhnya tanpa rasa takut akan interupsi dari siapa pun malam itu.
"ahhh... uhhh, sayang...aku jadi tidak sabar ingin menikahi mu!"
"menjadi kan... agghrh!, menjadikan kau milikku seutuhnya!"
"agghrh, Sialan bergerak lah lebih cepat!"tuntut Pria tersebut membuat milik Rosa basah sempurna.
.
.
.
.
Benar benar melelahkan bahkan kini sudah ber jam jam lebih Rosa melayani pria yang perlahan mulai memejamkan mata dan tertidur lelap itu.
Rosa memang tidak tahu pasti siapa mereka yang Pria itu sebut kan. Namun, menyebut-nyebut masalah perbatasan barat.
dan tentang bagaimana sebelumnya kata kata pria tersebut keluar begitu saja saat pria tersebut berbalik memegang kendali atas permainan mereka hati Rosa nampak tak tenang.
"Ahhh—!"
Saat itu Rosa mendesah hebat, tubuhnya seketika menegang. Cengkeramannya pada spray kasur mengerat begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih sementara pria tersebut terus menerus menghentak di belakang sana.
"ahhg!...bos ku menginginkan proyek itu... ahhhk!, bayangkan saja jika pihak aliansi negara lain bisa membeli nya dengan harga fantastis pastinya cukup menyenangkan bukan!"kata tersengal sebelum menghentak kuat, menahan setiap pergerakan Rosa dengan cara menarik Kedua lengannya kebelakang.
"aahhhk!-"
"dengar kan aku~"pria tersebut menunduk memposisikan wajahnya di antara telinga Rosa.
"setelah kami berhasil mengadu domba mereka... agghrh!,aku...aku akan membawamu pulang,dan meratukan mu dnegan kekayaan yang telah kami dapatkan"
"dan perbatasan barat akan menjadi titik temu kemenangan kita"
.
.
(Perbatasan barat... Klan Vins! Jangan-jangan yang mau dibakar dan dihancurkan oleh mereka?!)
Begitu pria dari klan Argus itu tertidur lelap dan mendengkur keras, Rosa buru-buru merapikan gaunnya, mengemas tasnya dengan gemetar, dan menyelinap keluar kamar.
Hanya untuk menelepon seseorang di tempat yang paling sepi.
"Bos! Saya dapat informasi bahaya!" bisik Rosa pelan setengah panik di sudut lorong yang sepi.
bos yang Rosa telepon...seorang pria yang kini memegang gelas wiski mengerutkan dahi.
"Informasi apa? Jangan membual malam-malam begini!"
"Pria Argus yang biasa memesan ku tadi teler berat, Bos!" cerocos wanita itu cepat-cepat. "Dia bilang klan mereka sedang menyiapkan rencana Mereka mau mengadu domba di wilayah perbatasan barat!"
Gelas di tangan pria itu hampir saja terlepas. Wajahnya berubah pucat pasi. "Perbatasan barat?! Itu wilayah kekuasaan kita! Kamu yakin dia bilang begitu?!"
"Yakin seratus persen, Bos! Dia bilang pimpinan mereka mau meratakan perbatasan barat demi keuntungan besar!" tumpat wanita itu menyakinkan.
Pria tersebut mengumpat kasar. "Bangsat! dibanding mereka! Kalau kita cuma diam, kita sendiri yang bakal diratakan pertama kali!"
"lalu infomasi apa lagi yang pria itu katakan?"
"dia mengatakan!_
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...