Berawal dari Kesialan Hidup, membuat Kevin Sanjaya Bangkit dengan bantuan Meteorit dan buku pemberian Kakeknya "Kitab Medis Surgawi"
Beberapa hal dari hidupnya seketika berubah, tiga wanita cantik, Asosiasi Super Power Nasional, bahkan mendapat Cacing Emas Gu Legendaris untuk memperkuat tubuhnya.
Namun, perjalanan Kevin Massi Panjang. Dan, kali ini dia menjadi target organisasi terkuat dunia 'Demonic' dalam memperebutkan 5 Artifak Medis Legendaris, yang di percaya bisa membuat pemiliknya hidup abadi.
Apa saja yang akan di lewati Kevin Sanjaya, di season 2 kali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenjiro Dominic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Walikota Mengurungku, Bahkan Tidak Memberiku Udara!
Telinga Heri berdenging akibat suara benturan dahsyat. Ia menatap pintu baja yang baru saja dipukul hingga terlepas dari engselnya. Matanya hampir melotot keluar, tubuhnya gemetar, dan wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.
Selama ini, ia selalu meragukan bahwa manusia bisa memiliki kekuatan untuk menghancurkan pintu baja. Namun, pemandangan di hadapannya membuatnya tak mampu menyangkal kenyataan.
Kekuatan macam apa yang sebenarnya dimiliki Kevin hingga mampu membuat pintu baja itu terlempar hanya dengan satu tendangan?
Saat itu, Heri merasa seolah-olah lidahnya hampir tergigit karena terlalu terkejut. Semua orang tahu bahwa untuk membuat sebuah pintu baja terlempar sejauh itu, diperlukan kekuatan lebih dari lima ribu kilogram!
Apakah kekuatan pukulan Kevin benar-benar telah mencapai tingkat tersebut?
Pikiran itu sungguh sulit dipercaya!
"Tuan Muda, tampar saya dan katakan bahwa saya sedang bermimpi!" pinta Heri dengan mata terbelalak.
Kevin hanya bisa menggelengkan kepala karena tak habis pikir melihat reaksinya. Tanpa banyak bicara, ia segera menendang bokong Heri hingga pria itu terjungkal.
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Kita masih harus berurusan dengan Walikota. Siapa sangka seorang Walikota bisa begitu keji sampai tega mengurungku dan mencoba membuatku mati kehabisan udara!"
Dengan sorot mata tajam, Kevin melangkah mantap menuju pintu keluar.
Melihat Kevin sudah pergi, Heri akhirnya tersadar. Ia kembali menatap lubang besar tepat di pintu baja yang tergeletak, dan bulu kuduknya langsung meremang.
Ini bukan mimpi!
Kekuatan pukulan Kevin benar-benar telah mencapai tingkat yang mengerikan—lebih dari lima ribu kilogram!
Kekuatan seperti itu sungguh membuat kagum sekaligus menakutkan.
Menatap punggung Kevin yang semakin menjauh, hati Heri dipenuhi rasa takut sekaligus hormat.
Sebelumnya, ia bahkan pernah berpikir untuk membunuh Kevin.
Betapa bodohnya dirinya!
Ia benar-benar telah melebih-lebihkan kemampuan sendiri. Jika sejak awal Kevin mengeluarkan seluruh kekuatannya, satu pukulan saja sudah cukup untuk membunuhnya. Mustahil baginya mampu menahan serangan seperti itu.
Menyadari Kevin sudah cukup jauh di depan, Heri buru-buru mengejarnya.
Sekarang ia sudah mengerti satu hal.
Ia tidak boleh sekali pun mencari masalah dengan Kevin!
---
Sementara itu, di luar, suasana di kantor Walikota semakin tegang.
Walikota dan Menteri Pertahanan saling berhadapan. Udara di dalam ruangan terasa begitu menekan hingga membuat semua orang menahan napas.
Albert Wijaya, kepala Kepolisian, dan yang lainnya berdiri diam di samping seperti patung. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara.
Walikota dan Mentri pertahanan sama-sama merupakan tokoh berpengaruh.
Siapa yang berani ikut campur dalam perselisihan antara mereka?
Tiba-tiba—
BOOM!
Suara ledakan keras mengguncang seluruh gedung pemerintahan kota.
Bangunan itu bergetar hebat seperti diterjang gempa. Semua orang yang berada di dalam ruangan kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
"Apa yang terjadi? Suara apa itu?"
Walikota merasakan getaran tersebut dan seketika diliputi firasat buruk.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.
"Tuan Muda, tunggu saya! Tulang saya masih patah. Saya tidak bisa berjalan cepat!"
"Itu akibat perbuatanmu sendiri. Jangan malah menyalahkanku."
"Menyalahkan Anda? Saya tidak akan berani. Saya hanya khawatir Anda jatuh kalau berjalan terlalu cepat!"
Mendengar suara tersebut, mata Albert Wijaya langsung berbinar.
Ia segera mengenalinya.
"Sahabat Mudah Kevin, apakah itu kau?"
Belum sempat suara Albert Wijaya menghilang, Kevin sudah muncul dari tangga bersama Heri. Wajahnya dihiasi senyum tipis.
"Paman, kebetulan sekali bertemu lagi. Ada urusan denganku?"
"Sahabat Mudah Kevin, syukurlah kau baik-baik saja!"
Albert Wijaya terlihat sangat lega. Kecemasan yang sejak tadi menghantuinya seketika lenyap.
Kevin tersenyum hangat melihat kekhawatiran Albert Wijaya.
"Apa yang bisa terjadi padaku? Walikota mengurungku di dalam ruangan tanpa memberiku sedikit pun udara segar."
Begitu mendengar ucapan Kevin, Walikota langsung menatapnya.
Kemudian pandangannya beralih kepada Tuan X yang berdiri di belakang Kevin.
Tubuh Walikota seketika gemetar.
Matanya dipenuhi ketakutan dan ketidakpercayaan.
Bagaimana mungkin?!
Kevin dan Tuan X ternyata masih hidup!
Ruang rahasianya seharusnya merupakan tempat yang benar-benar tak bisa ditembus. Dinding dan pintunya terbuat dari baja tebal dan bahkan buldoser pun belum tentu mampu menghancurkannya.
Namun sekarang, Kevin dan Tuan X berdiri di hadapannya dalam keadaan hidup!
Walikota sadar bahwa semua perbuatannya sebentar lagi akan terbongkar.
Ia segera menguatkan diri dan membentak Ke arah Kepala Kepolisian,
"Pak Kepala Kepolisian, apa yang kalian tunggu? Tangkap mereka! Mereka adalah pelaku yang sudah saya sebutkan sebelumnya!"
Mendengar perintah itu, ekspresi Kepala Kepolisian langsung menegang.
Ia melirik Kevin yang berdiri di hadapannya dengan senyum santai, lalu tanpa sadar bergidik.
Terakhir kali terjadi masalah, semua orang bahkan berkumpul di kantor polisi untuk melindungi Kevin.
Bagaimana mungkin orang seperti itu adalah penjahat?
Kalaupun Kevin benar-benar seorang pencuri, apakah dia punya keberanian untuk menangkapnya?
"Sebentar, Pak Walikota. Apakah mungkin ada kesalahpahaman?"
Kepala Kepolisian menoleh kepada Walikota. Suaranya terdengar sedikit gemetar.
"Kepala Kepolisian, kau mempertanyakan perintahku?"
Wajah Walikota berubah dingin.
"Atau kau ingin kehilangan jabatanmu?"
"Jangan lupa, Kevin bekerja sama dengan kelompok kriminal yang berniat mencelakaiku! Segera tangkap mereka!"
"Walikota, bagaimana kau bisa menuduh Sahabat mudah Kevin tanpa bukti?" Albert Wijaya langsung menyela dengan marah.
"Albert Wijaya, kau tidak punya hak untuk bicara di sini. Diam!"
Tatapan Walikota berubah semakin tajam.
Kemudian ia kembali menatap Kepala Kepolisian.
"Kepala Kepolisian, kamu harus menjalankan tugasmu demi melindungi negara!"
"Jangan lupa siapa yang mendukungmu sampai kau bisa menduduki posisi itu sebagai kepala kepolisian!"
Wajah Kepala Kepolisian berubah berkali-kali.
Memang benar.
Tanpa dukungan Walikota, mungkin mustahil baginya bisa mencapai posisi sebagai kepala kepolisian.
Kevin hanyalah warga sipil. Memang ia mendapat dukungan dari Walikota, tetapi pengaruh mentri pertahanan masih jauh di atas Walikota.
Tapi, Walikota jelas menunjukkan betapa kuatnya koneksi yang dimilikinya.
Setelah mempertimbangkan semuanya, tatapan kepala Kepolisian perlahan menjadi tegas.
Ia sudah mengambil keputusan.
Berpihak kepada orang yang tepat akan membuat kariernya berjalan mulus.
Maka, tanpa ragu, kepala Kepolisian mengangkat pistol dan mengarahkannya kepada Kevin.
"Tuan Kevin, maafkan saya. Mohon bekerja sama dengan penyelidikan kami."
Melihat tindakan Kepala Kepolisian, para polisi lainnya pun segera bereaksi.
Mereka serentak mengangkat pistol dan mengarahkannya kepada Kevin.
Dengan Kepala Kepolisian yang sudah lebih dulu mengambil tindakan, mereka tentu tidak berani melakukan hal berbeda.
Untuk sesaat, seluruh ruangan dipenuhi ketegangan.
Semua moncong pistol kini mengarah tepat kepada Kevin.
bibirmu berjenggot?