NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:509
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: JEJAK KELAM DI BALIK BAYANG-BAYANG DAN UJIAN CINTA YANG TERSISA

Malam berangkas merayap menyelimuti langit Jakarta. Di balik pintu kayu jati Kediaman Pratama, suasana perpustakaan pribadi yang tadinya diliputi kehangatan mendadak diterpa hawa dingin yang menusuk. Dering gawai Aris yang bergetar di atas meja kerja memecah keheningan senja yang baru saja mengikat janji cinta mereka.

Aris melepaskan genggaman tangannya dari Kirana dengan enggan. Dengan napas yang masih teratur pelan usai momen emosional tadi, ia meraih gawainya. Namun, begitu matanya menyapu nama pengirim pesan singkat dan foto dokumen yang terlampir di layarnya, ekspresi wajah Aris yang semula lembut berubah menjadi kaku bagaikan batu ukir.

Kirana yang masih memangku kepala Maya yang tertidur lelap seketika menyadari perubahan atmosfer itu. Intuisi seorang wanita dewasa dan ibu tiri yang telah berkali-kali dihantam badai rumah tangga langsung menangkap sinyal bahaya.

"Mas Aris? Ada apa?" bisik Kirana dengan nada tertahan agar tidak membangunkan Leo dan Maya.

Aris mematikan layar gawainya, menyembunyikan getaran tipis di ujung jarinya. Ia berusaha memulas senyum, namun sinar matanya memancarkan kecemasan mendalam yang tak sanggup dibohongi.

"Tidak ada apa-apa, Kirana. Hanya laporan rutin dari kantor polisi mengenai proses penahanan Hendrawan," dalih Aris dengan nada suara yang terlalu cepat.

Kirana menatap suaminya lurus-lurus. Pengalaman hidup meremukkan kepolosannya di masa lalu; ia bukan lagi wanita muda naïf yang bisa dihibur dengan kebohongan manis. "Jangan berbohong padaku, Mas. Kita sudah berjanji di hadapan Tuhan dan anak-anak sore ini untuk tidak lagi menyembunyikan apa pun. Tatapan matamu tidak bisa membohongiku."

Aris menghela napas berat. Keagungan dan ketegasan Kirana meruntuhkan keinginannya untuk melindungi wanita itu dari penderitaan baru. Dengan perlahan, Aris menyerahkan gawainya ke tangan Kirana.

Di layar terpampang sebuah foto dokumen resmi berstempel merah dari Sanatorium Jiwa Dharma Mulia—fasilitas perawatan khusus tempat Sheila Kusuma diisolasi selama ini.

> SURAT PEMBERITAHUAN DARURAT

> Pasien atas nama Sheila Kusuma dilaporkan hilang dari ruang perawatan isolasi sejak pukul 15.30 WIB. Penyelidikan awal menunjukkan adanya sabotase sistem keamanan internal yang melibatkan pihak luar. Ditemukan sebuah amplop berisi surat pribadi yang ditinggalkan di atas tempat tidur pasien, ditujukan kepada Aris Pratama.

>

Darah Kirana serasa membeku seketika. "Sheila... kabur?"

"Bukan sekadar kabur," potong Aris dengan suara rendah yang menegang. "Direktur sanatorium baru saja menelponku secara pribadi. Sheila berhasil kabur tepat saat Hendrawan melakukan aksi nekatnya di sekolah anak-anak. Ini bukan kebetulan, Kirana. Hendrawan menjadikan aksi penculikan di sekolah sebagai umpan untuk mengalihkan seluruh tim keamanan kita, sementara antek-anteknya yang tersisa membebaskan Sheila dari sanatorium."

Kirana meremas gawai itu. Bayang-bayang Sheila—wanita anggun berhati racun yang selama tiga tahun ini menghembuskan bisikan kebencian kepada keluarga Pratama, wanita yang membuat Leo dan Maya membenci Kirana sebagai "ibu tiri pengemis harta"—kini kembali bergentayangan.

"Dan surat itu?" tanya Kirana, matanya menatap foto amplop berbercak noda kehitaman yang terlampir di bawah dokumen.

Aris menarik napas panjang, dadanya naik turun. "Sekretarisku sedang membawa surat asli yang ditemukan di kamar Sheila menuju rumah ini. Tapi ringkasan isinya sudah disampaikan polisi... Sheila tahu tentang rahasia asal-usulmu sebagai adik kandung dari almarhumah ibu biologis Leo dan Maya. Dia tahu kamu adalah bibi kandung mereka yang memegang saham utama."

Tiga puluh menit kemudian, hujan kembali turun membilas jendela kaca perpustakaan. Suara gemericik air yang menghantam genteng Kediaman Pratama menciptakan simfoni mencekam.

Pak Wijaya melangkah masuk membawa sebuah amplop cokelat berpelindung plastik bening. Wajah kepala keamanan veteran itu tampak begitu terpukul.

"Pak Aris, Nyonya Kirana... surat ini ditemukan terselip di bawah bantal kamar perawatan Sheila," ujar Pak Wijaya seraya menyerahkan amplop tersebut. "Tim forensik telah memeriksa sampel tulisan tangan, dan mengonfirmasi bahwa ini murni tulisan tangan Sheila Kusuma sebelum ia melarikan diri."

Aris menerima amplop itu, lalu membukanya di samping Kirana. Selembar kertas putih bermotif garis-garis tipis terhampar di meja kerja. Tulisannya bergelombang, mencerminkan ketidakstabilan emosi sang penulis yang dipenuhi dendam dan kegilaan.

> Untuk Aris dan Wanita Pembawa Petaka Itu,

> Kalian pikir kemenangan di RUPSLB dan penangkapan Paman Hendrawan adalah akhir dari segalanya? Kalian salah besar.

> Aris, kamu membuangku seperti sampah hanya demi seorang wanita kampung yang berpura-pura menjadi malaikat pelindung anak-anakmu. Kamu mengurungku di tempat terkutuk ini seolah aku adalah orang gila!

> Dan kamu, Kirana... kamu pikir kamu telah memenangkan hati Leo dan Maya? Kamu pikir statusmu sebagai adik kandung almarhumah mbakmu bisa menyucikan dosamu yang telah merebut posisi ratu di rumah itu?

> Aku tahu rahasia tergelap yang disimpan oleh almarhum Kakek Hendra dan mbakmu sebelum dia meninggal. Rahasia yang tidak tertulis dalam surat wasiat saham triliunan rupiah itu. Rahasia yang akan membuat Leo dan Maya membencimu setengah mati jika mereka mengetahuinya!

> Aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang dalam dongeng kebahagiaan palsu ini. Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku—termasuk nyawa dua anak itu jika aku harus memusnahkan mereka untuk menghancurkan kalian!

> Tunggu aku di pesta ulang tahun Pratama Corp minggu depan.

> — Sheila

>

"Bebal!" Aris menggeram keras, mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, lalu menghantamkan tinjunya ke atas meja kayu jati hingga cangkir teh bergetar. "Wanita gila! Dia benar-benar sudah hilang akal!"

Namun, berbeda dengan Aris yang disulut amarah, Kirana justru terpaku. Matanya terkunci pada satu kalimat spesifik dalam surat itu: Rahasia tergelap yang disimpan oleh almarhum Kakek Hendra dan mbakmu sebelum dia meninggal.

Sebuah pukulan dingin menghantam dinding dada Kirana.

Memori masa lalu mendadak memutar ulang kilasan-kilasan ingatan yang selama ini terendap di ceruk ingatannya. Kirana mengingat hari-hari terakhir almarhumah kakak kandungnya—ibu biologis Leo dan Maya—sebelum menghembuskan napas terakhir di rumah sakit akibat kecelakaan beruntun delapan tahun lalu.

Kala itu, sang kakak yang sedang terbaring lemah memegang erat jemari Kirana muda, menangis sesenggukan sambil membisikkan sebuah permohonan maaf yang tidak pernah dipahami Kirana hingga hari ini. Kakaknya memintanya untuk menjaga anak-anak dari kegelapan keluarga Pratama dan jangan pernah membiarkan Kakek Hendra menyatukan darah mereka dengan takhta Pratama Corp.

Dulu, Kirana mengira ucapan itu hanyalah delusi seorang wanita sekarat yang ketakutan akan masa depan anak-anaknya yang masih bayi. Namun kini, setelah rahasia saham 40 persen terbongkar dan ancaman Sheila menyeruak... ucapan itu kembali bergema sebagai petunjuk yang mengerikan.

"Kirana? Kenapa kamu melamun?" suara Aris memecah keheningan, menggenggam jemari Kirana yang mendadak dingin bagaikan es. "Jangan dengarkan intimidasi Sheila. Dia hanya mencoba mengadu domba dan merusak ketenangan mentalmu. Aku akan mengerahkan seluruh tim keamanan untuk memburunya malam ini juga!"

Kirana menoleh, menatap wajah Aris yang diliputi kecemasan. Sindiran takdir terasa begitu tajam. Pernikahan mereka yang diawali oleh prasangka kotor dan air mata penolakan baru saja menemukan muara ketulusan. Aris baru saja menyadari kesalahannya dan berlutut memohon cintanya; Leo dan Maya baru saja memanggilnya "Mama Kirana" dengan linangan air mata haru.

Namun, mengapa takdir seolah tak pernah membiarkan wanita muda ini menghela napas lega? Mengapa setiap kali pintu kebahagiaan terbuka, bayang-bayang kelam masa lalu selalu siap menyergap dari balik semak-semak kehidupan?

"Mas..." suara Kirana bergetar pelan, "Bagaimana jika Sheila tidak berbohong? Bagaimana jika memang ada rahasia lain yang belum kita ketahui tentang kematian Mbak dan keputusan Kakek Hendra?"

Aris menatap istrinya dalam-dalam. Ia menarik Kirana ke dalam pelukannya, merengkuh tubuh wanita itu dengan erat, seolah takut Kirana akan hilang disapu badai kehidupan.

"Apapun rahasia itu, Kirana... tidak ada yang bisa mengubah kenyataan bahwa kamu adalah istriku dan ibu sejati bagi anak-anak," bisik Aris di ceruk leher Kirana dengan nada tegas yang menghangatkan jiwa. "Dulu aku membutakan mataku dari ketulusanmu. Aku membiarkanmu berjuang sendirian melawan dinginnya rumah ini. Tapi tidak untuk kali ini. Jika ada rahasia kelam yang harus dibongkar, kita akan membongkarnya bersama. Jika ada iblis yang harus dilawan, aku yang akan berdiri di depanmu!"

Kirana memejamkan mata, membiarkan kehangatan dada Aris meresap ke dalam sanubarinya. Di tengah kepungan ancaman Sheila dan misteri masa lalu yang belum tuntas, Kirana sadar bahwa perperangan ini belum usai.

Namun kali ini, ia tidak lagi bertarung sebagai wanita miskin yang terisolasi dalam tangisan. Ia adalah Nyonya Pratama—seorang wanita dewasa, pelindung anak-anaknya, dan pemilik sah ketulusan cinta yang sanggup meruntuhkan segala bentuk kejahatan.

Keesokan harinya.

Keheningan pagi di Kediaman Pratama terasa berbeda. Suasana sarapan di meja makan besar berukir emas—tempat yang dulu menjadi saksi bisu penolakan dingin anak-anak terhadap Kirana—kini diliputi kehangatan yang menggetarkan hati.

Maya duduk di sebelah Kirana, menyandarkan kepalanya di lengan Kirana sambil menikmati suapan bubur gandum buatan ibu tirinya. Sementara Leo, anak laki-laki yang dulu paling keras menolak kehadiran Kirana, kini duduk tegap di samping Aris sambil sesekali mencuri pandang ke arah Kirana.

"Mama Kirana..." panggil Leo pelan, suaranya agak canggung namun memancarkan kerinduan yang dalam.

Kirana menghentikan gerakannya meletakkan cangkir kopi untuk Aris. Ia menatap anak laki-laki itu dengan senyum lembut. "Ya, Leo?"

"Soal... soal kemarin di sekolah..." Leo menunduk, memainkan sendoknya. "Maafkan Leo ya, Ma. Dulu Leo sering nakal dan jahat sama Mama. Leo percaya sama kata-kata Tante Sheila kalau Mama cuma mau ambil uang Papa..."

Air mata Kirana mendadak menggenang di sudut matanya. Ucapan jujur dari bibir polos anak laki-laki berusia delapan tahun itu adalah penawar paling mujarab atas ribuan tetes air mata yang pernah ia jatuhkan di ranjang dingin rumah ini.

Kirana mengusap kepala Leo dengan kehangatan murni seorang ibu. "Leo tidak salah, Nak. Anak-anak Mama tidak pernah salah. Yang penting sekarang... kita sudah saling menyayangi, kan?"

Leo mendongak, matanya yang mirip dengan mata Aris berbinar terang. Ia mengangguk mantap. "Leo janji akan jaga Mama dan Maya dari Tante Sheila dan orang jahat lainnya!"

Aris menatap pemandangan itu dari ujung meja dengan dada membuncah oleh keharuan yang luar biasa. Pria tegap itu menyadari betapa besarnya keajaiban yang dibawa Kirana ke dalam hidupnya yang dulu hampa dan dipenuhi rasa curiga. Wanita yang dulu dihina sebagai pemburu kemewahan kini menjadi perekat utama jiwa keluarga Pratama.

Namun, momen kehangatan keluarga itu terdistraksi ketika Pak Wijaya melangkah masuk ke ruang makan dengan langkah tergesa-gesa.

"Pak Aris, Nyonya Kirana... ada perkembangan baru dari kepolisian," lapor Pak Wijaya seraya menyerahkan sebuah tablet digital. "Polisi berhasil melacak sinyal gawai yang digunakan oleh salah satu antek Sheila yang melarikannya dari sanatorium."

Aris menerima tablet itu, matanya menyipit membaca koordinat lokasi yang tertera di layar. "Di mana lokasinya?"

"Lokasi terakhir sinyal aktif berada di kawasan pemakaman umum tempat almarhumah ibu biologis Leo dan Maya serta Kakek Hendra dimakamkan," jawab Pak Wijaya dengan raut wajah sangat tegang.

DEGG!

Kirana dan Aris saling berpandangan. Kehadiran Sheila di area pemakaman keluarga bukanlah sebuah kebetulan. Wanita gila itu jelas sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan langsung dengan pusara masa lalu mereka.

"Siapkan mobil," ujar Aris dingin, bangkit dari kursi makannya. "Wijaya, perketat penjagaan di rumah ini. Sepuluh pengawal pribadi harus berjaga mengawasi Leo dan Maya selama kita pergi!"

"Baik, Pak!"

Kirana ikut berdiri, merapikan gaun kerjanya dengan jemari yang mantap. "Aku ikut, Mas."

"Kirana, ini mungkin jebakan—"

"Aku harus ikut, Mas Aris," potong Kirana dengan tatapan mata yang tak sanggup dibantah oleh Aris sekalipun. "Sheila mengincar masa lalu mbakku dan Kakek Hendra. Aku adalah satu-satunya orang yang berhak menyelesaikan urusan ini dengannya!"

Aris menatap keagungan istrinya, lalu mengangguk penuh rasa hormat. "Baiklah. Tapi kamu tidak boleh lepas dari jangkauanku sepundak pun."

Satu jam kemudian.

Pemakaman Umum Menteng Asri diselimuti kabut tipis dan udara dingin sisa hujan semalam. Deretan batu nisan marmer berdiri bisu di antara hamparan rumput hijau yang basah.

Mobil sedan Aris berhenti di tepi jalan setapak pemakaman. Aris dan Kirana melangkah keluar dengan dikawal oleh empat petugas keamanan bersenjata tersembunyi yang berjalan cepat menyisir area sekitar.

Suasana pemakaman sangat sepi. Hanya suara gesekan daun cemara yang tertiup angin senja yang memecah keheningan.

Kirana melangkah menyusuri jalan setapak menuju blok pemakaman keluarga Pratama. Namun, ketika mereka sampai di depan kompleks makam keluarga berpagar besi tempa hitam, langkah Kirana dan Aris terhenti seketika.

Di atas pusara batu pualam milik almarhumah kakak kandung Kirana, tergeletak sebuah kotak kayu jati tua berdinding ukiran kuno. Pintu kotak itu terbuka separuh, memperlihatkan tumpukan foto-foto lama dan sebuah buku harian bersampul kulit hitam yang sudah kusam.

Dan di samping batu nisan Kakek Hendra, berdiri sebuah karangan bunga duka cita segar berwarna merah darah dengan pita hitam bertuliskan kalimat mengerikan:

> 'SELAMAT ATAS BONGKURNYA KEBOHONGAN BESAR KELUARGA PRATAMA. CINTA KALIAN BERDIRI DI ATAS DARAH DAN DENDAM.'

>

"Sheila..." desis Aris, menyapu pandangannya ke sekeliling area pemakaman yang sepi dengan mata membara. "Di mana kamu?! Keluar!"

Namun tidak ada jawaban. Hanya gema suara Aris yang memantul di antara batu-batu nisan.

Kirana melangkah mendekati pusara kakaknya dengan tangan bergetar. Ia berlutut di atas rumput basah, menyentuh kotak kayu tua yang ditinggalkan Sheila. Dengan perlahan, Kirana mengambil buku harian bersampul kulit hitam tersebut.

Halaman pertama buku harian itu bertuliskan tangan rapi yang sangat dikenal Kirana—tulisan tangan almarhumah kakaknya.

Kirana membuka halaman demi halaman dengan napas tertahan. Dan begitu matanya membaca catatan hukum dan pengakuan pribadi yang tertulis di halaman tengah buku harian tersebut, tubuh Kirana berguncang hebat. Wajahnya mendadak memucat pasi, air mata menetes deras menimpa kertas kusam yang menyimpan rahasia kelam masa lalu.

Aris yang melihat perubahan drastis istrinya langsung berlutut di samping Kirana, merangkul bahunya yang berguncang. "Kirana! Ada apa?! Apa isi buku itu?!"

Kirana menoleh menatap Aris dengan pendar keputusasaan dan duka mendalam yang tak terukur. Bibirnya bergetar hebat saat menyerahkan buku harian itu ke tangan suaminya.

"Mas Aris..." bisik Kirana dengan suara pecah yang mengiris hati, "Pernikahan kita sejak awal... tidak pernah sekadar takdir yang tidak sengaja..."

Aris membaca baris-baris kalimat tulisan tangan di buku harian tersebut. Dan seketika, jantung pria tegap itu serasa dihentak dari sangkurnya.

Ternyata, almarhum Kakek Hendra delapan tahun lalu bukanlah korban pasif dalam tragedi keluarga ini. Kakek Hendralah yang merancang kecelakaan bisnis yang menghancurkan usaha keluarga Kirana di masa lalu, demi memaksa kakak kandung Kirana menyetujui pernikahan politik dengan putra Pratama Corp! Dan ketika kakak Kirana meninggal dunia, Kakek Hendra telah mengunci takdir Kirana sejak awal—memanfaatkannya sebagai "penebus dosa" keluarga Pratama yang harus menderita sebagai ibu tiri demi menjaga saham dan keturunan sah Pratama Corp!

Takdir tidak sedang bercanda. Takdir sedang menyindir mereka dengan cara yang paling kejam dan berdarah!

Cinta yang baru saja bertunas di antara Aris dan Kirana, ketulusan yang baru saja menyucikan air mata pernikahan mereka... kini berdiri tegak di atas fondasi dosa besar almarhum leluhur keluarga Pratama yang telah merusak kehidupan keluarga Kirana!

Di sudut area pemakaman, di balik pohon beringin rindang yang gelap, sosok wanita bergaun putih dengan wajah pucat dan senyum kejam menatap mereka dari kejauhan. Sheila Kusuma memegang gawai yang merekam momen kehancuran mental Aris dan Kirana dengan pendar kemenangan yang membakar.

"Menangislah, Kirana..." desis Sheila penuh racun dari balik kegelapan. "Ini baru permulaan dari hancurnya cinta suci yang kamu banggakan!"

(Apakah cinta suci Kirana dan Aris akan sanggup bertahan menghadapi kenyataan pahit bahwa keluarga Pratama adalah dalang kehancuran keluarga kandung Kirana? Ataukah dendam masa lalu akan merobek kembali benteng pernikahan mereka dalam RUPSLB luar biasa minggu depan? Jangan lewatkan puncak konflik yang makin menguras emosi di BAB 28!)

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!