Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Berjalan di Hadapan Dunia
Pagi itu, cahaya matahari tampak begitu cerah menembus tirai jendela kamar Argan, seolah memberi semangat untuk hari yang sangat penting. Hari ini adalah peresmian gedung cabang baru perusahaan Adhyaksa di kota bagian utara—acara yang akan disiarkan berita di berbagai stasiun televisi dan dihadiri oleh pejabat daerah, rekan bisnis, serta ratusan tamu undangan terpandang. Ini adalah momen di mana mereka harus berjalan berdampingan di hadapan dunia, tanpa bisa menyembunyikan diri di balik pintu tertutup atau ruangan rapat yang sunyi.
Argan sudah bersiap sejak lama, namun kali ini ia tampak lebih tenang meski tetap ada kegelisahan yang tersembunyi di balik tatapan tajamnya. Saat Aruna masuk ke ruangan, mengenakan gaun panjang berwarna gading yang sederhana namun mempertegas keanggunannya, ia berhenti sejenak dan menatapnya kagum.
“Kau terlihat luar biasa,” ucapnya tulus, tanpa ragu sedikit pun. “Seperti seorang ratu yang siap menghadapi seluruh dunia.”
Aruna tersipu malu namun tetap tegak. “Terima kasih. Tapi saya terlihat siap hanya karena tahu ada Anda di samping saya.”
Perjalanan menuju lokasi berjalan dalam keheningan yang hangat. Argan sesekali menatap ke luar jendela, merenungkan apa yang akan dihadapi. Selama ini ia selalu merasa orang-orang menatapnya dengan rasa iba atau keraguan. Hari ini ia harus membuktikan bahwa pandangan itu keliru.
“Aruna,” panggilnya pelan. “Nanti di depan, banyak hal yang mungkin tak bisa kulakukan seperti dulu. Mungkin ada yang menatap aneh, ada yang berbisik, atau bahkan ada yang sengaja membuatku kesulitan. Jika kau merasa malu atau ingin menjauh sebentar... aku mengerti.”
Aruna segera memegang tangannya erat, menatap lurus ke dalam matanya. “Jangan pernah bicara begitu. Saya tidak malu berdiri di samping Anda. Justru saya bangga—karena Anda bukan hanya sekadar orang kaya atau pengusaha sukses. Anda adalah pria yang berani bangkit saat semua orang berpikir Anda sudah hancur. Dan itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang bisa dilakukan orang yang sehat namun hatinya pengecut.”
Kalimat itu menenangkan Argan seketika. Ia mengangguk pelan, menyimpan rasa syukur yang mendalam di hatinya. “Baik. Kalau begitu mari kita tunjukkan pada mereka siapa kita sebenarnya.”
Sesampainya di lokasi, kerumunan orang sudah menanti. Kamera berkedip tak henti-hentinya, suara panggilan nama terdengar dari segala arah. Saat pintu mobil dibuka dan Aruna mendorong kursi roda Argan keluar perlahan namun tegak, seketika semua mata tertuju pada mereka. Ada tatapan heran, ada yang penuh keraguan, namun tak sedikit pula yang memancarkan rasa hormat.
Aruna berjalan di samping kiri kursi roda, punggungnya tegak, senyumnya sopan namun tak tersenyum berlebihan. Ia menyapa siapa saja yang mendekat, menjawab pertanyaan dengan cerdas, dan sesekali membantu Argan saat jalannya sedikit menanjak atau berbelok tajam—semuanya dilakukan dengan wajar dan penuh keanggunan, tanpa membuat Argan terlihat lemah atau tidak berdaya.
Saat tiba waktunya Argan berpidato di atas panggung, suasana hening seketika. Ia menatap hadirin di bawah, lalu perlahan mulai berbicara dengan suara yang tegas dan berwibawa, terdengar jelas hingga ke sudut ruangan paling belakang.
“Banyak dari kalian yang mungkin berpikir saya sudah selesai. Bahwa kecelakaan setahun lalu adalah akhir dari segalanya bagi saya,” ucapnya tenang, dan tak ada yang berani memotong. “Memang benar, saya belum bisa berjalan seperti dulu. Tapi hari ini saya berdiri di sini—meski dengan bantuan kursi roda—bukan untuk mengasihani diri, melainkan untuk membuktikan bahwa nilai seseorang tidak diukur dari kemampuan kakinya melangkah, melainkan dari seberapa kuat hatinya bertahan dan seberapa teguh tekadnya untuk tidak menyerah.”
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Aruna yang berdiri di sampingnya. Tatapannya melembut, dan di hadapan ratusan orang itu, ia berkata dengan lantang:
“Dan saya tidak sendirian di sini. Ada seseorang yang datang bukan saat saya berada di puncak kesuksesan, melainkan saat semua orang berpikir saya sudah jatuh ke dasar. Dia mengajarkan saya bahwa berdiri bersama jauh lebih kuat daripada berdiri sendiri, setinggi apa pun puncak yang kita capai.”
Tepuk tangan meledak memenuhi ruangan, begitu hangat dan tulus hingga membuat mata Aruna berkaca-kaca. Di antara suara tepuk itu, ia merasakan genggaman tangan Argan di sampingnya—erat, penuh rasa terima kasih, dan penuh harapan akan masa depan.
Setelah pidato selesai dan acara berjalan lancar, banyak orang yang mendekat. Dulu mereka hanya berbicara dengan Argan karena kekayaannya. Hari ini mereka menghampiri karena menghargai semangatnya. Dan banyak pula yang menyapa Aruna, memuji keteguhan hatinya, serta menyadari bahwa gadis sederhana inilah yang menjadi kekuatan di balik bangkitnya pria besar itu.
Saat hari mulai sore dan mereka duduk sejenak di ruang istirahat yang tenang, Argan tampak lelah namun wajahnya berseri-seri.
“Kau tahu apa yang paling membuatku bahagia hari ini?” tanyanya pelan. “Bukan tepuk tangan atau pujian mereka. Tapi saat aku melihat tatapan di mata mereka berubah—bukan lagi rasa iba, melainkan rasa hormat. Dan itu semua karena kau, Aruna. Kau yang membuatku terlihat utuh kembali di mata dunia.”
“Bukan saya yang membuat Anda utuh,” jawab Aruna lembut sambil duduk di sampingnya. “Anda sudah utuh sejak awal. Saya hanya membantu orang lain melihatnya.”
Malam itu, saat mereka pulang, langit tampak penuh bintang. Mereka telah berjalan di hadapan dunia, menghadapi tatapan dan bisik-bisik, dan mereka keluar sebagai pemenang. Bukan karena mereka sempurna, melainkan karena mereka tak lagi sendirian. Di tangan yang saling menggenggam erat, tersimpan kekuatan yang tak bisa dihancurkan oleh apa pun—bukan oleh rasa sakit, bukan oleh pengkhianatan, dan bukan pula oleh pandangan dunia.
Lanjut ke Bab 15?