NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 15

Pintu kamar terbuka. Arga melangkah masuk ke area foyer dengan napas yang masih sedikit memburu usai latihan di gym.

Pikiran pria itu tiba-tiba teringat kembali akan ucapan Evan di lantai bawah tadi.

“Kinan tuh cewek baik-baik, Ga. Gue cuma nggak mau lu jadiin dia tempat pelarian dari bayangan Natasha.”

Arga mengusap wajahnya yang basah oleh keringat, berusaha mengenyahkan suara Evan dari pikirannya.

Sebelum melangkah lebih jauh ke area ruang tengah, perhatian Arga mendadak teralihkan oleh kepanikan yang ia lihat di dekat meja makan. Kinan yang sedang menikmati sarapan terlihat bolak-balik menatap layar ponselnya dengan raut wajah cemas, sambil mengunyah sarapannya dengan tidak tenang.

Melihat Arga melangkah masuk, mata Kinan seketika membelalak.

"Pak CEO! Akhirnya kamu pulang juga!" seru Kinan dengan wajah lega, ia langsung bangkit dari kursinya seraya menyambar ponsel.

Arga mengernyit bingung melihat kepanikan Kinan. "Kenapa?"

"Mama Mira dari tadi nelpon ke HP saya! Bahkan sudah ada tiga kali panggilan tak terjawab!" cerocos Kinan, memamerkan layar ponselnya ke depan wajah Arga. "Saya nggak berani angkat, Kalau Mama Mira nanya Bapak di mana, terus saya harus jawab apa? bisa-bisa mama Mira curiga!"

Arga terdiam sejenak, belum sempat Arga membalas, ponsel di tangan Kinan kembali bergetar, kali ini dalam bentuk panggilan video.

"Nah kan! Nelpon lagi!" Ucap Kinan panik. Seraya menepuk-nepuk Sofa di sebelahnya. "Ayo cepat duduk di sini, Pak! Cepat, cepat!"

Arga yang tidak punya pilihan lain akhirnya menuruti ucapan Kinan. Pria itu melangkah dan mendudukkan diri di sofa ruang keluarga tersebut.

"Mendekat sedikit pak!"

Tanpa permisi, Kinan menarik lengan Arga hingga tubuh pria itu terdorong makin dekat dengannya.

Kinan menarik napas dalam-dalam, menata ekspresi wajahnya, lalu menggeser tombol hijau di layar.

Bip.

Wajah Mira langsung memenuhi layar ponsel dengan senyum merekah. Ternyata di sampingnya, tampak pula muncul sosok Rina yang sedang memegang cangkir kopi dengan latar belakang interior kafe yang terlihat cukup estetik.

"Halo, Kinan sayang!" sapa Mira antusias dari seberang sana. "Aduh, akhirnya diangkat juga! Mama sama Ibu kamu sampai panik lho, takut kalian kenapa-napa di sana."

Rina melambaikan tangan ke kamera seraya tersenyum hangat. "Kinan... Arga... kalian sehat-sehat kan di sana? Ini Mira ngajak Ibu arisan sekaligus nongkrong di kafe, makanya sekalian mau liat pengantin baru."

Kinan yang kaget melihat ibunya ikut ada di sana langsung memamerkan senyum paling manis dan alaminya ke arah kamera. "Halo, Mama! Halo, Ibu! Maaf ya Ma, Bu, tadi Kinan lagi di kamar mandi makanya nggak ke angkat. Ini kita baru mau lanjut sarapan bareng di ruang tengah. Tadi Arga juga baru aja balik dari gym."

Kinan melirik tajam ke arah Arga lewat sudut matanya, dengan cubitan pelan di paha pria itu, memberi sinyal untuknya ikut berbicara.

Di susul Arga yang berdeham pelan. Ia memaksakan sudut bibirnya terangkat, memosisikan wajahnya mendekat ke samping kepala Kinan hingga rambut basah Kinan menyapu pelipisnya.

"Iya, ini, saya baru selesai gym dan baru mau gabung sarapan sama Kinan," timpal Arga yang diusahakan senatural mungkin.

Di layar, Mira dan Rina tampak saling senggol bahu dengan raut gemas, matanya berbinar-binar melihat posisi duduk anak dan menantunya yang begitu terlihat harmonis.

"Aduh, Rin... liat deh! Mesranya anak-anak kita!" cerocos Mira kegirangan. "Bahkan rambutnya Kinan sudah basah gitu, anak Mama emang tokcer! Oh, ya. Ga... Handphone kamu kenapa masih belum aktif?"

"Sesuai janji aku kemarin mam," sahut Arga tenang.

Ibu Rina terkekeh. "Bagus kalau gitu, Arga. Ingat ya, fokus aja sama Kinan di sana, ajak jalan-jalan kalau perlu, atau tetap di dalam kamar juga boleh." Ucap Mira seraya menutup bibirnya dengan punggung tangan yang di susul suara tawa yang tertahan.

"Iya, Ma. Hari ini agenda kita santai kok," sahut Kinan, berpura-pura bersandar dengan nyaman di bahu Arga.

"Bagus dong! Ya udah, Mama sama Ibu cuma mau memastikan kalian baik-baik saja. Tadinya kalau nggak diangkat juga, Mama udah mau pesen tiket nyusul kalian ke sana. Ya, sudah selamat menikmati liburannya ya, sayang!"

"Hati-hati di sana ya kalian berdua!" tambah Rina sebelum sambungan diputus.

Bip.

Sambungan terputus.

Kinan mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Ia menengokan wajahnya ke sebelah dan baru sadar akan tubuh Arga yang begitu dekat denganya. ia langsung menarik tubuhnya menjauh dari bahu Arga dan membetulkan posisi duduknya.

"Fiuhhh... selamat. Hampir aja Ibu Negara beneran beli tiket pesawat," gumam Kinan lega.

Tak ada respons dari Arga. Pria itu justru tertegun dengan pandangan menatap ke arah Kinan.

Arga menyipitkan matanya. "Kamu... mau ke mana udah rapi begini?" tanyanya dengan dahi berkerut.

"Saya mau ke galeri," sahut Kinan santai seraya menoleh, lalu menyunggingkan senyum jahil. "Kenapa? Kamu mau ikut?"

Arga mendengus pelan, langsung memalingkan wajahnya. "Tidak. Pekerjaan saya jauh lebih penting."

"Dih, siapa juga yang beneran ngajak," gumam Kinan pelan seraya memutar bola matanya. "Saya kan, cuma basa-basi."

Pandangan Arga teralihkan pada meja makan, di mana piring sarapan Kinan yang baru termakan sedikit dan jus jeruknya yang terlihat masih utuh.

Tanpa banyak bicara pria itu berjalan menuju meja makan dan mengambil makanan dan gelas jus milik Kinan, lalu membawa dan meletakkannya tepat di atas meja kaca di depan sofa.

"Habiskan dulu makanan mu," potong Arga sebelum Kinan sempat berdiri. "Jangan pergi dengan perut kosong."

Kinan sempat tertegun melihat perhatian kecil yang tiba-tiba itu. Belum sempat rasa kagetnya hilang, Arga sudah melangkah menuju kamar. Dan tak sampai semenit, pria itu keluar kembali seraya merogoh dompetnya.

Ia mengeluarkan sebuah kartu lalu mengulurkannya tepat di hadapan Kinan.

Kinan mendongak, menatap kartu itu dan wajah Arga secara bergantian. "Ini apa, Pak?"

"Ini untuk kamu," ucap Arga tenang. "kamu bisa gunakan untuk ongkos, tiket masuk, atau membeli sesuatu di sana."

Kinan mengerjapkan mata, lalu senyum jahilnya kembali muncul. "Wah... Pak CEO ternyata anda royal juga ya? Tapi makasih, Pak. Saya masih punya tabungan sendiri kok buat jalan-jalan."

Arga tidak menarik uluran tangannya. Ia justru memajukan kartu itu. "Ambil saja, Kinan," tegasnya pendek. "Ini bukan soal kamu punya uang atau tidak. Tapi ini soal tangung jawab. Saat ini status kamu adalah istri saya. Dan ini adalah bentuk tangung jawab saya. Jangan membantah."

Melihat tatapan dari Arga, Kinan akhirnya meraih kartu itu.

"Ini seriusan? Saya jadi enak hati... Makasih ya, Pak CEO yang dermawan," goda Kinan riang seraya menyimpannya ke dalam tas. "Nanti kalau saya pakai buat beli es krim rasa emas, jangan komplain ya?"

Arga hanya menyeringai tipis lalu memalingkan wajah. "Terserah kamu. Dan jangan matikan ponsel."

"Siap, Bos!" seru Kinan riang seraya memperagakan gerakan hormat yang dibuat-buat. Ia lalu menyambar gelas jusnya dan meminumnya hingga tandas.

Dengan langkah ringan, Kinan berjalan menuju pintu utama, menyunggingkan senyum lebar sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar.

Cklek.

Pintu tertutup. Begitu berdiri sendirian di koridor hotel yang sepi, Kinan langsung merogoh tasnya dan memandangi black card yang mengkilap di tangannya.

"Ckckck... Kinan... Kinan... Emang gak salah kamu nurut sama orang tua," gumam Kinan riang seraya mengelus permukaan kartu tersebut.

1
Alyaaa_Lryyy.
apa sih danu kepo amat sama yang udh nikah😒😒
Alyaaa_Lryyy.
cemburu nih cerita nya si argaa🤭
Alyaaa_Lryyy.
danu lo ganggu banget sih😭😒
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!