Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Panggung & Pemilos
"Pasangan nomor urut satu, silakan naik ke atas podium. Waktu dan tempat untuk penyampaian visi dan misi, serta pemutaran video kampanye dipersilakan."
Panggilan MC itu bagai hantaman keras yang membuat Dilan makin gelagapan di atas panggung. Otaknya mendadak macet total. "Lo kok santai banget sih, Gas? Kepala gue udah mau pecah mikirin kejutan sialan ini!" desisnya pelan agar tidak tertangkap mikrofon.
Bagas mengernyit bingung.
"Lah, bukannya Bos sendiri yang nyuruh posisi Sifa diganti sama gue? Kemarin Sifa datang, nyuruh gue ngumpulin ulang berkas data diri kita. Katanya itu perintah langsung dari Bos."
"Bangsat! Gue nggak pernah nyuruh beg--"
"Ayo, silakan dimulai," potong sang MC ramah, menginterupsi umpatan Dilan yang tertahan.
Di bawah panggung, Nuha yang sedang menyandarkan kepalanya di lengan Fani memperhatikan gerak-gerik panik Dilan dengan senyum tertahan.
Bahkan Asa saja sampai bisa membaca isi kepala cowok platinum blonde itu, "Kayaknya Dilan pusing banget deh sampai nggak bisa mikir. Kasihan sampai keringet dingin gitu. Kalau dilihat-lihat, lututnya sudah gemetaran kayak orang kebelet ngompol. Hahaha!"
"Dan inilah saatnya ..." bisik Nuha lirih, matanya mengunci layar proyektor besar di atas panggung.
Hawa mulai menghitung,
Satu.
Dua.
Tiga.
Demi menenangkan kepusingan yang masih berkecamuk di dalam pikirannya, Dilan terpaksa mengambil mikrofon dengan tangan gemetar. "Maaf, Panitia. Bisakah kita tampilkan video kampanyenya terlebih dahulu?" ujarnya, berusaha keras menstabilkan suaranya yang hampir tertelan.
"Tentu," jawab MC tanggap, lalu segera memberi instruksi ke arah meja operator. "Moderator, mohon ditampilkan terlebih dahulu video kampanye dari pasangan calon nomor urut satu!"
Bingo!
Nuha membatin penuh kemenangan saat lampu aula mulai digelapkan, "Aku beri kamu nafas dulu 'Keledai Norak.' Setelah ini, aku nggak yakin ..."
Pemutaran video itu sempat memberi angin segar bagi Dilan untuk kembali bernapas. Perlahan, wibawanya yang sempat runtuh mulai tegak lagi seiring detak kagum murid-murid di dalam aula.
Selama beberapa menit pertama, video kampanye itu sukses membuat penonton terpana. Layar proyektor menampilkan betapa dermawannya Dilan yang rajin menyumbang di berbagai kegiatan amal.
Sederet piala dan bakatnya di bidang akademik serta olahraga, hingga kompilasi pesonanya yang langsung memicu sorak-sorai histeris dari para siswi di barisan belakang. Dilan tersenyum jumawa, merasa posisinya kembali aman.
Sampai akhirnya,
layar berganti gelap gulita secara mendadak. Suasana aula yang tadinya riuh langsung hening saat deretan ketikan teks muncul satu per satu di layar.
...“Aku Dilan. Dengan segala pesona yang aku miliki, aku akan membuat semua orang bertekuk lutut padaku.”...
Transisi video berubah perlahan. Sebuah foto memperlihatkan Dilan menyodorkan sejumlah uang kepada siswi yang sebelumnya menjadi korban pelecehan. Bersamaan dengan itu, musik berubah menjadi mencekam. Detik berikutnya, kalimat lain muncul dengan efek mengetik yang lambat namun menohok tajam.
...“Lihatlah! Siapa yang berani membantahku, aku akan menyingkirkannya. Tapi, aku masih punya belas kasihan. Bahkan siswi yang baru saja aku lecehkan, aku memberinya santunan.”...
DUARR!!
Atmosfer aula seketika pecah berkeping-keping. Jerit kaget dan kasak-kusuk histeris langsung meledak hebat memenuhi setiap sudut aula yang kini mendadak berubah menjadi sidang pengadilan terbuka untuk Dilan.
Sebelum Dilan sempat berbuat apa-apa, sebuah animasi 2D muncul di layar besar. Animasi step-by-step yang menggambarkan dengan sangat jelas bagaimana sosok karakter Dilan mengunci seorang siswi di dalam ruangan, sementara dua kaki tangannya mengikat korbannya tanpa ampun.
Setiap gambar tertulis percakapan. Hingga, slide by slide video berdurasi singkat itu akhirnya ditutup oleh tulisan "terima kasih" yang muncul di menit terakhir.
Di atas panggung, sang charming boy benar-benar dibuat mati berdiri oleh skenario Nuha. Dilan mematung dengan wajah pias, bahkan untuk sekadar membuka mulut dan mengeluarkan bantahan pun ia sudah tidak mampu.
Di tengah keheningan yang mencekam, suara MC kembali menggema lewat mikrofon, "Sepertinya, calon pasangan nomor satu benar-benar membuka aibnya sendiri secara jujur. Tapi, apakah ini patut?"
Pertanyaan retoris itu dilemparkan ke forum terbuka, dan dalam sekejap, jawaban telak dari ratusan murid langsung menghujam habis harga diri Dilan.
"MEMALUKAN!"
"TIDAK PANTAS!"
"DISKUALIFIKASI AJA, PAK!"
"KITA MUAL LIHATNYA!"
"HUUU, PARAAAHHH!"
Setelah dirasa cukup, MC langsung memotong keriuhan tersebut demi mengendalikan situasi. "Dimohon ketenangannya kembali. Kembali ke acara, kita harus memberikan kesempatan bagi paslon yang lain. Untuk paslon satu, silakan kembali ke tempat."
Dilan turun dari panggung dengan langkah gontai di bawah tatapan jijik satu sekolah. Wibawanya kini carut marut, tapi otak dendamnya akan membalas setelah dia berhasil menenangkan diri.
Tak butuh waktu lama,
tiga puluh menit kemudian acara inti selesai dengan lancar dan para siswa langsung diarahkan ke bilik suara untuk memilih paslon andalan mereka. Di sepanjang antrean pencoblosan, bisik-bisik miring tentang Dilan kembali menggema secara sporadis.
"Sumpah, nggak nyangka banget gue Dilan kayak gitu orangnya. Gue yang fans berat dia aja jijik lihatnya."
"Mending pilih paslon 2 aja deh, aman."
"Iya, ada Sifa di sana. Gue tahu banget dia aslinya gimana. Dia cewek yang sangat ramah dan humble."
"Bener, video kampanye Sifa juga oke banget, kan? Gue setuju sama visi misinya. Dia itu selalu mau dengerin keluh kesah kita dan mengapresiasi apa yang murid mau."
Mendengar potongan-potongan pujian yang saling menyahut itu, Sifa yang berdiri tidak jauh dari bilik suara tersenyum tipis. Pikirannya mendadak terlempar pada kejadian di hari terakhir pendaftaran kemarin.
^^^Flashback^^^
^^^Ia sempat merasa sangat bersalah akan ambisi dan keegoisannya. Tapi, dia berjanji akan mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Nuha setelah pemilu itu selesai. Namun tak dia sangka, dengan sisa argumen dan keberanian yang Nuha punya, sahabatnya itu menuntut Sifa untuk membelot dan maju sebagai calon ketua sendiri guna menantang Dilan secara terbuka.^^^
^^^Sifa yang awalnya ragu akhirnya luluh. Bukan cuma karena taktik visual yang ditawarkan Nuha terasa sangat masuk akal untuk menumbangkan politik uang Dilan, tapi karena untuk pertama kalinya, Sifa melihat sahabatnya yang biasanya penakut dan pasrahan itu bisa bertindak seberani ini.^^^
^^^Hari terakhir pendaftaran, Nuha menyusun semuanya dengan sangat rapi. Ia meminta Sifa diam-diam menemui Bagas untuk mengumpulkan ulang berkas pasangan nomor satu di menit-menit terakhir.^^^
^^^Di saat yang sama, Sifa menyerahkan sebuah flashdisk baru kepada panitia dengan dalih mengganti file video kampanye. Tak seorang pun menyadari bahwa isi flashdisk itu telah diubah sepenuhnya oleh tangan Nuha.^^^
^^^Flashback Off^^^
Keempat sahabat itu akhirnya berkumpul di sudut aula. Tanpa peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar, mereka saling menggenggam tangan dan melompat-lompat girang merayakan keberhasilan taktik nekat mereka.
"Apa pun hasilnya nanti, gue bakal terima. Melihat Dilan tumbang dan malu kayak tadi, gue udah puas banget!" ujar Sifa dengan mata berbinar lega.
Fania Queenza, yang tidak lain juga teman sekelas mereka ikut mengangguk menerima semua hasil tersebut.
"Aku yakin kamu pasti menang, Sifa."
Mendengar penuturan jujur dari Nuha, Sifa langsung terharu biru. Ia merangkul erat tubuh sahabatnya itu, masih hampir tidak percaya kalau Nuha yang biasanya cari aman bisa bertindak senekat ini demi menolongnya.
"Pokoknya kalau sampai terjadi apa-apa setelah ini, gue yang akan jadi benteng kalian!" seru Asa penuh semangat, ikut menepuk bahu Nuha bangga. "Serahkan sisanya sama gue, Nuh. Lo hebat banget hari ini!"
Cekrik!
Di lantai dua aula,
sebuah kilatan lampu ponsel tanpa sengaja mengabadikan video singkat dan foto kebersamaan keempat gadis tersebut. Sang kepala sekolah tersenyum puas menatap layar ponselnya.
Sebagai seseorang yang memang punya agenda tersembunyi sejak awal, Rui Maya langsung menekan tombol send, mengirimkan file tersebut kepada putranya di seberang sana.
"Hora, Dia berhasil ^_^ ♡"
sebuah pesan singkat dikirim bersama emotikon senyum, menutup babak kericuhan di aula hari itu dengan sebuah teka-teki baru.
.
.
. Next》Bab 16. Sampai jumpa esok 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.