Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temuan Anjas
Anjas menatap layar komputernya cukup lama. Temuannya soal kasus tabrak lari sepuluh tahun yang lalu sungguh mencengangkan.
Anjas membaca lagi rangkuman artikel-artikel yang dibacanya semalam:
- Korban: tiga remaja SMA yang sedang dalam perjalanan pulang dari pesta temannya. RW (18), BW (18), dan MR (18).
- Waktu kejadian: dini hari (tak dapat dipastikan).
- Tempat kejadian: tikungan
- Kronologi: diduga sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan menabrak ketiga korban lalu melarikan diri.
- Saksi mata: tidak ada.
- Waktu penemuan korban: pukul 02.05
- Keadaan korban: dua di antaranya meninggal, satu luka parah dan trauma.
"Semua artikel mengatakan, pelaku tak ditemukan, tak ada bukti, tak ada saksi," gumam Anjas lalu menghela napas panjang.
Anjas melihat inisial nama-nama korban RW (18), BW (18), dan MR (18). Dia tak dapat menemukan artikel yang mencantumkan nama lengkap korban.
"Aneh," gumam Anjas.
"Biasanya, ada satu dua artikel yang menyebutkan nama lengkap korban,"
Anjas masih menatap layar komputernya. Matanya bergerak ke buku saku yang dia letakkan terbuka. Entah mengapa, frasa "orang terkait korban tabrak lari" yang dia tulis terasa begitu penting disana. Anjas kembali menatap layar komputernya lalu menatap kertas berisi rangkuman artikel di tangannya.
"Tunggu," gumam Anjas sambil meletakkan kertas rangkumannya.
Anjas meraih bolpoin dan buku sakunya. Di halaman kosong, Anjas menulis pola baru:
Keluarga korban tabrak lari → korban pembunuhan.
Anjas melingkari kata "keluarga korban tabrak lari" lalu menuliskan sesuatu di atasnya dan menggaris bawahinya: pelaku pembunuhan?
Anjas mengangkat buku sakunya, menatap pola yang baru saja dia buat.
"Kalau memang polanya seperti ini... setidaknya aku punya sedikit gambaran tentang kasus ini," gumam Anjas.
Anjas kembali menatap kertas rangkuman yang dia buat. Matanya terpaku pada waktu penemuan korban.
"Pukul 02.05? Unit 205? Kebetulan?" gumam Anjas sambil mengerutkan alis.
Anjas menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menatap daftar inisial korban. RW, BW, MR. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang dia lewatkan. Dia memutar otak untuk dapat menemukan nama lengkap korban agar dapat mewawancarai keluarganya.
'Aku harus ketemu Arga,'
***
"Jadi, di artikel-artikel berita juga nggak ada petunjuk soal pelaku tabrak lari itu?" tanya Arga pada Anjas saat keduanya sudah bertemu di sebuah coffee shop tak jauh dari kantor redaksi Anjas. Anjas menggelengkan kepalanya. Arga menghela napas panjang.
"Nggak ada klu sama sekali," kata Arga sambil menerawang.
Anjas mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja sambil menatap catatan-catatan investigasi yang dia dapatkan. Matanya memindai tiap kata yang dituliskan disana. Ketukan jarinya tiba-tiba terhenti.
"Ada satu korban selamat," kata Anjas sambil menunjuk inisial korban tabrak lari yang selamat. Arga segera mencondongkan tubuhnya, melihat kemana jari Anjas menunjuk.
"MR?"
"Kepolisian pasti punya arsip dengan nama lengkap korban kan?" tanya Anjas.
Arga menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil menarik napasnya dalam-dalam. Anjas menaikkan kedua alisnya melihat ekspresi rekannya itu.
"Jangan bilang..."
Arga mengangguk. Anjas ikut menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Lemas.
"Dead end?" tanya Anjas dengan senyum pahit. Arga dan Anjas saling tatap lalu keduanya menghela napas panjang bersamaan.
"Gue pikir kita tinggal selangkah lagi," kata Anjas sambil membereskan catatan-catatan investigasinya.
"Mungkin gue perlu ke apartemen itu lagi dan mewawancarai setiap penghuninya," lanjut Anjas.
"Siapa tahu salah satu dari mereka merupakan keluarga korban tabrak lari yang kita cari," kata Anjas sambil memasukkan catatan investigasinya ke dalam tas selempangnya.
"Oke. Kabari gue kalau lo nemu sesuatu," kata Arga sambil beranjak dari kursinya.
Anjas mengangguk. Kedua penyidik dengan latar belakang bidang yang berbeda itu berpisah di depan kafe.
Anjas memasuki mobilnya. Dia memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Semalam dia tak sempat tidur karena terlalu fokus mencari informasi tentang kasus tabrak lari yang diminta Arga.
"Bahkan kepolisian tak punya arsipnya," gumam Anjas sambil menatap lurus ke depan.
"Kalau arsip kepolisian saja tidak bisa diakses... berarti..." Anjas menggantung kalimatnya.
Dia tahu, dia tidak punya cukup bukti untuk menarik kesimpulan yang terlintas di pikirannya.
"Mungkin sebaiknya aku memang harus kembali ke apartemen itu," kata Anjas sambil menyalakan mesin mobilnya.
Anjas melajukan mobilnya perlahan. Rasa kantuk yang sesekali menyergap membuatnya terkadang kehilangan fokus mengemudi. Mata Anjas hanya tertutup sepersekian detik lalu terbuka lagi ketika dia kemudian terkejut dan menginjak pedal rem dalam-dalam saat menyadari jarak mobilnya dengan kendaraan di depannya begitu dekat.
Anjas mengerjapkan kedua matanya. Rasa kantuk yang semula bergelayut manja di matanya seketika menghilang. Jantungnya berpacu.
"Din... Diiin..." suara klakson dari arah belakang menyadarkan Anjas untuk segera menjalankan kembali mobilnya.
Anjas menepikan mobilnya lalu berhenti. Dia mengatur napasnya yang tiba-tiba sesak karena terlalu tegang dan takut di waktu yang bersamaan. Saat sudah sedikit lebih tenang, Anjas menoleh ke kursi penumpang tempat dia meletakkan tasnya.
Tas selempangnya terjatuh hingga di bawah dashboard. Sepertinya dia lupa menutup resleting tasnya saat memasukkan semua catatan investigasinya tadi. Anjas membungkuk, membereskan seluruh isi tasnya yang tumpah —kertas catatan investigasi, buku saku, kamera mini, perekam suara, ponsel, beberapa bolpoin dan... novel karya Misty.
Anjas mengambil novel Siapa Membunuh Siapa? yang belum sempat dibacanya. Dia membeli novel itu karena mendapat informasi dari pengurus apartemen dan menggunakannya untuk bisa mendekati Misty.
Anjas menatap cover novel itu cukup lama sebelum akhirnya membukanya. Mata Anjas terpaku cukup lama menatap halaman cover. Bukan karena terpaku dengan desainnya, melainkan dengan apa yang tertulis disana.
"Misty Renata..."
Anjas teringat kartu pasien yang tidak sengaja dia temukan di dalam nakas Misty.
"Misty R."
"M... R... MR!"
Anjas segera membuka halaman terakhir novel yang memuat tentang biodata penulis.
"Dua puluh delapan tahun..."
Anjas menatap lurus ke arah jalanan.
"Dua puluh delapan tahun, sepuluh tahun yang lalu... Delapan belas..."
Anjas kembali teringat saat Misty tiba-tiba terlihat sangat ketakutan saat mendengarnya sedang berbicara di telepon dengan Arga kemarin.
"Misty Renata,"
"Dua puluh delapan tahun,"
"Sepuluh tahun yang lalu..."
"MR,"
"Delapan belas,"
Anjas mengambil buku sakunya dan membalik halamannya dengan cepat. Tangannya berhenti di satu halaman.
"B 1351 AY. MR, 18,"
Anjas memasukkan kembali novel Misty dan buku sakunya ke dalam tas. Rasa kantuknya telah sirna, digantikan oleh rasa penasaran yang ingin segera mendapatkan jawaban.
Mobil Anjas kini melaju dengan kecepatan cukup tinggi menuju apartemen tempat dimana —mungkin— jawaban bersemayam.
***
"Cekrek,"
Misty membuka pintu unitnya. Seorang wanita berdiri di depan pintunya.
"Kak Maya? Masuk," kata Misty, mempersilakan tamunya masuk. Maya tersenyum.
"Gimana kabar kamu?" tanya Maya sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Baik, Kak," jawab Misty sambil tersenyum.
Maya melirik naskah di atas meja ruang tamu.
"Jangan terlalu memaksakan diri," kata Maya lalu berjalan menuju ruang kerja Misty. Misty tersenyum sambil menuangkan segelas air dingin untuk tamunya.
Maya berhenti di depan meja Misty. Dia menatap lama pigura yang ada disana lalu mengambilnya.
"Kamu masih menyimpan foto ini?" tanya Maya sambil menatap foto lama itu dan tersenyum tipis. Misty berjalan ke arah Maya sambil membawa segelas air.
"Dua hari yang lalu, Rachel mengantarkan bakso dari Tante buat aku," kata Misty sambil menyodorkan segelas air yang dia bawa ke arah Maya.
"Bakso Mamang yang sering lewat depan rumah?" tanya Maya. Misty mengangguk sambil tersenyum.
Misty berjalan menuju sofa setelah Maya menerima gelasnya. Maya menatap Misty sambil mengembalikan kembali pigura ke tempatnya.
'Bahkan kamu pun belum bisa merelakannya,'
***