Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sayangnya, sebelum sempat Rani memutar rekaman suara Sintia maupun bukti lain yang sudah ia siapkan, ponselnya lebih dulu bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya terdiam sesaat, Rico.
Rani mengembuskan napas pelan. Ia sempat berniat mengabaikannya karena masih berada di tengah ruang itu, di antara Roy, Sintia, dan semua kepingan yang mulai terbuka satu per satu. Namun panggilan itu tidak berhenti di satu kali. Berulang dan seperti memaksa hingga akhirnya panggilan ke tiga ia mengangkatnya.
“Ada apa?”
Di seberang hanya terdengar jeda singkat sebelum suara Rico masuk, datar dan tanpa penjelasan panjang.
“Aku akan ke sana,” jawabnya singkat.
Sambungan terputus.
Rani menatap ponselnya beberapa detik. Ada sesuatu dalam nada suara itu yang membuatnya tidak bisa lagi fokus pada apa pun yang ada di ruangan ini. Seolah ada hal lain yang lebih mendesak daripada semua konflik yang baru saja pecah.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke tas, lalu berbalik.
“Rani.” Suara Roy menahan langkahnya di ambang pintu.
“Selangkah kamu pergi dari sini tanpa minta maaf, jangan harap kamu bisa hidup tenang.”
Rani berhenti, menoleh sedikit saja. Senyumnya tipis, nyaris tak terasa, tetapi begitu dingin.
“Sesukamu,” jawabnya ringan. “Aku tidak punya waktu bermain lagi. Dasar otak udang!”
Ia melangkah keluar tanpa menunggu reaksi apa pun. Tidak ada yang benar-benar mengejarnya. Bahkan ketiga anak Roy masih terpaku di tempat, lebih sibuk memikirkan kondisi Sintia yang sejak tadi tampak rapuh tapi juga diam-diam menyimpan perasaan lega karena Rani pergi.
Roy sendiri tidak langsung bereaksi. Sampai akhirnya keheningan itu berubah menjadi tekanan di dadanya sendiri.
“Apa tadi dia bilang aku bodoh?” suaranya rendah, menahan emosi.
“Iya, Pa,” jawab Arlan pelan. “Otak udang itu artinya bodoh.”
Keheningan yang mengikuti terasa lebih berat. Wajah Roy mengeras. Emosi yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah, tapi tidak menemukan sasaran yang tepat. Tangannya yang masih memegang Sintia tanpa sadar mengencang.
“Aaakh!”
Jeritan Sintia memecah ruangan.
***
Rani sampai di rumah Rico dengan mengendarai taxi. Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak benar-benar ada di jalan. Tadi pagi Rico memang mengirim pesan mengabarkan ia akan mengatur untuk mengeluarkan anaknya dari rumah sakit jiwa dan ia berniat untuk menemuinya.
Hanya saja ia tidak paham kenapa suara Rico di telepon tadi terdengar begitu cemas, seolah ada yang terjadi pada anak itu.
Begitu gerbang rumah terbuka, langkahnya melambat. Di halaman, seorang anak kecil duduk di kursi roda di belakangnya berdiri Rico.
"Ran, kamu sudah datang?" tanya Rico.
Rani tidak merespon pertanyaan Rico. Ia lebih fokus pada anak itu yang terasa begitu familiar.
Anak yang tampak lebih kecil dari yang ia bayangkan. Rambutnya sedikit menutupi dahi, tubuhnya kurus, dan gerak tubuhnya tidak stabil, kedua tangan sesekali menegang lalu bergetar tanpa kendali, kepalanya miring sedikit sebelum kembali lurus. Dari bibirnya keluar gumaman yang tidak jelas, seperti kata-kata yang terjebak di dalam tubuh yang tidak sepenuhnya bisa mengikuti perintahnya.
Rani berhenti cukup lama di tempatnya berdiri. Sepintas ada bayangan yang lewat di kepalanya. Suara tangisnya saat itu di depan seorang dokter.
"Bu, Anda yang sabar. Anak Anda menderita cerebral palsy spastik," ucap seorang dokter.
Rani sebagai calon dokter spesialis anak sangat tahu penyakit itu. Tanpa sadar tubuhnya lunglai, sebagai seorang ibu mana ada yang mau diberikan anugrah anak spesial seperti ini? Namun Rani kala itu masih cukup optimis kalau anaknya akan sembuh dengan terapi. Hanya saja bayangan bagaimana ia merawat anak itu begitu samar-samar di kepalanya yang ada kini ia merasa dadanya begitu sakit.
Sampai melihat anak itu perlahan mengangkat wajahnya, ingatan itu tertutup begitu saja dan membawanya ke kenyataan dihadapannya.
"Kenapa rasanya sesakit ini?" gumamnya sembari memegang dada.
Awalnya wajah anak itu kosong, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu begitu pandangannya jatuh pada Rani, seluruh ekspresinya berubah.
Matanya membesar. Tubuhnya langsung gelisah. Kedua tangannya terangkat dengan gerakan kaku, seolah mencoba memastikan apa yang ia lihat benar-benar nyata. Napasnya berubah cepat, dan bibirnya bergerak tanpa suara sebelum akhirnya memaksa keluar satu kata yang patah-patah.
“Na…”
Rani tidak langsung merespons. Bukan karena tidak mendengar, tapi karena otaknya butuh waktu untuk menerima bahwa suara itu memang ditujukan padanya, selain itu ia masih sibuk menetralkan perasaannya.
Anak itu menelan udara, berusaha lagi dengan lebih keras, sampai wajahnya memerah karena terlalu memaksa.
“Na… ni…”
Sekali lagi anak itu mencoba memanggilnya. Dengan air mata mulai muncul di sudut mata.
“Na… ni…”
Ia bergerak, berusaha mendorong kursi rodanya sedikit ke depan, meski tubuhnya tidak sepenuhnya bekerja sesuai keinginannya. Ia tidak peduli. Matanya hanya terpaku pada Rani, seolah dunia di sekitarnya sudah tidak lagi penting.
Tanpa sadar, kaki Rani melangkah. Satu langkah. Lalu langkah berikutnya. Semakin dekat, semakin jelas ia melihat usaha kecil itu, usaha seorang anak yang bahkan tubuhnya tidak bisa mendukung keinginannya, tetapi tetap memaksa untuk mendekat.
Saat jarak mereka tinggal beberapa langkah, anak itu mengulurkan tangan. Jari-jarinya tidak terbuka sempurna dan gerakannya tampak kaku. Namun ia tetap berusaha meraih ujung baju Rani. Begitu berhasil, ia langsung menggenggamnya erat, seolah itu satu-satunya cara untuk memastikan bahwa Rani benar-benar ada di hadapannya.
"Na... ni..."
Air mata mengalir di pipinya. Namun di saat yang sama, bibirnya justru melengkung membentuk senyum kecil yang tidak sempurna. Senyum polos yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Rani menahan napas. Tangannya tidak bergerak. Bahkan tubuhnya terasa membeku di tempat.
"Apa dia Haikal, anakku?" tanyanya pelan.
Rico yang sejak tadi hanya diam menyaksikan pertemuan ibu dan anak itu mengangguk.
"Iya."
Rani kembali menatap wajah kecil di depannya.
"Dia menderita cerebral palsy?" tanyanya lagi, memastikan bahwa ingatan singkat yang sempat melintas di kepalanya tadi bukan sekadar khayalan.
"Iya, Ran..."
Belum sempat Rico melanjutkan ucapannya, Rani sudah lebih dulu berlutut di hadapan Haikal lalu memeluknya erat. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan dalam pelukan itu. Namun bersamaan dengan itu, rasa sesak juga memenuhi dadanya.
"Maafkan Mama, Nak," ucapnya lirih. "Mama nggak tahu kenapa Mama melakukan semua ini."
Kali ini air mata Rani yang jatuh. Setelah menghapus air mata di pipi Haikal, ia justru tidak mampu menahan air matanya sendiri. Beberapa tetes jatuh mengenai punggung tangan anak itu.
Haikal menatapnya sesaat, lalu dengan susah payah mengangkat tangannya. Gerakannya lambat dan tidak stabil, tetapi ia tetap berusaha menyentuh wajah Rani untuk menghapus air mata yang mengalir di sana.
"Na... ni... nda sedih."
Kalimat sederhana itu membuat hati Rani menghangat sekaligus nyeri. Anak yang seharusnya berhak marah padanya justru sedang berusaha menghiburnya.
Rani menggenggam tangan kecil itu erat. Namun beberapa saat kemudian, sebuah ingatan lain tiba-tiba melintas di benaknya. Kepalanya langsung berdenyut nyeri.
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏