Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15• Awal Dari Perubahan
Naya tidak bisa menahan lagi. Ia langsung berlari turun tangga, melewati Bara tanpa menoleh. Tatapan lelaki itu tidak sempat ia pedulikan. Bendungan air mata di pelupuk matanya sudah terlalu penuh. Tinggal satu dorongan lagi, semuanya akan pecah.
Ia masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Suara kran langsung ia nyalakan sampai deras. Air menghantam wastafel, menutupi suara isaknya yang pecah di depan cermin.
Tangannya mencengkeram ujung wastafel. Bahunya naik turun menahan tangis yang tidak bisa lagi ia tahan. Di luar, suara langkah Bara terdengar berhenti di depan pintu. Tapi Naya pura-pura tidak dengar.
Air terus mengalir. Seperti mencoba menenggelamkan semua rasa malu, marah, dan sakit yang Arkan tinggalkan di wajahnya malam itu.
Naya membasahi wajahnya dengan air, lalu menatap pantulan dirinya didepan cermin, ia berusaha baik-baik saja setelah apa yang sudah Arkan lakukan kepadanya.
Pintu kamar mandi diketuk pelan beberapa saat, ia tau ada Bara yang menunggunya diluar, tapi ia tak akan membiarkan hal buruk terjadi kepada hubungannya, apa lagi sekarang sikap Bara sudah berubah, tak seperti sebelumnya.
Naya menghela nafas pelan, ia membuka pintu kamar mandi, diluar Bara berdiri tepat didepan pintu raut wajahnya terlihat khawatir, namun Naya tak menghiraukan, ia lewat begitu saja disebelah Bara.
Tapi tangannya ditahan oleh lelaki itu, Naya berusaha melepaskannya namun tak bisa, dengan cepat Bara menarik tangannya menuju pintu belakang.
"Lepasin" ujar Naya, ia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan mata sembabnya.
Bara memegang kedua pundak Naya dengan pelan. "Aku gak bisa biarin Mas Arkan bikin kamu kayak gini Nay" ujar Bara lirih, ia terus menatap Naya dengan tatapan yang Naya artikan sebagai tatapan iba.
Naya melepas tangan Bara. "Bar, jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, kita gak..."
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Bara langsung menutup mulut Naya dengan tangannya. "Nanti ada yang denger Nay" bisik Bara.
Naya menghela nafas kasar. "Jangan ikuti aku, dan jangan pernah begini lagi, kita harus punya batasan" ujar Naya lalu pergi meninggalkan Bara yang masih diam menatap dirinya hingga hilang diambang pintu.
Disaat yang sama, Arkan turun dari tangga, wajahnya lesu seperti habis terbangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Ia menatap Naya sekilas lalu mengabaikannya.
Naya berhenti melangkah, melihat Arkan yang mengabaikannya seperti melihat dirinya telah kehilangan orang yang menyayanginya dirumah ini, ia sekali lagi merasa menjadi orang asing dan sendirian.
Naya menaiki tangga menuju kamarnya, ia duduk di sisi ranjang dengan menundukkan kepala, siang ini rasanya sangat berat bukan bahagia karena Arkan sudah datang, tapi lebih berat karena pertanyaan Naya tak ada jawaban.
Arkan masuk kedalam kamarnya kembali dengan gelas di tangan kanannya, ia tak melirik sedikitpun kepada Naya saat itu, bahkan ia hanya mengambil ponselnya dan kembali keluar, namun sebelum itu Naya menahan gagang pintu kamarnya.
"Mas, kenapa kamu yang marah sama aku. Aku butuh penjelasan bukan didiemin begini" Suara Naya bergetar, ada kesedihan yang ia tahan.
Arkan tak menjawab, ia menarik pintu sekuat tenaga hingga Naya terjatuh, lagi-lagi Arkan tak peduli.
Di kursi tengah, Arkan duduk. Di depannya, Bara mengetik di laptop. Ia melirik sekilas saat Arkan mengambil tempat di hadapannya.
“Kenapa lo belum juga masuk kerja?” tanya Arkan, memecah keheningan.
Bara tidak langsung menjawab. Jarinya berhenti di atas keyboard. “Kenapa?”
“Nggak biasanya lo libur lama,” balas Arkan.
Bara kembali mengetik. “Rencananya mau ngajuin mutasi.”
Jari Arkan yang memegang gelas berhenti. “Mutasi?”
Bara mengangguk sekali, singkat.
“Apa pertunangan lo sama Jeslyn dimajukan?”
Suara Ibu Desy menyusup di antara mereka. Ia sudah berdiri di belakang, mendengar percakapan itu. “Bagus dong kalau mutasi. Lebih dekat dari rumah. Sekalian acara pertunangan kamu bisa Mama majukan.”
“Ma, jangan bahas tunangan terus,” potong Bara. Nadanya datar, tapi rahangnya mengeras. “Aku kan udah bilang, aku belum siap.”
“Bar, lo udah dewasa, udah mapan juga. Kenapa mesti belum siap?” Arkan ikut menimpali.
Bara diam. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu mengangkat wajah. Matanya menatap lurus ke Arkan. “Lebih baik menyiapkan diri dulu. Daripada nantinya gagal jadi suami.”
Arkan tertawa kecil. “Nah, gitu baru adek gue.” Tapi di sudut dadanya, ada sesuatu yang mengganjal. Kalimat itu terasa seperti tamparan halus.
Setelah itu, suasana kembali sepi. Sampai malam, Naya tidak turun dari kamar. Arkan pun tidak beranjak dari ruang tengah. Yang gelisah justru Bara. Biasanya jam segini Naya sudah di dapur, menyiapkan makan malam. Kini dapur kosong. Tidak ada suara panci, tidak ada bayangannya.
Dari depan, terdengar suara Ibu Desy dan Jeslyn. Mereka baru pulang belanja. Tangan Desy penuh kantong bahan dapur. Jeslyn membawa paperbag berisi baju.
“Bara, lihat deh,” Jeslyn langsung menghambur ke arahnya. “Aku beliin kamu jaket baru. Jaket kulit. Cocok banget buat motoran.”
Desy tersenyum, meletakkan belanjaan di meja dapur. “Jeslyn udah keluarin uang. Terima aja, Nak.”
Bara tidak menatap jaket itu. “Gak ada yang nyuruh buat ngeluarin uang buat beliin gue jaket.” Suaranya dingin, tanpa celah.
“Baraa!” Desy meninggikan suara saat melihat Bara bangkit dan masuk ke kamarnya.
Arkan datang dari ruang tengah, mengambil minum di pantry. “Ma, teman kantor aku bakal datang malam ini. Gak apa kan?”
“Iya gak apa, Nak. Biar Mama suruh Naya masak banyak,” jawab Desy sambil tersenyum.
“Naya, turun ke bawah!” teriak ibu Desy ke arah lantai atas. Tidak ada sahutan.
Di dalam kamar, Naya duduk di tepi ranjang. Tidak ada semangat, tidak ada harapan. Ia hampir menyerah. Matanya masih bengkak. Tidak ada yang peduli. Ia merasa seperti robot yang tidak boleh mengeluh.
Teriakan Desy terdengar lagi, jelas menyuruhnya memasak. Mereka menjadikan Naya pembantu tanpa bertanya. Naya memejamkan mata, mencoba menenangkan dadanya yang sesak. Tapi tiba-tiba suara pintu kamarnya terbuka keras.
Arkan berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih sama seperti tadi. Masih marah. Masih dingin. Membuat Naya mundur satu langkah dalam hati. Sulit menerima kenyataan kalau lelaki yang ia cintai punya sisi lain yang tidak bisa ia terima.