NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 13

“Benar, kamu pasti terkejut, ‘kan, melihat ketenangannya. Kami juga sampai sekarang masih heran dengan sikapnya yang begitu tenang. Satu-satunya yang membuatnya tampak seperti anak normal adalah amukannya setiap kali akan disuntik.” Ilyas terkekeh di ujung kalimatnya.

“Mungkin dia hanya berpura-pura kuat. Dia pasti sangat kesepian. Aku menjaga keluargaku di rumah sakit ini. Jika tidak keberatan, panggil aku saja untuk menghiburnya lagi. Aku akan menemani jika ada waktu.” Amelia dengan murah hati menawarkan bantuan.

“Oh, terima kasih. Bantuanmu hari ini benar-benar berharga.”

Amelia tersenyum tipis. Keduanya berpisah di lorong dekat ruang rawat Rosa. Amelia tak menyadari interaksi keduanya yang diperhatikan oleh Hanan. Pria itu tadinya ingin keluar mengambil makan untuk Rosa, tapi melihat sosok yang familier tak jauh darinya sedang tersenyum bersama orang lain membuatnya tertegun sejenak.

Hanan berdecih sinis. “Benar-benar murahan.”

Pria itu tak akan mengakui bahwa hatinya mendadak tak nyaman melihat interaksi Amelia dengan pria lain. Terlalu aneh karena selama ini dia hanya melihat Amelia berinteraksi dengan Kanaya.

Amelia membeku di tempat saat menyadari tatapan tajam Hanan mengarah padanya. Hanya setelah pria itu beranjak dari pintu ruangan Rosa, barulah dia masuk dengan ragu-ragu. Di sana ternyata masih ada Jetro yang bertukar tawa dengan kakaknya. Di sana juga ada orang tuanya yang menanggapi candaan pria psikopat itu.

Amelia ingin menghindar, tapi Rosa sudah lebih dulu menangkap kehadirannya.

“Mel, dari mana saja? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang tadi. Duduklah di sini bersama kami.”

Amelia menatap satu per satu orang-orang itu, orang tuanya tampak tak acuh, sementara Rosa dan Jetro tersenyum dengan makna yang dia definisikan berbeda. Gadis itu tak punya pilihan lain selain melangkah mendekat dan menarik salah satu kursi yang menganggur—memastikan jaraknya cukup jauh dari Jetro.

“Kenapa kamu duduk begitu jauh? Jetro tidak memakan orang.” Rosa berucap dengan nada bercanda, tapi berbeda dengan Amelia yang tersenyum kaku mendengarnya.

“Tidak apa-apa. Bagaimana pun juga aku sudah menikah, tidak baik terlalu dekat dengan pria yang tidak kukenal.”

“Benar juga.” Rosa tersenyum menanggapi. Setelahnya dia kembali bercanda tentang betapa konyolnya dulu Jetro saat mereka masih remaja.

“Aku tidak menyangka kamu yang dulu begitu pendek saat anak-anak, kini menjadi lebih tinggi dariku. Benar-benar tidak adil.” Rosa merengut kesal.

“Benar, dulu kamu selalu mengejekku, tapi lihat sekarang siapa yang paling pendek di antara kita bertiga. Itu dirimu.” Jetro menepuk pelan kepala Rosa.

“Amelia bahkan lebih tinggi dariku.” Celetukan Rosa membuat Amelia tersentak. Itu karena dia tahu Jetro paling tidak suka jika kakaknya sedih saat membandingkan dirinya dengannya.

“Tidak peduli siapa yang paling di antara kita, bagiku sama saja.” Amelia berusaha menetralkan detak jantungnya.

“Tenang saja. Dia tidak akan bertambah tinggi lagi. Aku bisa mematahkan kakinya jika dia semakin tinggi darimu.” Jetro memasang tampang polos saat mengatakannya.

Rosa tertawa pelan—menganggap apa yang dikatakan Jetro adalah candaan semata, tapi Amelia benar-benar tak tahan hingga nyaris berdiri dari kursinya.

“Jangan bercanda seperti itu. Lihat, Amelia tampak tertekan. Abaikan dia, Mel. Jetro memang suka bercanda.”

Amelia tak menanggapinya dan memilih membuang muka. Ke mana pun asal tidak menatap pria psikopat di depannya.

“Ekhem ... lupakan saja, Mbak. Kita harus fokus pada kesembuhanmu. Dokter bilang dua hari lagi kamu bisa keluar dari rumah sakit.”

Tenggorokan Amelia mendadak kering. Jika pembicaraan ini terus berlanjut, dia mungkin akan mati tercekik oleh ketakutannya sendiri.

“Oh, benar juga. Aku tidak sabar keluar dari tempat ini. Aku benar-benar muak mencium bau obat-obatan.”

Amelia menghela napas pelan.

“Oh, iya. Di mana Mas Hanan? Kenapa lama sekali mengambil makanan?” Wanita itu menatap pintu ruangan.

“Mungkin ada sesuatu yang harus dia lakukan. Mbak tunggu sebentar lagi. Nanti juga dia kembali lagi.” Amelia menjawab seadanya.

Rosa menyandarkan punggungnya lesu.

Sementara itu, di luar pintu ruangan Rosa, Hanan sedang tertahan oleh Ilyas, perawat yang beberapa waktu lalu Amelia temui.

Ilyas mengerutkan kening menyadari tatapan Hanan yang menyorot tak ramah padanya. Namun, perawat itu enggan memikirkan lebih jauh. Terkadang memang ada beberapa orang yang dilahirkan dengan wajah ketus. Mungkin saja Hanan adalah salah satunya.

“Maaf, apa ada keluarga pasien bernama Amelia yang dirawat di ruangan ini?” Ilyas bertanya dengan sopan.

“Ada apa?”

“Oh, tadi sepertinya dia menjatuhkan ini. Saya ingin mengembalikannya.” Ilyas mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk manusia salju yang tampak usang—terlihat dari warnanya yang sudah menguning. Sekilas pandang saja orang akan tahu bahwa benda itu sudah tak layak simpan.

“Akan kuberikan padanya. Silakan pergi. Pasien di dalam butuh ketenangan.” Hanan mengambil gantungan kunci di tangan Ilyas agak kasar—nyaris seperti merebut.

“Oh, baiklah. Tolong berikan padanya. Itu mungkin berharga baginya.” Ilyas hanya iseng mengatakan kalimat akhirnya, tapi tebakannya memang benar bahwa benda usang itu berharga bagi Amelia yang tak akan dimengerti oleh Hanan dalam waktu dekat.

Perawat itu kemudian meninggalkan ruangan itu dan kembali pada rutinitas rumah sakitnya.

Hanan menatap sekilas pada gantungan kunci di tangannya sebelum akhirnya memasang raut tak peduli. Dia mengantongi benda itu dan masuk ke ruangan Rosa. Secepat kilat melupakan benda yang baru saja diberikan oleh Ilyas.

“Waktunya makan.”

Rosa menatap penasaran pada menu makanan yang dibawa oleh suaminya. Wanita itu langsung melunturkan senyumnya hanya dalam sekali lihat.

“Aku tidak mau makan ini, Mas. Aku tidak suka bubur, rasanya hambar,” tolak Rosa mentah-mentah dengan tangan mendorong mangkuk yang dibawa oleh Hanan.

“Untuk sekarang kamu hanya bisa makan ini, Sa. Kita makan yang lain setelah keadaanmu membaik, oke.” Hanan berusaha membujuk. Seberapa sulit pun menghadapi Rosa yang pilih-pilih makanan tak akan pernah dipermasalahkan oleh pria itu.

“Tidak mau. Mas tahu aku tidak pernah suka bubur.” Wanita itu semakin cemberut.

“Padahal saat kecil kamu sangat menyukai bubur, kenapa sekarang bilang tidak pernah suka?” Hanan meletakkan mangkuk di atas nakas dan beralih mengelus kepala istrinya penuh kasih sayang.

“Aku—aku tidak—“

“Jangan memaksanya seperti itu, Nan. Aku akan mencari makanan lain yang mudah dicerna, tapi setidaknya masih lebih baik dari pada bubur itu.” Jetro berdiri dari duduknya. Pria itu jelas tak senang dengan ekspresi tertekan di wajah Rosa.

Tanpa banyak kata pria itu keluar ruangan dan meninggalkan keheningan.

Rosa menunduk menatap jemarinya sendiri. “Maaf, aku hanya merasa bahwa seleraku berubah. Aku tidak suka lagi dengan tekstur bubur yang lembek.

Hanan menghela napas panjang. Tampak merasa bersalah karena telah memaksa istrinya itu. “Tidak perlu minta maaf. Ini salahku. Harusnya aku tidak memaksamu.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!