Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15.
Langkah kaki seorang perempuan ditengah keramaian, bau parfum tercium sepanjang ia berjalan. Langkahnya jenjang sepanjang koridor perjalanan, bisik bisik suara dari tadi terus terdengar, semakin membuat niat dalam hatinya mengguncang.
Perempuan itu Celine, sejak pagi senyum senyum sendiri dengan niat tersembunyi didalamnya, orang yang melihat berpikir pasti ia sedang gembira atau ramah karna senyumnya, tanpa tau niat jahat segera ia rencanakan.
Celine melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, aneh sekali, sebab Celine bukanlah tipe anak rajin yang suka belajar, namun kali ini ia menuju tempat itu. Dirinya mendengar gosip gosip bahwa kedekatan Kayla dengan cowok lain, mungkin kalau seperti ini Arka bakal menjadi miliknya, seutuhnya.
"Kayla Kayla, lo tuh emang sasimo ya?." Celine membatin, dirinya semakin dekat dengan perpustakaan sekolah, akhirnya ia tiba disana, melangkahkan kakinya mencari orang yang dia cari.
Celine mendengar kabar bisik bisik dari orang, Kayla berjalan dengan cowok lain, membuatnya semakin kepo, ini celah besar untuknya, peluang meng adu domba mereka, apalagi memanfaatkan emosi Arka.
Celine berjalan mengintari perpus kesana kemari, mengintip dibalik rak, sekian lama akhirnya ia bagian paling ujung, itu belum ia cari. Ketemu! Celine melihat Kayla dengan cowok seperti berpose akan ciuman?, itu kelihatannya saja.
...---...
"Gede bener ni perpus." Dimas dan Kayla sudah berada di perpustakaan, perempuan itu mengajaknya berkeliling, mulai dari depan hingga ke ujung sana.
"Nah, ini bagian yang paling sepi kalo disini." Kayla bersuara, tangannya mengambil buku di rak rak bagian atas.
"Biasanya aku kesini, karna tempat ini paling sepi, i like it." Kayla menjinjit mengambil buku favoritnya diatas sana, hingga tiba tiba kakinya kepeleset.
"Akh." Kayla merasakan keseleo pada bagian kakinya, ia merasa tubuhnya akan jatuh namun tidak merasakan apapun.
Malah ia merasa tubuhnya ditahan oleh seseorang, Dimas menahan tubuh Kayla, posisi mereka sangat dekat, tangan Dimas berada di pinggang Kayla, sementara satunya membenarkan rambut Kayla yang menutupi wajahnya.
Posisi mereka saat ini kalau dilihat pasti seolah seperti orang berciuman, karna begitu dekat.
Krek.
Bunyi suara kamera dari rak depan, Celine mengambil kesempatan, ia memotret mereka, dengan perkiraan sudut yang tepat, hanya menunjukan wajah Kayla, sementara badan cowok yang tidak keliatan mukanya.
"Nice." Celine menggumam puas, ia memasukkan ponselnya ke saku bajunya.
"T-thanks ya." Kayla buru buru berdiri
"Hobi banget jatoh." Dimas membalas pelan, ia juga sedikit menjauhkan posisinya.
"Loh Kayla?." Celine datang seperti orang yang tidak tau apa apa, wajahya berekspresi polos, seolah tidak tau apapun yang terjadi.
"Celine?, tumben kamu kesini?." Merasa ada orang lain, Kayla mendekati Celine, buru buru menjauhkan Dimas karna takut ada salah paham.
"Pengen aja, ini siapa? pacar lo?." Ucap Celine ketus
"N-nggaa!, temen aja, dia anak pindahan. Baru masuk kesini." Kayla menjelaskan, sementara Dimas memandang Celine curiga, aura dari Celine membuatnya tidak suka terhadap perempuan itu.
"Oh, Gue Celine Lidya." Celine memajukan langkahnya, menjulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Dimas.
"Dimas Sadewa." Dimas tak membalas jabatan tangan Celine, hanya memandang datar.
Celine merasa malu, ia menarik tangannya kembali, saat ia akan bersuara kembali, suara dari Dimas menghentikannya.
"Yuk Kay, ketempat lain aja, gue ngerasa ada setan ngintilin disini." Dimas menarik tangan Kayla untuk berjalan meninggalkan Celine, Kayla yang ditarik hanya bisa mengikuti kepalanya menoleh kebelakang tersenyum kearah Celine merasa tidak enak tiba tiba ditinggal begitu saja.
Dimas dan Kayla semakin menjauh, kini tersisa Celine sendirian diujung sana.
"Sial*n, liat aja lo berdua." Celine meninggalkan tempat tersebut.
...---...
Hari sudah sore, bel tanda pulang sekolah juga sudah berbunyi, Kayla menghela napas kasar, ia akan pulang namun pikirannya berkelana, bukan tentang Arka.
Namun tentang uang, penghasilannya semenjak ia tidak bekerja malam itu, uangnya berkurang untuk hidup sehari hari, biaya makan, jauh dari orang tua, harus membuatnya mandiri, ia tidak mau membebani orang tua.
Padahal sebenarnya Arka selalu memberi Kayla uang, setiap bulannya, namun Kayla tidak pernah memakai sedikit pun untuk kehidupan sehari hari, hanya digunakan untuk biaya ia bayar SPP. Kayla merasa tidak enak hati, Arka sudah banyak membantunya, lebih baik ia gunakan yang lebih penting aja.
"Haahhh, apa aku balik kerja lagi ya?." Gumam Kayla sambil berjalan dari koridor menuju gerbang sekolah.
"Tapi ntar Arka marah lagi, aku kan udah janji." Lagi lagi Arka, Kayla merasa pusing, hidup tanpa uang terasa seperti mati rasanya.
Kayla sudah digerbang depan, ia duduk dihalte, duduk bukan untuk menunggu seseorang, ia sedang memikirkan kerja atau ngga?.
"Yaudah aku balik kerja ke ibu Murni aja deh, asal Arka ngga tau." Kayla memutuskan ia akan kembali bekerja, sudah siap dengan resiko Arka yang akan marah, bodo amat ia tidak mau merepotkan orang.
Kayla berjalan pulang, untuk kembali ke kostnya, diingatkan jarak dari sekolah ke kost Kayla dekat ya, makanya dia berani jalan.
Baru beberapa langkah, suara klakson mengagetkan Kayla, membuatnya terhenti menoleh kearah pelaku.
Terlihat, seorang cowok dengan duduk diatas motor besarnya, helm fullface, dan jaket kulit hitamnya disana. Dimas membuka helmnya
"Bareng yuk." Dimas menawarkan untuk pulang bareng ke Kayla, kesempatan bro
"Hah?!." Kayla menaikkan alisnya, ia tak paham.
"Pulang bareng sama gue, gue anterin." Dimas turun dari motornya, mendekati Kayla.
"Makasih, tapi ngga usah." Kayla menolak halus, dia harus mandiri ngga mau ngerepotin orang lain.
"Ngga ada penolakan." Dimas tiba tiba mengendong Kayla, menaruh perempuan itu di jok belakang motornya.
"Aww lepasin! maksa banget dih!." Kayla mengerutkan dahinya, Dimas sudah naik ke motornya.
"Pegangan yang kuat." Dimas menyuruh Kayla untuk pegangan, atau modus untuk memeluk dirinya kali ya
Kayla tak menjawab, dia ngga mau meluk meluk Dimas, merasa tidak ada jawaban sama sekali, membuat Dimas menarik gas lalu mengerem mendadak membuat Kayla kaget lalu reflek memeluk Dimas.
Krek
Suara kamera dari balik tembok, seseorang dengan niat jahatnya memotret mereka dengan posisi yang sangat bagus.
...---...
"Good." Lalu Dimas melajukan kuat motornya, dengan kecepatan sengaja ia buat kencang
"Pelan pelan!!!.." Kayla mencubit perut Dimas
"Hah?! apa?." Dimas ngga denger karna kecepatan motor ditambah angin membuat suara Kayla samar samar.
Kesal Kayla dipermainkan terus, ia memukul kuat helm Dimas, membuat Dimas mengerem mendadak, lagi lagi Kayla merasa hampir dibuat mati sepertinya.
"Sengaja banget hahh?! dibilang pelan masih aja kenceng, rasain." Kayla mengomel, Dimas akhirnya paham ia melajukan motornya pelan.
"Sorry cantik, tunjukin arah rumah lo kemana."
"Deket dari sini, nanti lurus ada pertigaan belok kanan, gang pertama masuk situ ya, aku ngekost." Kayla menjelaskan kalau ia ngekost disana.
---
"Nahh udah sampe, thanks ya." Kayla turun dari motor Dimas, tak lupa mengucapkan terimakasih
"Sama sama, gue boleh mampir?." Dimas menawarkan diri, dimana mana orang pemilik rumah yang menawarkan untuk mampir ini malah dia yang nawarin diri.
"O-oh boleh kok, tapi sebentar aja ya, soalnya aku aku pergi juga." Jangan heran kalau cowok boleh masuk ke kost Kayla yang perempuan, karna Kayla tinggal di kost bebas, jadi siapa aja boleh masuk, dikarenakan murah makanya Kayla memilih tinggal disini saja.
"Pergi? kemana, kok ga dari tadi?." Dimas mengerutkan alisnya.
"Hmm, kerja sih, deket juga dari sini." Kayla menjawab.
"Gue anter, cepet siap siap nanti telat lagi." Seolah Dimas paham kalau orang kerja tidak boleh telat sama sekali, jadinya menyuruh Kayla untuk cepat bersiap, tipe cowok peka ya Dimas ini, awwhh.
"Okeii, makasih banyak ya Dimas, maaf banyak ngerepotin kamu hari ini." Kayla menunduk, merasa tidak enak
"Dah cepetan, gaada kata lo ngerepotin gue!." Dimas mengelus rambut Kayla.
"Cepetan ganti bajunya atau mau gue gantiin?." Dimas menyeringai
"Mesuuummm banget!!!!." Kayla buru buru masuk ke kost nya.
"Jangan masuk, jangan ngintip!." Kayla memberi peringatan, lalu menutup pintu kencang, sementara Dimas hanya menggelengkan kepalanya saja.
...---...
"Disini?." Mereka kini sudah sampai di Minimarket tempat Kayla bekerja, Dimas dan Kayla turun dari motor.
"Iyaa, bentar ya, aku mau ngomong dulu sama pemiliknya." Kayla menyuruh Dimas menunggu, lalu masuk.
...---...
"Tolongg bu, sekali ini aja." Kayla memohon ke ibu Murni, karena ibu Murni marah marah sejak Kayla masuk dan ingin bekerja lagi, ibu Murni marah juga karena Kayla berhenti mendadak membuat wanita tua itu kerepotan mencari pengganti.
"Nggak! kamu itu ya, udah berhenti mendadak sekarang mau masuk mendadak lagi? kamu pikir toko saya ini tempat main main?!." Ucap ibu Murni, mendengar ada keributan didalam, membuat Dimas khawatir, ia takut terjadi sesuatu, lantas ia menaruh helmnya lalu masuk.
"Ada apa ini?!, loh bibi?." Dimas masuk, ia melihat Kayla dengan mata berkaca kaca.
"Dimas?, kamu kesini nak?." Ibu Murni melebarkan senyumnya, ia mendekat kearah Dimas memeluk cowok itu, ternyata Dimas dan Ibu Murni adalah keluarga, sejak kecil saat dibandung Ibu Murni lah yang menjaga Dimas karena orang tua cowok itu sibuk.
"Apa kabar kamu?, Bibi kangen sama kamu, udah besar sekarang ya." Dimas menyalami Ibu Murni membalas erat pelukan wanita itu.
"Baik Bi, Dimas juga kangen sama bibi." Terjadilah kangen kangenan antara mereka berdua, sementara Kayla hanya tercengoh, banyak sekali plot twist dalam hidupnya ini.
"Ngomong ngomong tadi Kayla sama bibi kenapa?." Tidak ingin lupa karena kejadian keributan tadi, membuat Dimas bertanya.
"Oh itu, kamu kenal dia? ini anak maksa mau kerja lagi, dipikir toko bibi ini tempat main main kali ya masuk keluar seenak otaknya." Ibu Murni kembali tersorot emosi.
"Gapapa bi, tolong Kayla ya, aku yang jamin." Dimas menghela napas, ia meyakinkan Bibinya tersebut.
Ibu Murni tidak menjawab, hanya menatap Kayla diam, sementara Kayla mengigit bibir dalamnya berharap diterima kembali.
"Huhh, yasudah ini yang terakhir Kayla, itu berkat Dimas saja!." Ibu Murni mengizinkan Kayla kembali bekerja.
"Makasih bu, makasih banyak, saya janji." Kayla memeluk Ibu Murni.
...---...
TO BE CONTINUE