NovelToon NovelToon
DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

DINIKAHI OM-OM KAYA KARENA UTANG AYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Siska bbt644

Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: AKU HAMIL, MAS

POV Siska

Hasil testpack bergaris dua itu masih gemetar di tanganku. Satu jam penuh aku duduk di lantai kamar mandi yang dingin, memandangi dua garis merah itu sambil sesekali melirik Arka yang tidur pulas di kasur, boneka dinosaurusnya masih melingkar di tangan kecilnya.

Hamil. Ya Allah, aku hamil anak Arga.

Tubuhku mendadak lemas. Antara bahagia, takut, dan bingung jadi satu. Bagaimana kalau Arga marah? Bagaimana kalau dia bilang ini kesalahan? Bagaimana kalau dia minta aku...

Pintu kamar dibuka pelan. Arga pulang lembur, dasinya masih melingkar kusut di leher dan kemeja putihnya sedikit lecek. Matanya yang selalu tajam itu langsung menangkap testpack di tanganku. Wajahnya yang biasanya dingin dan tanpa ekspresi itu retak seketika.

"Siska..." suaranya serak, hampir berbisik.

Aku angkat wajah. Air mata yang kutahan sejak tadi jatoh tanpa permisi. Deras. "Mas, aku... aku hamil."

Arga diem. Hening. Detik berikutnya dia jatuh berlutut di depanku di lantai kamar mandi yang dingin ini. Tangannya yang besar dan kapalan karena kerja itu gemetar pas megang pipiku, menghapus air mataku dengan ibu jarinya.

"Hamil?" suaranya pecah, gak percaya. "Anak kita?"

Aku angguk. Nangis makin kenceng. Dadaku sesak. "Maaf Mas... aku gak sengaja... aku..."

Tapi Arga narik aku ke pelukannya. Kenceng banget. Sampai aku bisa denger jantungnya dug-dug-dug gak karuan di telingaku. Napasnya memburu di atas kepalaku.

"Terima kasih, Siska..." bisiknya di ubun-ubunku, suaranya bergetar. "Makasih udah kasih aku keluarga beneran. Makasih udah percaya sama Mas."

Aku kejer. "Mas gak marah? Mas gak... nyesel?"

Dia lepasin pelukan, cuma buat ngusap perutku yang masih rata dengan telapak tangannya yang hangat. Matanya merah, berkaca-kaca. "Kenapa marah? Ini rezeki, Siska. Rezeki paling gede setelah kamu sama Arka masuk ke hidup Mas yang gelap ini."

Malam itu Arga gak tidur. Dia duduk di pinggir kasur, jagain aku sama Arka yang pindah tidur di tengah. Sesekali dia ngusap perutku sambil senyum-senyum sendiri kayak anak kecil dikasih mainan baru. Sesekali dia kecup keningku.

"Mas janji," bisiknya jam 3 pagi saat aku pura-pura tidur, "Mas bakal jadi ayah yg baik. Buat Arka, buat anak kita yang di perut. Mas bakal kerja lebih keras. Mas bakal jaga kalian sampai nafas terakhir Mas."

Aku tutup mulutnya pake jari, air mata netes lagi. "Mas udah jadi ayah terbaik di dunia. Dari dulu."

POV Arga

Siska hamil.

Kalimat itu muter terus di otakku selama rapat direksi pagi ini. Para pemegang saham ngomongin angka miliaran, proyeksi Q3, ekspansi ke Eropa, tapi yang aku denger cuma suara Siska semalem: "Mas, aku hamil."

"Pak Arga?" Rini, sekertarisku, nepuk meja dengan pulpen. "Laporan Q2 nya, Pak. Investor menunggu."

Aku geleng pelan. "Tunda semua meeting hari ini, Rini."

"Tapi Pak, ini sama investor dari Singapura. Nilainya 2 triliun..."

"Batalin." Aku berdiri, beresin jas mahal yang rasanya tiba-tiba gerah. "Istri saya hamil. Saya mau ke dokter kandungan sekarang. Urusan 2 triliun gak lebih penting dari istri saya."

Satu ruangan diem. Semua kepala menoleh.

Rini melongo, pulpennya jatoh. "I-istri Bapak hamil?"

Aku senyum. Pertama kalinya senyum lepas dan tulus di kantor selama 10 tahun aku mimpin perusahaan ini. "Iya. Anak kedua. Doain ya."

Aku gak peduli omongan orang. Dulu aku nikahin Siska karena utang ayahnya. Pernikahan kontrak. Sekarang aku bakal jaga dia karena dia kasih aku dunia, kasih aku alasan untuk pulang.

Di mobil, aku telepon Mom. Tanganku gemetar mencet nomor.

"Mom, Siska hamil."

Satu detik hening. Terus terdengar suara keras pecah belah. Mom kayaknya jatohin vas bunga Ming kesayangannya.

"ASTAGA ARGA?! BENERAN?!" Teriak Mom sampai aku jauhin HP dari telinga. "Ya Allah cucu Mom! Mom mau sujud syukur sekarang juga! Bentar Mom ke rumah kalian bawa rujak, bawa bubur, bawa..."

Aku ketawa lepas. "Pelan-pelan, Mom. Baru 4 minggu. Masih kecil banget."

"Pokoknya Mom yg urus semua! Siska gak boleh capek! Gak boleh stress! Gak boleh angkat galon! Arka biar Mom yang jagain full! Titik!"

Tutup telepon, dadaku anget. Dulu Mom nolak Siska mentah-mentah. Sekarang Mom lebih sayang Siska daripada anaknya sendiri.

Sampai rumah, Siska lagi muntah-muntah di wastafel. Wajahnya pucat. Arka berdiri di sampingnya, nepuk-nepuk punggung Mama-nya dengan tangan kecilnya. "Mama sakit, Pa. Arka sedih."

Aku langsung lari, ngusap punggung Siska yang kurus. "Sayang, kok gak bilang Mas? Kok sendirian?"

Siska lemes nyengir, lap mulutnya pake tisu. "Malu, Mas. Baru hamil 4 minggu aja udah ngerepotin satu rumah."

Aku gendong dia ke kasur kayak ngangkat kapas. "Denger ya. Mulai hari ini, tugas kamu cuma 3: Makan, tidur, bahagia. Selebihnya biar Mas urus semua. Kamu dan anak kita prioritas Mas."

Arka manjat ke kasur, duduk di antara kami. "Adek bayi di perut Mama ya, Pa?"

Aku angkat Arka, dudukin di pangkuanku. "Iya, Nak. Adek bayi. Nanti Arka jadi kakak. Arka mau jagain adek?"

Arka manggut semangat, matanya berbinar. "Mau! Arka kasih adek mainan robot T-Rex! Arka ajarin adek naik sepeda!"

Siska ketawa di tengah mualnya. Aku kecup keningnya, lalu kening Arka.

Ya Allah, nikmat mana lagi yang aku dustakan?

Tiga hari kemudian...

"Papa jahat!" Teriakan melengking itu bikin aku sama Siska lari ke ruang tamu.

Amel, adik tiriku, berdiri di depan pintu sambil nunjuk-nunjuk. Mukanya merah padam, tas branded-nya dilempar sembarangan. "Denger-denger kakak ipar hamil ya? Cepet juga. Baru dinikahin 2 bulan udah isi. Cari aman?"

Darahku naik ke kepala. "Jaga mulut kamu, Amel."

"Kenapa? Takut kedoknya kebongkar?" Amel ketawa sinis, ngeluarin HP. "Gue punya bukti lo nikahin Siska cuma buat nutupin utang bokapnya! Lo pikir gue gak tau lo dipaksa, Mas? Semua orang tau!"

Siska pucet. Tangannya nyari tanganku di bawah meja. Dingin kayak es.

Aku maju satu langkah, badanku menghalangi Siska. "Keluar dari rumah saya. Sekarang."

"Gak sebelum gue kasih tau Siska kebenarannya!" Amel meludah. "Dia pikir lo nikahin dia karena cinta? Bangun, Mbak! Lo cuma jaminan utang! Sekarang lo hamil, nilai lo makin tinggi di mata Papa! Pantes Papa gak mau ceraiin lo!"

"DIAAAAM!!!"

Aku sama Siska noleh kaget. Arka. Arka berdiri di depan Siska, badannya gemeteran tapi kedua tangannya direntangin, ngelindungin perut Siska. Matanya berkaca-kaca.

"Jangan bentak Mama aku!" Suara Arka pecah menahan tangis. "Papa sayang Mama! Papa sayang Arka! Papa bukan jahat! Tante jahat!"

Dadaku sesak. Aku jongkok, sejajarin mata sama Arka. "Papa gak jahat, Nak. Papa sayang Mama sama Arka lebih dari apapun."

Terus aku berdiri, natap Amel dengan sorot yang bikin dia mundur selangkah. "Dulu, iya. Aku nikahin Siska karena utang. Tapi sekarang?" Aku tarik Siska ke pelukanku, erat. "Sekarang aku gak bisa hidup tanpa dia. Dia napasku, Amel. Dia sama anak-anak adalah jantungku, alasan aku kerja, alasan aku hidup."

Siska nangis di dadaku, cengkeram kemejaku.

"Dan satu lagi," suaraku dingin setara kutub, "Mulai hari ini, kamu bukan adikku lagi. Keluarga yang nyakitin istriku bukan keluargaku."

Aku angkat telepon, pencet nomor security. "Tolong keluarin Amel dari rumah saya. Sekarang. Dan bilang ke Papa, saham 20% yang dia janjikan ke Amel, saya tarik semua. Hangus."

Amel pucat pasi. "M-mas gak bisa! Itu hak aku! Papa janji!"

"Bisa." Aku matiin telepon. "Karena perusahaan ini punya saya. Namanya ada nama saya. Dan istri saya lebih penting dari seluruh saham dan harta di dunia ini."

Pintu kebanting kenceng pas Amel diseret security yang datang. Rumah hening total.

Siska dongak dari dadaku, mata sembab. "Mas... gak nyesel? Ganti saham 20% demi aku?"

Aku kecup bibirnya. Lama. Dalam. Biar dia ngerasain semua yang gak bisa aku ucapin dengan kata-kata.

"Nyesel kenapa?" bisikku pas lepas, jidat ketemu jidat. "Nyesel gak ketemu kamu dari dulu? Nyesel gak nikahin kamu lebih cepat?"

Arka tepuk tangan kegirangan. "Yeeey Papa Mama ciuman! Kayak di TV!"

Kami bertiga ketawa, pecah tangis jadi tawa. Di tengah badai, kami ketemu pelangi. Di tengah hinaan, kami ketemu cinta.

Malamnya, aku selimutin Siska yang udah tidur pulas karena kecapekan. Tanganku gak lepas dari perutnya, ngusap pelan.

"Mas," Siska menggumam ngantuk. "Makasih ya udah pilih aku... udah belain aku..."

Aku kecup keningnya, lalu bisik di telinganya. "Mas yang makasih. Karena kamu kasih Mas alasan buat hidup. Kamu sama Arka, sama si kecil ini... kalian rumah Mas."

Di luar, hujan turun deras. Di dalam, hatiku tenang untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya, kata "keluarga" gak lagi menakutkan. Gak lagi terasa seperti penjara.

Karena keluargaku adalah Siska, dengan segala tulus dan luka yang dia punya. Arka, dengan segala tawa dan peluknya. Dan si kecil di perut ini, yang belum kulihat tapi sudah kucinta.

Tamat? Belum. Ini baru awal dari babak paling bahagia dalam hidup Arga Mahendra.

1
Erniati Filiang
apaan sih ceritanya kok lama banget
Siska bbt644: Aduh Kak Erniati maaf banget bikin nunggu lama 😭🙏
Maya janji gak ngaret lagi. Bab 4 udah maya tulis,
malam ini jam 8 Maya up langsung.
Rahasia Kamar 301 dibongkar semua di bab 4 Kak.
Jangan kabur ya Kak, makasih udah setia baca ❤️
total 1 replies
Bundanya Rayfin
harusnya jgn terlalu lancang siska
Siska bbt644: Iya Bun 😭Maya emang keceplosan karena panik.
Doain ya Bun biar Maya gak lancang lagi di bab depan.
Makasih udah sayang sama Maya ❤️ Sehat2 Bunda & Rayfin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!