NovelToon NovelToon
Cintai Aku Kakak Ipar

Cintai Aku Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Cintapertama / Tamat
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagaimana rasanya jika di hari pernikahan, ternyata pria yang kamu nikahi bukanlah pria yang kamu cintai. Hal ini terjadi pada Rania, gadis malang yang ternyata menikahi Arman, adik dari Adam pria yang dia cintai. Dan kemalangan tak berhenti disana, bahkan setelah pernikahan ternyata Arman memilih pergi meninggalkannya untuk pergi bersama wanita yang dia cintai. Namun na'as, pesawat yang ditumpangi mereka berdua mengalami kecelakaan dan seluruh penumpang dikabarkan meninggal dunia.

Rasa kecewa Rania seketika berubah menjadi duka. Status seorang istri berubah menjadi janda hanya dalam waktu sehari. Namun, setelah semua kejadian itu tidak mudah bagi Rania untuk meninggalkan rumah keluarga Pratama. Karena ibu mertuanya ingin Rania melahirkan keturunan untuk keluarga mereka.

Sebenarnya apa yang terjadi?
Dan bagaimana kehidupan Rania di rumah keluarga Pratama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Setelah mengatakan itu, Adam segera membawa Rania meninggalkan mereka. Bu Sofia yang melihat amarah terpendam pada diri Adam merasa sangat khawatir. Dia lalu meminta Arman dan Jenny untuk istirahat karena mungkin mereka merasa lelah. Arman dan Jenny pun setuju meskipun merasa aneh dengan sikap Adam.

Bu Sofia pun segera menyusul Adam dan Rania ke kamar mereka di lantai dua. Suasana di kamar utama menjadi sangat mencekam. Adam melepaskan dasinya dengan gerakan kasar, sebuah tanda yang sangat dikenal Rania bahwa kemarahan suaminya sudah berada di titik puncak. Rania hanya bisa duduk dengan tubuh bergetar di tepi ranjang, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya.

"Apa Ibu sadar apa yang baru saja Ibu katakan di bawah tadi?" suara Adam rendah, namun setiap katanya mengandung tekanan yang sangat kuat. "Mengatakan bahwa Dava dan Diva adalah anak adopsi? Itu adalah penghinaan terbesar bagiku sebagai ayah mereka!"

Bu Sofia berdiri di dekat pintu, wajahnya masih tampak pucat namun ada sorot keras kepala di matanya yang tidak ingin di bantah.

"Adam, tolong mengertilah. Arman baru saja kembali dari kematian! Dia mengalami trauma hebat. Jika dia tahu bahwa kakak kandungnya sendiri menikahi istrinya dan memiliki anak, dia bisa hancur! Ibu tidak mau kehilangan dia lagi."

"Lalu bagaimana dengan perasaan Rania? Bagaimana dengan posisiku?" Adam melangkah mendekati ibunya. "Ibu meminta kami bersikap seperti kakak dan adik ipar? Itu gila, Bu! Kami sudah menikah secara sah. Kami memiliki keluarga yang utuh selama lima tahun ini!"

"Hanya sementara, Adam!" Bu Sofia memohon, suaranya mulai terisak. "Hanya sampai Arman stabil. Dia membawa istri dan anak. Biarkan dia merasa memiliki tempat di rumah ini. Status pernikahan kalian bisa dianggap bermasalah jika Arman menggugat."

Rania akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya merah dan sembab. "Ibu... bagaimana dengan anak-anak? Dava dan Diva sudah cukup besar untuk mengerti. Mereka tahu Adam adalah papa mereka. Bagaimana mungkin aku meminta mereka memanggil papa mereka sendiri dengan sebutan 'Paman' di depan Arman?"

"Kalian bisa memberi mereka pengertian," sahut Bu Sofia cepat, seolah itu adalah solusi yang mudah. "Katakan ini adalah permainan atau apa pun. Tolonglah, Rania... Ibu memohon padamu. Arman sangat sensitif. Jika dia tahu kebenarannya sekarang, dia bisa pergi lagi dan membawa Bagas, cucu pertama di keluarga ini."

Adam tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Darah dagingnya sendiri? Jadi sekarang Ibu mulai membeda-bedakan? Dava dan Diva bukan lagi cucu Ibu hanya karena Arman membawa anak dari wanita lain?"

"Bukan begitu, Adam! Tapi Arman adalah anak yang selama ini Ibu tangisi setiap malam! Ibu ingin dia bahagia di rumah ini. "

Perdebatan itu terputus saat pintu kamar diketuk dengan keras. Tanpa menunggu izin, pintu terbuka. Arman berdiri di sana dengan senyum miring yang memuakkan. Ia tampak sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar, namun sorot matanya tetap penuh dengan kelicikan.

"Wah, ada rapat keluarga rupanya?" Arman melangkah masuk tanpa rasa bersalah. Ia menatap Adam dan Rania bergantian dengan tatapan menyelidik. "Aku baru sadar, Kak Adam sepertinya sangat perhatian pada 'adik iparnya' ini. Sampai-sampai membawanya masuk ke kamar pribadi?"

Adam menatap Arman tajam, tangannya mengepal di samping tubuh. Aura permusuhan di antara kedua saudara itu begitu kental hingga udara terasa sulit untuk dihirup.

"Rania sedang tidak enak badan. Aku hanya memastikan dia baik-baik saja," jawab Adam dengan nada sedatar mungkin, meskipun setiap otot di tubuhnya menegang.

Arman berjalan mendekati Rania, lalu dengan sengaja mengusap bahu Rania. Rania tersentak dan segera menghindar, pindah ke sisi Adam. Gerakan itu membuat mata Arman menyipit.

"Kenapa, Rania? Kamu takut padaku? Aku ini suamimu. Ingat? Aku belum pernah menceraikanmu," bisik Arman dengan nada mengancam. "Ibu sudah menceritakan semuanya. Tentang bagaimana kamu 'setia' tinggal di sini menunggu kabarku. Tapi aku tidak bodoh. Aku melihat bagaimana cara Kak Adam menatapmu. Sangat... protektif."

"Arman, cukup," sela Bu Sofia dengan nada gugup. "Ayo turun, Jenny dan Bagas pasti menunggu."

"Tunggu dulu, Bu," Arman tidak bergeming. Ia menatap Adam dengan tatapan menantang. "Kak, aku ingin memperjelas satu hal. Karena aku sudah kembali, maka posisiku di perusahaan dan di rumah ini harus dikembalikan. Dan Rania... dia tetap istriku. Kalau dia ingin tetap tinggal di rumah mewah ini, dia harus melayaniku sebagai suaminya. Aku tidak peduli dia mengadopsi anak-anak itu, mereka bisa jadi pelayan Bagas nanti."

Brak!

Adam memukul meja di sampingnya hingga vas bunga kecil di atasnya bergetar. "Jaga bicaramu, Arman! Kamu tidak punya hak untuk mengatur siapa pun di rumah ini setelah kamu menghilang tanpa kabar selama lima tahun!"

"Oh, benarkah? Aku punya hak secara hukum, Kak," Arman membalas dengan suara tinggi. "Dan satu lagi... Ibu bilang kalian sering terlihat akrab. Aku harap itu hanya sebatas rasa kasihan seorang kakak ipar. Karena jika aku tahu ada sesuatu yang lebih di antara kalian..." Arman menggantung kalimatnya, lalu tersenyum licik. "Aku akan memastikan skandal ini menghancurkan reputasi perusahaan yang selama ini Kakak bangun dengan susah payah."

Arman kemudian berbalik dan keluar dari kamar sambil bersiul, meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga.

Rania jatuh terduduk di lantai, tangisnya pecah. "Mas... apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa kembali padanya. Aku lebih baik mati daripada harus menjadi istrinya lagi."

Adam berlutut di depan istrinya, mendekap wajah Rania dengan kedua tangannya. "Dengarkan aku, Rania. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kamu istriku. Ibu dari anak-anakku. Tidak ada satu orang pun, termasuk Arman atau Ibu, yang bisa memisahkan kita."

"Tapi Ibu ingin kita berpura-pura," isak Rania. "Bagaimana jika dia menyentuhku? Bagaimana jika dia menyakiti Dava dan Diva?"

Adam menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dingin. "Ibu dengar itu? Itu adalah ketakutan istri ku. Jika Ibu tetap memaksa kami melakukan sandiwara konyol ini, aku tidak akan ragu untuk membawa Rania dan anak-anak keluar dari rumah ini sekarang juga. Dan aku pastikan, Ibu tidak akan pernah melihat Dava dan Diva lagi."

Bu Sofia terperangah. "Adam! Kamu tega mengancam Ibu demi wanita ini?"

"Dia bukan sekadar 'wanita ini', Bu. Dia adalah istriku Nyonya Adam Pratama," tegas Adam. "Jika Ibu ingin Arman tinggal di sini, silakan. Tapi jangan pernah berani meminta kami menyembunyikan kebenaran. Jika Arman ingin tahu, biar dia tahu sekarang juga bahwa wanita yang dia hina adalah istri dari pria yang selama ini menanggung hidupnya."

"Jangan, Adam. Ibu mohon... "

Adam mengepalkan tangannya, kenapa ibunya membuat semua menjadi rumit.

Malam itu, kediaman Pratama yang biasanya tenang berubah menjadi medan perang dingin. Di meja makan, suasananya begitu mencekam. Arman terus-menerus memamerkan kemesraannya dengan Jenny, sambil sesekali melemparkan komentar pedas pada Rania.

Dava dan Diva yang duduk di samping Adam tampak bingung. Mereka merasakan tidak nyaman dengan kehadiran orang asing di rumah mereka.

"Papa, kenapa Om itu bicara terus? Dava tidak suka," bisik Dava cukup keras hingga terdengar ke seluruh meja.

Arman menghentikan makannya. Ia menatap Dava dengan tajam. "Siapa yang kamu panggil Papa, bocah?"

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Rania langsung mendekap Dava dalam pelukannya. Adam perlahan meletakkan sendoknya, ia menatap lurus ke arah Arman.

"Dia memanggilku Papa, Arman," ucap Adam dengan suara yang sangat tenang. "Karena mereka sudah aku rawat sejak bayi hingga sampai saat ini. Jadi wajar jika mereka memanggilku papa dan Rania Mama."

1
Kukun Sabarno
apa yang ditakutkan bu sofia menjadi tidak tegas?
Kukun Sabarno
adam atau arman yang bukan anak kandung. seolah ada yang ditutupi ibu sofia
Ayunda
ibu yg gila
Ayunda
mertuanya kok jahat sich
ayu cantik
suka
Marina Tarigan
lanjut menyimpulkan sesuatu Rania dari dulu kamu diam sehingga mertuamu yg konyol itu bertindak sesuka hati
Marina Tarigan
lanjut aku tertswamelihat ibu dirhaka ini demi nama baik dia menghancurkan anaknya dendiri Raina sdh sakit hati padamu ibu
Marina Tarigan
suka hati ya jenny kRena kebenaran ttp disemnunyikan mudah 2 an Rania diperkosa Arman fgn brutal baru taji rasa
Marina Tarigan
ibu ini kok terus sembunyikan kebenaran Raina sdh cerai menurut agama haha ini cerita dong dixunia nyata tak ada itu penulis obrak abrik perasaan pembaca yg tolol semua
Marina Tarigan
jgn takut Rania sesydah 3 bla pernikahanmu sdh selesai dlm segala hal tak ada urusan apapun dgn Arman lawan terus kalau dia berbuat kurang ajar laporkan pd suamimu
Marina Tarigan
semoga Arnan dan Adam saling membunuh dua2 meninggal supaya ibunya sangat puas ibumu itu perlu di rukiah zAdam dia ibu gila kamu disakiti ibumu atau kamu anak angkat
Marina Tarigan
pergi bawa anak istrimu Adam ibumu sm Arman sdh gila jgn nanti dia sakiti Rania dan anak2mu karena ibumu psikopat
Marina Tarigan
untung saja tepat waktu Adam datang menyelamatkan Rania dari kebiadapan Arman ibu biadap mereka awal malapetaka akan hadir dikeluargamu ibu biadap
Marina Tarigan
biarkan saja Rania apa salahnya jgn menyakiti dirimu sendirihari esok maggggĥ
Marina Tarigan
ibu sinting kaliber kakap tdk punya aturan dan adap egois kalau mertuaku begitu sdh sejak awal memaksa kehendak terus pasti nampan itu sdh kulempsrkan nampan itu ke mukanya jaga privasi orang ibu walaupun anak kita
Marina Tarigan
lanjut
Marina Tarigan
anaj yatim piatu selalu jadi korvan keserakahan orang2 berduit dunia ini tempat deraian air mata orNg lemah
Marina Tarigan
ibu yg sangat menghancurkan hati anaknya. Adam dan Rania nikah bisa rupanya tan tahu wajah orangnya pernikahan apa itu pernikahan monyet kalau si Arman covok meninggal saja karena tadi sebelum pergi dia sempat mengancam kasar dan melecehkan kasar Rania yg jadi korban disini
Marina Tarigan
kasihan zRania ditipu ibu mertua nikahnya seharusnya sm zAdam kok dinikajkan sm Arman semoga Arman meninggal pd kecelakaan itu dan kabur kamu Rania kamu akan menderita menikah dgn orang yg tdk mencintai kamu dam tdk kamu cintai
falea sezi
ibunya oom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!