KISAH TENTANG CINTA SEGITIGA, KEKUASAAN DAN ORGANISASI MAFIA
Rossalia anak yatim piatu yang hidup di Panti Asuhan Mutiara Hidup.
Rossalia bukan satu-satunya, masih ada Jordan serta anak-anak lain.
Suatu hari, Panti Asuhan Mutiara Hidup mengadakan acara di pantai untuk anak anak.
Jordan duduk membawa kayu panjang di tangannya, sesekali memperhatikan Rossalia yang sedang asyik bermain dengan ombak.
Wajahnya bersinar ketika tersenyum. Jordan begitu menyayangi Rosallia.
Kemudian sesuatu yang dahsyat terjadi,
Rossalia terseret ombak besar yang tiba tiba datang menerjang.
Dan inilah awal kisah Rossalia dimulai, tentang cinta segitiga, tentang rahasia keluarganya, dan pertarungan antar mafia.
Mampukah Jordan menemukan Rossalia dan mampukah mereka bersama kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 15 = MULAI CEMBURU?
Mansion Pearl
Luna tiba di Mansion, setelah pertemuannya dengan Mateen dia kembali ke Taman Patung mencari-cari pengawalnya dan bersyukur pengawal-pengawal itu masih menunggu di sekitar Taman Patung. Tak ada rasa curiga sama sekali di pikiran Luna.
Luna turun dari mobil dan menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamar dan menguncinya, kemudian meletakkan tas nya di atas meja, saat itu hembusan nafas seolah itu adalah kelegaan di dada Luna karena ia sedang menyembunyikan sesuatu dari Jordan dan semuanya lancar membaut Luna merasa tenang, meski masih sangat gugup, belum hilang rasa gugup Luna berbohong di belakang Jordan ketika berbalik dia terkejut melihat Jordan berdiri tepat di belakangnya.
"Tu-tuan sejak kapan anda disini, sa... saya tidak mendengar suara pintu." Luna ketakutan, bukankah Jordan ada dikantor namun mengapa tiba-tiba Jordan ada dikamarnya.
"Apa kau sudah membeli buku mu?"
"Bu..Buku? Ahh.. Ya ... Tapi buku yang saya cari tidak ada Tuan."
"Oh.. Kau baru 2 hari di negara K, sudah tahu Taman Patung dan ada toko buku di dekatnya, kau juga tidak memiliki ponsel untuk mengakses informasi apapun dari internet." Jordan berjalan mendekati Luna, dengan langkah pelan sedikit demi sedikit, sedang gadis itu ketakutan mundur menjauhi Jordan.
"Sa-saya... saya melihatnya di dalam Peta ketika saya bersekolah."
Jordan tersenyum sinis, dan mencengkram rahang Luna dengan tangan kanannya, tangan kirinya berada pada saku celananya, kemudian mendorong Luna hingga membentur dinding.
"BRRUUKKK!!!"
Luna merasakan rahangnya seperti akan patah, dia tidak bisa bernafas dan bergerak, kini dia mengerti kenapa Jordan mengijinkannya pergi, Jordan ingin melihat apa yang akan dia lakukan. Kedua tangan Luna mencengkram satu tangan Jordan yang sedang mencengkram rahangnya.
"Kau berani berbohong?! Katakan..!!!"
"Sa-saya hanya ingin berjalan-jalan Tuan..."
Jordan menarik lengan Luna dengan kasar, melemparkannya di ranjang, dan merob*k pakaian gadis itu, Luna berusaha menutupi badannya dengan kedua tangannya.
"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk berkata yang sebenarnya, kau masih ingin berbohong?!"
Jordan masih mengintimidasi Luna, dia berada di atas Luna, memegang kuat kedua tangan gadis itu, kedua lutut Jordan bertumpu di samping Luna, pandangan matanya kejam seakan ingin membunuh.
"Apa kau menikmati pelukan laki-laki itu !!!" Jordan berteriak keras hingga telinga Luna sakit.
"Bahkan kau biarkan dia menciummu !!!"
Luna terkejut kenapa Jordan bisa mengetahuinya.
"Maaf kan saya tuan..." Luna menangis, ada rasa bersalah, takut dan merasa hina.
Jordan mencium dengan paksa bibir Luna, Jordan juga membuat banyak tanda di leher Luna, seolah kemana pun Luna akan pergi, Jordan berharap orang tahu bahwa Luna adalah miliknya. Luna terlalu lemah dengan kekuatan Jordan, bahkan dia tidak bisa melepaskan diri.
Gadis itu hanya menangis menahan sakitnya ketika Jordan melakukan pemaksaan itu semua. Hampir saja Jordan kehilangan kendali dan memiliki pikiran untuk memperkossanya.
Namun Jordan dengan cepat bangkit, ia mundur dan berdiri lalu memukul kaca rias Luna dengan keras.
"PRRAANGGG!!!" Akhirnya Jordan melampiaskan emosinya dengan melukai diri nya sendiri. Hingga tangannya terluka penuh dengan darah.
"Kau...!!! Beraninya membohongiku dan membodohiku. Jangan harap kau bisa bebas dari ku. Akan ku bun*h kekasih mu itu." Jordan keluar dan membanting pintu kamar Luna hingga para pelayan yang sedang bekerja tersentak ketakutan.
"Jangan biarkan dia keluar dari kamarnya !!!"
"Baik tuan." Para pelayan menjawab bersamaan sembari membungkuk.
Di dalam kamar, Luna hanya bisa menangis, meringkukkan badannya, Sekujur tubuhnya terasa sakit dan ngilu, badannya penuh dengan tanda yang Jordan buat, bahkan penuh dengan gigitan Jordan. Dia mencoba menggapai sesuatu untuk menutupi tubuhnnya. Kini dia merasa lebih buruk daripada saat bersama dengan ibu tirinya. Dalam benak dan pikirannya dia harus keluar dari cengkraman Jordan. Dia harus mencari dokumen perjanjiannya yang asli.
Ruang baca
"Tuan saya sudah memanggil Dokter Imanuel." Paman Lee membersihkan tangan Jordan dari darah dan pecahan kaca.
"Suruh pelayan membersihkan pecahan kaca di kamar Luna, jangan sampai dia terkena pecahannya."
"Baik Tuan, sementara tangan Tuan akan saya bersihkan agar tidak infeksi dan menunggu hingga Dokter Imanuel tiba."
Jordan hanya diam dan membiarkan Paman Lee membersihkan luka itu.
*******
Paradise Luxury Mansion
Mateen meminum alkoholnya sedikit demi sedikit, dia berdiri di depan kaca besar dan memandangi malam yang tak berbintang.
"Sejak kapan kau mulai minum alkohol lagi?" Amber datang membawa berkas-berkas dokumen yang harus Mateen tanda tangani.
"Sejak tadi..." Mateen meneguk segelas kemudian mengambil botol ingin menuangnya lagi.
Amber menahan tangan Mateen.
"Sudah cukup... Lupakan gadis itu, ayo kita kembali ke Eropa. Aku mohon..."
"Tidak bisa, sudah terlalu dalam gadis itu masuk dalam diriku. Sejak pertama bertemu aku sudah mencoba menghalangi perasaan ini, namun aku sendiri tak sanggup."
Amber memeluk Mateen dari belakang.
"Aku adalah Kakakmu, aku memerintahkanmu untuk melupakan gadis itu."
Mateen melepaskan tangan Amber dan dia duduk di sofa.
"Percayalah ini akan semakin sulit bagi mu. Mari kita kembali ke Eropa, lupakan semua yang ada di sini." Amber kembali menegaskan dan mencoba membujuk Mateen.
Mateen memeriksa dokumen yang harus dia tanda tangani.
kemudian dia ingat dokumen yang Luna berikan padanya. Dia membaca nya dengan serius. Mencoba mencari celah dari setiap pasal-pasalnya.
"Apa kau sudah mendapatkan informasi dimana gadis kecil yang Jordan cari?"
"Hampir... Aku masih memastikan kebenarannya lebih dulu." Amber masih merasa tidak yakin.
"Apa kemampuanmu menurun? Kau tidak pernah sekalipun ragu dalam pekerjaan mencari informasi." Mateen merasa tidak sabar, dia ingin dengan cepat membebaskan Luna dari cengkraman Jordan.
"Sabarlah, aku hanya ingin memastikannya lebih dulu. Untuk semua kebahagiaanmu aku akan lakukan."
Mateen berdiri dan memeluk Amber.
"Maafkan aku, menyeretmu dalam permasalahanku."
"Heiii.. kau adalah adikku bukan. Kenapa kau sekarang menjadi sungkan."
Amber dan Mateen tertawa bersamaan.
Mansion Pearl
Jordan masuk ke dalam kamar Luna. Gadis itu sudah mandi dengan bantuan para pelayan, kamar nya sudah bersih. Matanya terlihat sembab dan lelah. Jordan menyeka pipi Luna, membelai lembut kepalanya.
Tangan Jordan yang terluka sudah selesai dibalut dan di periksa oleh Dokter Imanuel.
"Apakah benar aku jatuh cinta dengan mainanku sendiri? ku pikir akan sangat menyenangkan dan hidupku menjadi lebih semangat jika aku memelihara gadis bodoh ini untuk bersenang-senang.. Jika yang dikatakan Dokter sialan itu benar, pasti aku sudah mulai gila. Aku hanya mencintai Rossalia. Hanya Rossalia yang ada dalam hatiku."
Jordan mengatakan dengan lirih dan pelan.
"Apa kau bodoh? Aku sudah bilang padamu jangan sampai di sentuh pria manapun. Aku tak bisa mengontrol amarahku, tapi denganmu, melihatmu menangis tak berdaya, aku merasa menjadi binatang buas yang sedang ingin memakan kelinci kecil yang ketakutan."
Jordan melihat kedua pergelangan tangan Luna mulai terlihat membiru, pertanda cengkraman Jordan sangat kuat.
Jordan mengambil salep dan mengoleskannya. Luna terbangun, dengan cepat dia merubah posisi dari tidur menjadi duduk dan menepi, dia menarik tangannya kemudian memeluk kakinya.
"Ampun Tuan... Saya tidak akan melanggar aturan Tuan lagi..." Luna menggigil ketakutan dan menangis seraya memohon ampun.
Jordan mendekat dan memeluk Luna, membelai kepalanya.
"Jangan membuatku marah. Aku paling tidak suka kau berdekatan dengan pria manapun. Kau adalah milikku." Jordan mencium lembut kepala Luna.
Luna merasa bingung dan bimbang, kenapa Jordan berubah menjadi lembut. Luna merasa ada yang aneh pada kepribadian Jordan, apakah Jordan memiliki kepribadian ganda, ataukah Jordan memiliki perasaan padanya, apakah itu yang dinamakan cemburu? Luna terus bertanya-tanya dalam benaknya, pada akhirnya Luna sadar dan mengerti mungkin karena ia adalah mainan baru Jordan, mainannya yang tidak boleh di pegang orang lain? Seolah-olah dia adalah anak kecil yang punya mainan baru dan orang lain tidak boleh menyentuhnya.
Luna tidak bisa menemukan jawabannya, hingga Luna merasa lelah, dia tertidur di pelukan Jordan. Belaian Jordan sangat lembut hingga tanpa sadar Luna yang lelah dengan semua perasaan yang berkecamuk dalam dirinya mengantarkannya pada tidur yang lelap.
Besambung