Codename: Claw, adalah seorang Agent Assassin wanita muda yang berasal dari Asia Tenggara. kemampuan dan kekuatannya jauh diatas rata-rata Agent Assassin lain. walaupun ia bekerja sebagai Assassin, bukan berarti dia adalah seseorang yang jahat. ia bergabung kesebuah Organisasi Rahasia berskala dunia bernama "Balance Keeper", sebuah organisasi yang mementingkan dan menjaga keseimbangan dunia. namun itulah yang menjadi masalah, karena organisasi mereka ada sebuah Organisasi Rahasia lainnya yang ingin menghancurkan Balance Keeper. Mereka meneror anggota Balance Keeper lain dan terus-menerus merusak keseimbangan dunia. dan Claw sebagai Agent Assassin dari Balance Keeper, ingin mengungkap dan menghancurkan mereka. karena salah satu tujuan Claw, adalah membalaskan dendam Ayahnya yang telah dibunuh oleh mereka
ini adalah sebuah Light Novel atau Novel Ringan, yang semuanya spontan dari kepala saya. jadi mohon bantuannya ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMiYA1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 14: Classmate Reunion Part 1
seminggu telah berlalu setelah Maria tidak sengaja bertemu dengan seniornya saat ia dan muridnya sedang berbelanja. sekarang Maria kini telah mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Indonesia, dengan Jet pribadinya
"haaah... Indonesia, sudah 6 tahun huh? disini masih tetap saja panas, dan udaranya pun juga masih kotor" ucap Maria sebari menghela nafas dan meregangkan tubuhnya
Maria memakai pakaian yang sering ia pakai untuk berpergian, yaitu celana jeans ketat, kaos berwarna putih dan juga jaket kulit. namun jaket kulit yang ia pakai sekarang lebih tipis dari pada yang sebelumnya. lalu rambutnya juga diikat seperti biasanya
sebari Maria menuruni tangga untuk turun dari Jet pribadinya, ia melihat waktu menggunakan jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya. saat melihat jam tangannya, jam tersebut menunjukan pukul 7 malam.
"jam 7, seharusnya mereka telah berkumpul dan makan-makan" gumam Maria
tidak lama setelah itu, Maria telah berada di luar Bandara. dan di Zona Penjemputan, Sebastian telah menunggu disamping sebuah mobil sedan berwarna hitam. Maria yang melihat itu, langsung menghampiri Sebastian. lalu Sebastian pun membukakan pintu penumpang belakang mobil untuk Maria
"Toyota Camry, kau sengaja huh?" tanya Maria dengan senyum menyeringai
"hohoho... saya tidak mengerti apa yang anda maksud, Nona Maria" jawab Sebastian yang tertawa dan tersenyum
mendengar jawaban Sebastian, Maria hanya tertawa kecil sebari menggelengkan kepalanya. lalu Maria masuk ke dalam mobil melalui pintu mobil yang sudah Sebastian buka. setelah itu Sebastian menutup pintu mobilnya dan langsung masuk ke kursi kemudi
"bagaimana dengan lokasinya, nona?" Sebastian bertanya sebari menyalakan mobil
"aku akan mengirimkan lokasinya ke HP mu yang terhubung ke navigasi mobil" ucap Maria sebari mengeluarkan HP nya
setelah beberapa saat, akhirnya terdengar suara notifikasi ke hp milik Sebastian yang terhubung ke Navigasi Mobil. setelah Sebastian mengetahui tujuan lokasinya, ia langsung menjalankan mobil ke tempat tujuan
"hanya ada 1 tempat yang digunakan untuk reuni oleh alumni sekolah ku. alasannya karena tempat itu cukup lengkap. ada kafe, restoran, dan juga mereka menyediakan tempat khusus untuk orang yang memesan sebuah prasmanan" ucap Maria sebari melihat keluar mobil melalui jendela mobil
"jadi begitu, seperti sebuah tradisi?" tanya Sebastian sebari fokus menyetir mobil
"yaa kau bisa bilang begitu" jawab Maria dengan singkat
setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat yang Maria maksud. saat mobilnya memasuki tempat parkir, Maria melihat banyak motor yang terparkir berdekatan. melihat itu, Maria menyimpulkan kalau motor-motor tersebut adalah motor dari teman sekelasnya
saat Sebastian memarkirkan Mobilnya, ia sengaja memarkirkannya didekat tembok kaca depan bangunan yang dipakai untuk reuni teman sekelasnya Maria. setelah Sebastian mematikan mobilnya ia langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Maria
setelah pintu mobilnya dibukakan oleh Sebastian, Maria pun langsung keluar dari mobil, lalu Sebastian menutup pintunya. setelah itu Maria menunggu Sebastian yang berjalan ke bagasi mobil untuk mengambil sesuatu
tidak lama setelah itu, Sebastian membawa 2 kotak kardus yang ditumpuk. kotak kardus tersebut adalah kotak kardus yang berisi Soju, minuman beralkohol dari Korea
melihat itu, Maria pun langsung memimpin jalan menuju bangunan yang dipakai untuk restoran prasmanan. saat Maria memasuki bangunan, ia langsung melihat sekitar. dan dalam hitungan detik, Maria telah mengetahui semua teman sekelasnya. ada beberapa wajah yang tidak ia kenal, dan kemungkinan itu adalah teman atau kekasih yang diajak
setelah itu, Maria langsung mengalihkan perhatiannya kepada beberapa laki-laki yang berkumpul di meja didekat tembok kaca. mereka adalah teman sekelas Maria, namun mereka terlihat lupa dengan Maria
"lu berdua, bantu bagiin ini. 1 meja 1 atau 2 botol" ucap Maria sebari menunjuk 2 pria dan juga kotak kardus yang dibawa Sebastian
"Weh, itu beneran Soju?" tanya salah satu laki-laki kepada temannya
Sebastian yang mengerti sedikit tentang bahasa Indonesia, langsung menggoyangkan kotak kardus yang ia bawa. saat digoyangkan, isi dari kotak tersebut menghasilkan suara seperti botol-botol yang bertabrakan
kedua laki-laki tersebut langsung mengambil kotak dari tangan Sebastian tanpa protes setelah mendengar suara tersebut
"kayak kenal, tapi siapa?" tanya salah satu laki-laki yang membawa kotak kardus tersebut
"kalo itu rahasia, soalnya ini suprise" jawab Maria dengan senyum menyeringai
dengan begitu, kedua laki-laki tersebut membagikan botol-botol Soju tersebut ke meja teman-temannya. sementara itu, Maria menemukan meja yang dipakai oleh seniornya, Angga dan berjalan kesana
Angga terlihat asyik berbincang-bincang dengan teman-temannya dan belum menyadari kehadiran Maria. lalu di samping angga terlihat seorang perempuan cantik dan juga anggun. perut perempuan terlihat membuncit karena hamil
"yoo... mas Angga. tolong bicaranya jangan keras-keras" ucap Maria kepada Angga setelah sampai di mejanya, sambil meletakkan jari telunjuknya di tengah bibirnya sebagai isyarat untuk tidak berisik
"Weh, dek Maria.. akhirnya kamu dateng juga. perjalan dari bandara nggak macet?" tanya Angga
"untungnya nggak sih mas" jawab Maria
teman-teman dari Angga pun menoleh kearah Maria dan langsung terpukau karena kecantikannya
"ini adek kelas lu yang lu bilang kena bullying itu ngga? gila, cantik banget" tanya salah satu teman dari Angga
"iya, ini Maria. oh iya, kenalin dek, ini istri mas" ucap Angga sebari merangkul pundak perempuan yang hamil di sebelahnya
"Ayunda, salam kenal" ucap Ayunda kepada Maria dengan tersenyum
"Maria, salam kenal juga" ucap Maria kepada Ayunda dengan tersenyum juga
setelah itu Maria berjalan mendekati Ayunda, lalu ia merendahkan tubuhnya agar tingginya sama dengan Ayunda yang sedang duduk. Maria tersenyum lembut sebari melihat perut hamil Ayunda
"ini anak pertama atau anak kedua? udah berapa bulan juga?" tanya Maria sebari mengelus dengan lembut Perut Ayunda
"ini anak kedua, dan ini udah bulan ke lima" jawab Ayunda sebari ikut mengelus perutnya
setelah itu Maria berdiri lagi dan membisikan sesuatu kepada Sebastian yang berdiri disampingnya. lalu setelah mendengarnya, ia pun mengangguk dan berjalan ke mobil
"itu siapa dek? pakaiannya rapi begitu?" tanya Angga setelah melihat Sebastian yang pergi
"ohh.. Sebastian? dia Butler/pembantu pribadi Maria. dulu kerjanya sama bapak, tapi setelah bapak nggak ada sekarang sama Maria" jawab Maria
"ohh gitu toh" ucap Angga dengan singkat sebari menganggukkan kepalanya
tidak lama kemudian, Sebastian kembali kepada Maria dengan sebotol wine yang masih tersegel ditangannya. setelah itu Sebastian memberikannya kepada kepada Angga dengan sopan
"itu hadiah dari Maria, sebagai ucapan selamat buat pernikahan sama kehamilan istri mas yang kedua" ucap Maria
"aduh dek, ini beneran? ini kelihatan mahal banget loh" tanya Angga yang terlihat agak panik dan kaget sebari menerima botol wine nya
"ini harganya nggak seberapa, dibandingkan sama mas Angga yang dulu pernah bantu Maria" jawab Maria dengan tersenyum
"yaudah ya mas Angga, Maria ke sana dulu. tau lah mau ngapain" ucap Maria sebari pergi meninggalkan meja Angga, diikuti dengan Sebastian dibelakang
"jangan kasih ampun dek" ucap Angga yang langsung menyadari apa yang Maria maksud
setelah itu Maria berjalan menuju meja yang terdapat 2 perempuan dan juga 2 pria yang memakai jaket yang mempunyai simbol yang sama di bagian belakang. dan saat Maria sampai dibelakang kedua perempuan tersebut, Maria langsung merangkul keduanya dengan erat
"Halo-Halo!! lama nggak ketemu!!" ucap Maria dengan agak keras
kedua perempuan tersebut kaget dan juga bingung karena tiba-tiba dirangkul dari belakang oleh seseorang yang tidak mereka kenal
"elu siapa sih! sok kenal banget! emangnya kita pernah ketemu?!" ucap salah satu perempuan yang dirangkul Maria dan mencoba melepas rangkulannya, namun tidak bisa karena Maria terlalu kuat
"iya! lu siapa dah, perasaan kita nggak pernah ketemu sama lu" ucap perempuan yang satunya
mendengar itu, Maria berjalan ke dekat meja yang dimana Sebastian telah menyiapkan kursi untuk Maria
"yaelah, masa lupa sih sama gua" ucap Maria sebari duduk di kursi yang telah disiapkan oleh Sebastian
"padahal dulu kita sering main bareng di SMA. buku catatan gua lu bakar, nyiram air bekas pel, nge-jegal kaki gua hingga jatuh sampe hidung gua berdarah. masa lu berdua lupa" ucap Maria sebari menyilangkan kakinya
kedua perempuan tersebut adalah Bella dan Rani. mereka berdua lah, yang telah mem-bully Maria saat di SMA. dan alasannya mereka melakukannya, karena mereka iri akan wajah cantik Maria
"bentar... keknya cuma ada satu orang yang pernah kita gituin" ucap Bella dengan melirik kearah Rani
"lu Maria? Yaelah, kita kira lu nggak pernah balik lagi kesini" Ucap Rani dengan nada mengejek
"lagian lu pergi kemana? takut ketemu kita pas di kampus?" tanya Bella dengan nada mengejek juga
mendengar itu, Maria tertawa dan menggelengkan kepala. namun itu hanya membuat Bella dan Rani merasa kesal
"kemana lagi, ya cari kerja di luar negeri lah. mumpung punya koneksi" jawab Maria dengan nada percaya diri
"huh! kerja apaan. palingan lu nyari Sugar Daddy, iya nggak ran?" ucap Bella sebari melirik kearah Rani
"iya lah, paling ini pelayan juga dari si Sugar Daddy nya" ucap Rani yang tertawa sebari menunjuk kearah Sebastian
sekali lagi, Maria tertawa mendengar apa yang mereka katakan sebari melirik kearah Sebastian yang tidak ada respon sama sekali
"yaelah itu kalian berdua kali. gua bisa tebak tuh, kalian berdua pasti ngelakuin sesuatu sama dosen buat lulus skripsi" ucap Maria sambil berdiri dan membuka botol Soju yang berada di meja
"bilang apa lu tadi?! baru pulang dari luar negeri, udah berani lu ya" ucap Bella dengan marah
"oh no, you know me very well. I'm always brave" ucap Maria
dengan begitu, Maria menuangkan isi botol Soju tersebut ke kepala Bella dan juga Rani. Bella dan Rani terlihat kaget dan tidak percaya apa yang Maria lakukan. setelah itu kedua pria yang bersama Bella dan Rani, langsung berdiri setelah melihat itu dan hendak melakukan sesuatu kepada Maria
"woi! keterlaluan lu ya!" teriak salah satu pria tersebut
namun sebelum itu terjadi, Sebastian langsung menahan mereka berdua dengan gampangnya
"tolong jangan ikut campur, urusan nona" ucap Sebastian dengan bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar
"brengsek lu, Maria!" teriak Bella
Bella berdiri dari tempat duduknya, dan hendak menarik tangan Maria. namun dengan cepat Maria memukul dengan keras muka Bella sampai hidungnya patah dan membuat Bella terjatuh ke lantai. Rani yang melihat itu, langsung mengambil garpu di meja dan mencoba menusuk Maria
sebelum Rani menusuk Maria, Maria memukul Rani dengan bagian belakang tangannya dengan keras yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran. lalu disusul dengan serangan dengkul ke wajah Rani dan membuatnya terjatuh ke lantai
"fiuh... akhirnya lega juga" gumam Maria
"maaf ya buat keributannya!! sebagai gantinya, gua bakal bayar buat prasmanan nya. jadi makan aja sesuka kalian!!" teriak Maria agar terdengar oleh semua yang berada disitu
Sebastian yang dari tadi menahan kedua pria tadi, langsung memukul dengan keras perut mereka. dan membuatnya terkapar kesakitan
"itu gak papa dibiarin?" tanya Ayunda ke Suaminya Angga
"biarin aja, cewek kayak mereka harus dapet karma nya" jawab Angga
beberapa menit kemudian, setelah Maria memberikan kartu rekening kepada staff restoran yang berjaga di prasmanan, ia dan juga Sebastian berjalan ke pintu keluar
"mas Angga, Maria nggak bisa lama-lama. jadi Maria pergi duluan" ucap Maria agak keras kepada Angga
"iya dek! hati-hati di jalan!" jawab Angga
dengan begitu Maria dan juga Sebastian, kembali ke mobil mereka. sesampainya didalam mobil, Maria tertawa terbahak-bahak
"ahahaha.... rasanya lega banget. aduh perutku" ucap Maria yang mencoba mengatur nafasnya
"nona, apa kita langsung kembali ke bandara?" tanya Sebastian
"haaah.... tidak, aku ingin melihat rumah ku dulu sebentar" jawab Maria
mendengar itu, Sebastian langsung menyalakan mobil dan menjalankannya menuju rumah asli milik Maria dan juga orang tuanya
beberapa menit telah berlalu. dalam perjalan, mereka berdua sedang melewati jalan yang begitu sepi tanpa cctv dan hanya ada lampu jalan. lalu tiba-tiba sekelompok geng motor memblokir jalan tersebut menggunakan motor mereka
mau tidak mau, Sebastian harus menghentikan mobilnya. dan saat diteliti, geng motor tersebut memakai jaket yang mempunyai simbol yang sama seperti yang dipakai teman pria dari Bella dan juga Rani
"Woi! setelah ngelakuin itu, lu pikir bisa kabur gitu aja!!?" teriak salah satu dari mereka
dengan begitu, Maria dan juga Sebastian pun keluar dari mobil dan berdiri didepan mobilnya
"yaelah, masih ada toh, geng motor kek begini?" ucap Maria sebari menggelengkan kepala
dari gerombolan mereka, 2 pria dan juga perempuan maju kedepan. mereka adalah Bella, Rani dan juga 2 teman prianya yang dipukul oleh Sebastian tadi
"emang brengsek lu ya! gua pastiin lu bayar apa yang lu perbuat!!" teriak Bella
Maria hanya menghela nafas melihat itu. dan tangan Maria seperti meminta sesuatu kepada Sebastian. Sebastian yang melihat itu pun langsung mengerti apa yang Maria maksud, lalu ia mengambil sesuatu dari dalam mobil
setelah itu, Sebastian kembali membawa sepasang sarung tangan dan memberikannya kepada Maria
"haah.. ini aja nggak cukup buat pemanasan" ucap Maria dengan nada malas sebari memasang sarung tangan yang diberikan Sebastian
"tapi cukup buat main-main!" ucap Maria lagi sebari tersenyum sinis yang terlihat cukup menakutkan