Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Dicurigai
Jam 16:00 Mang Koyod pulang dari rumah Pak Haji. Sebelum pulang Pak Haji sempat berbisik kepada Mang Koyod agar sebisa mungkin mengungsikan Kosim dan Yani ke tempat yang lebih aman.
Pak Haji dan Mang Koyod berbicara di dapur saat Bu Haji sedang masuk ke kamar Deni untuk mengingatkan minum obat.
Kesempatan itu digunakan oleh Pak Haji untuk menyampaikan amanat kepada Mang Koyod tentang rencana Amih Iah yang katanya akan mendatangi emaknya Kosim dan kemungkinan ke rumah Mang Koyod menemui Bi Icih.
"Hati-hati aja Mang Koyod, bilang apa yang terjadi di sini kepada Kosim dan Yani serta si Bi Icih," amanat Pa Haji Soleh.
"Siap Pak," timpal Mang Koyod.
Tiba-tiba Bu Haji keluar dari kamar Deni dan melihat Pak Haji serta Koyod berbicara berbisik-bisik si dapur.
"Ehem!" Bu Haji berdehem membuat Pak Haji dan Mang Koyod terkejut seketika.
"Kenapa bicaranya bisik-bisik? Yang keras dong biar yang lain dengar atau emang ada yang dirahasiakan?" tanya Bu Haji Amih dengan mata jelalatan kepada Pa Haji dan Mang Koyod.
"Masak harus berteriak-teriak, wong cuma jelasin tugas-tugas yang harus dilaksanakan Mang Koyod besok hari," kilah Pak Haji.
"Tugas besok hari mengapa harus dibicarakan sekarang? Besok hari juga kan bisa?" kilah Amih tetap pada pendiriannya bahwa di antara suami dan ART-nya itu ada hal yang dirahasiakan.
"Namanya orang terkadang lupa, baik aku maupun Mang Koyod, makanya dijelaskan sekarang," kata Pak Haji lagi tak kehilangan akal untuk melawan omongan istrinya demi membela anak dan menantunya yang selama ini dizalimi oleh sang istri.
"Ya okelah untuk sekarang aku percaya. Namun jika di kemudian hari ada apa-apa, jangan menyesal saja," ujar Bu Haji yang juga tak kehabisan cara untuk menyudutkan sang suami bahkan sudah main ancam.
"Lho, lho, apa-apaan sih kamu Bu? Main ancam begitu sama suamimu?"
"Oh, jadi merasa diancam ya? Ini membuktikan ada rasa takut. Dan orang takkan punya rasa takut kalau tak bersalah, semoga kelak kesalahan itu terkuak!" tandas Bu Haji makin menjadi-jadi.
Lalu Bu Haji masuk kamar Deni lagi, tapi kemudian keluar lagi dan di tangannya ada gelas, tampaknya Bu Haji mengambil gelas bekas Deni meminum obat.
Melihat Mang Koyod berjalan akan pulang lewat pintu depan dan di punggungnya ada tas yang sepertinya berisi banyak bawaan, Amih segera menghentikan langkah Mang Koyod.
"Sebentar, Koyod! Apa isi kantongmu itu kelihatan berat sekali?"
"Bukan apa-apa, cuma nasi dan lauk pauk sedikit, kok," timpal Pak Haji.
"Yang ditanya Mang Koyod lagi-lagi yang menjawab kamu, Pak? Ada apa sih? Aku yakin jika kalian punya rahasia, awas saja kalau kelak rahasia itu ketahuan!" ancam Bu Haji.
Bu Haji makin tidak mengerti dengan sikap suaminya yang seperti ada maksud-maksud tertentu setelah Yani dan Kosim tidak ada lagi di rumah. Pak Haji dicurigai oleh Bu Haji mengetahui keberadaan Kosim dan Yani.
Mujur Amih tak sampai membuka isi tas yang dibawa Mang Koyod. Dia pun lalu pergi dari hadapan Pak Haji dan Bu Haji yang tampak masih salingbersitegang itu.
Mang Koyod selamat sampai ke teras depan rumah lalu membuka kunci sepedanya, dan langsung menggowesnya untuk pulang ke rumahnya di Kampung Dadap, Desa Sukasari.
Jelang magrib Mang Koyod baru tiba di rumahnya. Dia pun langsung memasukkan sepeda kesayangannya lewat pintu dapur karena di sanalah tempat menyimpan sepedanya.
Kebetulan Bi Icih sedang berada di dapur dan pintu dapur masih terkuak, Mang Koyod pun tak perlu lagi mengetuk pintu dapur.
Setelah sepeda terparkir di tempatnya, Mang Koyod menyerahkan tas kepada Bi Icih.
"Berat. Kang? Apa isinya?"
"Entah bawa aja dulu, Mamang mau ke air."
"Iya, iya, iya," timpal Bi Icih.
"Di mana Den Kosim dan Jeng Yini?" tanya Mang Koyod ingin segera memastikan anak majikannya itu dalam keadaan baik-baik aja.
"Dari pagi hingga kini masih bercengkerama di dalam kamar."
"Hah?"
"Iya, bahkan tadi Bibi dengar ranjangnya berderit-derit lagi seperti malam tadi hingga Mamang tergoda dan ngajakin Bibi gituan," celoteh Bi Icih tak malu-malu.
"Ya sudah, aku mau ke air. Entar kita pun main lagi. Siap-siap saja servis istimewanya!" ujar Mang Koyod tak kalah romantis membalas omongan sang istri.
"Plak!" sebuah pukulan mendarat di bahu Mang Koyod.
"Enggak usah, ye," timpal Bi Icih.
Padahal dalam hatinya bersorak sorai kembali saking gembira bakal mendapat sentuhan-sentuhan romantis dari sang suami layaknya yang tengah dilakukan oleh Den Kosim dan Jeng Yani.
Padahal sebelumnya Mang Koyod tak peduli kepada dirinya sejak diberhentikan bekerja oleh Amih Iah. Tidur pun terkadang berpisah karena Mang Koyod selalu tampak gelisah.
Ya, Bi Icih memaklumi perubahan sikap sang suami seperti itu. Seorang suami bakal terpukul jika kehilangan mata pencaharian sehingga berpengaruh kepada jiwanya termasuk hasrat berahi.
Bi Icih pun merasakan jika risiko dapur berkurang, sangat mengganggu pikiran dan jiwanya.
Apalagi Mang Koyod dan Bi Icih sudah punya anak perempuan, si Fitri 15 tahun, kelas 9 SMP yang tinggal bersama kakek dan neneknya yang tak jauh dari rumah Mang Koyod dan Bi Icih.
Oleh kakek dan neneknya si Fitri memang sangat dimanja. Sejak lahir kakek dan neneknya sangat menyayangi Fitri, bahkan ketika sudah sekolah kakek dan neneknya menyuruh Fitri tinggal bersamanya, seolah tak mau berpisah sedikit pun.
Benar kata orang bahwa jika telah mempunyai cucu, maka orang itu akan lebih sayang kepada sang cucu daripada kepada anaknya sendiri. Apalagi cucu satu-satunya.
Namun kini Mang Koyod berubah riang lagi setelah kembali diajak bekerja di Pak Haji dan semoga untuk seterusnya sehingga baik kehidupan ekonomi maupun jiwanya stabil bahkan selalu bahagia sehingga berpengaruh pula dalam kehidupan rumah tangganya yang harmonis.
Itulah sebabnya, Bi Icih yang belum tua, masih di bawah empat puluh tahun dan Mang Koyod sendiri empat puluh tahunan, hasrat berahinya masih normal-normal saja, tak ada alasan untuk menolak ajakan suami dengan 'servis' yang memuaskan.
Selepas magrib Bi Icih mengajak Kosim dan Yani makan bersama di
tengah rumah. Kosim dan Yani menyambut dengan bahagia bukan hanya ingin segera mengisi perut, melainkan ingin mendengar kabar dari Mang Koyod tentang situasi terkini di rumah Pak Haji dan Bu Haji.
Karena masing-masing merasakan perut lapar, saat menyantap makanan mereka tak banyak bercakap-cakap.
Apalagi hidangan makanan terbilang istmewa, di antaranya ada goreng daging ayam bawa Mang Koyod dari rumah Pak Haji yang lolos 'pemeriksaan' Amih.
Ya, kalau tadi Amih membuka tas Mang Koyod dan ditemukan banyak makanan istimewa, entah bagaimana jadinya.
Selesai makan, Yani segera membantu membereskan piring bekas makan semuanya. Keruan saja Bi Icih melarangnya.
"Udah Jeng, jangan beresin piring biar sama Bibi aja. Ayo ke sinikan," kata Bi Icih.
"Enggak apa-apa Bi. Biar aku yang bawa ke air sekalian dicuci," tukas Yani yang tak mau diperlakukan istimewa meski berdiam di rumah ART-nya.
Tanpa bisa dicegah, Yani pun membawa piring-piring bekas makanan semuanya, lalu dicuci tanpa perasaan tak dihargai oleh ART-nya karena justru dia merasakan kebahagiaan yang tiada tara bisa lepas dari ancaman ibunya.
Sementara Mang Koyod, Kosim, dan Bi Icih masih berada di ruang tengah. Mang Koyod menarik napas dalam-dalam memikirkan apa yang akan disampaikanya terutama kepada Kosim dan Yani tentang apa yang terjadi di rumah majikannya.
"Bagaimana keadaan di sana Mang?" Kosim mengawali pembicaraan karena melihat istrinya pun sudah duduk di sampingnya.
Ditanya begitu Mang Koyod tak segera menjawab. Seolah dia bingung harus menceritakan apa dulu tentang yang terjadi di rumah majikannya sekarang ini.
"Gawat!" ujar Mang Koyod akhirnya menjawab pertanyaan Kosim.
(Bersambung)