Bukan hanya tentang cinta. Tapi, tentang ikrar dari sebuah pernikahan itu sendiri. Mencintai, tapi tidak dicintai, rasa sakit yang bertubi-tubi. Yang pada akhirnya memilih pergi, setelah sebuah pengorbanan mewakili rasa cinta yang mendalam.
Dua kisah yang berbeda, tapi tujuannya sama. memperjuangkan pernikahan.
Aulya, nama yang simpel, tapi hidupnya penuh kesedihan. Menikah dengan Muhammad Zaen, laki-laki yang tidak mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Menyakitkan
Zaen mencari Aulya kesemua ruangan, terakhir Zaen pergi kearah musholla, dan ternyata yang di cari ada di dalam musholla.
Aulya duduk menghadap ke kiblat, matanya sudah sembab. Saat ini Arumi begitu sedih. Bukan karena dia tidak di jamah oleh Zaen. Tapi, karena dia tidak di hargai. Aulya sengaja menenangkan dirinya musholla, dengan pasrah karena tahu, tidak ada yang bisa merubah hati manusia kecuali sang pencipta.
Jam menunjukkan pukul 00.00 Aulya masih duduk bersimpuh, mengaji dengan suara pelan. Zaen yang mendengar suara Aulya, detak jantungnya seakan tak karuan. Karena suara Aulya sangat merdu sekali. Sehingga membuat Zaen merasa sangat berdosa.
" Ya Allah sungguh merdu suaranya, kenapa hamba semakin merasa berdosa kepadanya, Ya Allah."Batin Zaen.
"Assalamualaikum," sapa Zaen pelan.
Aulya yang tidak menyadari kedatangan Zaen, terkejut dengan suara Zaen.
"Waalaikumsalam. Mas,"
"Maaf, saya mengganggumu, saya hanya mau menjelaskan, yang menerima telepon tadi..." belum selesai Zaen bicara, Aulya langsung menjawabnya.
"Tidak apa-apa mas, siapa pun dia, saya tidak ada hak melarang Mas Zaen. Saya permisi dulu mas."
Aulya langsung pergi, tidak ingin banyak bicara, cukup diam, mungkin akan lebih baik. Zaen tahu Aulya menangis, mata sembabnya membuat Zaen tidak bisa dibohongi.
Zaen duduk dikursi, yang ada di depan kamar Aulya. Sambil memikirkan hal apa yang akan dilakukan Zaen kedepannya.
Akhirnya Zaen tertidur dengan pulas. tidak lagi menyadari dirinya tertidur dimana. Mungkin juga terlalu lelah memikirkannya.
Jam menunjukkan pukul 03.00, Aulya yang biasa keluar untuk mengambil air minun, terkejut melihat Zaen tertidur di kursi. Aulya merasa iba melihatnya. Meski secara nyata, Zaen selalu menyakiti Aulya. Segera Aulya, mengambilkan selimut untuk Zaen, kemudian menyelimutinya. Setelah itu langsung ke dapur untuk mengambil air.
Keesokan harinya. Sela bingung menghubungi Zaen. Berulang-ulang. Tapi, handphone Zaen tidak bisa dihubungi. Sampai-sampai merasa kesal dibuatnya.
"Kemana saja sih sayang. kenapa bikin aku cemas." Guman Sela, sambil mondar mandir.
Sela ingat Faizal, teman dekat Zaen. Akhirnya Sela menelpon Faizal. Tak lama kemudian sambunga telepon terhubung.
"Pagi Mas Faizal." sapa Sela.
"Pagi Sel, ada apa tumben pagi banget udah menghubungiku."
"Mas Zaen disitu gak?"
"Gak ada tuh, kenapa gak telepon langsung aja."
"Kalau aktif aku gak bakal meneleponmu Mas." Jawab Sela kesal.
"mungkin ada dirumahnya yang baru. Soalnya, kapan hari aku kesana,"
"Yakin, dia punya rumah baru. Kenapa aku tidak tahu,"
"Itu artinya dia lagi gak pengen kamu tahu, hehe," Ujar Faizal, sambil ledekin Sela.
"Udah ah, jangan ledekin aku terus. Cepat kasik tahu alamatnya."
"jalan Pecatu no 78. Cepat temui kekasih hatimu itu, hahaha,"
"Makasih Mas." tanpa menghiraukan Faizal lagi, Sela memutuskan panggilan.
Sela segera berganti baju. Dia ingin mencari rumah baru Zaen. Dengan perasaan kesal dan marah, karena tanpa sepengetahuannya Zarn punya rumah baru.
Disisi lain. Aulya sibuk memasak bersama Bik jumi, karena bik jumi datang tiap pagi, dan sore pulang kerumah. Bik Jumi membantunya menyiapkan semua, setelah siap bik jumi pergi ketaman untuk mengurus taman di belakang rumah besar itu.
Aulya segera membangunkan Zaen. Dengan pelan-pelan sekali. Karena takut Zaen marah.
"Mas. Sarapan, sudah siap." Panggil Aulya.
"Kamu tidak apa-apakan?" Tanya Zaen langsung duduk.
"Saya baik-baik saja mas." Jawab Aulya pelan.
"Maafkan saya,"
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, karena mas tidak salah." Jawab Aulya tersenyum.
"saya kekamar mandi dulu, nanti saya nyusul." ujar Zaen.
Aulya keruang makan terlebih dahulu, lalu di susul Zaen setelah dari kamar mandi.
Mereka sudah duduk. Aulya mengambilkan nasi kuning yang sudah di sediakan. Zaen, menyadari jika masakan Aulya sangatlah lezat.
"Mas. suka masakan Aulya."
"Iya. Terimakasih, sudah mau masak untuk saya."
"Ini sudah tugas saya Mas." Jawab Aulya
"Sebentar lagi saya pergi kerumah teman. Mungkin bermalam karena ada urusan pekerjaan."
"Iya Mas."
"Kalau kamu ingin jalan-jalan ajak Pak ode dan istrinya, Jangan pergi sendiri."
"Iya Mas."
Setelah selesai sarapan, Aulya membersihkan meja, dan meletakkan piring kotor ditempatnya. Sedangkan Zaen langsung kekamar, bersiap-siap untuk pergi.
Aulya merasa bahagia, meski tidak bisa seutuhnya menjadi seorang istri. tapi, diajak bicara oleh Zaen itu sesuatu yang membuat Aulya bahagia, merasa dekat dan dihargai.
Selesai mencuci piring, Aulya pergi keruang tamu. Duduk santai sambil melihat nama-nama cafe yang membutuhkan karyawan. Tiba-tiba, terdengar suara bel berbunyi. Segera Aulya menuju pintu, dan membukanya.
"Iya, cari siapa Mbak," mata Aulya sedikit terkejut melihat wanita **** cantik yang berdiri dihadapannya.
"Kamu siapa?" Tanya perempuan itu dengan sinis, yang tak lain adalah sela.
"Mbak, Cari siapa?" Tanya Aulya sopan.
"Aku tanya kamu siapa? dimana Mas Zaen?" dengan suara keras.
"Sebentar saya panggil Mas Zaen. Silahkan masuk dan duduk." Ujar Aulya sopan. Tapi, Aulya terkejut dengan kedatangan Sela. dari sikapnya sudah membuat curiga. Jika ada hubungan antar Sela dan Zaen.
"Tidak perlu. Tolong panggil Zaen. Bilang ada Sela." ujarnya ketus.
Aulya tidak banyak bicara lagi. dia langsung menuju kamar Zaen.
Tok tok tok. Pintu terbuka. Zaen sudah terlihat rapi, dengan kemeja Navi, dan celana jeans senada. terlihat sangat tampan sekali.
"Ada apa?" Tanya Zaen pelan.
"Mas, ada tamu bernama Sela."
Deg.. nama Sela, membuat Zaen terkejut. Dan bingung.
"Apa dia tanya kamu siapa?" Tanya Zaen cemas.
"Iya."
"Kamu jawab apa?" Tanya Zaen bingung.
"Saya tidak berani menjawab. Saya takut salah, silahkan Mas Zaen temui dulu."
Jawaban Aulya yang membuat Zaen merasa bersalah, untuk kesekian kalinya.
"Maafkan saya, sudah menyakiti perasaan kamu."
"Mas pergi temui wanita itu, katakan saja saya pembantu dirumah ini. Biar Mas Zaen tidak malu."
Aulya langsung pergi, menemui Bik Jumi di teras belakang.
"Bik, pernikahan apa ini," ujar Aulya sudah tidak mampu menahan air matanya.
Bik jumi bingung melihat Aulya yang tiba-tiba menangis.
"Ada apa Mbak, cerita sama Bibik." Bik Jumi cemas.
Tapi Aulya memilih tidak berbicara. dia terus menangis. Saat ini, Aulya butuh sosok ibu yang bisa mengerti akan kesedihannya. Baru saja tersenyum atas perlakuan baik Zaen. Tapi, dalam sekejab dihancurkan oleh kesedihan. Rasanya bagai pisau tajam yang menyayat tubuhnya. Sakit tapi, tidak berdarah,. Sakit yang luar biasa. Sakit yang mampu melumpuhkan semua syaraf-syarafnya. Dan membuat tidak berdaya.
Diruang tamu, Zaen duduk berdua dengan sela. Sela yang manja langsung memeluk Zaen.
"Sela,"
"Mas. Kenapa handphonemu tidak aktif, Siapa perempuan itu?" Tanya Sela, marah.
"Dia Adikku."
"Apaaa?" mata Sela membulat.
"Iya. Bener dia itu adik aku." Jawab Zaen.
"Kenapa baru kasik tahu, kalau Mas Zaen ad adiknya disini." sambil memeluk Zaen.
"Jaga sikap. Aku tidak mau adikku melaporkan aku sama Papa." Ujar Zaen.
"Oke, kalau gitu kita pergi dari sini."
Tanpa pamit, dia langsung pergi mengikuti sela. Entah sampai kapan Zaen bisa berlaku baik. Membuat Aulya semakin sesak saja.
ratapi penyesalanmu..
apalagi ketika kau liat perlakuan istri tersayangmu pada ibumu kau akan nyesel zaen telah mempertahankanya...
pergi yg jauh aulia biar zaen tau rasa..