Memperjuangkan cinta adalah sesuatu hal yang lumrah, terlebih lagi ketika kita memperjuangkan cinta istri kita sendiri yang tidak mencintai kita.
Hal itulah yang di alami Azriel yang sangat di benci oleh istrinya.
penasaran dengan ceritanya, yuk baca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adhilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Keesokkan harinya, Azriel masih melarang Febby pergi ke butik dengan alasan kesehatan Febby belum sepenuhnya pulih.
"Gak usah ngatur ngatur aku deh, urusin aja tuh perusahaan mu," bantah Febby yang di larang pergi ke butik oleh Azriel.
"Mungkin untuk hal yang lainnya aku gak akan ngatur hidup kamu, tapi untuk kesehatan kamu aku tetep akan mengatur kamu demi kebaikan tubuh kamu," balas Azriel.
"Cih, udah sana minggir, aku mau pergi." Febby menyuruh agar Azriel minggir dari depan pintu rumah mereka karena Azriel menghalangi jalan Febby yang hendak pergi.
"Aku tadi udah ngomong baik baik tapi kamu gak mau nurut, jadi jangan salahkan aku kalau aku memaksa kamu." Azriel langsung mengangkat tubuh Febby dan langsung membawanya kembali ke kamar mereka dengan Febby yang memberontak.
"Azriel lepasin aku, aku ingin pergi ke butik," berontak Febby sambil kakinya terus bergerak berharap Azriel akan melepaskan dirinya.
"Diam, kalau kamu gak diam kamu bisa jatuh," tegas Azriel membuat Febby langsung berpegangan pada leher Azriel karena dirinya sudah hampir jatuh.
"Good girl," puji Azriel karena Febby menuruti ucapannya.
Sampai di kamar Azriel langsung menurunkan Febby Dia atas ranjang dan dia langsung merengkuh tubuh Febby di bawahnya.
"Ka-kamu mau ngapain?" gagap Febby karena sekarang posisi mereka sangat intim.
"Menurut kamu?" balas Azriel dengan senyum devil nya.
"Gila, dia ganteng banget kalau dari dekat gini," batin Febby memuji ketampanan Azriel.
"Astaga, sadar Febby sadar, jangan sampai lu tergoda dengan ketampanannya, nanti yang ada dia bakal semakin gampang mengambil harta keluarga mu," lanjut Febby dalam hatinya.
"Aku harus bisa menahan diri, jangan sampai aku ceroboh," batin Azriel yang susah payah menahan dirinya agar tidak menerkam Febby.
"Kamu di rumah saja, percayakan butik kamu sama aku, aku akan memberikan yang terbaik buat butik kamu," ucap Azriel menatap mata Febby dalam.
"Tapi aku bosen di rumah terus," balas Febby tidak segarang tadi.
"Kamu bisa melakukan kegiatan lainnya di rumah, pokoknya yang tidak akan mengganggu kesehatan kamu," balas Azriel.
Cup.
Mata Febby melotot karena lagi lagi Azriel mencuri kecupan di keningnya.
"Aku berangkat kerja dulu, ingat jangan melakukan kegiatan yang bisa membuat kamu lelah dan jangan ngeyel pergi ke butik," pamit Azriel dan tanpa menunggu balasan dari Febby dia langsung berlalu keluar dari kamar.
"OMG, kenapa aku bisa kecolongan lagi sih," kesal Febby sambil mengusap keningnya berharap bekas kecupan Azriel hilang.
"Kalau gini caranya bisa bisa dia dengan cepat menguasai harta keluarga ku," lanjutnya yang merasa Azriel sekarang lebih leluasa mengatur hidupnya.
"Aku harus segera sembuh biar bisa segera kembali ke butik sebelum dia menguasai butikku juga sama seperti dia menguasai perusahaan papa," lanjutnya.
Febby bangun dari posisi tidurnya, dia langsung pergi menuju pintu kamar hendak keluar dari kamarnya, tapi dia merasa bingung karena pintu kamarnya malah tidak bisa di buka.
"Loh, kok...."
"Dasar Azriel si*lan, awas aja nanti kalau aku sudah sembuh aku akan beri perhitungan sama dia," maki Febby karena Azriel mengunci dirinya dalam kamar.
"Huh, gada kegiatan yang lain lagi deh selain membuat desain." Febby melangkahkan kakinya menuju meja kerjanya yang ada di dalam kamar tempat biasa dia bekerja ketika berada di rumah.
"Loh, kemaren buku sama pensil ku?" gumam Febby saat mencari keberadaan kerja gambar dan juga pensilnya tapi tidak ada.
"Jangan bilang kalau dia juga yang menyembunyikan bukuku," lanjutnya.
"Hufft, tidur lagi tidur lagi," dengus Febby melangkahkan kakinya menuju ranjang.
Tak ada pilihan lain selain tiduran sambil memainkan handphone miliknya.
...**...
Sementara itu, di lantai bawah Azriel berpesan agar bi Sumi tidak membiarkan Febby keluar kamar sampai nanti jam makan siang.
"Baik tuan, akan saya ingat pesan tuan Azriel," balas bi Sumi.
"Awas kalau sampai bibi kecolongan seperti kemarin, saya gak akan segan segan memotong gaji bibi," ancam Azriel.
"Ba-baik tuan," gagap bi Sumi.
Bukan bermaksud jahat, Azriel hanya tidak ingin kalau bi Sumi membiarkan Febby keluar dari rumah seperti kemaren, meskipun kemaren hanya berada dalam komplek saja tapi bisa jadi sekarang Febby akan keluar lebih jauh lagi karena kondisinya sudah semakin membaik.
"Ya sudah saya berangkat kerja dulu, assalamualaikum," pamit Azriel.
"Waalaikum salam," balas bi Sumi dan Azriel pun pergi keluar rumah.
"Hufft... untung saja tuan Azriel tidak memecatku kemaren,"lega bi Sumi dan kembali melakukan pekerjaannya di dapur.
Azriel pergi ke perusahaan mengendarai mobilnya sendiri karena tadi dia memerintahkan Riko untuk mewakili dirinya pergi bertemu klien.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan butik yang sudah kamu bangun hancur begitu saja," gumam Azriel yang mencium bau bau akan ada masalah di butik Febby.
"Sepertinya aku harus mencari tahu klien yang memesan gaun kemaren," lanjutnya mengingat ada satu klien yang mencurigakan ketika dia berada di butik Febby kemaren.
"Klien itu meminta gaun yang mewah dengan bahan bahan yang terbaik, tapi dia hanya memberikan uang muka tidak seberapa di banding bahan untuk membuat gaun itu, terlebih klien itu begitu cerewet ketika menyebutkan keinginannya, bahkan dia juga memaksa ingin berbicara langsung dengan Febby.
"Kalau sampai dia akan berbuat curang, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk klien itu," gumam Azriel sambil tersenyum licik.
Azriel sudah sampai di perusahaan miliknya, dan dia langsung mengerjakan pekerjaan yang sudah menggunung di meja kerjanya.
...**...
"Hai Nov," sapa seseorang kepada Novi yang tengah merapikan baju baju di rak butik.
"Ehh, Be-Beno bukan?" balas Novi Novi menebak.
Novi memang sudah mengenal Beno dulu karena dia sering mendengarkan Febby bercerita, tapi entah dari mana Beno bisa mengenal dirinya.
"Iya ini gue Beno, Febby nya ada gak, gue mau ketemu sama dia dong," balas Beno yang ternyata mencari keberadaan Febby.
"Maaf tapi bu Febby sedang tidak datang hari ini karena belum belum sembuh total," jawab Novi jujur.
"Febby sakit?" kaget Beno saat mendengar kalau Febby belum sembuh, itu artinya dia sedang sakit.
"Iya tuan, beberapa hari yang lalu sakit magh bu Febby kambuh dan dia harus istirahat untuk sementara waktu," jelas Novi.
"Gue boleh minta alamat rumahnya gak, kan dia sudah pindah dari rumah lamanya," pinta Beno.
"Maaf Ben, saya tidak bisa memberikan alamat bu Febby kepada sembarang orang,"
"Aku bukan orang lain, aku ini teman dekat Febby," balas Beno kekeh ingin meminta alamat rumah Febby yang baru.
"Maaf tidak bisa," balas Novi yang tetap teguh pada pendiriannya kate dia tahu bagaimana sikap Beno aslinya.
"Ya sudah, terus sekarang siapa yang bertanggung jawab di butik ini, gak mungkin elu kan?" tanya Beno penasaran, karena dia yakin pasti Febby tidak akan meninggalkan butiknya begitu saja tanpa ada yang mengawasi.
"Selamat siang," ucap seseorang yang baru memasuki butik hingga membuat Beno dan Novi melihat ke arah suara tersebut.
...***...