NovelToon NovelToon
Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Ketika Ibu Mertua Datang Ke Rumah

Status: tamat
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Angst / Romansa / Tamat
Popularitas:62.4k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Kehidupan pernikahan Tiara dan Dimas berjalan harmonis dan bahagia. Namun semuanya berubah ketika sang mertua dari desa datang ke rumah. Ibu mengkritik kebiasaan Tiara yang bangun beberapa jam dari jam kerjanya, kebiasaannya melondri baju padahal memiliki mesin cuci, juga kebiasaannya yang lebih sering jajan di luar dari pada memasak untuk suaminya. Di awal Tiara tidak terlalu ambil pusing, namun ibu mertuanya menganggap semua pekerjaan itu haruslah dilakukan oleh sang istri. Beberapa perdebatan kecil terjadi antar ibuk dan Tiara. Perbedaan pendapat dan pandangan membuat menantu dan mertua berselisih pada akhirnya. Ketegasan Dimas pun di uji. Menjadi penengah antara ibu dan istrinya tentu tidaklah mudah. Hingga Tiara memilih untuk pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chap 15

Bab 15

"Tiara! Pulang, Tiara!" gumam Dimas dengan mata terpejam.

Pria itu nampaknya tengah mengigau. Tak lama kemudian, Dimas pun membuka mata dan mendapati dirinya masih terlelap di ranjang.

Ternyata Dimas bermimpi. Saking rindunya pada sang istri, membuat pria itu memikirkan Tiara sampai ke alam mimpi.

Lima hari sudah Tiara meninggalkan rumah. Dimas masih rutin menghubungi Tiara dan mengirim banyak pesan untuk meminta wanita itu pulang, tapi hasilnya nihil. Tiara masih bersikeras tak mau pulang.

"Dimas, udah hampir siang! Kamu mau bangun jam berapa?" tegur Bu Ismiyati yang muncul di dalam kamar Dimas.

Wanita paruh baya itu masuk ke kamar Dimas dan melihat putranya yang masih duduk di ranjang. Wajah Dimas terlihat pucat. Keringat dingin juga mulai mengucur deras di dahinya.

"Iya, Bu. Dimas kesiangan," ucap Dimas dengan suara lemas.

Bu Ismi mengamati sang putra dengan seksama. "Kamu pucat banget," cetus Bu Ismiyati sembari memeriksa dahi Dimas.

Wanita itu agak terkejut saat ia merasakan suhu tinggi di tubuh Dimas. "Kamu demam, ya?" tanya Bu Ismiyati mulai cemas.

Dimas menggeleng pelan. "Dimas nggak kenapa-napa, Bu. Dimas mau siap-siap sekarang," ujar Dimas.

"Siap-siap ke mana?" tanya Bu Ismiyati lagi. "Kamu nggak boleh ke mana-mana! Istirahat aja di rumah. Nggak perlu pergi kerja."

"Dimas nggak apa-apa kok, Bu. Dimas baik-baik aja."

"Baik-baik aja apanya? Muka kamu pucet banget. Badan kamu jga panas," sahut Bu Ismiyati.

Puncak kerinduan Dimas membuat pria itu akhirnya jatuh sakit. Hal ini pun membuat Bu Ismiyati merasa iba pada putranya yang sakit saat ditinggal istri.

"Kamu istirahat aja dulu. Ibu ambilin teh hangat, ya?" tawar Bu Ismiyati.

Karena tak ada Tiara di rumah, jadilah Bu Ismiyati yang harus mengurus putranya sendiri. "Minum dulu tehnya. Ibu ambilin obat panas. Kamu mau bubur juga nggak? Ibu bikinin, ya?"

Bu Ismiyati merawat putranya dengan telaten, meskipun dalam hati wanita itu agak kesal karena kepergian Tiara, tapi Bu Ismiyati tetap harus merawat putranya.

"Terima kasih ya, Bu!" ucap Dimas pada sang ibu yang sudah menjaganya dengan baik.

Bu Ismi duduk di samping Dimas sembari mengusap lembut punggung tangan putranya. "Buat apa terima kasih segala?" sahut Bu Ismiyati. "Untung aja ada Ibu di sini! Kalau kamu di rumah sendiri kaya gini gimana? Udah sakit, tapi di rumah sendirian."

Dimas hanya bisa tersenyum. Kalau Tiara ada di rumah, ia yakin istrinya juga tidak akan menelantarkan dirinya disaat sakit seperti ini.

"Istri kamu beneran kebangetan! Kamu nggak bisa apa nyuruh dia pulang cepat? Suami lagi sakit kaya gini tapi dia nggak pulang-pulang dan lebih mentingin kerjaan," gerutu Bu Ismiyati masih saja kesal tiap kali ia mengingat tentang Tiara.

Bu Ismiyati merasa miris dan kasihan pada putranya yang tidak mendapatkan perhatian istri ketika sakit. "Cepat kamu hubungi Tiara sekarang! Kamu suruh pulang aja!"

"Dimas nggak mau bikin Tiara cemas, Bu. Lagian Dimas kan cuma demam biasa aja. Dimas juga nggak sakit parah. Dimas nggak mau gangguin kerjaan Tiara," sahut Dimas.

"Mau sampai kapan istri kamu kaya gini terus? Buat ngurus kebutuhan sehari-hari kamu aja Tiara nggak bisa. pas lagi sakit kayak gini pun Tiara juga nggak bisa nemenin kamu. Kalau udah begini, apa gunanya kamu punya istri?"

"Jangan ngomong gitu, Bu! Kalau Tiara bisa milih, Dimas yakin Tiara pasti milih Dimas kok. Tiara juga sebenarnya perhatian kok, Bu. Mungkin cara perhatiannya aja yang beda dari Ibu," timpal Dimas.

Apa pun yang dikatakan oleh Bu Ismiyati, Dimas tetap berusaha keras untuk tidak membuat ibunya itu terus-terusan menyalahkan Tiara. "Belain aja terus istri kamu itu! Kamu itu kurang sabar apa sih sebagai suami? Kenapa Tiara masnya aja kurang bersyukur kaya gini, sih?" omel Bu Ismiyati.

"Udah, Bu. Dimas percaya sama Tiara. Bagi Dimas, Tiara udah cukup perhatian sebagai seorang istri," ujar Dimas menyudahi perdebatannya dengan sang ibu mengenai Tiara. "Dimas mau istirahat dulu!"

Dimas mengubah posisi tidurnya dan memejamkan mata sembari memunggungi sang ibu. Bu Ismiyati makin tidak tega melihat putranya yang terlihat merana. Disaat-saat seperti ini, pasti Dimas sangat merindukan kehadiran Tiara.

"Ya, udah, kamu istirahat aja. Nanti ibu bangunin pas waktunya makan siang."

****

"Kok demam kamu nggak turun juga? tanya Bu Ismiyati sembari memeriksa suhu tubuh sang putra. "Kita ke dokter aja, ya?"

"Nggak perlu, Bu. Dimas cuma masuk angin biasa," sahut Dimas.

"Masuk angin biasa gimana? Badan kamu masih panas sejak pagi," cetus Bu Ismiyati makin dibuat khawatir dengan keadaan putra kesayangannya.

"Ibu kompres aja, ya?" tawar Bu Ismiyati bergegas mencari handuk dan air es.

Dimas mengangguk seraya melempar senyum tipis. "Terima kasih, Bu. Maaf ya Dimas ngrepotin," sahut Dimas.

"Ngrepotin apanya? Kalau nggak ada istri kaya gini, siapa lagi yang bisa urus kamu kalau bukan Ibu?"

Bu Ismiyati begitu telaten mengurus Dimas dan melakukan banyak hal demi membantu putranya menurunkan panas. Bu Ismiyati membelikan berbagai macam obat penurun panas dan mengompres Dimas berulang kali.

Tak hanya panas saja, Dimas juga mulai batuk dan mual. Wanita paruh baya itu makin dibuat takut dengan keadaan anaknya saat melihat Dimas muntah-muntah.

"Dimas, kita ke dokter aja, ya?" ajak Bu Ismiyati dengan manik mata berkaca-kaca.

"Suami lagi kaya gini, tapi Tiara malah ke mana, sih?" sungut Bu Ismiyati kesal dan marah pada Tiara yang tidak mengurus Dimas.

"Nggak perlu, Bu. Dimas baik-baik aja. Nanti juga demamnya turun," sahut Dimas menolak ajakan sang ibu yang berkali-kali menawarkan untuk memeriksakan diri ke dokter.

Bu Ismiyati mengusap sudut matanya yang sudah berair. Rasanya tak tega sekali melihat putranya yang terpuruk sendirian menahan rasa sakit seperti ini.

"Apa lagi yang kamu rasain? Perut kamu sakit? Kamu kedinginan? Hidung kamu mampet? Biar Ibu cariin obat flu," tukas Bu Ismiyati. "Kamu habis jajan sembarangan ya sampai muntah-muntah gini? Kamu makan apa aja kemarin? Kamu kurang tidur, ya?"

Bu Ismiyati menginterogasi sang anak dengan cerewetnya. Dimas tak memberikan banyak respon kecuali gelengan kepala.

"Udah, Bu. Dimas cuma butuh istirahat aja, kok. Ibu nggak perlu cemas," sahut Dimas.

Tak tahan melihat putranya menderita, Bu Ismiyati pun bergegas keluar dari kamar Dimas. Wanita paruh baya itu menangis melihat putranya yang menderita.

"Alamat tempat kerja Tiara ada di mana, sih?" gumam Bu Ismiyati kemudian.

Ibunda dari Dimas itu pun mulai sibuk mencari-cari hal yang berkaitan dengan tempat kerja Tiara. Nampaknya wanita paruh baya itu benar-benar berniat mendatangi Tiara ke tempat kerja demi putranya.

"Aku harus bisa bawa Tiara pulang!"

****

1
Raudatul zahra
udah tamat kah ini??? segini aja??
Raudatul zahra
maafkan yaa buk.. maafkan menantu mu.. bukan maksud menantu mu tidak menghormati dan tidak ingin berbakti kepada mu.. ini semua cuma karna perbedaan cara pandang kita aja buu
Raudatul zahra
lihatkan??? gimana rasanya jadi ibu ???
ibu selalu ingin yang terbaik buat anaknya.. ibu berusaha mendidik menantu nya buat bisa memberikan yang terbaik juga buat anaknya.. meskipun terbaik nya itu versi dirinya..
dan ibu juga rela merendahkan ego nya demi kebahagiaan anaknya..

ibuu oh ibuu... ibu kandung ataupun ibu mertua,, itu sama...

dicerita ini tuh sebenarnya salah semua.. tapi yaa juga bener semua..
Raudatul zahra
aku bingung mau komen apa..

terlalu syuliiitt..
nyalahin Dimas, salah.. nyalahin bu Ismiyati, salah juga.. biar bagaimanapun mertua juga termasuk orang tua kita.. nyalahin Tiara, salah juga.. yaah namanya manusia pasti ada titik lelah dan ingin dimengerti nya..

nyalahin author aja apa yak???
Raudatul zahra
nggak setuju sama ucapan terakhir Tiara.. nggak bisa kita nyuruh suami kita memilih antara ibu nya dan kita.. salah itu...
kamu skrg bisa ngomong gitu, nanti suatu saat kalau kamu punya anak laki, dan istrinya juga nyuruh memilih antara kamu atau istrinya, gimana hayo??
Raudatul zahra
kaaaaann.. mulai sayang kan sama Tiara.. masih mending Tiara katanya.. walaupun makanan sering beli, dan cucian sering laundry, tp Tiara nggak sampek minta tolong sama Dimas.. Tiara masih bisa ngerjain sendiri
Raudatul zahra
nanti akhirnya Bu Ismiyati ini bakal sayang banget sama menantu nya.. karna ngeliat tetangga² yg lain dan banyak ngeluhin menantu nya.. juga ngeliat Adam yg masih bantu "tugas" istrinya padahal istri nya dirumah aja dan Adam kerja. bu Ismiyati jadi mikir, walaupun Tiara sering beli makanan, sering laundry.. tp Tiara ttp ngelakuin tugasnya sebagai ibu rumah tangga dan Dimas nggak sampe nyentuh tugas istrinya..

Yaa walaupun Adam nggak salah juga mau bantu istrinya.. bagus malah .. istri jd lebih merasa diperhatikan dan di mengerti..
Raudatul zahra
dikomentar sebelum nya aku berusaha buat nggak nyalahin ibu mertua... tapi di bab ini aku jadi kesel sama bu Ismiyati🤣🤣
udah siih buk,, udah nurut loh mantu nya itu.. udah nyuci baju sendiri nggak laundry. udah mask sendiri nggak beli. keasinan atau hambar dikit nggak papa kali ah.. nggak bikin ibu meninggoy mendadak juga kok.. yaa sambil minum aja bu kalau keasinan.. atau nyuap nya nasi nya dibanyakin, sayur nya dikit aja biar nggak kerasa asin nya
Raudatul zahra
ini selalu terjadi di antara menantu perempuan dan ibu mertua..
dari sabang sampai Merauke kayaknya permasalahan nya ini terus deh..

yaaahh gimana ya,, sbg seorang ibu yg melahirkan dan menjaga anak laki² nya dari bayi sampai dewasa, mencurahkan segenap cinta & usaha terbaik nya, wajar siih kalau ibu² agak kesel ngelihat anak nya nggak diperlakukan semaksimal dia memperlakukan anaknya.. kita juga pasti nanti gitu,, sama anak kita, kita usahakan yg terbaik, dan kita juga nggak mau kalau anak kita dapat pasangan yg apa² beli, apa² laundry. kasian pasti ngelihat anak kita, capek² kerja, tp istri keluar duit terus.. tapi yaa,, terkadang mertua juga ngomong nya kelewatan. terlalu kasar mungkin..

sama-sama introspeksi diri ajasiih kayaknya baiknya..
Samaniah
Tiara coba deh bljr ndablek tp jg hrs ada sabrnya,,ky q iki loossss dol
yg penting suami ttp syg sama kita
Windarti08
emang lebih baik rebutan salah daripada semuanya merasa paling benar.
cerita ini bisa jadi pelajari buat readers, intinya komunikasi antara suami istri juga mertua itu penting untuk menghindari salah paham berujung kehancuran rumah tangga
Windarti08
sebenarnya masalah akan selesai klo mereka bertiga bisa komunikasi dengan baik dan saling menurunkan ego masing-masing
Windarti08
kayaknya Adam nih yg bisa bantu menyelesaikan masalah antara Dimas Tiara dan juga ibunya
Windarti08
aduhh Bu Ismi ini... Lagi-lagi bawa jaman dulu ke sekarang, mana bisa kerja di ladang yg sekedar bantu suaminya disamain dengan kerja kantoran yg punya office hour?
Dimas tegas sedikit sama ibumu tanpa harus menjadi anak durhaka, tp klo ibumu tetap keras kepala gitu ya siap-siap aja untuk kehilangan istrimu
Windarti08
gak gitu juga kali konsepnya Maemunah..... jangan pernah nyuruh suami untuk memilih antara istri dan ibunya. sampai kapanpun anak laki-laki adalah milik ibunya dan istri adalah milik suaminya.
sabar, cari jalan keluar yg terbaik, minta bantuan ustadz atau siapa yg bisa bantu menyelesaikan masalah kalian
Windarti08
kemare2 dipuji-puji karena Mas Adam sama istrinya harmonis... sekarang penilaiannya beda lagi Bu...?
Bu Ismi mah komennya hanya apa yg terlihat oleh matanya aja, gak tau kan... klo dirumahnya gimana... ini Bu Ismi su'udzon bilang suami pulang kerja gak disambut pake teh hangat segala, padahal kan td si Adam bilang klo belanja skalian pulang kerja karena searah sm jalan pulang
Windarti08
etdah keterlaluan juga tuh si Dimas sama Tiara.. masa orang tua dibiarin bawa yg berat2, meskipun bawa bekal makanan keinginan Bu Ismi tp gada salahnya kan yg lebih muda yg bawain
Windarti08
klo Ibu pulang kampung dan gak ngerecokin rumah tangga anakmu lagi, mungkin mereka bisa harmonis Bu...
Windarti08
eh Bu Ismi... dulu Ibu ikut kerja cari duit buat bantu finansial suami gak?
klo gak kerja, gampang aja bilang bisa ngerjain semua kerjaan domestik seperti masak nyuci sampai beres-beres rumah karena seharian gak keluar rumah buat nyari cuan, ini posisi istri kerja, pulangnya aja lebih dulu suaminya, gimana mau ngerjain semuanya...
punya mulut jangan asal jeplak ya Bu...
jadi gemes emosi sendiri gue😖😖😖
Dela
ibu dan istri itu bukan pilihan..punya ibu yang terbiasa mengurus auami dan anak dengan tangan sendiri otomatis mengukur sikap dan pfilaku istri anaknya ya dari standart pengalaman dan ilmu dia.. begitu juga istri mengukur rumah tangga menurut Standartnya dia.. jadi wajar saja gak ketemu solusinya..tapi kodrat seorang istri mmang mengharuskan mengurus rumah tangga yg termsuk suami dan anak.. dari bangun hingga tidur jadi solusinya lw menurut saya saling sadar posisi aja..kasihan suami bila ditekan harus mmilih hal yg tidak mungkin dipilih.. karna keduanya bukan pilihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!