Abraham dimitri mencintai sahabat semasa remaja dalam diam. Namun, ia memilih pergi menjauh, dan merelakan saat gadis itu memilih lelaki lain sebagai pasangan hidupnya. Ia pergi membawa cinta yang harus pupus bahkan sebelum sempat di ungkapkan. Ia pun mulai kembali menata hidupnya bersama wanita pilihan kedua orang tuanya, sayangnya semua tak bertahan lama. Sebuah kecelakaan di rumah membuatnya harus kembali menelan pil pahit kehilangan untuk kedua kalinya. Ia terpuruk, di hantui rasa bersalah atas kematian sang istri hingga memutuskan untuk pergi jauh bahkan saat putranya masih bayi. Namun, takdir kembali mempertemukannya dengan Shaqina, cinta pertamanya. Kehidupan Shaqina yang jauh dari ekspektasinya membuatnya memutuskan untuk kembali menetap dan mencoba memperjuangkan cintanya yang belum usai. Sayangnya keinginannya bertentangan dengan sang ibu yang menginginkan wanita lain untuk menjadi istrinya. Akankah Abraham berhasil menyelesaikan kisah cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elasukma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Mas Khilaf, Qi."
"Kenapa kamu setega ini padaku, Mas..."
Hardian mematung melihat tubuh istrinya yang terduduk di lantai. Padahal saat pintu kamar di banting tadi, ia hampir saja mengumpat karena merasa kesenangannya terganggu. Namun, begitu menyadari kehadiran istrinya di depan mata membuatnya terdiam seketika.
Hardian merasa bersalah menyaksikan istrinya menangis pilu. Sedangkan wanita yang berada dalam kamar bersamanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Pria itu meraih pakaiannya yg terserak lalu mengenakannya. Dengan langkah gemetar ia coba mendekati istrinya. "Ma- maafkan Mas, Qi," ucapnya, seraya mencoba meraih tangan Shaqina tapi di tepis kasar oleh istrinya itu.
"Mas khilaf, Qi... "
Sekali lagi Hardian coba menggenggam tangan istrinya tapi kembali di hempas kasar bahkan Shaqina membentak suaminya itu.
"Jauhkan tangan kotormu itu dariku, Mas!" teriaknya penuh amarah. "Aku jijik di sentuh olehmu!"
Shaqina menatap suaminya dengan tatapan penuh luka, lalu berdiri memaksa tubuh yang masih terasa lemas untuk bangun. Ia sudah tak tahan lagi, ia ingin segera berlari meninggalkan tempat itu.
Saat hendak berdiri Hardian mencoba membantunya, tapi ia hempaskan tangan lelaki itu bahkan mendorongnya dengan kasar hingga membuat lelaki itu tersungkur.
"Tolong maafin Mas, Qina. Mas benar-benar khilaf."Hardian menunduk penuh penyesalan, tapi tak mampu membuat Shaqina merasa iba.
"Jika aku yang ada di posisimu sekarang, jika aku yang melakukan kesalahan, apa kamu akan memaafkan aku?" tanyanya lirih menatap tajam suaminya yang masih tertunduk kemudian beralih pada wanita yang berdiri di depan kamar.
"Dan kamu! Apa kamu gak bisa cari pria mapan yang lajang sampai kamu merayu suami saya?"
Tak ada yang satupun dari mereka yang menjawab membuatnya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
🌺🌺🌺🌺
Dengan langkah terseok ia meninggalkan rumah itu. Sesak, dadanya terasa begitu penuh hingga membuatnya merasa kesulitan untuk sekedar bernapas. Ia pukul dadanya berharap itu akan bisa mengurangi sesak yang ia rasakan.
Bayangan adegan panas Hardian di dalam kamar berputar seperti kaset di dalam benaknya, membuat air matanya tak lekas mengering meski telah banyak di keluarkan.
Ia sudah tak perduli dengan pandangan penuh tanya dari orang-orang yang ia temui. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya. Ia pikir ia akan kuat, ia pikir akan bisa tegar menerima semua ini.
Nyatanya, batinnya tetap saja remuk di hantam kenyataan sepahit ini.
Shaqina berjalan tanpa arah, tak perduli dengan suara dari belakang yang terus memanggilnya. Ia justru mempercepat langkah -- menghindar. Hingga akhirnya sebuah lengan kokoh berhasil menarik tangannya dan meraih tubuhnya dalam pelukan, Qina berontak berpikir itu adalah suaminya tapi ucapan lelaki itu menghentikannya dan membuat tangisnya pecah.
"Ini aku, Qi. Aku ada di sini untukmu."
🌺🌺🌺🌺
Sebuah cafe di sudut kota menjadi tempat Shaqina menenangkan diri. Abraham sengaja membawanya kesana agar ia bisa meluapkan tangisnya tanpa harus jadi pusat perhatian, sebab cafe itu tak terlalu ramai.
"Makanlah," ucap lelaki itu seraya menyodorkan makanan dan segelas jus ke hadapannya.
Qina bergeming, wanita itu hanya menatap kosong hidangan dan gelas di hadapannya.
"Atau setidaknya minumlah," ujar pria itu lagi yang hanya di balas gelengan kepala oleh Qina sebagai jawaban. "Kau sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan air mata hari ini, Qi. Kau butuh asupan untuk melanjutkan tangismu, jangan sampai kau dehidrasi gara-gara terlalu banyak menangis dan nanti aku yang akan di salahkan."
Candaan Abraham hanya di tanggapi dengan tatapan sendu Shaqina, ia bukan tak mengerti dengan keadaan sahabatnya. Ia tahu betul setelah semua yang terjadi tak mungkin wanita itu berselera untuk makan, hanya saja ia ingin coba menghibur sahabatnya itu. Ia belum melihat wanita itu memakan sesuatu sedari siang tadi, ia takut wanita itu kembali jatuh sakit seperti dulu.
"Ayo makanlah. Jangan sampai kau pingsan dan merepotkanku nanti," bujuk pria itu lagi seraya menyodorkan sesendok nasi dari piringnya di depan bibir Shaqina. Qina menatap kosong pria di depannya, air matanya kembali berdesakkan dan mengalir begitu saja membasahi pipinya kala mengingat pengkhianatan suaminya.
Qina menundukkan wajah di meja cafe untuk menyembunyikan tangisnya di sana, bibirnya ia gigit kuat-kuat untuk menahan isakan terdengar orang lain. Namun, pemandangan itu justru membuat pria di depannya mengepalkan tangan, bahu Qina yang berguncang membuatnya ingin membalas orang-orang yang sudah menyakiti wanita yang di cintainya itu.
Abraham beranjak dari duduknya, amarah yang sedari tadi ia tahan harus bisa terlampiaskan, "Suamimu itu harus ku beri pelajaran, Qi!"
Ucapan Abraham membuat Shaqina mengangkat kepalanya, ia meraih tangan lelaki itu-- menahannya untuk pergi.
"Tak perlu mengotori tanganmu, Bram. Biarkan Tuhan yang membalas mereka," ucapnya seraya memeluk lengan lelaki itu.
Lelaki bertato itu menatap sahabatnya iba, "Katakan padaku, apa yang bisa kulakukan untuk bisa mengurangi rasa sakitmu itu, Qi."
"Jangan memendam lukamu sendirian, bagilah lukamu itu denganku." Sekali lagi keperdulian Abraham membuat wanita itu menangis tersedu.
Selama ini dia memang selalu memendam semua masalahnya sendirian, di hadapan keluarganya ia juga selalu ingin terlihat baik-baik saja, tapi ucapan Abraham membuatnya merasa punya seseorang yang bisa ia percaya untuk membagi lukanya. Ia merasa punya bahu yang bisa ia jadikan sandaran tanpa perlu menjadi beban.
j
Sehat selalu author semangat berkarya.
Good job 😘😘