Hanna Mahira adalah seorang wanita berumur 27 tahun. Dia bekerja sebagai karyawan staff keuangan pada sebuah cabang dari perusahaan ternama. Anna panggilannya, menjadi tulang punggung keluarga. Setelah ayahnya meninggal dunia, semua kebutuhan hidup ada di pundaknya.
Dia memiliki adik perempuan yang sekolah dengan biaya yang di tanggungnya.
Anna mencintai atasannya secara diam-diam. Siapa sangka jika sang atasan mengajaknya menikah. Anna seperti mendapatkan keberuntungan, tentu saja dia langsung menerima lamaran sang bos tersebut.
Namun, di hari pertamanya menjadi seorang istri dari seorang David Arion Syahreza membawanya pada lubang kedukaan.
Sebab di hari pertamanya menjadi seorang istri terungkap fakta yang amat menyakitkan. Bahwa David sang suami yang sangat Anna cintai mengatakan bahwa pernikahan ini adalah kesalahan terbesar yang dia lakukan.
Ada apa sebenarnya?
Anna berusaha menyingkap tabir rahasia David dan berusaha tegar atas pernikahan tersebut.
Baca kisahnya dan temani Anna mengungkap rahasia besar David
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
"Berhenti di sini saja, Pak. Biarkan saya naik ojek saja dari sini menuju kantor. Tidak perlu Pak Adrian mengantar saya sampai kantor."
Aku malu kalau sampai diantar ke dalam gedung tempatku bekerja. Lagipula, Bang Adrian saja tidak pernah melakukan hal tersebut. Jangankan mengantar ke kantor, berkata baik saja gak pernah. Ah, mirisnya hidupku. Kebaikan itu malah kudapatkan dari orang lain. Ck
"Kenapa?" Banyak kerutan di dahi pak Adrian. Sekilas lelaki itu melirik padaku.
"Hmmm. Saya hanya khawatir jika jadi perhatian karyawan, Pak. Bisa-bisa, nanti Bapak malu." Suaraku melemah, kedua tangan memilin ujung kemeja.
"Kenapa harus malu. Kamu cantik, smart, suka menolong, tangguh, pin --"
"Stop. Jangan bicara lagi. Saya mohon." Entah kenapa, hatiku serasa diiris mendengar penjelasan pak Adrian. Mengingat tak ada seorang pun yang pernah mengatakan itu, hanya pak Adrian yang memujiku. Ya Tuhan!!!
"Maaf," ujarnya lirih.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud untuk ...." Suara dering ponsel memutus obrolan kami.
"Bang David," gumamku setelah melihat layar ponsel.
"Halo, Anna. Kamu di mana?" Suaranya di sebrang sana memenuhi gendang telingaku.
"Di jalan mau kerja. Ada apa?" Aku berusaha mengontrol suara sedatar mungkin. Sesekali melirik pak Adrian yang fokus mengemudi.
"Jangan lupa nanti malam ke rumah Mana. Sama sopir. Jangan naik ojek."
"Hmmm."
"Serius!"
"Iya ...." Aku menjawab malas.
"Oke."
"Abang, geli. Iihh." Tut. Sambungan telepon dimatikan.
Deg. Suara itu. Sepertinya sangat familiar di telingaku. Tiba-tiba, perasaan tak enak menguasai hatiku. Dadaku berdegup kencang, kedua telinga terdengar berdenging.
Tanganku gemetar dengan tubuh panas dingin, mencari nama kontak seseorang yang sangat kukenal bahkan sangat kusayangi.
Aku sibuk mencari. Sampai tidak terdengar suara pak Adrian yang memanggilku. Lelaki itu menggoyang bahuku.
"Anna. Ada apa? Kota udah sampai." Tangan pak Adrian mengelus lenganku.
"Itu ... Itu ...." Setelah nama kontaknya dapat, segera kuhubungi.
"Assalamualaikum. Halo, Kak ..."
"Waalaykumussalam. Halo, Dik ..."
"Bentar Bang, Kak Anna telpon, nih."
Terdengar suara Alina berbisik di seberang. Sayangnya, hatiku menjadi kebas saat mendengarnya.
Serta Merta, ponsel yang kupegang jatuh ke pangkuan. Dadaku menjadi sesak. Ku mohon jangan sekarang!
"Halo, Kak ...."
"Ah iya, gi-gimana kabarmu, Sayang?" Suaraku terbata dengan bibir bergetar.
"Aku sehat. Kak, aku lagi sibuk. Nanti aku hubungi balik ya."
"Oh ... Ah, iya."
"Abang, geli. Ih ... Ngeselin, deh." Lagi-lagi suara itu masih terdengar. Kemudian panggilan di putus.
Air mataku pun tumpah. Tak lagi kuhiraukan suara pak Adrian yang memanggil. Rasanya, hanya kesia-siaan belaka usahaku untuk tampar tegar selama ini. Nyatanya, aku sangat rapuh.
Alina dan bang David, mungkinkah?
"Anna ... Anna ..., Are you oke?" Usapan lembut kurasakan di pucuk kepala, lalu berlanjut tepukan lembut di punggung.
Aku menoleh, tampak jelas seraut kekhawatiran di wajah pak Adrian. Sedetik kemudian, aku telah berada dalam dekapan dada bidangnya. Wangi tubuhnya kembali menyeruak di indera penciumanku. Untuk beberapa saat, aku menumpahkan segala resah di sana. Sampai hatiku merasakan ketenangan.
"Maaf, Pak."
"Enggak apa-apa. Ayo turun. Kita udah sampai. Naik lift di sini saja, enggak usah yang di luar. Kamu pasti malu."
"Terimakasih. Bapak telah memperlakukan saya dengan baik. Terimakasih."
Bergegas aku turun dari mobil, lalu masuk ke lift khusus atasan. Sebelum masuk ruangan, aku menuju toilet. Mencuci muka.
***
Sepulang kerja, aku langsung menuju rumah mama. Sesuai perintah bang David, aku diantar sopir pribadi. Rumahnya yang cukup jauh, sekitar satu jam lebih perjalanan dengan kemacetan.
Sesampainya di sana, ternyata mama telah menungguku. Berbagai hidangan telah tersaji di meja. Lantas aku di suruh masuk ke kamar setelah menyantap makanan di meja. Tentu saja itu kamar suamiku.
"Anna ...." Ah, ternyata mama yang masuk. Perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu pun duduk di tepi ranjang. Aku ikut duduk di sampingnya. "Bagaimana perlakuan David kepadamu?" lanjutnya.
Ah mama, andam mama tahu tentang pernikahan kami. Apa yang akan terjadi padanya? Sedangkan mamalah satu-satunya orang yang tampak bahagia, dan mau menerimaku.
"Baik, Ma. Bang David baik banget kok. Tadi aja ke sini diantar sopir, kan. Anak Mama itu, tidak membiarkan istrinya ini pergi sendiri. Dia terlalu protektif dan memanjakan Anna, Ma," cerocosku di hadapan Mama.
"Dia itu, memang begitu. Suka bawel, apalagi sama seseorang yang dia sayangi. Tolong terima, yaa." Mama menggenggam tanganku. Dapat kurasakan ketulusan yang Mana berikan.
"Tentu, Ma. Mama jangan khawatir." Aku tersenyum, senyum tulus sekaligus paksaan.
"Ma ...." Suara di pintu mengalihkan perhatian kami. Serentak kami menoleh. Tampaklah wajah tampan dengan balutan pakaian kerja sedang berdiri di pintu, kedua tangan bersedekap di dada. Senyumnya sempurna, memancarkan cahaya ketampanan dari wajahnya.
Bang David melangkah mendekati ranjang. Kemudian lelaki itu membungkuk, mencium kedua pipi Mama. "Apakah kalian sedang membicarakan ku?"
Lantas, Bang David berdiri di hadapanku. Mengelus pucuk kepala, lalu tiba-tiba terasa kesebuah kecupan mendarat di kening.
Apa ini maksudnya?
sungguh menyebalkan
terus adiknya juga kenapa gak sopan gitu , rasanya gak mungkin ada yg gitu amat , gak ada segen² nya sama kaka sendiri
semangat