Kisah cinta tak akan selalu mulus jalannya, seperti yang Ayesha rasakan. Setelah lama hatinya kosong, tiba-tiba ada seseorang yang datang mengisi hari-harinya. Berpetualang bersama, mereka berdua memiliki mimpi membangun rumah tangga yang harmonis, tapi nasib berkata lain, setelah menikah sesuatu terjadi pada rumah tangga mereka. Ayesha harus melupakan mimpi-mimpi tersebut dengan mimpi yang lain yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Akankah Ayesha bisa melewati semuanya atau ia harus menyerah dengan semua yang terjadi di kehidupannya?
Angkasa sudah berhenti mencari tahu di mana keberadaan perempuan yang ia cintai sejak lama bahkan perempuan itu adalah cinta pertamanya. Semenjak gadis itu menghilang Angkasa selalu mencari di mana keberadaannya, namun selalu nihil hasilnya. Di saat sudah berhenti mencari informasi tentang gadis itu, saat itu ia justru mendapatkan alamat dimana gadis itu tinggal, tapi kenyataan membuatnya kecewa dan memilih untuk melupakan gadis pujaan hatinya. Tapi takdir berkehendak lain, saat ia sudah berhasil melupakannya. Takdir apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ALY 15
"Kak, apa aku harus pindah ke sini?" entah pertanyaan apa itu yang Yesha lontarkan, harusnya ia tidak bertanya pun sudah pasti harus pindah ke apartemen Rangga, kan?
Rangga yang sedang mengotak-atik ponselnya otomatis langsung menoleh, "Oh iya, kita belum bicarakan ini," ia mengubah posisi duduknya supaya menghadap ke arah Yesha.
Yesha mengernyitkan dahi, ia tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Rangga.
"Aku juga sepertinya tidak akan bisa menepati janji sama Papi, kalau kita tidur dalam satu kamar seperti ini, jadi aku udah putusin, kamu boleh memilih mau tinggal di sini atau di apartemen mu, kalau pun tinggal di sini bisa pilih mau tidur bareng atau di kamar sebelah, tapi kalau tidur bareng aku enggak bisa menjamin lho ya," Rangga mengahiri ucapannya dengan tersenyum jahil.
"Kak Rangga itu aneh enggak sih? Kalau orang lain setelah menikah pasti tidak mau pisah kamar sama istrinya, malahan enggak mau jauh-jauh, lha Kakak malah ngebebasin aku," timpal Yesha dengan senyum yang menggoda sama seperti Rangga tadi. Ia sengaja menggoda Rangga, apakah akan mempertimbangkan ucapannya atau masih dalam pendirian awalnya.
"Oh, jadi kamu maunya kaya gitu ya? Yaudah ayo, aku siap kapan pun, tapi nanti kalau kamu hamil, jangan salahkan aku ya, karena kamu yang minta," Rangga sebenarnya tahu jika Yesha hanya menggoda, tapi ia juga akan membalas Yesha.
Rangga mendekatkan tubuhnya ke arah Yesha, sontak gadis itu menghindar, tapi sayang tidak berhasil karena Rangga sudah berhasil meraih pinggangnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, bahkan ujung hidung keduanya hampir menempel.
Jarak yang begitu dekat, membuat jantungnya seperti akan meloncat keluar. Yesha juga bisa merasakan jika jantung Rangga juga berpacu dengan cepat seperti dirinya, mungkin Rangga juga merasakan kegugupan yang sama seperti yang ia rasakan, tapi mencoba untuk menetralkan kegugupan itu. Ia ingin melihat seberapa berani suaminya itu, apakah benar akan melakukan hal yang sama sekali belum pernah mereka rasakan atau justru hanya menggoda dirinya.
Tiba-tiba Rangga makin mendekatkan wajahnya, dan berhasil menyatukan bibir mereka. Menikmati benda kenyal berwarna merah jambu itu dengan begitu lembut, menyesap madu yang begitu manis, apalagi saat sang pemilik mengikuti alunan yang ia ciptakan. Rasanya tak ingin melepaskan barang sedetik pun, begitu nikmat dan memabukkan. Namun, tepukan di punggung menyadarkannya lalu melepas penyatuan yang begitu memabukkan.
Yesha menyembunyikan wajahnya di dada Rangga, malu yang ia rasakan. Apalagi saat mengingat beberapa detik yang lalu ia begitu menikmati sentuhan Rangga untuk kedua kalinya, tapi kali ini sepertinya ia lebih menikmati di banding tadi siang yang dominan oleh rasa terkejut.
Rangga mengelus puncak kepalanya, lalu mengecupnya untuk beberapa saat, "Kenapa?" tanyanya.
Yesha menggeleng, masih dalam pelukan Rangga.
"Kak,"
"Apa sayang?"
Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Rangga, tiba-tiba hatinya menghangat, bahagia menyelimutinya.
"Kok diem?" tanya Rangga, karena Yesha terdiam untuk beberapa saat.
"Kak Rangga sebelumnya pernah melakukan itu?" tanya Yesha, sebenarnya ia ragu untuk menanyakan hal ini, tapi entah kenapa rasa penasaran mendominasi dan mengalahkan keraguannya.
"Maksudnya?"
Yesha memberanikan diri untuk menatap wajah Rangga, "Seperti yang baru saja kita lakukan," ucapnya, tersipu malu saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
Rangga tersenyum, "Mau jawaban bohong apa jujur nih?" tanyanya. "Tapi aku bukan orang yang pandai berbohong jadi aku jawab jujur aja ya," masih dengan senyum yang mengembang.
Yesha mengangguk, setia menunggu jawaban yang akan Rangga berikan.
"Pernah, sering malahan, dulu tapi waktu masih sama mantan," jawab Rangga, ia memang tidak mau menyembunyikan apa pun dari Yesha, apalagi jika gadis itu bertanya.
"Ish, harusnya kakak ngomong dari tadi, biar aku lap dulu bekas dia, pake tisu atau kalau perlu di cuci pake sabun, biar ilang bekasnya," ucap Yesha sambil mengusap bibir Rangga dengan kaos yang di pakai pemuda itu.
"Enak banget sih, dapet bibir aku yang masih perawan, pantesan lihai banget, ternyata berpengalaman," sungutnya, masih setia mengusap bibir Rangga, kali ini dengan tisu yang di dapat dari nakas.
Rangga terkekeh mendengar ocehan Yesha, gadis itu justru terlihat lebih menggemaskan, ia jadi ingin membungkam kembali bibirnya.
"Bukannya tadi udah kamu hapus pake ini? Percuma dong kalo sekarang di hapus pake tisu, kan bekas kamu sendiri," Rangga menyentuh bibir Yesha sambil tersenyum, tapi gadis itu tetap cemberut, entah sengaja di buat-buat atau cemberut beneran.
Yesha hanya menatapnya dengan tatapan penuh selidik, "Jangan-jangan...." Yesha tidak meneruskan ucapannya karena Rangga lebih dulu memotongnya.
"Hanya itu sayang, aku juga udah nyesel, kenapa bisa dulu sering banget melakukan seperti itu. Untung saja masih bisa menjaga diri, tidak mau melakukan lebih, karena menurutku justru akan merugikan diri sendiri," membalas tatapan Yesha dengan lembut, lalu membelai wajah cantik itu.
"Dan aku bersyukur benar-benar tidak mengikuti tren teman-temanku yang sering melakukan hubungan tanpa ikatan, karena setelah aku mualaf baru tahu jika itu termasuk dosa besar, jika saja dulu aku melakukannya pasti yang ada kini hanya penyesalan," tambahnya.
"Percaya kan sama aku?"
Yesha mengangguk, kembali memeluk sang suami dengan erat, menenggelamkan wajahnya di dada Rangga, mencari kenyamanan di sana. Ia bersyukur ternyata Rangga tidak pernah melakukan perbuatan terlarang, ya walaupun sebenarnya berciuman juga di larang oleh agama, yang terpenting tidak melewati batas.
"Dulu kamu pernah punya pacar, kan? Emang enggak pernah seperti itu?" tanya Rangga.
Bugh
Yesha memukul dada Rangga dengan wajah cemberut, pertanyaan macam apa yang di lontarkan oleh suaminya itu, apa tidak bisa membedakan mana yang berpengalaman dan mana yang tidak?
"Duh, aku hanya bercanda sayang," Rangga pura-pura mengaduh karena Yesha memukul dadanya beberapa kali. Menggenggam kedua tangan Yesha supaya berhenti memukul dadanya.
"Bercandanya enggak lucu, sama aja nuduh dong kalo gitu," Yesha kembali cemberut, padahal tadi sudah tersenyum bahagia.
"Serius enggak pernah?" Rangga kembali menggoda Yesha.
"Ish, Kak Rangga! Enggak pernah lah, cuman gandengan tangan aja yang pernah," jawab Yesha, masih saja cemberut karena Rangga terus menggodanya.
"Duh, berarti tangan ini pernah di sentuh sama cowok lain dong, sini biar aku bersihin juga," Rangga mempraktekkan apa yang Yesha tadi lakukan, mengusap kedua tangan Yesha dengan tisu, lalu mengecup kedua punggung tangannya.
Kini Yesha yang tertawa melihat kelakuan Rangga, seperti anak kecil saja. Ah iya, dirinya juga tadi pasti seperti anak kecil.
"Udah bersih, sekarang sudah enggak ada bekas orang lain, karena sudah aku hapus semuanya," ucap Rangga setelah puas mengecup kedua tangan Yesha.
"Kak, udah ah, aku dah capek ketawa, tidur yuk, udah ngantuk," Yesha mulai merebahkan diri, dan di ikuti oleh Rangga.
"Boleh peluk kan? Besok malam dan seterusnya belum tentu bisa tidur sambil berpelukan gini," tanpa menunggu jawaban dari Yesha, Rangga sudah lebih dulu memeluk istrinya itu. Mencari posisi ternyaman untuk tidur.
"Selamat malam sayang, love you," Rangga mengecup kening Yesha.
"Love you more," gumam Yesha, tapi Rangga masih bisa mendengarnya dan membuat ia tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya dan mulai memejamkan mata.
.
.
.
.