Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Buruk
Aska terkejut merasakan jemari Diana bergerak. Lelaki itu sadar dari tidurnya yang entah sejak kapan dan menggenggam semakin erat tangan Diana.
" Aska," lirihnya.
Aska menyentuh pipi Diana yang hangat. Ia lega, selain kekasihnya sadar, suhu tubuh Diana jauh lebih normal dari kemarin.
" Aska, aku haus," ucapnya.
Aska segera menuruti permintaan Diana. Ia raih segelas air yang sudah disediakan kalau-kalau Diana butuh. Ia bantu mendudukkan Diana agar dapat minum dengan benar dan membantu Diana minum.
" Makasih ya," ucap Diana.
Aska mengembalikan posisi Diana menjadi tidur, " apa yang kamu rasain sekarang?"
" Bahagia."
Aska menautkan alis.
" Bahagia karena kamu ada di sini."
Aska tersenyum pilu, " Sayang, maafin aku ya."
" Maaf buat?"
" Buat semua kesalahanku."
Diana terdiam beberapa saat dan mengelus rambut Aska, " kamu nggak pernah salah, Aska."
Aska memandang Diana penuh arti. Baginya, Diana lebih baik dari perempuan manapun. Sejak pertemuannya, perempuan itu tak pernah menyalahkan Aska sama sekali.
***
" Bell, jangan pernah nyarah sama apapun. Bapak yakin, hidup kamu dan Aska pasti bahagia."
Bella tak akan melupakan kalimat terakhir sebelum Bapaknya kembali ke Kalimantan. Meski ia tahu status pernikahannya dengan Aska hanya sebagai status saja.
Sudah jam dua pagi. Bella masih bergumul dengan pikirannya. Mengingat bagaimana Aska yang tampak kasihan dengan Diana. Lelaki itu bahkan mengorbankan semuanya demi wanita model itu.
Bella membuang napas, mengingat kembali kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya. Ia sendiri masih belum menemukan titik terang dari diri suaminya dan dirinya. Semuanya masih kelabu. Belum ada yang mendekati merah jambu. Bahkan lelaki itu benar-benar tak kembali ke hotel setelah pulang dari Bandara.
Bella tak tahu langkah apa yang harus ia lakukan lagi. Bagaimanapun, ia harus menghormati Aska sebagai seorang manusia yang butuh kebebasan. Namun disisi lain, ia juga tak ingin Aska melakukan hal aneh bersama kekasihnya.
Bella galau.
***
Keadaan Diana sudah lebih baik dari kemarin. Pagi ini, Diana meminta Aska untuk membawanya pulang ke apartemen saja. Selain biaya kamar rumah sakit yang cukup mahal, Diana juga tak suka dengan aroma obat-obatan yang menyengat.
" Kalau begitu, jangan tinggalkan Diana. Dia butuh support lebih dari orang-orang terdekatnya. Jangan sampai kelelahan dan jaga pola makannya. Sebisa mungkin buat Diana bahagia."
Diana mendengar ungkapan panjang lebar Dokter perempuan di depannya dengan hikmat. Obat macam apa yang diucapkan si Dokter itu. Apakah bahagia adalah obat? dalam hati Diana terkekeh. Mendengar kata bahagia seperti mendengar sesuatu yang mustahil untuk ia dapatkan.
Sejak kecil dan semakin bertumbuh, Diana hanya merasakan pengkhianatan, ditinggalkan dan dilecehkan. Lalu, mana dari ketiga jenis malapetaka itu yang membuatnya bahagia? Jika tidak bersama Aska, Diana pasti sudah mati dengan terjun ke lautan. Biar badannya dimakan ikan besar.
" Ayo, Di."
Diana menurut. Ia berjalan, masih lemas dan dituntun Aska.
" Kamu kuat?"
Diana mengangguk mantap. Jika Aska mau tahu, Diana jauh lebih kuat dari kelihatannya. Diperlakukan bagai binatang oleh orang-orang bejat saat tragedi pemerkosaan oleh delapan orang, dan Diana menjadi korbaannya adalah bukti bahwa dia sangat kuat.
" Kamu mau makan apa? biar kita sekalian beli," Aska duduk di balik kursi kemudi setelah membantu Diana untuk duduk.
" Apa aja yang penting seger," Diana bersandar menyebabkan bunyi krek di punggungnya. Sepertinya sudah lama ia tidak pijit hingga seluruh otot tubuhnya kaku.
" Ya. Apapun yang bisa buat kamu cepat sehat, aku bantu, Di." ucap Aska tulus.
Diana tersenyum simpul, "kamu nggak balik ke hotel dari kemarin?"
" Gimana bisa? kamu sangat butuh aku dibanding Bella."
" Aska, aku berterimakasih banyak sama kamu..."
Aska mengiterupsi, " makasih buat?"
" Buat semuanya. Kamu emang terbaik."
Aska tak paham dengan arah ucapan Diana, tapi ia mencoba tak berpikir macam-macam.
" Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu masih bertahan sama aku walaupun Ayah kamu nggak ngebolehin kita menikah?"
Aska menghentikan mobilnya karena lampu merah, " Diana, aku mencintai kamu lebih dari diri aku sendiri."
Diana tersenyum, " kamu yakin?"
Aska tak menjawab membuat perjalanan menuju apartemen terasa sunyi.
" Aku beli makan dulu. Kamu tunggu di sini ya," ucap Aska seraya membuka pintu mobil dan berjalan sendiri menuju tempat makan.
Di dalam, mata Diana mengekori tubuh Aska yang semakin menjauh. Punggung itu masih sama seperti pertama kali pertemuan mereka. Diana merasa beruntung memiliki Aska. Sebagai perempuan yang sudah tak lagi suci, memiliki Aska adalah keberuntungan yang tiada tara.
Andai Ayah Aska mengizinkan mereka menikah, pasti mereka sudah punya anak yang lucu-lucu dan hidup bahagia. Diana ingin merencanakan masa depan untuk buah hatinya. Agar anak-anaknya tak seperti ibunya.
" Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?"
Itu suara Aska. Diana menoleh ke samping dan mendapati Aska sudah duduk di balik kemudi di sebelahnya, " nggak apa."
Aska geleng-geleng kepala, " kamu pasti mikirin aku ya?"
Diana terkekeh geli, " kenapa kamu senarsis itu?"
" Aku nggak narsis. Emang tebakan aku salah?"
Diana memandang lurus ke jalanan, tak menjawab pertanyaan yang tak ada jawabannya. Ia benar memikirkan Aska jika menjadi suaminya.
Jalanan mulai macet dan suara klakson terdengar bising. Di tengah kebisingan itu, Diana terlelap.
***
Aska baru saja memarkirkan mobilnya di apartemen. Tiba-tiba seseorang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya yang hitam. Dari dalam, Aska dapat melihat sosok kekar yang tak asing baginya.
Aska membuka pintu, melihat sosok itu menganggukkan kepala memberi hormat, " ada apa, Don?"
Seseorang yang dipanggil Don bernama Doni, " Mas Aska dipanggil Pak Niko."
Aska mengunci pintu mobil sebelum mengekori Doni. Tak jauh dari dimana mobilnya diparkir, Aska melihat mobil Ayahnya di parkirkan. Aska masuk ke mobil tersebut, membiarkan Doni menunggu di luar.
Aska duduk di kursi belakang di sebelah Ayahnya. Niko memandang lurus ke depan dengan punggung yang bersandar pada sandaran kursi mobil.
" Kemana kamu semalaman?" tanyanya dengan intonasi datar.
" Jenguk teman di rumah sakit, Yah."
Niko menoleh, " teman yang mana?"
Aska tak menjawab. Ia tak mungkin mengatakan jika mengunggu Diana. Ayahnya pasti akan marah besar.
" Kenapa diam?"
Aska ikut-ikutan bersandar, " emang saya salah?"
" Kamu masih tanya soal salah atau enggak?"
Aska diam saja.
" Ayah tahu kamu nggak pulang semalaman."
Gigi Aska bergemelatuk, pasti Bella memgadu, " tahu darimana?"
Niko terkekeh, " kamu masih tanya Ayah tahu dari mana?"
Benar, kan? pasti Bella yang bilang ke ayahnya.
" Jadi Diana kamu kanapa sampai kamu nggak balik ke hotel?"
" Nggak usah bawa-bawa Diana."
" Loh, memang kenyataannya kamu nggak pulang karena Diana kan?"
Aska mengepalkan tangan. Jika bukan Ayahnya, ia pasti sudah menjotos lelaki di sebelahnya, " udah berapa kali saya bilang cuma mau menikah sama Diana? kenapa sih Ayah nggak mau denger?"
Niko menghela napas dan mengembuskannya pelan, " Aska, Ayah udah jual apartemen ke teman Ayah. Mulai hari ini dia mau nempatin apartemenmu. Ayah sudah menyuruh orang buat pindahin semua barang berharga kamu di apartemen baru hadiah dari teman-teman Ayah. Ayah juga sudah suruh Bella buat membereskan barang-barang kamu dan barang-barang dia di sana. Jadi, kamu nggak usah pulang ke sini lagi. Dan mulai minggu depan, kamu sudah bisa kerja di kantor Ayah sebagai Manager."
Setelah mendengar kabar itu Aska keluar dari mobil Ayahnya, membanting pintunya. Kembali ke mobilnya, Aska meletakkan kepala dinatas kemudi. Ia ketiduran bersama Diana.
***
sukses
.....semangat