NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

***Bab 14 Sel dingin dan bayang bayang

🌸🌸🌸

Dinding beton berwarna abu-abu kusam dan jeruji besi yang dingin menjadi pemandangan baru bagi Reno. Udara di dalam sel tahanan sementara Polda Metro Jaya terasa begitu lembap, berbau debu, dan menekan dada.

Kemeja putih merek ternama yang kemarin dibanggakannya di restoran mewah kini tampak kotor, kusut, dan kehilangan seluruh wibawanya.

Di atas dipan semen bertilam tipis, Reno duduk meringkuk seraya memeluk kedua lututnya. Setiap kali terdengar gema langkah sepatu boots petugas yang berpatroli di koridor, jantung Reno berdegup kencang dipenuhi rasa takut yang luar biasa.

Rasa jumawa, keangkuhan, dan harga diri tinggi yang selama bertahun-tahun melingkupi pikirannya telah hancur berkeping-keping. Pria yang merasa menjadi raja di Apex Media itu kini hanya bisa meringkuk bagai pesakitan di balik jeruji besi.

"Tahanan atas nama Reno Pratama! Ada kunjungan pengacara!" teriak seorang petugas dari balik pintu besi.

Reno langsung meloncat dari dipannya dengan mata membelalak panik. Ia berlari mendekati pintu sel, memegang jeruji besi yang dingin.

"Pak! Tolong keluarkan saya! Ini cuma salah paham! Saya bisa bayar ganti ruginya sekarang juga!" cerceh Reno dengan suara parau dan mata berair.

Petugas itu hanya menatap Reno dengan pandangan datar tanpa impresi sedikit pun. "Jangan banyak bicara. Ikut ke ruang kunjungan sekarang."

Dengan pergelangan tangan terikat, Reno dituntun menuju ruang kunjungan berdinding kaca tebal. Di sana, telah duduk Pengacara Lukman—seorang pengacara hukum pidana senior yang disewa oleh Ibu Risma menggunakan sisa seluruh uang simpanan terakhir keluarganya.

Reno duduk terburu-buru, menempelkan kedua telapak tangannya yang gemetar di atas meja kayu.

"Gimana, Pak Lukman?!" desak Reno histeris. "Kapan surat penangguhan penahanan saya dikabulkan?! Saya nggak bisa tidur di tempat jorok itu! Saya bisa gila!"

Pengacara Lukman mendesah pelan, merapikan posisi kacamata minusnya seraya menggelengkan kepala dengan raut wajah sangat berat.

"Pak Reno, harap kendalikan emosi Anda," ujar Lukman dengan intonasi rendah. "Posisi kita di mata hukum sangat sulit. Pihak pelapor—PT Cakrawala Capital yang diwakili oleh tim hukum Pak Hendra—menutup rapat semua jalur mediasi dan upaya penyelesaian secara kekeluargaan."

"Tapi saya ini mantan suaminya Nadia!" potong Reno dengan nada tinggi dan mata melotot tak terima. "Nadia itu cuma emosi sesaat! Minta dia datang ke sini! Saya mau bicara langsung sama Nadia! Dia pasti mau mencabut laporannya kalau saya minta maaf!"

"Nyonya Nadia Kirana sudah menyerahkan seluruh proses hukum ini secara penuh kepada pihak kepolisian dan kejaksaan, Pak Reno," pangkas Lukman tegas, memotong ilusi Reno.

Lukman membuka map dokumen di mejanya. "Bukti-bukti yang diserahkan tim hukum Cakrawala Capital sangat presisi dan tidak meninggalkan celah. Audit forensik keuangan, rekaman CCTV transaksi perhiasan di SCBD, hingga aliran kas operasional yang masuk ke rekening pribadi Anda... semuanya valid."

Lukman menatap mata Reno dengan tajam. "Ancamannya tidak main-main, Pak Reno: Pasal 374 KUHP tentang Penggelapan dalam Jabatan. Anda terancam hukuman pidana maksimal lima tahun penjara."

Mendengar frasa lima tahun penjara, persendian Reno mendadak lemas seketika. Wajahnya yang pucat kian tak berdarah. Napasnya tersengal-sengal seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak habis.

"Nggak... Nggak mungkin..." bisik Reno gemetar. "Terus Sella gimana?! Dia kan ikut menikmati uang itu! Dia yang minta perhiasan dan barang-barang mewah! Dia harus ikut ditahan!"

Pengacara Lukman menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh ironi. "Soal Saudari Sella Anindya... sebaiknya Anda tidak berharap bantuan dari wanita itu."

Dahi Reno berkerut. "Maksud Pak Lukman?"

"Di ruang pemeriksaan sebelah, Sella melalui kuasa hukumnya sudah menyerahkan berkas berita acara pemeriksaan," terang Lukman tanpa ampun. "Dia melemparkan seluruh kesalahan kepada Anda. Sella mengklaim bahwa dirinya hanyalah korban manipulasi yang diiming-imingi jabatan dan hadiah oleh Anda selaku CEO."

DEGG.

Reno menatap kosong pada pantulan dirinya di kaca tebal. Wanita yang selama ini dipujanya, wanita yang dipasangkan kalung berlian senilai tiga ratus lima puluh juta rupiah dari uang perusahaan, kini melemparkannya ke dalam jurang sendirian hanya demi menyelamatkan kulitnya sendiri.

"Sella... membuang aku...?" gumam Reno parau, menyadari betapa menyedihkan nasibnya.

Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit PT Cakrawala Capital, suasana sangat berbanding terbalik.

Cahaya jingga matahari sore menembus dinding kaca tebal, membiaskan pemandangan megah lanskap kota Jakarta. Nadia berdiri anggun di dekat jendela full-height, menggenggam cangkir teh hangatnya seraya memandang jalanan ibu kota yang dipadati kendaraan.

Di meja kerja kayu mahoni yang luas, Bimo sedang mengoreksi laporan konsolidasi keuangan pasca-RUPSLB.

"Nadia, seluruh operasional Apex Media sudah kembali stabil," Bimo melaporkan seraya menyerahkan berkas ringkasan. "Kepercayaan para investor dan klien besar yang sempat goyah akibat kasus Reno berhasil kita amankan setelah kamu mengumumkan pengambilalihan kendali perusahaan secara terbuka."

Nadia membalikkan badan, mengambil berkas itu dan menelitinya dengan cermat. Matanya menelusuri angka-angka pertumbuhan saham yang mulai merangkak naik.

"Bagaimana dengan pergerakan pihak luar yang mencoba memanfaatkan situasi kejatuhan Reno, Bimo?" tanya Nadia pelan namun sarat akan ketajaman analisis.

Bimo memperbaiki posisi duduknya, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.

"Itu hal penting yang mau saya laporkan," kata Bimo. "Ada pergerakan agresif dari Vanguard Group—kompetitor utama Apex Media di bidang industri kreatif dan media."

Nadia menaikkan sebelah alisnya. "Vanguard Group?"

"Benar," lanjut Bimo. "Begitu berita penangkapan Reno dan pembekuan aset tercium oleh media bisnis, pimpinan Vanguard Group mulai bergerak di bawah tanah. Mereka mencoba membeli saham-saham minoritas Apex Media di pasar sekunder dan mulai mendekati beberapa manajer kunci kita untuk melakukan pembajakan."

Mata Nadia berkilat dingin, memancarkan aura penguasa bisnis yang tak tersentuh. "Siapa nama pimpinan yang memimpin pergerakan Vanguard Group saat ini?"

" Aris Wijaya," jawab Bimo tegas. "Mantan kolega bisnis Reno yang dulu sempat tersingkir dari asosiasi. Kelihatannya dia mau memanfaatkan momen ini untuk mencaplok Apex Media sekaligus menguji kekuatan Cakrawala Capital."

Nadia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman tenang, berkelas, dan mematikan.

"Aris Wijaya pikir dia sedang berhadapan dengan Reno yang mudah diprovokasi oleh keangkuhan dan emosi," gumam Nadia seraya menutup map dokumen di tangannya dengan satu sentuhan halus.

Nadia melangkah menuju kursi pimpinannya, menduduki tahta bisnis PT Cakrawala Capital dengan penuh keanggunan.

"Biarkan Aris melangkah lebih jauh, Bimo," perintah Nadia dingin. "Kumpulkan seluruh portofolio, riwayat utang, dan pergerakan dana Vanguard Group."

Nadia menatap Bimo dengan pandangan jernih tanpa ragu.

"Jika Aris Wijaya ingin bermain di papan catur yang sama dengan Cakrawala Capital... akan saya pastikan dia dan perusahaannya bernasib sama tragisnya dengan Reno Pratama."

🌸🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!