Evita Desniati adalah seorang wanita yang sudah menikah selama 6 tahun lamanya dengan Xander Wiryawan. Kehidupan rumah tangga mereka mendadak hancur saat Evita memergoki Xander tengah bermesraan dengan seorang wanita bernama Viola Sanustika di atas ranjang yang biasa ia dan Xander gunakan! Evita menjadi trauma dengan ranjang hingga seorang pria asing dari Tiongkok bernama Ma Yong Hua muncul dan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perawat Gadungan
Kurang dari dua puluh menit kemudian, sirene ambulans berderu kencang memasuki area Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Internasional St. Carolus. Evita segera dilarikan masuk ke ruang tindakan intensif oleh tim dokter bedah darurat yang langsung siaga menangani luka-lukanya.
Berita mengejutkan dan mengerikan itu menyebar bagaikan sambaran petir di siang bolong. Dalam hitungan menit, kabar bahwa Evita Desniati menjadi korban penganiayaan brutal dan masuk rumah sakit telah sampai ke telinga orang nomor satu di Ma Group.
Di lantai paling atas gedung utama Ma Group, suasana ruang kerja CEO mendadak membeku dalam keheningan yang mematikan.
Ma Yong Hua berdiri mematung di dekat jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah panorama ibu kota. Gelas kristal berisi whisky di tangan kanannya digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih keras. Di hadapannya, sekretaris setia Feng Zhi berdiri dengan postur kaku, menunduk hormat sambil melaporkan hasil investigasi kilat yang baru saja ditarik dari rekaman CCTV kampus.
"Tuan Ma..." suara Feng Zhi terdengar bergetar tertahan, menyembunyikan ketegangan yang luar biasa besar. "Tim investigasi IT kita baru saja membedah rekaman kamera pengintai di sekitar tangga darurat Fakultas Ekonomi Universitas Megapolitan satu jam yang lalu."
Ma Yong Hua perlahan menolehkan kepalanya. Sepasang mata sipit pria itu tidak lagi memancarkan wibawa biasa; sorot matanya menyala terang oleh amarah sang naga yang wilayah kekuasaannya diganggu oleh iblis berdarah dingin. Suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan mengerikan.
"Siapa pelakunya, Feng Zhi?" tanya Ma Yong Hua dingin, bagaikan titah dari dasar neraka.
Feng Zhi menelan ludahnya susah payah sebelum menjawab. "Wanita itu... Viola Sanustika, Tuan. Rekaman CCTV memperlihatkan dia berhasil menyusup masuk ke lingkungan kampus dengan menyamar sebagai petugas kebersihan kontrak harian mengenakan topi dan masker medis. Dialah yang sengaja menarik Nona Evita ke tangga darurat, lalu mendorongnya hingga terjatuh berguling ke bawah."
****
Prang!
Gelas kristal di tangan Ma Yong Hua pecah berkeping-keping. Serpihan kaca dan cairan amber berhamburan ke lantai marmer yang mewah, sementara tetesan darah segar mengalir pelan dari telapak tangan Ma Yong Hua yang meremas gelas terlalu kuat. Namun, rasa sakit fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan kobaran api dendam yang membakar seluruh isi dadanya.
Ma Yong Hua mengepalkan kedua tangannya. Suhu di dalam ruangan megah itu seolah merosot drastis hingga membeku.
"Viola Sanustika..." geram Ma Yong Hua dengan suara bergetar penuh kemarahan mutlak yang melampaui batas kewarasan manusia. "Kemarin aku memberinya kesempatan hidup di sel tahanan, dan sekarang wanita jalang itu berani mencoba merenggut nyawa Evita... Dia benar-benar sudah bosan hidup di dunia ini!"
Ma Yong Hua berbalik badan dengan cepat, melangkah lebar menuju pintu keluar ruang kerjanya.
"Feng Zhi! Kerahkan seluruh jaringan intelijen kita, lacak persembunyian Viola detik ini juga! Dan siapkan helikopter pribadi kita, aku harus segera menemui Evita di rumah sakit sekarang!" perintah Ma Yong Hua mutlak tanpa bantahan.
"Baik, Tuan Ma! Saya laksanakan sekarang!" seru Feng Zhi sigap mengikuti langkah cepat sang majikan.
****
Di sisi lain, di koridor ruang perawatan intensif Rumah Sakit Santa Carolus, suasana kecemasan yang teramat sangat menyelimuti keluarga kecil Evita.
Pak Santoso dan istrinya, Bu Yekti, berlari tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit dengan napas memburu dan air mata yang berlinang di pipi mereka. Berita mendadak bahwa putri tunggal mereka yang baru saja mulai mengajar kembali harus dilarikan ke rumah sakit akibat kecelakaan brutal membuat jantung Bu Yekti nyaris copot dari rongga dadanya.
"Ya Allah, Evita... Anakku... Apa lagi cobaan yang Engkau berikan pada anakku..." ratap Bu Yekti tersengguk-sengguk, berjalan dipapah oleh suaminya yang tak kalah pucat pasi.
Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu ruang penanganan IGD yang dijaga ketat oleh dua orang pria berjas hitam anak buah Ma Group.
"Permisi, Pak, Bu," ucap salah seorang pengawal dengan sopan namun tegas. "Silakan menunggu sebentar di kursi tunggu. Tim dokter sedang melakukan tindakan medis darurat untuk menstabilkan kondisi Nona Evita."
Pak Santoso mengatupkan kedua tangannya, merangkul istrinya yang nyaris ambruk lemas di kursi tunggu logam. "Ibu yang sabar ya... Kita berdoa semoga Evita baik-baik saja..." bisik sang ayah dengan suara parau bergetar.
Di tengah keheningan yang penuh kepedihan di koridor tersebut, dari arah ujung lorong dekat lift, seorang wanita berpenampilan serba putih melangkah mendekat secara perlahan.
Wanita itu mengenakan pakaian perawat rumah sakit lengkap dengan topi putih bergaris merah di kepalanya, menenteng sebuah nampan berisi botol infus dan kapas steril. Namun, ada yang sangat ganjil dari cara berjalan wanita tersebut—langkah kakinya begitu kaku, angkuh, dan tidak mencerminkan keramahan seorang tenaga medis profesional.
Wanita itu adalah Viola Sanustika.
****
Setelah berhasil kabur dari lokasi kampus usai mendorong Evita, Viola tidak langsung melarikan diri keluar kota. Dengan kelicikan iblis yang melekat pada jiwanya, ia menyamar kembali dengan mencuri seragam perawat dari ruang ganti staf di lantai bawah rumah sakit tersebut. Tujuannya sangat jelas: ia ingin melihat langsung penderitaan terakhir Evita, dan jika ada kesempatan, ia ingin memastikan nyawa wanita itu benar-benar melayang di atas ranjang rumah sakit!
Viola mendekati area ruang tunggu IGD dengan menundukkan sedikit kepalanya, menutup sebagian wajahnya dengan masker medis putih tebal, sementara matanya melotot tajam mengawasi Pak Santoso dan Bu Yekti yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Permisi, Bapak dan Ibu keluarga pasien Evita Desniati?" sapa Viola dengan suara yang sengaja dibuat lembut, namun nadanya terdengar dingin menusuk kulit.
Bu Yekti mengangkat wajahnya yang sembab, menatap wanita berseragam perawat di hadapannya dengan penuh pengharapan. "I-iya, suster... Saya ibu kandungnya. Bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah lukanya parah?"
Mendengar pertanyaan penuh kepedihan dari ibu kandung musuhnya, di balik masker medis putihnya, bibir Viola merekah membentuk sebuah seringai sadis yang sangat mengerikan. Matanya menyipit tajam, memancarkan kebencian kesumat yang luar biasa.
"Tenanglah, Bu..." bisik Viola pelan dengan nada sinis yang disembunyikan di balik kelembutan palsunya. "Anak kesayanganmu itu sedang berjuang di dalam... Tapi jangan khawatir, sebentar lagi penderitaannya akan segera berakhir secara permanen."
Pak Santoso yang merasa ada kejanggalan dari intonasi suara dan tatapan mata sang perawat langsung menaikkan alisnya curiga. "Maaf, Suster... apa maksud perkataan Anda barusan?"
Viola tidak menjawab pertanyaan itu. Seringai di balik maskernya semakin melebar. Ia merogoh saku jas perawatnya secara perlahan, bersiap mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.