NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:299k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Guntur : 14

Badan remaja kurus tersebut tersentak hebat, asap hitam menyerupai wujud manusia raksasa keluar menembus dada.

Guntur ambruk, tak sadarkan diri di dekat adiknya yang juga tergeletak di lantai dingin.

Sosok tak kasat mata menyeringai keji, membungkuk membopong Hamima yang pingsan, lalu melemparkan tubuhnya keatas ranjang bertilam empuk.

Pada saat hendak mengangkat Pujiara, asap putih keluar dari celah pintu lemari jati — secepat kilat halilintar mendorong asap hitam menembus tembok.

Galih bak orang dungu, berdiri mematung dengan netranya membulat menatap jendela terbuka lebar kamar putranya.

Galih mengerang, telinganya berdengung menyakitkan, suara gemuruh hujan lebat disertai petir menyambar-nyambar seperti adegan kilas balik berputar pada memori otak.

Arghhh!

Rasa pusing menyerang, pandangannya berputar cepat, lalu dirinya rubuh dengan kesadaran menghilang.

Pagi yang awalnya disambut riang, antusias, berubah sepi mencekam. Penghuni rumah terkapar, dan tak mendapatkan pertolongan dari siapapun.

Jarum jam terus bergerak ke kanan, langit gelap sepenuhnya terang, dan waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

Kelopak dihiasi bulu mata lentik bergerak-gerak, lalu terdengar suara rintihan dari bibir wanita yang tadi dibanting.

Hamima terjaga dalam keadaan pusing, jarinya menekan rasa berdenyut di kepala samping kiri.

“Ini hari apa? Jam berapa?” ia linglung, ingatan yang tertinggal dalam memori — menimang Pujiara sampai terlelap semalam.

“Guntur, kamu kok tidur disini? Mana gak pakai baju cuma handukan?” pipi putranya ditepuk-tepuk pelan.

“Bu ….” Guntur meregangkan otot-otot tangan terasa pegal, dia pun terbangun. Sama seperti sang ibu, tidak mengingat kejadian menyeramkan beberapa waktu lalu.

“Sudah waktunya aku masuk sekolah, ‘kan?” tanyanya bingung.

“Coba kamu turun dari ranjang, terus keluar lihat jam berapa sekarang?” titah Hamima mulai bisa berpikir jernih.

Saat menjejakkan kaki di lantai, dan mulai berdiri, badan Guntur oleng. Persendian lemas, dan rasanya tenaganya terkuras habis.

“Kamu kenapa, Nak?” Hamima cemas, tidak biasanya Guntur seperti ini.

“Gak tau, Bu, badannya lemes, terus kepala pusing,” adunya jujur.

“Coba Ibu periksa keningnya,” ia khawatir putranya demam.

Punggung jari tangan menempel di kening dan leher — “Gak panas, Nak, tapi kenapa kamu lemas sekali?”

“Entahlah, Bu.” Guntur terduduk di tepi kasur.

“Berbaringlah lagi, biar ibu yang lihat jam. Kamu jaga adik, ya?” Mima turun dari ranjang.

Jam dikamar nya mati, entah kehabisan baterai atau sudah rusak.

Remaja memakai handuk itu merebahkan badan, berbaring miring memandangi adiknya.

Hamima melihat jam, dan dia langsung terkejut. “Sudah setengah tujuh lewat lima menit, kenapa bisa terlambat bangun sampai sesiang ini?”

“Kemana mas Galih? Apa sudah pergi mengajar, terus mengapa Guntur ditinggal?” dia yang panik, melangkah terlalu lebar dan terburu-buru.

Hamima memekik tertahan, perutnya nyeri, dan bagian intim perih.

“Apa aku dapat haid?” Dirabanya area pangkal paha yang terasa tebal. “Terus kapan pakai pembalutnya, kenapa gak ingat?”

“Dek, kamu kok gak bangunin Mas? Hari sudah terang dan ini hari pertama aku ngajar, Mima!” Galih keluar dari kamar Guntur, dia tidak merasa aneh, beranggapan ketiduran di kamar putranya.

“Maaf, Mas,” tak ada yang bisa dikatakannya, sebab pikiran berserak.

“Aku rebusin air panas ya, Mas?” tanyanya sembari menahan sakit berjalan pelan-pelan.

“Gak usah!” Galih berjalan cepat ke belakang, lalu masuk ke kamar mandi dan membanting sedikit kuat pintunya sebagai bentuk kekesalan.

Hamima terperanjat, bukan cuma terkejut oleh suara keras pintu tertutup, tapi juga melihat menu nasi goreng diatas meja tertutup tudung saji. Ada juga teh sudah dingin tertuang di gelas tiga buah.

“Kapan aku masak ini? Atau bukan diriku yang mengolanya?” kepalanya mulai pusing, dan bagian belakang terasa berdenyut.

Diperiksanya sesuatu menyakitkan, dan ternyata — “Kepalaku benjol, kapan tepatnya terjatuh atau terantuk?”

Akhh!

Teriakannya bukan disebabkan rasa takut, tetapi frustasi akan banyaknya hal mengganjal tak satupun mendapatkan jawaban.

Tubuh Hamima merosot, dia terduduk di lantai. “Aku gak betah, tempat ini aneh, rumah gedong tapi terasa lain auranya.”

“Kamu sudah gak waras ya? Teriak ngagetin orang saja! Guntur sudah dibangunin belum? Dia sekolah hari ini, jangan sampai bolos!” Galih melengos pergi.

Betapa kecewanya Hamima. Suaminya telah berubah, jadi abai, dan sikapnya dingin, tak tersentuh.

“Ibu gapapa?” Guntur mendekati ibunya. Tadi dia mendengar suara jeritan, lalu bentakan sang ayah.

“Ibu baik-baik saja, Nak. Kamu ganti baju sekolah sana, siap-siap. Berangkat bareng Ayah. Ini Ibu bawakan bekal, nanti makan ya, biar fokus belajarnya.” Hamima menerima uluran tangan kecil, lalu dia juga berpegangan pada kursi agar lebih memudahkan untuk berdiri.

“Guntur masih lemas tidak badan kamu?” tanyanya sedikit cemas.

“Udah tidak lagi, Bu. Aku ke kamar ya, mau ganti baju.”

“Iya.” Angguknya. Mima mengambil kotak bekal yang sudah ada diatas meja, lalu menyendok nasi goreng memasukkan ke dalam wadah.

Rasa pusing, mual, nyeri, serentak menyerangnya. Tidak lagi kuat menahan sakit, Mima menarik kursi kayu, duduk sebentar.

Air dalam gelas bergoyang dikarenakan tangan yang memegangnya gemetaran.

“Mima, kopi Mas mana?!” seruan Galih terdengar sampai dapur, dia kesal melihat meja ruang tamu kosong, biasanya ada minuman kesukaannya di sana.

Hamima menelan air ludah yang memenuhi mulut, lidahnya terasa masam dan pahit. “Aku lupa buat, Mas!”

Sahutan sedikit keras tersebut dibalas gerutuan kencang. “Kamu benar-benar keterlaluan! Kerja nggak, cuma ngurus rumah sama anak, melayani kebutuhanku pun gak becus.”

“Ibu itu sakit, Yah! Apa Ayah gak lihat mukanya pucat? Lagian cuma buat kopi pun malas, taunya menyuruh saja!” Guntur berkacak pinggang, telinganya panas mendengar ibunya direndahkan.

“Berani kamu sama Ayah! Mau jadi anak durhaka iya?!” Galih melotot, rahangnya mengeras.

“Mas, ini sudah jam 7, buruan berangkat. Maaf, aku lupa buat kopi, lain kali gak gitu lagi,” Mima menjadi penengah, berdiri dengan bersandar pada dinding.

“Guntur, masukan bekal di atas meja ke dalam tas kamu. Cepat, Nak!” titahnya mendesak, menjauhkan anak dari ayah yang masih dikuasai oleh emosi.

Galih mendengus, tidak menghampiri sang istri. Melupakan kebiasaan mengecup kening, dan punggung tangannya dicium.

Hati Hamima terasa perih, sikap suaminya jauh berbeda dari saat mereka masih tinggal di kota kabupaten.

Guntur menyalami punggung tangan ibunya, berkata pelan. “Bu, gitu jam belajar selesai, aku langsung buru-buru pulang. Biar Ibu gak sendirian dirumah mengurus dek Ara.”

Hamima terenyuh, ia usap sayang pucuk kepala yang memakai topi merah putih. “Jangan dipaksakan, Nak! Pulang bareng Ayah saja, biar tidak jalan kaki.”

Guntur enggan menjawab, dia melangkah tak semangat. Pas di batas pintu, dirinya berbalik, menatap lama ibunya.

“Bu, jangan biarkan dek Ara sendirian. Temani terus! Sewaktu tidur juga jangan ditinggal-tinggal. Nanti dia ....”

.

.

Bersambung.

1
bontenk90
bagus si galih gak dikasih mampus,biar nanti hamima statusnya cerai hidup,bukan cerai mati
Shee_👚
mana ada manusia serakahan kaya kamu bisa di percaya😤
Shee_👚
setujuuu....siksa dia sampai dia sendiri yang minta kematian🤣
Shee_👚
gak tau malu😤
cuihh...... pengin banget aku ludahin si sarkam, ngaku² memesrai yang ada juga nyiksa😤
Shee_👚
percuma nyari yang bisa nolong, mereka ogah nolong juga🤭
Shee_👚
tong kosong nyaring bunyinya ya begitu gendeng, pinter berkoar sama menghasut doang, lebihnya gak da😤
Shee_👚
untuk apa simpati sama orang² begitu, biarin aja mati biar tau rasa dan menebus perbuatan dia
Dede Dedeh
teu hhyng ngahampura nage, lebok ku sia dasar manusia bangsatttttt
Shee_👚
betul, itu mah emang dianya aja yang sok banget. pada hal dia masih ada pilihan untuk membela yang bener
Shee_👚
apa lu mau lari hah, mana bisa😂
kamu dah menyerah diri dengan masuk ke wilayah musuh, jadi jangan harap bisa pergi🤣🤣🤣
Shee_👚
betul kalau mereka gak mati gak puas, tapi kalau matinya langsung juga kurang adil harus di siksa dulu
AFPA
wes kapokmu kapan..ki gendeng sama kambing masih belagu aja
AFPA
telat ga si si darwan minta maapnya
Nining Nurjanah
ih najis di peristri sarkam, bagus Thor beri sarkam balasan yang sangat sadis jangan di buat mati
mmh nengmuti
udah jgn banyak cingcong sarkam,babat habis aja Arwan jgn ksih ampun
sryharty
hueekkk bener2 menjijikan kamu sarkam,,
sama2 serakah giliran kaya gini aja kamu langsung lempar batu sembunyi tangan
Aprisya
hoooeeekk pingin muntah aku denger omongan kamu sarkam,,
setuju dengan ide desita ,, siksa dulu
FLA
ahh gak sabar penyiksaan itu tiba
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Ibliss mana yang bakal percaya dengan omongan kamu Sarkam. manusia kalau sudah berada di ujung pisau, segala penyesalan dan kata2 minta di kasihani meluncur bebas tanpa ingat, bagaimana kelakuan keji nya di masalalu. manusia hina seperti kamu pantas di siksaa sampai mulut mu tak bisa mengucapkan kata ampun lagi.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
astagaaa ...Cuihhhh ludahin onlain! tak pingin ikut campur, tapi Muakkk bangett dengan omongan Sarkam. rasa hati pingin merobekk mulut sarkam. kamu fikir! Desita bakal luluh dengan rayuan kamu sarkam, jangan harapp...malam ini juga kamu bakalan metongg. kalau kamu enggak metong2 bahayaaa. candra kanti dengan kedua Cogan nya, sudah antri nungguin di depan pintu ntoon 🤭😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!