Zhao Xinyue sadar dirinya bukan villain utama, bukan heroine, melainkan selir berpangkat rendah yang di novel asli mati karena tanpa sengaja melihat rahasia kaisar. Begitu sadar, targetnya cuma satu. "Aku tidak ingin naik pangkat. Aku cuma ingin hidup sampai akhir cerita."
Masalahnya... Semakin dia berusaha tidak mencolok, semakin banyak orang memperhatikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Jam air di sudut ruangan telah menunjukkan lewat tengah malam. Kotak kayu cendana berisi ginseng darah pemberian Su Wan tergeletak di atas meja bundar layaknya bom waktu yang siap meledak. Aku duduk bersila di atas ranjang, memeluk lutut sambil merapal doa, berharap sang Tiran terlalu sibuk mengurus negara malam ini sehingga lupa pada jadwal evaluasi agen mata-matanya.
Tentu saja, harapanku sia-sia.
Klik.
Suara pelan dari dinding barat itu menghentikan detak jantungku. Panel kayu bergeser membuka, dan bayangan tinggi besar Li Jingchen melangkah keluar dari kegelapan lorong.
Malam ini, ia masih mengenakan pakaian formalnya yang berwarna hitam kelam. Wajahnya memancarkan kelelahan ekstrem, seolah ia baru saja berdebat berjam-jam dengan para menteri yang keras kepala. Namun, mata elangnya tetap setajam biasanya saat menyapu seisi kamarku, dan akhirnya terpaku pada kotak kayu di atas meja.
Li Jingchen melangkah mendekati meja itu. Ia membuka tutupnya dengan satu jentikan jari. Aroma pekat akar-akaran herbal dan tanah langsung menguar memenuhi udara.
"Ginseng darah," suara baritonnya memecah kesunyian, mengalun dingin dan mendalam. "Dari perbatasan utara."
Aku buru-buru merangkak turun dari ranjang dan berlutut di lantai marmer yang dingin. "Y-Yang Mulia."
Li Jingchen mengambil salah satu akar ginseng yang berwarna kemerahan itu, memutarnya di antara jari-jarinya yang panjang. "Putri Perdana Menteri baru satu hari menempati paviliunnya, dan dia sudah datang kemari membawakanmu upeti dari kampung halaman ayahmu. Katakan padaku, Shen Yu... apa laporan pertamamu malam ini?"
Otakku yang sejak tadi sudah menyiapkan draf 'Laporan Kinerja Agen Ganda' langsung berputar. Aku harus melaporkan kejadian tadi siang seakurat mungkin agar tidak dianggap berbohong, namun dengan pembingkaian ( framing ) yang membuat Su Wan terlihat sedang melakukan 'pendekatan' biasa, bukan konspirasi.
"Menjawab Yang Mulia," ujarku, menjaga suaraku agar tetap terdengar seperti orang bodoh yang gugup, "Selir Su datang untuk berterima kasih karena insiden di Aula Harmoni tempo hari. Beliau membawa ginseng ini dan... dan mengatakan bahwa pintu paviliunnya selalu terbuka jika angin di istana bertiup terlalu kencang."
Li Jingchen melemparkan kembali ginseng itu ke dalam kotak. Bunyi benturan kayunya membuat bahuku tersentak.
"Angin yang bertiup kencang," ulang Kaisar dengan nada sinis yang mematikan. Ia menoleh menatapku yang sedang menempelkan dahi ke lantai. "Dia sedang menawarimu payung dari keluarganya untuk berlindung dari Selir Gui. Di saat yang sama, dia mengingatkanmu bahwa ayahmu di perbatasan utara berada dalam jangkauan ayahnya. Ancaman dan suap yang dikemas dalam satu kotak kayu kecil. Lalu, bagaimana kau menjawabnya?"
Keringat dingin membasahi pelipisku. Tiran ini benar-benar tidak bisa dibodohi. Ia membaca maksud Su Wan semudah membaca buku menu.
"H-hamba sangat panik, Yang Mulia!" jawabku, mendongak dengan wajah memelas. "Hamba tidak mengerti kiasan politik, jadi hamba menjawab sejujurnya! Hamba bilang... hamba sangat senang karena ginseng itu bisa hamba tumbuk untuk dijadikan tapal obat gosok encok di telapak kaki!"
Keheningan yang luar biasa aneh mendadak turun di ruangan itu.
Li Jingchen, sang penguasa daratan yang kejam, mematung. Matanya sedikit melebar menatapku. Untuk sesaat, aku mengira ia akan menendangku karena jawabanku yang sangat merendahkan martabat hadiah politik tingkat tinggi.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru membuat nyaliku semakin ciut.
Dada bidang pria itu bergetar. Sebuah suara dengusan pelan lolos dari bibirnya. Ia memalingkan wajahnya, menutupi mulutnya dengan sebelah tangan. Bahunya naik turun dalam ritme yang tidak teratur.
Dia... tertawa? Tertawa lepas?!
Aku mengerjap bingung. Tawa Li Jingchen terdengar berat dan serak, seolah pita suaranya tidak terbiasa melakukan aktivitas tersebut. Tawa itu tidak bertahan lama, namun efeknya merubah seluruh atmosfer ruangan yang tadinya setegang ruang interogasi menjadi sesuatu yang anehnya lebih rileks.
"Obat gosok encok," Li Jingchen menghela napas panjang, mengusap sudut matanya, dan menatapku dengan sorot yang kini bercampur antara rasa geli dan takjub. "Putri rubah tua itu pasti mengira ia sedang berbicara dengan sepotong batu bata. Kau benar-benar menghancurkan seluruh taktiknya dengan kebodohan yang mengagumkan."
"Hamba hanya berkata jujur, Yang Mulia," gumamku, setengah bersyukur taktik HRD-ku berhasil mengelabui mereka berdua.
"Bagus," Li Jingchen melangkah mendekatiku. "Dia sekarang mengira kau tidak cukup pintar untuk menjadi ancaman, namun memiliki kedekatan denganku. Dia akan mencoba memanfaatmu lagi. Teruslah bermain sebagai batu bata yang patuh di depannya."
Aku mengangguk cepat bak burung pelatuk. "Tentu, Yang Mulia! Hamba adalah batu bata paling profesional di istana ini!"
"Bangunlah," perintahnya.
Aku berdiri perlahan, mengusap lututku yang ngilu. Ku-pikir evaluasi kinerjaku malam ini sudah selesai dan aku bisa kembali menjadi guling. Namun, Li Jingchen justru berbalik kembali ke arah meja. Ia mencabut sebuah belati kecil dari balik jubahnya.
Sring.
Aku menahan napas saat bilah belati itu memantulkan cahaya lilin. Apakah dia berubah pikiran dan ingin membunuhku?!
Dengan gerakan cepat, Li Jingchen memotong sedikit ujung ginseng darah itu. Ia meraih potongan kecil yang berwarna merah pekat tersebut, berjalan ke arahku, dan menyodorkannya tepat ke depan mulutku.
"Makan," titahnya datar.
Aku membelalakkan mata. "Y-Yang Mulia? Untuk apa? Hamba tidak sakit!"
"Ginseng ini adalah barang dari keluarga Su. Walau kelihatannya sempurna, aku tidak akan mengambil risiko ada bubuk racun tak kasat mata yang tertinggal di sana," ujarnya dingin. "Kau yang menerimanya, kau yang harus mengujinya. Buka mulutmu."
Mulutku ternganga horor. Dia menjadikanku food taster alias pencicip racun?!
"Tapi... bagaimana kalau ini benar-benar beracun?!" protesku panik, melangkah mundur.
"Maka kita akan memanggil Tabib Zhao," jawabnya tanpa empati sedikit pun. Tangannya yang bebas mencengkeram daguku, memaksa mulutku terbuka, dan memasukkan potongan ginseng mentah itu ke dalam mulutku. Ia menutup rahangku paksa dengan tangannya. "Kunyah dan telan. Jangan dimuntahkan, atau kupotong lidahmu."
Sambil menangis merana dalam hati, aku mengunyah ginseng itu. Rasanya luar biasa pahit, getir, dan berbau tanah yang sangat kuat. Begitu kutelan, rasa panas langsung menjalar ke tenggorokanku menuju perut.
Li Jingchen melepaskan daguku. Ia menatap wajahku dengan saksama selama beberapa menit, seolah menunggu apakah aku akan kejang-kejang dan berbuih seperti tikus kemarin.
Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit berlalu.
Tidak ada buih. Tidak ada kejang.
"Bagus. Berarti tidak beracun," gumam Li Jingchen puas. Ia melepaskan jubah luarnya dan melemparnya ke lantai. "Kerja bagus untuk hari ini, Mata-mata Kecil. Sekarang, kemarilah. Aku lelah."
Sang Tiran berjalan ke ranjangku, merebahkan tubuh besarnya, dan menepuk sisi kosong di sebelahnya. Rutinitas guling bernapas telah dimulai.
Aku berjalan gontai, pasrah pada nasib. Aku merebahkan diri di sampingnya, membiarkan lengannya yang seberat jangkar kapal melingkari pinggangku dan menarikku hingga punggungku menempel pada dada bidangnya.
Dalam hitungan menit, napas Li Jingchen menjadi teratur. Ia tertidur pulas, menyerap hawa damai dari kepatuhanku.
Namun, masalah terbesarku malam ini bukanlah posisiku yang terjepit, melainkan potongan ginseng darah yang baru saja kutelan.
Ginseng darah berusia puluhan tahun adalah stimulan energi tingkat ekstrem. Tanaman ini biasanya direbus dan diminum berhari-hari oleh prajurit yang terluka parah agar tetap terjaga. Dan aku? Aku baru saja menelan sepotong mentah-mentah saat akan tidur.
Setengah jam kemudian, efeknya mulai menghantam tubuhku seperti kereta kuda yang lepas kendali.
Mataku terbuka selebar piring. Jantungku berdetak dengan ritme musik heavy metal. Suhu tubuhku naik, membuatku berkeringat deras di bawah selimut tebal. Darahku mengalir begitu cepat hingga aku bisa merasakan denyutannya di ujung jari dan telingaku.
Aku. Sangat. Berenergi.
Aku bisa berlari keliling istana sepuluh putaran sekarang juga! jeritku dalam hati. Aku bisa menyelesaikan laporan pajak tahunan kekaisaran dalam satu malam! Kenapa mataku tidak mau menutup?!
Aku meronta kecil, mencoba melepaskan diri dari pelukan Li Jingchen, tapi lengan kekarnya terkunci rapat.
"Jangan bergerak," geram Li Jingchen serak dalam tidurnya, mengeratkan pelukannya hingga aku nyaris kehabisan napas. "Tidurlah, Shen Yu."
Bagaimana aku bisa tidur, Monster Gaharu?! batinku menangis darah. Kau baru saja mencekokiku dengan minuman energi dosis dewa dewa!
Malam itu, di saat seluruh istana tertidur lelap, aku berbaring kaku di dalam kegelapan. Mataku melotot menatap kelambu. Jantungku berdebar brutal. Sesekali, setetes darah segar menetes dari hidungku karena suhu tubuhku yang terlalu panas—yang terpaksa kuusap pelan-pelan ke selimut agar tidak ketahuan.
Jika menjadi agen ganda tidak membunuhku, maka efek samping ramuan herbal Tiongkok kuno ini pasti akan mengirimku ke alam baka sebelum pagi tiba.
karena makan buah simalakama 🤭🤭🤭😭😭😭😭
tapi aku penasaran tor itu "Selir" istri Kaisar juga??? atau apa kurang paham 🤭🤭
berharap Kaisar jijik ealah malah tetap nempel 🥰🥰🥰