Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 13
Menerima kembali hadirnya orang lama itu ternyata tidak seburuk apa yang telah dibayangkan. Jika hati kita merasa lega, hal buruk itu tidak akan pernah datang menghantui. Tapi jika sebaliknya, mungkin kesengsaraan pasti menyulitkan kita untuk bertahan hidup. Maka dari itu kita harus mensyukuri apa yang telah ditetapkan dihidup kita.
"Semoga hari ini jauh lebih baik daripada kemarin." Harap Yuman yang melangkah lebih masuk ke dalam tempat kerjanya sembari mengalungkan tali tanda pengenal nya yang berwarna abu-abu.
Sekilas kepalanya mengangguk untuk membalas sapaan dari beberapa orang yang lalang di sekitarnya, tanpa menampilkan wajahnya muramnya. Karena perasaannya saat ini sedikit merasa lega, ketakutannya pada masa kelam kini perlahan memudar.
Spontan Yumna menghentikan langkahnya saat seorang pria familiar baru saja keluar dari ruangan, dengan tubuh yang tersentak kaget melihat Yumna.
"Kau mengejutkan ku." Tidak begitu jelas Elvarrio mengatakannya. Tapi masih bisa Yumna terima. Karena Vallen pernah memberitahunya, jika pria di depan matanya saat ini. Tidak bisa menjeda saat melontarkan perkataannya. Hingga itu terdengar sangat cepat di telinga siapapun yang mendengarnya.
"Tidak hanya dirimu, aku pun juga terkejut melihat mu." Sahut Yumna, yang terlihat tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Padahal posisi Yumna masih karyawan baru yang belum genap satu minggu.
Belum juga Elvarrio membuka suara, pandangan matanya yang langsung menangkap Lingga berjalan mendekat. Membuat tangan kekar Elvarrio dengan sopan menarik lengan Yumna, untuk tidak menghalangi jalan Lingga. Karena artis itu akan mengadakan siapapun yang berdiri menutup jalannya.
Dan Yumna sendiri pun sedikit meronta akan sikap Elvarrio yang membuat Yumna ingin melayangkan pukulan di kepala Elvarrio. Tapi saat kedua mata Yumna melihat kehadiran Lingga. Yumna merasa harus berterima kasih kepada Elvarrio, karena telah menyelamatkannya dari orang yang menurut Yumna harus dirinya hindari selama di perusahaan.
"Di mana manajer Yudha?" Tanya Lingga tanpa basa-basi.
"Bukankah dia bersama mu?" Alih Elvarrio yang juga tidak tahu di mana keberadaan Yudha.
"Jika dia bersama ku, aku tidak akan mencarinya." Tanpa menunggu balasan dari Elvarrio, kini Lingga memilih masuk ke dalam ruang kerja para manager. Mengabaikan Elvarrio yang hampir saja mengumpat menggunakan kata-kata mutiaranya.
Sedangkan Yumna yang mendengar kalimat itu, hanya bisa meringis perih. Manik mahoni milik Yumna masih fokus pada satu titik di mana seorang aktor muda yang kini duduk di kursi kerja, entah milik siapa itu. "Dia benar-benar tampan. Tapi aku tidak bisa menyapanya. Padahal dia ada di depan mataku.
"Benar--" suara Elvarrio, mampu menyentak tubuh Yumna. Sadar akan perkataannya. Padahal suara Yumna terdengar sangat pelan, tapi telinga Elvarrio begitu tajam. Hingga menangkapnya dengan jelas.
"Kita hanya karyawan yang harus menjaga batasan dengan sang artis." Sambung Elvarrio, dengan kepala mengangguk kecil. "Untuk menghindari rumor palsu, komentar negatif. Agar hidup mereka damai, jauh dari skandal. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berteman dengan mereka."
Pandangan Elvarrio perlahan menoleh ke samping, di mana Yumna yang masih melihat ke arah Lingga. Tidak membuat Elvarrio menelan kembali perkataannya. "Itu sangat mengerkan, bukan?"
"Jika kau tahu, itu hal yang mengerikan. Kenapa kau masih bertahan dengan pekerjaan mu?" Ada keraguan Yumna memberi balasan. Sebenarnya Yumna tidak ingin menanggapi perkataan Elvarrio. Tapi entah kenapa, mulut Yumna tidak bisa ditahan untuk tetap diam. Dan, Yumna harus menjadi karyawan yang mampu menghormati seniornya.
Elvarrio tersenyum kecil begitu getir. "Uang yang membuat ku bertahan. Tapi, bagaimana dengan mu sendiri? Kenapa aku ada di perusahaan ini jika tahu resiko itu besar?"
"Benar, demi uang kita harus bertahan." Pelan Yumna, sembari mengangguk. Kembali meluruskan pandangannya. "Tanpa uang pun kita tidak bisa membeli makanan yang kita mau."
"Ngomong-ngomong, siapa nama mu?" Bertanya bagi Elvarrio bukan hal yang berat. Apalagi melangkah mendekat untuk lebih tahu siapa wanita di hadapannya.
"Nama ku..." Yumna membalas tatapan Elvarrio, dan menuntaskan perkataannya. "...Yumna, Yumnallasha." Tidak ada keraguan di benaknya. Yumna mengatakan siapa namanya.
Kepala Elvarrio mengangguk, bukan berarti dia melupakan pekerjaannya. Tapi karena Elvarrio ingin sedikit lagi mengobrol dengan Yumna, sebelum kembali ke rutinitas awalnya. "Kau baru lulus sekolah?"
"Satu tahun yang lalu." Asal Yumna, karena benar-benar ingin enyah dari tempatnya saat ini. Kakinya begitu pegal, jika berdiri terus-menerus. Tapi Yumna juga tidak bisa mengakhiri obrolannya bersama Elvarrio. Entah kenapa, Yumna harus bersikap sopan. Agar pandangan orang terhadapnya itu tidak buruk.
Sekilas Elvarrio menggerakkan kepalanya ke sembarang arah, dengan kening mengerut samar. "Jika kau baru lulus sekolah. Bagaimana kau bisa masuk ke perusahaan ini? Dan jika di lihat dari wajah mu, usia mu masih di bawah 20 tahun. Apa tebakan ku benar?"
"Memangnya kenapa? Apa usia di bawah 20 tahun tidak boleh bekerja di perusahaan ini? Setahu ku, orang yang sudah memiliki kartu tanda pengenal itu sudah mendapat ijin untuk bekerja." Sungut Yumna, yang kini tidak ingin mengalah pada pria itu.
"Memang benar. Tapi, itu sangat mencurigakan. Apa kau__" sekilas Elvarrio memainkan lidahnya di dalam mulut, sebelum menuntaskan perkataannya. "Memiliki orang dalam?"
"Memang benar, aku memiliki orang dalam." Tidak begitu cepat, Yumna membuka suara. "Dan itu memudahkan ku bekerja di tempat ini tanpa interview."
"Kenapa? Apa hal itu akan membuat mu tidak menyukai ku?" Tambah Yumna, dengan kedua alia naik ke atas. "Kau pun juga seperti itu bukan? Tirtha yang membawa mu ke perusahaan ini. Dan semua karyawan disini masuk melalui orang dalam. Jadi kenapa kau masih menanyakan hal seperti itu?"
Mulut Elvarrio terkunci, pria itu hanya bisa menelan ludah getirnya. Tidak bisa mengelak dengan apa yang di katakan Yumna. Dan itu memang benar, seluruh karyawan di perusahaan masuk melalui orang dalam.
"Jika tidak ada yang ingin kau tanyakan lagi, menyingkirlah. Aku harus pergi keruangan ku." Pinta Yumna, yang membuat Elvarrio memberi jalan untuk Yumna. Tanpa mengatakan apapun lagi.
Dan tidak lama dari itu seorang Yudha berjalan kearah Elvarrio dengan tampang yang ramah. Melihat temannya itu, sebelum mengikuti arah padang Elvarrio yang menatap ke arah di mana ruang humas berada. Tepat di samping ruang manajer.
"Siapa yang kau lihat? Wanita boneka itu? Atau karyawan baru?" Tanya Yudha yang rendah. Tapi mampu membuat tubuh Elvarrio sedikit tersentak.
"Sejak kapan kau ada disini?" Seru Elvarrio dengan tubuh yang hampir lemas, karena terkejut akan kehadiran Yudha.
"Baru saja." Jawab Yudha. Menganggun kecil, dan memilih masuk kedalam ruang kerjanya. Tanpa mempedulikan Elvarrio, yang masih berdiri di tempat.
"Memang benar, manusia yang paling menakutkan." Gumam Elvarrio, melihat ke dalam ruang kerjanya dengan sorot mata pasrah. Sebelum melangkah ke arah di mana ruang Tirtha berada. Karena ada hal yang harus Elvarrio tuntaskan.
Masalah kemarin harus Elvarrio selesaikan, dan entah kenapa saat tahu siapa gadis itu. Membuat Elvarrio semakin yakin, jika apa yang akan dirinya katakan nanti pasti diterima oleh Tirtha.