Dilarang Plagiat Karya Saya ‼️
Hidup sendirian berada di suatu pulau terpencil, kawasan tersebut sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh manusia. Letaknya sangat jauh dan tidak diketahui, namun pada suatu hari seorang wanita cantik tersesat ketika dirinya healing sendirian.
"Merman? Bukannya merman itu hanya dalam mitos belaka? Hahaha, itu bukan merman!"
"Merman tidak mungkin ada dan mustahil jika muncul di dunia nyata! Mitos tetaplah mitos, dan tidak akan pernah menjadi nyata!"
"Hufh... aku salah melihat pasti!" Namun dugaannya salah, makhluk yang ia anggap mitos ternyata memang nyata.
"Ace..." Merman itu bergumam pelan.
"Hah? Kau mengatakan apa?" Dahi wanita itu mengernyit kebingungan.
"Ace... mm ngan igi!"
"....." Mengerjapkan mata dan terdiam membisu.
"Maksudnya?" Pikirnya wanita itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kualahan Karena Serangan Dari Matenya
"Hosh..hosh.." Nafasnya terengah-engah, ia ketinggalan jauh.
"Perasaan tadi sedang aku kejar deh, tapi kok matenya cepat banget hilangnya? Padahal cuman jalan kaki doang tidak lari?" Pikir pria merman itu.
Kepalanya celingak-celinguk ke segala arah, guna mencari sang matenya. Sedangkan Thienvra, orang dicarinya saat ini tengah bersembunyi di luar taman belakang.
Bruk
Ia berhasil memanjat pembatas rumah menggunakan tangga, lalu segera diamankan.
"Santai dulu lah disini, mumpung tidak ada yang tahu." Kata wanita itu.
Kursi lipat dibukanya, dan terbaring disana sambil ditemani sebotol susu hangat yang sudah disiapkan sebelum kabur dari Chio.
"Indahnya langit di malam hari." Celetuk Thienvra.
"Aku ambil gambar dulu deh." Mengambil ponsel dari saku celananya.
Cekrek
Cekrek
Beruntungnya telah disilent ponselnya jadi tidak menimbulkan suara.
"Waw, bagus ini hasilnya!" Seru Thienvra.
Tampak keindahan bulan purnama yang tidak bisa diartikan dengan kata-kata, bentuknya memukau, dan enak dipandang mata. Angin sepoi menerpa kulitnya, rambut dibiarkan terurai tanpa diikat, sesekali minum susu hangat, dan rasa kantuk hilang dalam sekejap.
"Aku tidak terbayang, pasti sekarang si Chio kelabakan sendiri mencari diriku, habis itu menangis, dan tidak tertolong." Gerutunya wanita itu sembari memandangi langit.
"Hiks..Mate? Hiks...dimana kamu? Hiks..huhu.."
Benar apa kata Thienvra, pria merman tersebut menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya, pintu dibiarkan terbuka, untungnya Samueltha telah tertidur pulas di kamar di seberang.
"Jahat..hiks..kenapa ninggalin aku hiks..sendirian!? MATE HUWAAA!" Chio menjerit histeris, jeritannya lumayan kencang sampai terdengar sekali.
"Astaga? Itu si Chio? Kalau kayak gini bisa-bisa mengusik para makhluk yang sedang tidur! Aku harus membungkam mulutnya itu!" Thienvra setelah mendengar jerit Chio bergegas beres-beres, lalu memanjat tangga.
"Hah..hah..aduh..capek..bentar deh..huh." Keringat membasahi dahinya, lalu mengelapnya dengan tisu.
"Masih menangis dia?" Pikir Thienvra, kepalanya sedikit menongol, lalu melihat Chio yang meringkuk di atas kasur.
Masuk kamar dan berjalan tanpa memimbulkan suara, pintu ditutup serta dikuncinya, perlahan menaiki tempat tidur. Dibaringkannya tubuh di samping Chio, pria merman itu belum menyadari kehadiran dirinya.
"Hiks..hiks.." Tangisannya belum mereda.
"Chici." Ujar Thienvra, sontak menutup mulutnya.
"Kok Chici sih?" Batin wanita itu sambil meringis.
Memanggilnya "Chici" kenapa bukan "Chio" dan setelah itu pria merman membalikkan badannya, kini berhadapan dengannya.
"Hiks..siapa Chici? Mate..hiks jawab aku!" Dan dipermasalahkan akhirnya.
"It..itu nama ikan koi aku, dia Chici namanya." Jawabnya wanita itu, ia bicara asal.
Berharap pria merman itu percaya akan perkataannya barusan.
"Hiks..huhu.." Tanpa pikir panjang Thienvra memeluknya, dibalas Chio dengan erat.
"Tega banget kamu pergi dari aku! Hiks..aku sedih sendirian hiks tanpa kamu, Mate!" Lirihnya pria merman itu.
"Maaf, Chio." Balas Thienvra, dia merasa bersalah karena telah meninggalkan Chio.
Thienvra menatap Chio, lalu menciumi seluruh wajahnya pria merman itu. Reaksi Chio melongo, dan membiarkan matenya apa yang dilakukan terhadap dirinya.
"Mate umm sudah!" Walaupun Chio menolak tuk dicium tepat di bibirnya, Thienvra tetap melakukannya sehingga pria merman itu terbuai.
"Mate hah..kumohon jangan berhen..ti!" Ucap Chio disela ciumannya.
Posisinya berubah menjadi matenya menindih tubuhnya, dan Chio berada di bawahnya.
"Mate." Tatapan pria merman sayu.
"Hm, kenapa, Chio?" Thienvra tanya.
"Perutku..." Tangannya masuk ke dalam baju yang dikenakan Chio, matanya membulat sempurna.
"Sixpack? Ada satu, dua, waw delapan!" Lalu mengelus lembut perut itu, Thienvra melihat Chio yang sedang memejamkan mata.
"Mate, itu membuatkanku geli. Tolong hentikan." Pintanya pria merman itu.
Justru Thienvra seolah tidak mendengarkannya, gerakannya berlanjut, dan secara tak terduga wanita itu merobek kaus milik Chio.
"Ya Tuhan! Menggoda sekali." Menelan ludah dengan kasar.
"Mate." Singa betina tengah menatap lapar mangsanya, tatapannya begitu nakal, kemudian sesuatu terjadi diantara mereka, dan Chio hanya bisa pasrah saja.
"Kamu milikku, Chio!" bisik Thienvra.
"Ya, Chio milik Mate." Ucap Chio, suaranya lemas.
Setelah 30 menit berlalu, saat ini Thienvra terduduk sambil membaca buku novel, Chio, pria merman itu terbaring tidak berdaya.
"Mate, aku haus." Wanita itu mengisi gelas dengan air, ia membantu Chio tuk minum, segelas air diminum oleh pria merman itu, bahkan sampai tak tersisa, dan kandas.
"Mau tambah airnya?" Dibalas gelengan kepala.
"Baiklah." Thienvra kembali baca novel.
Disela aktivitas membacanya, samar-samar wanita itu tersenyum smirk.
"Buas sekali aku sudah kayak kesurupan hantu." Batinnya Thienvra berkata.
"Rasanya aku ingin mati karena keganasan, Mateku sendiri." Kasihan sekali dirimu Chio.
Tubuhnya tertutupi menggunakan selimut, Thienvra yang menutupinya tadi. Chio tidak marah perbuat matenya itu, sebaliknya ia sangat senang, senyuman terpatri di wajahnya.
Lalu tiba-tiba suara keroncongan dari dua arah terdengar.
"Mmm, perutku laparnya!" Thienvra meringis sembari memeluk perutnya, Chio pun sama persis dirinya. Wanita itu beranjak lalu keluar dari kamar.
"Mate, mau kemana, ya?" Pikir Chio ketika matenya melangkah pergi.
***
Di dapur, sekarang Thienvra tengah bersiap memasak makan malam untuk dirinya dan Chio.
"Nasi goreng telur mata sapi, lalu makanan penutupnya pisang keju, minumannya jus leci, dan susu hangat." Thienvra berkata, ia mulai membuatkannya.
2 Menit jus leci telah dibuat disusul oleh susu hangat. Lalu pisang keju, dan terakhir nasi goreng. Setelah semuanya siap, wanita itu membawanya ke atas nampan.
"Makan malam telah datang." Seru Thienvra sambil memasuki kamar.
Ditaruhnya ke meja, dirinya membantu Chio tuk bangkit dari terbaringnya. Pria merman itu disuapi oleh Thienvra, karena ia tidak ingin membiarkan Chio makan sendiri, jadinya menyuapkan ke mulutnya lalu menyuapi Chio, begitu pun sebaliknya.
"Mmm..." Kala suapan terakhir, pria merman itu menggelengkan kepala pertanda menolak.
Sepertinya Chio sudah kenyang, jadi Thienvra menghabiskan nasi goreng itu.Ya, nasi goreng tadi dalam satu piring berdua, jadi tak terlalu banyak cucian piring nantinya.
"Selanjutnya makan pisang keju, Chio, kamu mau tidak?" Thienvra menawarkannya.
"Mau." Jawab Chio.
Pisang keju dimasukkan ke dalam mulut Chio, sekitar tiga suapan saja.
"Kamu belum minum, nih susu hangatnya diminum dahulu, dan jangan lupa habiskan." Diterima baik oleh pria merman itu.
"Pintar." Diusapnya rambut Chio.
Kemudian dia melanjutkan memakan pisang keju yang sempat tertunda.
"Habis nih, waktunya minum jus leci." Kata Thienvra, jus leci telah habis tanpa jeda.
"Eee..kenyang banget nih." Bersandar ke sofa.
Kepala Chio disandarkan di pundaknya Thienvra, dengan tangannya memeluk lengan matenya.
"Mate, terima kasih." Lirih pria merman itu.
"Ya, sama-sama, Chio." Balas Thienvra sambil mengelus telapak tangannya Chio.
Dan kemudian bersantai setelah makan malam.