Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.
Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Clear!"
Tubuh Letnan Bima tersentak keras ke atas brankar seiring dengan hantaman arus listrik dari defibrillator yang ditempelkan Rania di dadanya.
Cia berdiri mematung membelakangi dinding, menahan napas hingga paru-parunya terasa nyeri. Matanya terpaku pada layar monitor EKG. Garis hijau itu masih lurus. Suara melengking panjang yang menandakan ketiadaan detak jantung itu terasa seperti bor yang menembus tengkoraknya.
"Charge 200 Joule! Stand clear!" perintah Rania lagi, peluh membasahi dahinya. Jas putih dokter residen itu sudah sekotor jas Cia.
Bruk! Tubuh Bima kembali tersentak.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Bip... bip... bip...
Suara melengking itu perlahan terputus, digantikan oleh ritme lambat yang tidak stabil, namun ada. Gelombang di layar monitor kembali bergerak.
"Nadi karotis teraba! Irama sinus tachycardia, tekanan darah sangat rendah tapi ada," lapor perawat dengan napas lega.
Rania mengusap wajahnya dengan punggung lengan, lalu menoleh cepat. "Langsung dorong ke ruang operasi! Siapkan blood warmer dan hubungi dokter bedah toraks kardiovaskular. Pendarahannya tidak bisa ditunggu lagi!"
Tim medis langsung bergerak secepat kilat, mendorong brankar Bima keluar dari ruang resusitasi menuju lorong khusus ruang operasi.
Di tengah kekacauan itu, Rania menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Cia yang masih bersandar di dinding, gemetar hebat, dengan kedua tangan yang penuh darah. Jas putih yang selalu dibanggakan gadis itu kini tampak seperti seragam jagal.
"Cia," suara Rania melembut namun tegas. "Keluarkan dirimu dari kasus ini. Kamu terlalu dekat secara emosional dengan pasien. Otakmu tidak akan bisa berpikir jernih. Pergi ke ruang loker, bersihkan dirimu, dan tenangkan pikiranmu."
"T-tapi Mbak, Bima tadi bilang... Ren..." Cia mencoba melangkah maju, namun kakinya terasa seperti agar-agar.
"Bima mengigau karena syok hipovolemik dan hipoksia otak," potong Rania cepat. "Jangan simpulkan apa pun dari kalimat orang yang sedang sekarat. Cuci tanganmu, Almeera."
Rania berlari menyusul timnya, meninggalkan Cia sendirian di ruang resusitasi yang berantakan. Bau amis darah, antiseptik, dan keringat menguar tajam.
Cia menatap kedua tangannya. Darah Bima—sahabat suaminya, pria yang selalu tersenyum jail dan memanggilnya 'Mbak Cia'—kini mengering di sela-sela jarinya. Ia memutar tubuhnya dengan langkah gontai menuju wastafel di sudut ruangan.
Air dingin mengucur deras. Cia menggosok tangannya dengan sabun antiseptik, menatap air yang mengalir ke saluran pembuangan berubah menjadi merah muda, lalu merah pekat, dan perlahan kembali jernih.
Namun, sekuat apa pun ia menggosok tangannya, kalimat Bima tidak bisa terhapus dari kepalanya.
Di lembah utara... kami nemuin dia. Kapten Ren... dia...
Cia mencengkeram tepi wastafel. Kepalanya tertunduk dalam. Tangis tanpa suara mengguncang bahunya. Jika Bima, seorang letnan yang begitu tangguh, bisa hancur sedemikian rupa, apa yang terjadi pada Ren? Apakah pria itu ditemukan dalam keadaan tak bernyawa? Apakah Bima terluka parah karena berusaha membawa pulang jasad Ren?
Sebuah tangan hangat melingkar di bahu Cia. Nayla berdiri di sana, tak mengatakan apa-apa. Gadis bawel itu tahu bahwa tak ada kata-kata penenang yang bisa berfungsi saat ini. Ia hanya membiarkan Cia menyandarkan kepala di bahunya, menangis hingga napasnya tersengal.
Satu jam kemudian, Cia duduk di bangku panjang lorong tunggu ruang operasi paviliun bedah. Ia sudah mengganti jas putihnya yang kotor dengan sweter abu-abu panjang dari lokernya. Wajahnya kosong, menatap lantai keramik putih tanpa berkedip.
Langkah kaki tegap yang berderap cepat dari arah lift memecah kesunyian lorong.
Jenderal Arman melangkah lebar-lebar dengan seragam PDU-nya, diikuti oleh dua orang provost bersenjata. Wajah perwira tinggi itu terlihat kelam. Begitu melihat Cia, langkahnya sedikit melambat.
Cia langsung berdiri. Lututnya masih lemas, namun ia memaksakan diri melangkah mendekati Jenderal Arman.
"Om..." suara Cia serak. "Letnan Bima... dia ada di dalam. Dia kritis."
Jenderal Arman mengangguk pelan, matanya menatap pintu ganda ruang operasi dengan pendaran merah di atasnya. "Saya sudah mendapat laporan dari pangkalan. Bima memimpin tim khusus penyusupan setelah kode morse Ren berhasil dikonfirmasi. Dia perwira yang luar biasa."
Cia meremas ujung sweternya. Ia harus menanyakannya, meskipun jawaban itu mungkin akan membunuhnya hari ini juga.
"Om, Bima sempat sadar tadi. Dia bilang timnya berhasil menemukan Ren di lembah utara," suara Cia bergetar hebat. Ia menatap wajah Jenderal Arman, mencari secercah kebohongan di sana. "Om... Ren di mana? Apa dia... apa dia sudah... gugur?"
Jenderal Arman menarik napas panjang. Garis rahangnya mengeras. Pria paruh baya itu menatap menantunya, menempelkan satu tangannya di bahu Cia.
"Almeera," panggil Jenderal Arman, suaranya berat. "Tim Bima berhasil menemukan kamp penyekapan kedua. Mereka menemukan Ren di sana."
Cia menahan napas.
"Ren masih hidup, Nak," lanjut Jenderal Arman, kalimat yang membuat lutut Cia nyaris kembali melorot ke lantai karena lega. "Tapi... kondisinya sangat buruk. Saat Bima berusaha membawanya keluar dari zona merah, mereka disergap. Bima terkena tembakan saat melindungi titik evakuasi."
"Lalu Ren? Kenapa dia tidak ada bersama helikopter Bima?" tuntut Cia, kepanikannya kembali naik.
"Ren menolak dievakuasi di kloter pertama," jawab Jenderal Arman, sebuah kebanggaan dan kepedihan bercampur di matanya. "Dia mengambil alih senapan Bima, menahan garis pertahanan bersama sisa tim agar Bima yang kritis bisa diangkut oleh helikopter paramedis terlebih dahulu."
Cia mematung. Otaknya memutar fakta itu. Suaminya yang sedang terluka parah, baru saja diselamatkan dari tawanan musuh, justru memilih kembali ke medan tembak demi menyelamatkan anggotanya. Pria itu memang benar-benar orang gila.
Sebelum Cia sempat mengatakan apa-apa lagi, suara dari pengeras suara rumah sakit kembali berbunyi, lebih nyaring dari sebelumnya, membelah atmosfer tegang di lorong itu.
"Code Red. Code Red. Persiapan evakuasi medis udara kloter kedua. Tim trauma, segera merapat ke akses helipad utama. Pasien trauma multipel. ETA (Estimated Time of Arrival) dua menit."
Suara dengung baling-baling helikopter yang berat mulai terdengar samar dari arah atap rumah sakit, membuat kaca jendela lorong sedikit bergetar.
Jenderal Arman menatap Cia. "Itu dia."
Mendengar dua kata itu, Cia tidak menunggu instruksi lebih lanjut. Jas dokter, hierarki militer, rasa lelah, dan trauma semuanya menguap dari kepalanya. Gadis itu berlari.
Ia berlari menyusuri lorong paviliun bedah, mengabaikan seruan perawat, menabrak keranjang laundry kotor, dan terus memacu kakinya menuju akses helipad utama. Napasnya memburu, dadanya sesak, namun kakinya tak mau berhenti.
Ia mendobrak pintu ganda darurat. Angin kencang bercampur rintik hujan dari baling-baling helikopter langsung menghantam wajahnya.
Di sana, di atas landasan beton, helikopter berlogo palang merah dan doreng militer itu baru saja menyentuh tanah. Pintu samping ditarik terbuka.
Cia berdiri mematung di ambang batas pintu kaca rumah sakit. Tim IGD yang dipimpin oleh dokter jaga lain sudah berlari mendekat ke arah helikopter. Mereka menarik sebuah brankar keluar dari lambung burung besi tersebut.
Cia tidak bisa bergerak. Kakinya terpaku ke lantai keramik. Ia melihat brankar itu didorong mendekat, semakin jelas menembus tirai hujan.
Di atas brankar itu, terbaring seorang pria yang nyaris tak bisa dikenali. Seragam lorengnya robek-robek, dipenuhi lumpur hitam dan darah yang sudah mengering. Lengannya dibalut perban tempur yang rembes oleh noda merah gelap. Wajahnya ditumbuhi jambang kasar, pucat pasi, dan penuh dengan bekas luka goresan. Sebuah cervical collar (penyangga leher) terpasang kaku, dan selang oksigen menutupi hidung serta mulutnya.
Namun, Cia akan selalu mengenali garis rahang itu. Ia akan selalu mengenali sepasang alis tebal itu.
Itu Ren.
"Minggir! Buka jalan!" teriak paramedis sambil mendorong brankar itu masuk melewati pintu ganda, tepat di depan Cia.
Saat brankar itu melintas, waktu seolah berjalan dalam mode slow motion bagi Cia.
Mata pria di atas brankar itu perlahan terbuka. Sepasang mata elang yang dulu selalu menatap tajam dan dingin, kini meredup, sayu, dan dipenuhi oleh rasa sakit yang tak terbayangkan.
Namun, di antara kerumunan dokter berseragam hijau bedah dan perawat, mata itu langsung menemukan sosok Cia yang berdiri mematung dalam balutan sweter abunya.
Tangan kiri Ren, yang terbebas dari balutan perban, bergerak lemah dari sisi brankar. Jari-jarinya yang gemetar, kotor oleh lumpur dan darah, perlahan terangkat. Bukan untuk mencari pegangan paramedis, melainkan terulur ke arah Cia.
Cia tersentak. Pertahanannya hancur berkeping-keping. Ia menerobos masuk ke dalam kerumunan perawat, berlari di sisi brankar yang terus bergerak, dan langsung menggenggam tangan besar yang kotor itu dengan kedua tangan mungilnya.
Suhu tubuh Ren terasa sangat dingin. Jauh lebih dingin dari saat pria itu menahan sakit akibat jahitan bahunya di malam resepsi mereka.
"Mas..." isak Cia pecah, air matanya jatuh menetes di atas punggung tangan Ren. "Mas Ren... aku di sini. Aku di sini."
Ren menatap wajah Cia dari balik masker oksigennya. Dadanya bergerak naik turun dengan berat. Meski kondisinya sangat hancur, saat ujung jarinya merasakan kepingan besi dingin dari dog tag yang bersembunyi di balik sweter Cia, raut ketegangan di wajah pria itu perlahan memudar.
Sebuah gerakan samar terlihat di balik masker oksigennya. Bibir pucat pria itu bergerak, tanpa suara, namun Cia bisa membaca gerakannya dengan sangat jelas.
Saya pulang.
Cengkeraman tangan Ren di jari Cia perlahan melemah. Kelopak mata pria itu bergetar, lalu tertutup rapat. Kepalanya terkulai ke samping.
"Pasien tidak sadarkan diri! Tekanan darah merosot tajam! Percepat laju brankar, ruang operasi OK 2 sudah siap!" teriak dokter jaga panik.
Pegangan tangan Ren terlepas dari Cia seiring dengan brankar yang didorong melesat cepat ke ujung lorong, meninggalkan Cia yang berdiri membeku dengan tangan yang masih terulur di udara.
Udara dingin dari helipad menyapu tengkuk Cia, namun tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar di hatinya. Suaminya telah kembali, tepat seperti janjinya. Namun medan perang belum selesai. Kini, pertempuran berpindah dari hutan pedalaman ke atas meja operasi, di bawah terangnya lampu pisau bedah. Dan Cia tidak bisa melakukan apa-apa selain berdiri sebagai seorang istri yang menunggu.