seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Manager itu mengangguk faham. Ia menoleh pada Rara. "jika kau masih tidak mau minta maaf, makan bukan hanya mengganti rugi pesanannya. Tapi akan ku potong gajimu untuk membayar kompensasi kegaduhan ini."
"Ta ... tapi! " Rara tidak terima. Sedikit ketakutan karena dia hanya miliki pekerjaan ini untuk menghidupi adik beradiknya saja.
"Kau denger itu! Cepat berlutut." Tanpa menunggu lama Rara sedikit menundukan tubuhnya.
Brug!
Jesika yang merasa di atas angin kemudian mendorong Rara cukup keras hingga terjatuh. Tanpa belas kasihan, Jesika menginjak telapak tangan Rara menggunakan sepatu hak tingginya. Rara hanya bisa meringis menahan sakit yang luar biasa dibarengi isakan yang menyayat hati.
Sret!
Ahh ... rintih Rara kesakitan.
Tiba-tiba, Rara merasa sebuah jaket kulit yang hangat dan tegap menutupi punggungnya. Bersamaan dengan itu, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan kaki Jesika dengan sangat kuat, hingga wanita angkuh itu memekik kaget dan terhuyung mundur. Tangis Rara semakin pecah mendapati sosok pelindungnya telah datang.
Jesika bingung melihat pemandangan di depannya. Entah datang dari mana sosok pria yang sudah lama tidak pernah menemuinya, kini justru ada di hadapannya dan justru melindungi gadis itu. Senyum sinis Jesika yang tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Athur berlutut sejenak, mengusap air mata di pipi Rara dengan jemarinya yang gemetar menahan amarah. Pria itu kemudian bangkit berdiri tegak. Tanpa aba-aba, sebuah tamparan keras melayang dan mendarat telak di pipi mulus Jesika.
Plak!
"Athur?!" pekik Jesika histeris sambil memegangi pipinya yang memerah.
"Kenapa kau membelanya hah?
"Dia hanya karyawan rendahan. Aku ini tunanganmu."
"Manusia itu sama. Justru kau yg rendah." pekik atur membela.
Athur menahan napas dalam-dalam ketika merasakan tarikan lembut pada ujung celananya. Ia menunduk. Di atas lantai semen yang dingin, Rara mendongak menatapnya dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipi. Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan, tatapan matanya seolah memohon agar Athur menyudahi perdebatan panas ini. Hati Rara memang teriris mendengar kata 'tunangan' keluar dari mulut Jesika, namun ketakutan akan keributan yang semakin besar membuat jiwa remajanya memilih untuk mengalah.
"Mas... sudah, Mas. Tolong," cicit Rara lirih, suaranya hampir habis terendam isak tangis.
Melihat kelembutan Rara yang berbanding terbalik dengan kebiadaban Jesika, dada Athur justru semakin bergemuruh panas. Ia tidak sudi membiarkan harga diri istrinya terus diinjak-jejak. Athur kembali menatap Jesika dengan sorot mata yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
"Tunangan?" Athur mendengus sinis, senyuman miring yang sangat dingin terukir di bibirnya.
"Mulai detik ini, kata itu sudah tidak berharga. Kamu bukan lagi siapa-siapa di hidup saya, Jesika."
"Apa maksudmu, Athur?! Kamu memutuskan aku cuma karena membela pelayan sampah ini?!" pekik Jesika histeris, menunjuk Rara dengan jari yang gemetar karena syok dan malu.
Athur tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku jaketnya, mengambil ponsel, lalu melemparkannya tepat ke atas meja kafe hingga menimbulkan suara dentingan keras. Di layar ponsel tersebut, video dan foto-foto syur Jesika bersama selingkuhannya di kamar hotel bintang lima terputar dengan sangat jelas.
Wajah Jesika yang semula merah padam karena marah, seketika berubah pucat pasi bak mayat. Mulutnya terkunci rapat, tubuhnya gemetar hebat menyadari kedok busuknya yang selama ini tersimpan rapat kini telah hancur berkeping-keping di depan umum.
Athur tidak memedulikan lagi wanita yang sudah mati kutu itu. Ia mengalihkan pandangan tajamnya kepada manajer kafe dan para karyawan yang tadi ikut mencibir Rara. Aura mafianya keluar sepenuhnya, membuat seisi ruangan mendadak senyap ketakutan.
"Kalian semua yang ada di sini..." suara berat Athur terdengar sangat rendah namun menekan kuat, "...mulai hari ini dipecat. Dan pastikan kalian tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan di kota ini lagi. Tempat ini adalah milik saya, dan kalian baru saja menindas istri dari pemilik kafe ini."
Manajer kafe itu langsung lemas, lututnya membentur lantai dengan wajah penuh penyesalan dan ketakutan yang luar biasa.
Tanpa membuang waktu lagi, Athur kembali berlutut di depan Rara. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyisipkan lengan kekarnya di bawah lutut dan punggung Rara, lalu mengangkat tubuh mungil gadis itu ke dalam gendongannya. Rara yang masih shock hanya bisa menyembunyikan wajah sembabnya di dada bidang Athur, meremas jaket kulit suaminya dengan erat.
Athur melangkah tegap menerobos kerumunan kafe. Di teras depan, Alden yang baru saja ingin masuk tertegun menyaksikan sosok pria bertopeng misterius itu menggendong Rara keluar, lalu mendudukkannya dengan sangat hati-hati di atas motor sport milik Evan.
Sambil menatap deru motor sport yang melaju cepat membelah jalanan, pikiran Alden berkecamuk hebat. Kecurigaannya kini terkunci rapat pada satu nama: Evan, sahabat kakaknya.
Malam itu, atmosfer di markas pribadi Evan terasa dingin. Evan sedang duduk di balik meja kerjanya saat pintu ruangan dihantam terbuka hingga membentur dinding.
Brak!
Alden melangkah masuk dengan napas memburu dan rahang yang mengeras. Ia melemparkan helmnya ke atas sofa hingga terpental, lalu menatap Evan dengan pandangan menuntut.
"Den? Lu kenapa datang-datang kayak orang kesurupan?" tanya Evan, mencoba bersikap santai meski dalam hatinya ia tahu motor sportnya baru saja dibawa kabur oleh Athur siang tadi.
Alden tidak menjawab. Ia melangkah lebar, lalu menggebrak meja kerja Evan dengan kedua tangannya. Matanya memerah menahan amarah. "Gue gak butuh basa-basi, Bang. Gue cuma butuh satu jawaban jujur. Siang tadi, motor sport merah lu terparkir di depan kafe elite pusat kota. Lu ngapain di sana?"
Evan menaikkan sebelah alisnya, berusaha mempertahankan wajah datarnya. "Motor gue? Oh, tadi siang dipinjam orang. Memangnya kenapa?"
"Dipinjam siapa?!" bentak Alden, suaranya meninggi.
"Pria bertopi dan bermasker hitam. Badan tegap, aura mafia. Dia keluar dari kafe itu sambil menggendong Rara yang menangis dan terluka, lalu bawa Rara pergi pakai motor LU! Jangan bohongi gue, Bang. Selama ini pria misterius yang selalu ada di sekitar Rara, yang sok jadi pahlawan kesiangan... itu LU, kan?!"
Evan tertegun sejenak. Otak cerdasnya langsung menangkap situasi. "Athur membawa Rara menggunakan motornya, dan Alden mengira dirinya adalah pria misterius itu." Evan tersenyum misterius, sebuah senyuman yang sengaja ia buat untuk memancing emosi sekaligus melindungi rahasia pernikahan siri Athur.
"Kalau iya, kenapa? Apa urusannya sama lu, Alden?" tanya Evan dengan suara rendah yang memprovokasi.
"Jaga jarak lu dari Rara, Bang! Dia gadis baik-baik, jangan lu seret ke dunia hitam lu yang menjijikkan itu!" Alden mencengkeram kerah kemeja Evan dengan tangan gemetar karena patah hati dan emosi.