NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titik Lemah sang Penguasa

Begitu pintu ruangan tertutup rapat dan menyisakan mereka berdua, keheningan yang mencekam langsung merayap di setiap sudut ruangan. Suara tawa Devan yang tadinya terdengar renyah di depan Senja kini menguap, digantikan oleh senyuman miring yang sarat akan provokasi.

​Arsen masih berdiri di balik meja besarnya. Tatapannya sedingin es, menatap sang adik seolah pria di depannya ini tak lebih dari sekadar hama yang mengganggu wilayah kekuasaannya.

​"Jangan pernah menyentuh apa yang ada di sekitar saya, Devan. Terutama dia," desis Arsen, suaranya sangat rendah, namun sarat akan ancaman mematikan.

​Devan tidak mundur selangkah pun. Dia justru melangkah santai mendekati meja marmer hitam Arsen, lalu menopang kedua tangannya di atas meja, menantang tatapan elang kakaknya dengan binar mata yang licik.

​"Kenapa?" tanya Devan lempeng, menaikkan sebelah alisnya. "Toh dia juga bukan punya lo. Statusnya di sini cuma asisten kreatif, kan? Nggak ada janji suci, nggak ada ikatan darah."

​Arsen tidak menyahut. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga guratan otot di pipinya tercetak jelas.

​Devan terkekeh pelan melihat reaksi Arsen yang begitu defensif. Dia memundurkan tubuhnya sedikit, menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menatap Arsen dengan pandangan menilai. "Gue nggak pernah liat lo se-posesif ini sama cewek, Kak. Bahkan sama perempuan-perempuan dari klan mitra kita di utara pun, lo selalu pasang tembok setinggi langit."

​Devan menggantung kalimatnya sengaja. Seringai penuh arti terukir di wajahnya saat sebuah pemikiran berbahaya melintas di kepalanya.

​"Oh... atau jangan-jangan, dugaan orang-orang di luar sana bener?" Devan memajukan wajahnya lagi, berbisik dengan nada yang sangat tajam. "Apakah cewek sipil berkemeja kasual di luar sana itu... sekarang adalah titik kelemahan lo yang baru, Arsen Malik?"

​Brak!

​Arsen menghantam meja marmernya dengan telapak tangan, menciptakan dentuman keras yang sanggup membuat orang awam gemetaran. Dalam satu gerakan kilat, Arsen sudah melompati batas mejanya, mencengkeram kerah kemeja linen Devan dengan satu tangan kuatnya, lalu menyentakkan tubuh adiknya itu hingga punggung Devan membentur rak buku kayu jati di belakangnya dengan keras.

​"Jaga mulut kamu, Devan," ucap Arsen, suaranya kini terdengar seperti seringai serigala yang siap merobek tenggorokan mangsanya. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. Napas Arsen memburu, menahan badai amarah dan cemburu yang berkecamuk di dadanya. "Saya tidak punya kelemahan. Dan kalau kamu berani menggunakan dia untuk memancing saya, saya pastikan nama kamu akan dicoret dari silsilah keluarga Malik sebelum matahari terbenam esok hari."

​Dicengkeram seerat itu, Devan sempat menahan napasnya karena shock melihat kecepatan gerak Arsen yang masih luar biasa, padahal dia tahu abangnya itu baru saja terluka parah beberapa hari lalu. Namun, Devan buru-buru menguasai emosinya lagi. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara, menyerah secara formal meski matanya tetap berkilat licik.

​"Oke, oke, santai, Kak. Gue cuma bercanda," ujar Devan dengan nada meremehkan. "Gue cuma mau mastiin kalau Tuan Muda Malik yang terhormat ini belum kehilangan instingnya gara-gara kebanyakan duduk di kursi kantoran."

​Arsen menatap Devan dengan pandangan membunuh selama beberapa detik, sebelum akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar yang membuat Devan agak terhuyung. Arsen mundur dua langkah, merapikan kembali jas hitamnya yang sedikit bergeser seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Keluar dari ruangan saya. Sekarang," perintah Arsen, mutlak dan dingin.

​Devan merapikan kerah kemejanya yang lecek akibat cengkeraman Arsen, lalu tersenyum tipis. "Gue keluar. Tapi inget, Kak... kalau gue yang cuma main-main aja bisa liat dengan jelas seberapa berartinya Senja buat lo, gimana dengan klan musuh di luar sana? Lo harus jaga 'aset' lo itu baik-baik sebelum ada orang lain yang mengambilnya dari lo."

​Tanpa menunggu balasan dari Arsen, Devan berbalik dan melangkah santai keluar dari ruangan.

​Begitu pintu tertutup kembali, Arsen membuang napas beratnya. Dia berjalan menuju dinding kaca raksasa di ruangannya, menatap hamparan gedung-gedung Jakarta di luar sana dengan tatapan menggelap. Kata-kata Devan barusan terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti alarm bahaya.

​Titik kelemahan.

​Arsen mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sebagai pria yang dibesarkan di dunia bawah tanah yang kejam, dia tahu betul kalau memiliki titik lemah sama saja dengan menyerahkan nyawanya pada musuh. Dan sialnya, melihat bagaimana jantungnya berdegup gila-gilaan karena cemburu saat Senja tersenyum pada Devan tadi... Arsen sadar kalau dia tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.

​Senja Naura kini sudah resmi menjadi hal paling berharga sekaligus paling berbahaya dalam hidupnya.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!