Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Gesekan Kecil
Aira terkejut saat tiba-tiba Baskara menariknya. Ia tidak menyangka jika Baskara akan merasa kesal ia menemui Komandannya.
"Aku hanya ingin membantu," jawab Aira seraya melepaskan cengkeraman tangan Baskara.
"Ini bukan urusanmu, Ai!" ucap Baskara tegas.
Aira menahan kesal. Ia menatap Baskara tajam.
"Ya, tapi kamu suamiku!"
Aira beranjak pergi. Ia meninggalkan Baskara terdiam di depan lobi rumah sakit. Aira berjalan menuju ruang loker untuk mengganti pakaian dan bersiap pulang.
Baskara menunggu di mobilnya. Saat Aira masuk, wajahnya tampak datar. Wanita itu terus diam selama perjalanan pulang.
Baskara membuang napas kasar. "Maaf jika ucapanku menyinggungmu," ucap Baskara memecah keheningan.
"Aku hanya ingin membantu," jawab Aira singkat.
Baskara memejamkan mata sejenak. Ia menatap Aira sepintas. "Justru karena itu." Ia memberi jeda pada kalimatnya. Meraup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum berkata, "Aku hanya tidak ingin kamu terseret lebih jauh dalam masalah ini," lanjut Baskara.
Aira mengangguk paham. Ia menatap Baskara lekat-lekat. "Aku tahu resikonya," katanya tegas.
***
Pagi ini, setelah Aira memastikan Baskara berangkat bekerja, ia mempersiapkan diri untuk berkunjung ke rumah Kolonel Haryo. Aira merencanakan, hari ini ia harus bertemu Jelita secara langsung.
Aira akhirnya sampai di rumah dinas Kolonel Haryo. Wina yang semula menyambut kedatangan Aira dengan ramah, kini memasang wajah datar. Lain halnya dengan Kolonel Haryo yang menyambut kedatangan Aira dengan hangat.
Kolonel Haryo segera mengajak Aira ke kamar Jelita yang masih terkunci rapat.
"Lita buka pintunya. Dokter Aira datang menemuimu," ucap Kolonel Haryo seraya mengetuk pintu beberapa kali.
"Untuk apa datang kesini?" tanya Jelita dari dalam kamarnya.
Aira mendekati pintu dan sedikit berbicara lantang. "Saya hanya ingin bicara denganmu. Berdua saja."
Hening.
"Jelita, saya janji setelah ini, saya tidak akan mengganggu lagi," ucap Aira.
Tak berselang lama, pintu dibuka. Jelita mempersilakan Aira masuk setelah itu ia menutup kembali pintu kamarnya dan menguncinya.
Aira melihat sekeliling. Kamar gadis itu dibiarkan berantakan. Tertutup dan lembab. Jendela tidak dibuka dan kamar dibiarkan gelap.
Jelita duduk di bibir ranjang seraya menatap Aira sinis.
"Mau bicara apa? Cepat!" kata Jelita kesal.
Aira berdehem sejenak. Ia mencoba memilih kata yang tepat agar tidak memancing Jelita marah.
"Bagaimana kabarmu?"
Jelita mendengus, lalu tertawa. "Baik. Seperti yang kamu lihat. Aku sehat!" jawabnya ketus.
Aira mengangguk. "Kehamilanmu? Berapa usianya sekarang?"
Mendengar tentang kehamilannya diungkit, wajah Jelita berubah tegang. Rahangnya mengeras dan tatapannya menajam.
"Soal itu bukan urusan kamu!" ucap Jelita dengan nada tinggi.
Aira maju, ia bersimpuh tepat di hadapan Jelita. Matanya menajam, menjurus tepat di depan mata Jelita.
"Itu jadi urusan saya karena suami saya yang kamu tuduh sebagai ayahnya!" ucap Aira. Pelan, tapi penuh penekanan.
Jelita memalinkan wajah. Ia melemparkan pandangan ke arah lain. "Memang begitu kenyataannya!" katanya ketus.
Aira menahan napas sejenak. Ia berusaha menetralkan emosinya sedapat mungkin. Aira berusaha tenang menghadapi sikap Jelita.
"Kenyataan yang mana, Jelita?" tanya Aira tenang. "Jika yang kamu maksud vidio yang viral kemarin, itu bukan kenyataan. Saya bisa katakan itu hanya rekayasa kamu!"
Mata Jelita membulat. "Rekayasa? Maksud Kak Aira apa? Saya menjebak Bang Ibas, begitu?"
"Saya nggak bilang kamu menjebak. Saya hanya bilang jika vidio yang kemarin viral dan menjadi polemik permasalahan itu bukan kenyataan. Jika kamu menganggapnya sebagai fakta, maka itu hanya rekayasamu saja. Itu bukan satu-satunya bukti, Jelita. Jika kamu ingin membuktikan kebenaran dari vidio itu, tolong tunjukkan pada saya hasil pemeriksaan kandunganmu!" ucap Aira tegas.
Jelita mulai kembali menatap ke arah lain.
"Mana hasil pemeriksaannya, Jelita, saya mau lihat!" ulang Aira.
"Ada!"
"Mana?"
"Belum aku ambil! Masih di klinik!"
"Tunjukkan dimana klinik itu? Siapa dokternya?" tanya Aira kali ini ia tidak memberi jeda sama sekali.
"Aku sudah periksa! Dan aku nggak mau menyebarkan riwayat pemeriksaanku sama orang asing!"
Aira mengembuskan napas pelan. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan tiga buah tespack dengan merk berbeda, tapi memiliki akurasi sembilan puluh sembilan persen. Ia menunjukkannya pada Jelita.
"Jika tidak ada hasil pemeriksaan dokter. Kita bisa cek ulang dengan ini!" ucap Aira tegas.
Jelita menatap nanar tiga tespack di yang dibawa Aira itu. Napasnya mulai memburu. Pupil matanya mulai membesar dan mengecil. Sorot matanya mulai gusar. Jelita merebut tespack itu dan membuangnya ke lantai.
"Aku nggak mau!" jawab Jelita.
Aira mendengus, lalu tersenyum. "Orang awam sering salah mengira jika emosi berlebihan dan mudah menangis itu karena hormon kehamilan yang fluktuatif, tapi menurut saya bukan itu. Dalam kasusmu, itu hanyalah reaksimu untuk mempertahankan diri!"
Mendengar ucapan Aira, Jelita kembali menangis. Ia bahkan berteriak histeris seraya berdiri dan menutup telinganya. Melihat reaksi Jelita itu, Aira menjadi semakin yakin akan kesimpulan yang ia ambil.
Ia menatap Jelita dengan mata berkaca-kaca, Aira tidak menggubris beberapa kali ketukan pintu dari luar kamar. Ia tahu Wina mungkin khawatir usai mendengar tangisan dan teriakan Jelita barusan.
"Kenapa, Lita? Kenapa kamu tega melakukan ini? Kamu nggak kasihan sama Baskara? Dia menanggung beban berat karena masalah ini."
Kali ini, emosi Aira tidak terbendung lagi. Air matanya luluh. Jelita masih menangis. Kali ini gadis itu jatuh terduduk di bibir ranjang. Ia menangkup wajah dengan tangannya, lalu menangis sejadi-jadinya.
"Aku mencintainya! Aku mencintai Bang Ibas dan aku nggak terima kenapa dia lebih memilih kamu daripada aku!" ucap Jelita disela-sela tangisannya. "Puas? Kamu sudah merebut Bang Ibas dari aku! Kamu udah ambil dia dari aku! Dan yang lebih menyakitkan, dia membuangku begitu saja!" lanjut Jelita
Aira menutup matanya. Ia mendekati Jelita dan masih bersimpuh di hadapan Jelita. Ia menatap Jelita lekat-lekat. Mencoba menyelami gadis itu. Ia tahu sekarang motivasi Jelita dan fakta yang melatarbelakangi kejadian itu. Kini, Aira menatap Jelita yang sudah menangis tersedu. Tangisannya terdengar frustrasi dan putus asa.
"Apa yang kamu lakukan bisa berdampak besar, Jelita. Tidak hanya pada Baskara, tapi juga ayahmu. Kekacuan dan keributan ini nggak akan terjadi kalau kamu mau berpikir jernih."
Jelita masih menangis menangkup wajahnya.
"Jika memang kamu mencintai dia, tolong, bantu dia untuk membersihkan namanya."
Aira berdiri dari tempatnya. Aira merasa pertemuan dan pembicaraannya dengan Jelita sudah cukup membawanya menemukan fakta baru. Ia menghapus air matanya sebelum membuka pintu kamar dan pergi usai berpamitan.
Dikamar itu, Jelita masih menangis tersedu. Wina dan Kolonel Haryo masuk ke kamarnya. Ia melihat tiga buah tespack yang tercecer di lantai. Wina menghampiri dan menghambur memeluk putrinya. Sementara Kolonel Haryo menatapnya iba.
***
Aira berjalan pulang kembali ke rumah dinas Baskara. Langkahnya melambat manakala ia melihat Baskara bersandar di samping sepeda motornya dengan ponsel di tangan. Ia memalingkan tatapannya saat melihat Aira datang.
"Dari mana? Aku kira kamu sudah berangkat," ucap Baskara.
Aira diam. Ia berjalan lurus tanpa menjawab pertanyaan Baskara. Aira membuka pintu dan melenggang masuk ke rumah dinas itu.
"Ai, kamu dengar aku? Kamu pergi ke rumah Danyon?" tanya Baskara seraya mengekori langkah Aira.
Aira berhenti. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Baskara.
"Kamu memata-mataiku?" tanya Aira sedikit kesal.
"Ai, aku sudah bilang, jangan ikut campur!"
"Dan aku sudah katakan kalau aku akan membantu!"
Baskara mengembuskan napas kasar ia mengusap kasar wajahnya frustrasi.
"Aira ... aku sudah cukup lelah memikirkan masalah ini bergulir semakin liar. Aku hanya ingin menjagamu!"
"Menjagaku? Dari apa? Dari pergunjingan mereka? Dari mereka yang bicara buruk tentangmu? Dari mereka yang seenaknya mengataimu dengan sumpah serapah? Dari mereka yang menjelek-jelekkanmu? Disini, bukan cuma kamu yang lelah, Bas. Aku juga lelah!
"Aku nggak tahan mereka terus bergunjing dan mengatakan hal buruk tentangmu! Aku nggak tahan melihat cara mereka memperlakukanmu seolah-olah mereka yang paling tahu! Kamu pikir, aku melakukan semua ini karena aku suka ikut campur urusan orang? TIDAK!
"Aku tidak tahan mereka bersikap semena-semena dan menghakimimu sementara kebenarannya saja belum diketahui! Kamu suamiku, Bas, masalahmu juga akan jadi masalahku! Aku hanya ...."
Air mata Aira tumpah.
Ia menunduk.
Bahunya bergetar dan hal itu cukup membuat hati Baskara berdesir. Ia memejamkan mata. Meraup udara sebanyak-banyaknya, lalu menatap Aira lekat-lekat.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
Baskara diam.
Ia menunduk menatap seragam loreng yang masih ia kenakan. Baskara mendongak kembali diam seraya menatap Aira lama.
"Karena sudah berdiri di sampingku disaat semua orang menghakimiku."
Aira diam.
Matanya bersitatap dengan Baskara. Ponsel Baskara berbunyi. Ia membuka pesan singkat dari Kolonel Haryo. Baskara mengembuskan napas kasar.
"Komandan mencariku. Aku pergi dulu."
Baskara dengan sedikit keraguan dihatinya memajukan tubuhnya mendekati Aira. Perlahan, tapi pasti meski sedikit ragu, Baskara mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala Aira sebelum pergi.
Aira membeku ditempatnya.
Satu kecupan.
Terasa begitu hangat.
Dan itu membuat jantung Aira berdegup tidak karuan.
Dia ... menciumku?
______________________